
Untuk waktu yang tidak sebentar mereka berdua saling menunjukkan rasa cinta mereka kepada masing-masing pasangannya dengan ciuman yang awalnya hangat dan mesra, tetapi semakin lama semakin dalam dan bergairah. Melalui ciuman itu mereka ingin menunjukkan bahwa saat ini mereka begitu memuja dan mencintai pasangannya. Rela melakukan apapun untuk orang yang mereka cintai.
Sampai mereka berdua hampir kehabisan nafas, baru dengan sikap enggan dan terpkasa, Alvero menjauhkan bibirnya dari Deanda yang langsung mengambil nafas. Setelah itu tawa kecil terlihat di wajah Deanda, menunjukkan dia merasa begitu lega sekaligus bahagia telah mengetahui kebenaran tentang kejadian 15 tahun yang lalu.
Sebuah kebenaran yang membuat Deanda semakin mencintai Alvero, seperti Alvero yang juga semakin mencintai wanita yang sudah membuatnya berhutang nyawa 15 tahun yang lalu.
Bukan karena Deanda adalah penyelamatnya yang membuat Alvero begitu mencintai istrinya. Akan tetapi, mengetahui bahwa wanita tercintanya yang sudah menyelamatkannya, membuat Alvero semakin mencintai permaisurinya itu.
Tangan Alvero yang awalnya merangkum wajah Deanda bergerak turun dan melingkar dari lengan bagian samping ke punggung Deanda, dengan tatapan mata Alvero yang sedang mengamati wajah istrinya dengan tatapan mesra tanpa bosan-bosannya.
“You are my most beautiful angel. Deanda Fereder, I will love you until the end of the world.” Alvero berkata dengan tatapan matanya yang dengan intens terus menerus menatap ke arah Deanda tanpa bosan-bosannya.
Melihat bagaimana cara Alvero memandanginya membuat Deanda menjadi kikuk, dan berusaha segera mencari bahan pembicaraan untuk mengalihkan rasa canggungnya, yang sebenarnya justru membuat Alvero merasa gemas. Kalau saja tidak ingat mereka sedang berada di kamar Vincent, rasanya ingin sekali Alvero menggendong tubuh istrinya, membawanya ke tempat tidur dan memanjakannya hingga pagi.
"Kita hampir saja lupa diri. Lihat akibat perbuatanmu my Al. Bahkan papa Vincent dan Enzo jadi terusir dari kamar ini." Alvero yang tangannya masih melingkar di tubuh Deanda hanya tersenyum mendengar celoteh Deanda.
__ADS_1
"Apa kamu tidak salah? Kenapa itu menjadi kesalahanku? Padahal kita berdua yang melakukannya? Kamu bisa saja menolak dari awal saat aku mulai menciummu. Tapi sepertinya, tubuhmu juga begitu menginginkan sentuhanku, dan pasti juga merindukan kehangatan tubuhku." Alvero berkata dengan nada menggodanya, sambil tangannya dengan usil bergerak ke balik kemeja yang dikenakan oleh Deanda, dan mulai menyentuh permukaan kulit tubuh Deanda, membuat Deanda hanya bisa terdiam dengan wajah memerah.
Hah! Walaupun ingin menyangkal. Tapi yang dikatakan oleh yang mulia semuanya benar. Aku selalu tidak bisa menghindar dan justru menikmati setiap sentuhan dan ciuman dari yang mulia. Bagiku, yang mulia adalah segalanya untukku. Asal dia bahagia, aku akan ikut bahagia. Seperti 15 tahun yang lalu, asal dia selamat, aku rela melakukan apapun untuknya. Karena aku tidak bisa hidup tanpanya lagi. Bagiku, yang mulia adalah matahari kehidupanku.
Deanda berkata dalam hati sambil tangannya tiba-tiba melingkar ke lengan Alvero tanpa menanggapi godaan Alvero, yang sebenarnya cukup membuatnya terpancing. Tapi Deanda cukup sadar diri bahwa sekarang mereka sedang berada pada tempat dan waktu yang tidak tepat.
