
Lemparan vas dari Eliana kepada pengawalnya itu langsung tepat mengenai pelipis pengawal itu, meninggalkan luka gores di sana.
Rolland yang melihat bagaimana kemarahan Eliana hanya tersenyum sambil tetap sibuk membersihkan pistol yang ada di tangannya sambil bersiul-siul kecil.
"Maaf Yang Mulia Eliana." Pengawal itu berkata pelan dengan kepala tetap tertunduk.
Dan kening laki-laki itu, yang terkena vas terlihat mengalirkan darah segar, membasahi pelipisnya. Tapi hal itu tidak dia perdulikan, karena amarah Eliana baginya lebih menakutkan dari sekedar rasa sakit dan perih yang sedang dia rasakan saat ini.
Melihat pengawal yang melaporkan bahwa anak dan istri Avitus berhasil melarikan diri, dibantu oleh sekelompok orang tidak dikenal, membuat Eliana begitu marah, dan tidak perduli walaupun pengawal di hadapannya terluka karena lemparan vas darinya.
"Pergi dari sini! Segera cari info siapa orang-orang yang sudah berhasil menyelamatkan anak dan istri Avitus! Jangan pernah kembali padaku dalam keadaan hidup sebelum kamu mendapatkan info tentang itu dan berhasil membawa kembali istri dan anak Avitus kepadaku! Atau dengan tanganku sendiri, aku yang akan mencabut nyawamu!" Eliana berteriak keras sambil menendang ke arah bahu laki-laki itu dengan kasar, dan dengan sikap sigap, pengawal itu berusaha untuk tetap pada posisinya, menahan tubuhnya agar tidak terjatuh walaupun tendangan dari Eliana cukup kuat dan menyakitkan baginya.
“Baik Yang Mulia Eliana. Kami akan segera menangkap kembali anak dan istri tuan Avitus.” Pengawal itu berkata sambil bergerak mundur sambil bagnkit dari berdirinya dan melangkah meninggalkan Eliana yang tampak begitu kesal.
“Avitus? Dimana kira-kira kamu sekarang? Jangan bilang kamu berusaha untuk mengkhianatiku. Siapa yang sudah membantumu melepaskan istri dan anakmu? Apa mungkin…. Alvero?” Eliana bergumam pelan.
Sebuah suara nada panggilan telepon langsung membuat Eliana menghentikan gumamannya.
Begitu melihat nama Avitus di layar handphone miliknya, Eliana sedikit tersentak kaget, tidak menyangka bahwa Avitus akan menelponnya.
__ADS_1
"Avitus! Dimana kamu sekarang?" Tanpa basa basi, Eliana langsung berteriak setelah mengangkat panggilan telepon dari Avitus.
"Selamat malam Ibu Suri Eliana." Avitus menjawab teriakan Eliana dengan ucapan salam yang terdengar diucapkan dengan suara tenang, membuat Eliana justru semakin emosi dan merasa disepelekan.
Sedang Avitus sendiri hanya bisa menahan nafasnya mendengar teriakan dari Eliana yang menunjukkan kemarahannya. Mata Avitus menatap ke arah layar handphone miliknya yang tergeletak di atas meja, tepat di depan kursi yang sedang didudukinya.
"Apa maksudmu menghilang tanpa kabar seperti ini?" Eliana berkata sambil berjalan mendekati jendela apartemen miliknya, yang sengaja didatanginya karena malam ini dia tidak ingin tinggal di istana setelah Evan mengobrak-abrik istana tadi siang, meninggalkan amarah dan rasa jengkel yang berkepanjangan dalam hatinya.
"Kalau saya tidak segera menghilang seperti sekarang, mungkin saat ini nyawa saya sudah berpisah dari tubuh saya. Dan yang melakukannya itu, bisa jadi adalah Anda Ibu Suri." Mendengar sindiran dari Avitus, Eliana terdiam sebentar, berusaha mencari cara agar Avitus tidak melakukan hal bodoh, dan justru berbalik menyerangnya karena Avitus sudah mengetahui niatnya untuk membunuh Avitus dan keluarganya setelah dia menyelesaikan tugasnya untuk meracun Deanda.
"Kamu terlalu banyak berpikir yang aneh-aneh Avitus." Dengan nada suara yang sengaja terdengar lebih tenang, Eliana berusaha membalas perkataan Avitus.
