BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
MASA LALU ELIANA (2)


__ADS_3

Begitu palu itu sudah terlihat lebih bersih dari sebelumnya, Rolland kembali menatap ke arah Eliana sambil tersenyum.


"Wanita secantik Anda, kenapa harus menangis untuk laki-laki yang tidak bisa memberikan cintanya kepada wanita yang sudah dipilihnya, bahkan sudah melahirkan bayi yang begitu cantik untuknya." Setelah mengucapkan kata-katanya, Rolland berjalan mendekat ke arah tempat tidur bayi dimana bayi Desya masih tertidur lelap, seolah suara ribut yang ada di sekitarnya tidak didengarnya sama sekali.


Begitu melihat Rolland mulai mengulurkan tangannya ke arah Desya, dengan cepat Eliana bergerak ke arah Rolland dengan merangkak, dan langsung memeluk salah satu kaki Rolland.


"Rolland, tolong... jangan sakiti anakku. Aku mohon.... kamu boleh membunuhku, tapi jangan anakku. Dia tidak bersalah." Mendengar permohonan dari Eliana, Rolland langsung meringis.


"Aku tidak pernah berniat menyakiti wanita yang aku cintai. Aku bukan laki-laki seperti suamimu. Hah... seharusnya aku membunuhnya sejak dulu." Kata-kata Rolland sukses membuat Eliana terperangah kaget, apalagi Rolland mulai menggunakan bahasa santai dengan menyebutnya kamu.


"Ka... kamu... Men.. mencin... taiku?" Eliana berkata dengan suara terbata-bata, dengan tatapan tidak percaya, mata Eliana menatap ke arah Rolland yang sedang tersenyum ke arahnya sambil mencebikkan bibirnya dan menganggukkan kepalanya dengan santai.


"Sejak awal aku sudah melihatmu sebagai seorang wanita yang begitu cantik dan jatuh cinta padamu. Jadilah milikku, dan aku akan membuatmu bahagia. Walaupun  mungkin aku tidak bisa memberikan status bangsawan dan kekayaan untukmu, aku akan membuatmu hidup seperti ratu. Apapun keinginanmu adalah perintah bagiku. Apapun akan kulakukan untukmu, asalkan kamu tidak mengkhianatiku." Rolland berkata sambil menendang tubuh suami Eliana yang tampak sedikit menggerakkan jari-jari tangannya.


Perkataan Rolland membuat Eliana tertegun untuk beberapa saat, mencoba mengendalikan hati dan pikirannya.

__ADS_1


Kalau aku menolak keinginan Rolland, bisa jadi dia juga akan membunuhku, atau bahkan membuat aku jadi tersangka yang sudah melukai suamiku. Mau tidak mau, aku harus mengikuti keinginannya agar aku bisa selamat. Untuk saat ini sepertinya itu yang terbaik sebelum aku bisa memikirkan rencana selanjutnya. Toh sejak awal suamiku juga tidak pernah mencintaiku dan selalu menyiksaku, hingga aku bertahan hanya karena aku menginginkan status, kenyamanan, dan harta miliknya.


Eliana berkata dalam hati sebelum akhirnya dia bangkit dari bersimpuhnya, lalu menatap ke arah Rolland dengan tatapan hangat, dan menganggukkan kepalanya tanpa terlihat ragu sedikitpun, membuat Rolland menyunggingkan senyum senang.


"Aku akan menjadikanmu satu-satunya pria dalam hidupku." Eliana berkata sambil tanpa perduli menginjak telapak tangan suaminya yang terkapar dengan ssalah satu kakinya yang masih mengenakan sepatu, seolah dengan begitu dia merasa puas, sudah berhasil membalas kekejaman suaminya selama ini.


"Aku tidak butuh kamu memberikan kekayaan padaku. Aku bisa dengan mudah mendapatkan kekayaan dengan caraku sendiri. Hanya, jadilah perisai yang selalu melindungi dan membantuku menjalankan semua rencanaku. Dan aku juga akan membuat keluargamu hidup dalam kemewahan, bukan hanya kita." Eliana berkata sambil menyunggingkan senyum lega, merasa begitu bahagia hari ini dia menemukan seorang sekutu hebat yang pasti akan banyak membantunya di masa depan.


Setelah itu, dengan dibantu oleh keluarga Rolland yang sengaja diminta datang ke kediaman Eliana secara diam-diam, mereka memasukkan tubuh suami Eliana ke dalam mobil yang biasa dikendarainya, lalu membawanya ke sebuah jalan berkelok yang dan terdapat jalan yang menurun tajam.


