
Apa yang sedang kamu lakukan duke Evan? Jangan bilang kamu masih menginginkan permasuriku. Jangan berani-beraninya meminta hal mustahil seperti itu.
Alvero berkata dalam hati sambil menatap tajam ke arah Evan. Karena bagaimanapun, Alvero kembali teringat tentang permintaan yang pernah diajukan Evan kepadanya dulu. Ijin untuk menjalin hubungan serius dengan Deanda, untuk menjadikan Deanda sebagai istrinya.
Dan dengan rasa cinta yang begitu besar terhadap permasurinya, tidak akan pernah raja muda Gracetian itu membiarkan seseorang mengusik istri kesayangannya itu.
"Katakan padaku apa yang kamu inginkan dariku. Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, jika aku bisa memberikannya aku akan mengabulkannya." Alvero berkata dengan mata tetap menatap tajam ke arah Evan.
Syukurlah, melihat reaksi yang mulia Alvero terhadap perkataanku, menunjukkan bahwa yang mulia benar-benar mencintaimu Deanda. Dan tidak akan dengan mudah membiarkan Deanda menjauh darinya.
Evan berkata dalam hati sambil menyunggingkan senyum ke arah Alvero.
"Saya...." Baru saja Evan berniat menyampaikan keinginannya, tanpa sengaja seseorang menabrak tubuh Evan yang dengan sigap langsung menoleh karena kaget.
"Ah, maaf... maafkan aku Duke Evan." Alaya yang baru saja menabrak tubuh duke Evan karena menghindari tumpahan air yang dibawa oleh salah seorang pelayan yang terpeleset ke arahnya langsung meminta maaf kepada Evan.
"Eh, iya Putri Alaya. Apa Putri baik-baik saja?" Evan berkata sambil mengamati sosok Alaya yang langsung tersenyum ramah ke arahnya.
"Terimakasih Duke Evan, mohon maafkan kecerobohan pelayan istana kami. Membuat saya menabrak duke Evan karena berusaha menghindarinya." Evan langsung membalas permohonan maaf Alaya dengan senyum, karena sebagai seorang putri Gracetian Alaya terlihat tidak merasa canggung mengucapkan maaf berulang kali, justru membuat Evan menjadi canggung.
"Jangan terlalu sungkan Putri." Jawaban Evan membuat Alaya kembali tersenyum sambil mendekat ke arah Alvero.
__ADS_1
"Kak, mama dan papa mencarimu dan kak Deanda." Alaya berkata sambil menarik lengan Alvero dengan manja, membuat Evan menahan senyum gelinya melihat sikap Alaya kepada Alvero.
"Sebentar, katakan pada mereka aku masih ada sedikit urusan dengan duke Evan...."
"Eh, jangan perdulikan saya Yang Mulia. Lain waktu saya akan menyampaikan apa hadiah yang saya inginkan. Tidak harus hari ini. Kita bisa menundanya. Kalau begitu saya akan menemui yang lain terlebih dahulu Yang Mulia. Saat waktunya tepat, saya akan menyampaikan permintaan saya." Evan berkata sambil melangkah mundur sebanyak dua langkah, sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum akhirnya berjalan dengan elegan meninggalkan Alvero, Alaya dan Deanda.
Putri Alaya, sepertinya anda benar-benar gadis yang menarik dan menyenangkan. Yang mulia Alvero beruntung memiliki adik seperti anda.
Evan berkata dalam hati sambil menahan nafasnya sebentar, sebelum akhirnya mengulum senyum di bibirnya sambil mendekat kea rah Alexis, sosok laki-laki yang selama pelatihan membuatnya kagum dan membuatnya menemukan sosok yang bisa dijadikan panutan baginya.
Alvero dan Deanda sedang berbicara santai dengan Vincent dan Larena ketika dari arah sampingnya terdengar suara seseorang menyapanya. Dan begitu menoleh, tubuh Alvero langsung tersentak kaget.