Panggilan telepon sengaja Erich yang melakukannya untuk Avitus, dengan menggunakan mode pengeras suara, sehingga mereka yang ada di dekat Avitus bisa dengan jelas mendengarkan detail pembicaraan Avitus dan Eliana.
"Benarkah seperti itu Ibu Suri? Tapi dengan mata kepala saya sendiri, saya sudah melihat bagaimana Ibu Suri sudah menyandera anak dan istri saya. Bagaimana mungkin Ibu Suri mau berkelit?" Perkataan Avitus membuat wajah Eliana langsung memerah, karena tidak menyangka Avitus langsung mengatakan hal seperti itu.
"Kamu...." Eliana menghentikan kata-katanya sambil menarik nafas panjang, karena menyadari bahwa Avitus sudah mengetahui niat buruknya untuk menghabisi keluarga Avitus, setelah dia berhasil melakukan tugasnya.
"Tenang saja Ibu Suri, saya tidak keberatan dengan apa yang sudah dilakukan Ibu Suri, karena saya adalah orang yang cukup pemaaf. Lagipula... dengan sebagian uang yang sudah saya terima, dengan mudah saya menyewa orang untuk menyelamatkan anak dan istri saya. Di jaman sekarang ini, semuanya tentu saja bisa kita dapatkan asal ada uang." Avitus berusaha berkata-kata dengan setenang mungkin, dengan mata Alvero maupun Erich dan Ernest yang menatapnya dengan intens, memaksa Avitus agar dapat memainkan perannya sebagus mungkin di depan Eliana.
__ADS_1
Alvero sengaja memerintahkan Avitus untuk menghubungi Eliana dan membaut wanita itu percaya bahwa bukan orang-orang Alvero yang sudah menyelamatkan anak dan istri Avitus tadi.
Hah! Paling tidak mereka bukan orang-orang Alvero yang sudah membebaskan anak dan istri Avitus tadi. Berarti Avitus belum menyeberang ke pihak Alvero. Aku harus membuat agar Avitus tetap berada di pihakku sampai aku bisa menemukan dia bersama anak dan istrinya, lalu menghabisi mereka semua.
Eliana berkata dalam hati sambil tangannya memberi tanda kepada Rolland untuk mulai memerintahkan kepada anak buahnya, melakukan pengecekan dimana lokasi Avitus sekarang melalui sinyal handphonenya.
"Ok, aku mengerti. Semua bisa kita bicarakan secara baik-baik. Sekarang, apa yang kamu inginkan?" Akhirnya Eliana mencoba untuk menenangkan Avitus.
"Tidak banyak, serahkan saja sisa uang yang sudah Ibu Suri janjikan kepada saya. Tujuh puluh lima persen, sisa dari kesepakatan awal kita, yang baru aku terima dua puluh lima persennya. Tidak kurang satu sen pun." Perkataan Avitus membuat Eliana tertawa kecil.
"Hah, uang sekecil itu, tidak ada artinya bagiku. Kalau begitu, mari kita bertemu, dan aku akan memberikan uang itu secara tunai. Kamu tahu siang ini istana sudah diobrak abrik oleh duke Evan, baik para pekerja dan laporan arus kas keuangan istana. Aku tidak bisa dengan sembarangan mentransfer uang kepadamu, kalo tidak ingin menimbulkan kecurigaan dari duke Evan yang pasti akan melaporkannya kepada Raja Alvero." Eliana mencoba berkelit dan mencari kesempatan untuk bertemu dengan Avitus secara langsung, sehingga dia bisa menjebak, dan menangkap Avitus.
"Maaf Ibu Suri, dengan kejadian yang sudah ada, saya tidak yakin Ibu Suri memiliki niat yang tulus kepada saya. Jika saya tidak bisa mendapatkan uang itu dengan cara saya, lebih baik saya menemui Yang Mulia Alvero dan menyerahkan diri padanya, juga...."
"Avitus! Jangan berani-beraninya melakukan itu atau aku akan segera mengirimkan orang untuk memburu dan membunuhmu!" Eliana langsung memotong perkataan Avitus dan berteriak keras, membuat Ernest langsung mengernyitkan dahinya, sedang Alvero menahan tawanya, karena merasa senang bisa mengerjai Eliana sampai kehilangan kendali seperti itu.
__ADS_1