Walaupun sebelum meninggalkan tubuh suaminya dalam mobil yang akan dibakar Eliana melihat suaminya sedikit menggerakkan kepalanya, menunjukkan bahwa dia masih hidup, Eliana tampak tidak perduli, dengan wajah dingin bahkan dia ikut menyiramkan bensin ke bodi mobil itu.


"Kehormatan untukmu my lady." Begitu selesai menyiramkan bensin ke seluruh bodi mobil, dan bahkan di bagian dalam mobil, Rolland berkata sambil menyodorkan pemantik apik ke arah Eliana yang langsung tersenyum.


Dengan wajah tanpa ekspresi, tanpa rasa takut, sedih, apalagi menyesal, Eliana menyalakan pemantik api itu dan melemparkannya ke arah mobil yang di dalamnya terdapat tubuh suaminya yang masih setengah sadar.

__ADS_1


Eliana langsung tersenyum lebar begitu melihat api yang langsung berkobar begitu pemantik dengan kondisi menyala itu hampir menyentuh mobil. Setelah itu dengan santai bersama Rolland berjalan menjauhi dari tempat itu.


Sejak saat itu Eliana bersumpah, bahwa jika dia memiliki anak laki-laki, dia akan membuat semua orang menghormati anak laki-lakinya. Dia akan membuat anak laki-lakinya sebagai kebanggaannya. Yang akan dapat membuatnya terlindungi dari segala tekanan dan serangan dari orang lain.


"Kamu boleh marah terhadap sikap Alvero, tapi ingat! Menemukan Avitus adalah fokus kita saat ini. Kita harus bisa segera menemukannya sebelum Alvero yang menemukan Avitus. Atau kita berada dalam bahaya, apalagi kalau dia menceritakan semua hal yang dia tahu tentnag kelompok para pemberontak yang selama ini berda di bawah pimpinan kita berdua." Perkataan Rolland membuat Eliana tersadar dari lamunannya.


Mendengar perkataan dari Rolland, Eliana langsung mendengus dengan wajahnya yang terlihat begitu kesal.


"Dasar Avitus! Bisa-bisanya di melarikan diri! Jangan khawatir, selama anak istrinya ada di tangan kita, Avitus pasti tidak akan berani macam-macam dan tidak akan bisa lari jauh dari kita. Kita hanya tinggal menunggu waktunya dimana dia datang dan memohon kepada kita. Apalagi uang yang aku janjikan, belum semuanya aku berikan kepadanya. Dia pasti akan menagih sisa uang pembayaran itu, karena dia mau melakukan semua itu karena uang. Saat itu tiba, kita akan habisi semuanya, baik Avitus dan anak istrinya." Eliana berkata sambil menyunggingkan senyum di bibirnya, seolah dia sudah pasti akan meraih kemenangan.


"Yang penting sekarang, aku akan mulai pelan-pelan memakai Alaya sebagai alat untuk membuat Alvero diserang oleh publik, dia akan menjadi bulan-bulanan rakyat. Rakyat sekarang berbeda jauh dengan jamanku dulu dimana rakyat benar-beanr tidak berani bersuara sedikitpun. Di negara dengan sistem monarki absolut ini, hanya ada dua cara untuk bisa membuat seorang raja meletakkan mahkota di kepalanya. Dengan adanya pemberontakan dan merebut secara paksa tahta yang dimilikinya. Atau menggiring opini rakyat banyak agar tidak bersimpati terhadap raja dan meminta raja turun dari tahtanya dengan pemberontakan yang dilakukan oleh rakyatnya sendiri." Perkataan Eliana membuat Rolland langsung mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan senyum menyeringai terlihat di bibirnya.


# # # # # # #


"Sial! Benar-benar sial! Dasar kalian sekumpulan orang-orang tidak berguna! Kalian para laki-laki yang sudah begitu terlatih dalam bertarung dan menggunakan senjata! Bagaimana bisa menjaga dua orang perempuan lemah saja tidak becus!" Eliana berteriak sambil melempar sebuah vas bunga ke arah kepala salah seorang pengawalnya yang berlutut dengan satu kaki di hadapannya, yang tentu saja tidak berani melakukan gerakan menghindar atau Eliana akan bertambah marah.

__ADS_1


__ADS_2