"Selamat sore Yang Mulia." Bukan sapaan Erich yang membuat Alvero tersentak kaget, tapi seseorang yang duduk di atas kursi roda yang didorong oleh Erich.
Sedang Ernest sendiri langsung mendongak dan menatap ke arah Erich dengan tatapan bingung dan tetap dalam posisi diam, seolah tidak mengenal Alvero.
"Erich! Apa yang terjadi pada Ernest? Kenapa dia hanya diam? Apa dia tidak mengenaliku lagi? Apa dia mengalami amnesia?" Alvero bertanya kepada Erich dengan wajah khawatir.
"Ernest, apa kamu baik-baik saja?" Deanda bertanya pelan dan mendekat ke arah Ernest.
Tangan Deanda terulur ke arah Ernest, bermaksud memegang tangan Ernest yang saling menggenggam dengan posisi di atas pangkuannya yang sedang duduk di atas kursi roda.
__ADS_1
Melihat gerakan Deanda, dengan sigap tangan Ernest langsung bergerak cepat mendorong kursi rodanya agar mundur menjauhi Deanda.
"Tolong... jangan lakukan itu Yang Mulia Permaisuri Deanda, atau Yang Mulia Alvero akan benar-benar membunuh saya." Ernest berkata pelan sambil tersenyum ke arah Deanda yang langsung terbeliak.
Namun, sebentar kemudian Deanda langsung tertawa lebar, menyadari bahwa Ernest hanya berpura-pura tidak mengenal mereka.
"Sungguh bersyukur Yang Mulia Alvero dan Permaisuri Deanda baik-baik saja." Ernest berkata dengan nada tulus, sambil melipat kedua bibirnya ke dalam untuk menahan rasa haru dalam hatinya, yang membuat matanya hampir saja tidak bisa menahan tangisnya.
Dengan cepat Alvero berjalan mendekati Ernest, membungkukkan tubuhnya di depan Ernest, dan langsung memeluk tubuh Ernest.
"Senang sekali melihatmu kembali padaku Ernest." Alvero berkata pelan, membuat Ernest memejamkan matanya.
"Saya sungguh merindukan Yang Mulia. Terimakasih Yang Mulia tidak menyerah terhadap saya dan terus mencari saya sehingga saya bisa selamat." Mendengar perkataan Ernest, Alvero menarik nafas dalam-dalam untuk mencegah air matanya turun, karena dia tahu pasti, jika saja mereka terlambat sedikit saja saat menemukan Ernest, nyawanya pasti tidak tertolong.
"Cepatlah sembuh, dan kita bisa lagi berpetualang seperti biasanya. Ingat bahwa aku tidak akan pernah menggantikan posisimu dengan orang lain. Karena itu, kamu harus segera kembali ke tempatmu." Alvero berkata sambil melepaskan pelukannya, dipandanginya wajah Ernest dengan tatapan mata lega, dibalas oleh sebuah anggukan pasti oleh Ernest sambil tersenyum.
Sebuah senyuman yang beberapa hari ini cukup dirindukan baik oleh Alvero maupun Deanda yang sudah terbiasa dengan keberadaan Ernest di sekitar mereka.
"Baik Yang Mulia." Dengan suara lantang Ernest menjawab perintah dari Alvero, membuat yang lain langsung tertawa.
Ah Tiana, kamu pasti akan merasa begitu bahagia melihat bagaimana kehidupan anak kita dan juga bagaimana keluarga Adalvino bisa kembali utuh. Pengorbananmu malam itu, sungguh merupakan pengorbanan besar yang akan selalu menjadi bagian dari sejarah kerajaan Gracetian. Dan putri cantik kita Deanda, saat ini sedang mengandung calon cucu kita. Setelah sekian lama kami berpisah dan saling menderita satu sama lain, sepertinya sekarang tidak ada hari tanpa merasakan bahagia yang akan kami lalui.
__ADS_1
Alexis berkata sambil menyeruput teh hangat dari cangkir keramik berlapis emas murni yang sedang dipegangnya.