"My Al, ayo kita keluar dari kamar ini. Aku merasa tidak enak sudah membuat papa Vincent dan pangeran Enzo tersingkir karena tindakan kita yang tidak melihat tempat dan waktu." Deanda berbisik pelan sambil tangannya yang melingkar di lengan Alvero menarik lembut agar Alvero segera memenuhi keinginannya untuk keluar dari kamar Vincent.
"Sweety, apa itu artinya kita bisa meneruskannya jika di kamar kita sekarang? Di tempat yang tepat?" Mendengar pertanyaan Alvero yang lagi-lagi menjurus ke arah sana, membuat wajah Deanda kembali memerah dan sedikit salah tingkah.
"Kita belum makan malam bersama papa dan pangeran Enzo...."
Sesuatu yang begitu tidak disangka oleh Alvero, bahwa gadis kecil yang selama ini begitu mengusik pikirannya dan membuatnya merasa berhutang budi dan nyawa, tenyata adalah wanita yang sudah menjadi separuh nafasnya.
"Aku lapar Yang Mulia." Deanda langsung menjawab singkat pertanyaan Alvero yang tidak dapat berbuat banyak karena mereka sudah berada di luar kamar Vincent, dan banyak pengawal maupun para pelayan yang bersliweran di sana, membuat mereka berdua harus berhati-hati dalam bertindak dan berkata-kata sebagai raja dan permaisuri yang tingkah lakunya menjadi contoh dan panutan bagi banyak orang di sekitarnya.
__ADS_1
"Hah..." Alvero hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengendalikan gairah dalam dirinya yang sedang berkobar.
Sejak tadi, setiap sentuhan Deanda sudah membuat gairah Alvero terbangun. Ditambah lagi kebenaran yang membuat Alvero merasa semakin jatuh cinta kepada Deanda, membuat gairahnya semakin menggebu. Rasanya Alvero ingin menumpahkan ucapan syukur dan rasa cintanya kepada Deanda dengan memanjakan Deanda dalam pelukannya sepanjang malam ini.
“Kalau begitu, makanlah yang banyak, agar kamu memiliki banyak energi untuk nanti malam di kamar.” Alvero berbisik pelan sambil meninggalkan sebuah kecupan mesra di telinga Deanda yang tubuhnya langsung tersentak dengan dada berdebar keras.
“Besok pagi-pagi sekali kita harus segera kembali ke Tavisha, sebaiknya malam ini kita tidur lebih awal.” Deanda membalas bisikan Alvero dengan tidak kalah pelannya.
Melihat reaksi Deanda yang begitu banyak mencari alasan, membuat Alvero berusaha dengan keras menahan dirinya kali ini, untuk tidak memaksakan keinginannya kepada Deanda.
Namun begitu melihat bagaimana Deanda yang tiba-tiba saja mempererat pelukan di lengannya, dan juga berjalan sambil menyandarkan kepalanya di bahunya, membuat senyum mengembang di bibir Alvero. Karena Alvero tahu bahwa Deanda sedang memberinya kode bahwa dia tidak akan keberatan jika Alvero meminta jatahnya malam ini, karena dia juga menginginkan Alvero.
Sepertinya, malam ini akan menjadi malam dimana mereka akan merayakan hari bersejarah. Dimana pada akhirnya, mereka berdua mengetahui rahasia tentang kejadian 15 tahun yang lalu. Malam ini mereka ingin merayakannya dengan memberikan yang terbaik untuk pemilik hati dan cinta mereka.
# # # # # # #
__ADS_1
"Pa, aku sudah sedikit lupa dengan akhir peristiwa penculikan itu. Bisakah papa menceritakannya pada kami berdua?" Alvero yang masih merasa begitu penasaran dengan cerita penculikannya 15 tahun yang lalu, berkata sambil mencomot sepotong buah kiwi yang ada di piring di depannya.
Mendengar pertanyaan Alvero, Enzo yang sedang mengunyah steak daging sebagai menu makan malamnya hari ini langsung mengarahkan pandangan matanya ke arah Vincent. Mau tidak mau, Enzo yang juga baru hari ini mendengar kebenaran tentang siapa penyelamat Alvero 15 tahun yang lalu itu juga merasa begitu penasaran dengan cerita di balik kejadian heroik saat itu.