
Melihat bagaimana wajah Deanda yang tidak tenang dan kembali memucat, Alvero yang memandang ke arah Deanda langsung mencondongkan tubuhnya ke samping dan berbisik pelan kepada Deanda.
“Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu ingin beristirahat sweety?” Mendengar bisikan pelan dari Alvero, Deanda langsung menggelengkan kepalanya tanpa berpikir lama.
Rasanya saat ini ada belasan atau bahkan puluhan pertanyaan yang begitu ingin dia tanyakan kepada Alexis. Tapi bibirnya rasanya begitu sulit untuk terbuka dan mengeluarkan suara.
Sesaat kemudian, Alexis melanjutkan ceritanya, tentang kondisi Larena yang terlukan parah pasca kebakaran, yang sengaja dia larikan keluar negeri agar keberadaannya tidak diketahui oleh Eliana.
Karena luka bakar yang cukup parah, sekaligus kondisi trauma psikisnya, belum lagi saat itu Larena sedang hamil di trimester pertama kehamilannya, apa yang dialaminya sempat membuatnya koma selama lebih dari sebulan.
Kondisi Larena yang sedang hamil juga membuat dokter kesulitan untuk melakukan tindakan, terutama tindakan yang memerlukan anestesi, padahal untuk memulihkan beberapa bagian tubuh Larena yang terluka, dokter harus melakukan tindakan pembedahan yang pastinya membutuhkan tindakan anestesi.
(Anestesi (pembiusan; berasal dari bahasa Yunani an-"tidak, tanpa" dan aesthētos, "persepsi, kemampuan untuk merasa"). Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846. Pengertian Anestesi merupakan suatu tindakan untuk menghilangkan rasa sakit ketika dilakukan pembedahan dan berbagai prosedur lain yang menimbulkan rasa sakit, dalam hal ini rasa takut perlu ikut dihilangkan untuk menciptakan kondisi optimal bagi pelaksanaan pembedahan).
__ADS_1
Kehamilan Larena yang usianya masih begitu muda membuat dokter harus menunda tindakan mereka sampai Larena melahirkan agar tidak berbahaya untuk janinnya. Hal itu mengakibatkan Larena harus sering keluar masuk rumah sakit karena pengobatan sementara yang dilakukan dokter kadang membuat kondisi tubuh Larena lemah dan mengalami kesakitan sehingga harus dilarikan ke rumah sakit waktu itu juga.
(Ibu yang menerima anestesi di usia kehamilan awal dapat melahirkan bayi dengan kecacatan sistem saraf pusat. Selain itu, bayi juga berisiko terkena katarak kongenital dan cacat lainnya seperti hidrosefalus. Oleh sebab itu, jika prosedur bius dibutuhkan biasanya akan menunggu hingga kehamilan memasuki trimester kedua, atau jika tidak terpaksa harus ditunda hingga bayi lahir).
Dan kondisi Larena yang sedang hamil, selain dokter tidak bisa melakukan tindakan bedah, dokter juga tidak berani terlalu banyak memberinya obat analgesik dan antibiotik, yang pasti juga akan berpengaruh banyak pada pertumbuhan janin jika digunakan dengan sembarangan pada wanita hamil.
(Tidak semua, tapi ada obat analgesik yang dapat menyebabkan kegagalan fungsi dan risiko hemoragi, menunda persalinan dan memperlama proses persalinan dengan peningkatan risiko pendarahan pada ibu hamil, terutama di minggu-minggu terakhir kehamilan).
“Setelah permaisuri Larena melahirkan pun, dia memerlukan waktu lebih dari tiga tahun untuk membuat luka di tubuhnya benar-benar sembuh. Tapi masalahnya, saat itu bukan hanya luka fisik yang dialami oleh permaisuri Larena, tapi luka psikis. Sempat beberapa lama permaisuri Larena begitu ketakutan saat bertemu dengan orang asing dan tidak berani mendekati api bahkan api dari nyala kompor bisa membuatnya histeris. Dan itu terjadi selama bertahun-tahun.” Alexis kembali menceritakan kondisi Larena pasca dia melahirkan Alaya.
Alvero menahan nafasnya sambil menahan rasa sakit di dadanya mendengar cerita menyedihkan tentang mamanya setelah pergi meninggalkan istana. Dengan jelas Alvero tahu apa itu dan bagaimana rasa dari trauma. Karena dia sendiri sudah mengalaminya.
Bagaimana kekejaman seorang Eliana dan ketakutan yang ditimbulkannya sudah mengakibatkan trauma yang mendalam pada Alvero dengan sosok wanita, membuatnya bertahun-tahun mengalami alergi saat bersentuhan kulit dengan wanita, sampai dia menemukan sosok Deanda, yang ternyata pernah menolongnya di masa kecilnya, sehingga setiap berada di dekat Deanda, Alvero selalu merasa nyaman dan tenang.
__ADS_1
“Permaisuri Larena sosok wanita yang hebat. Di tengah semua masalah yang dia hadapi, dia tetap berusaha membesarkan putri Alaya dengan baik. Walaupun tahun-tahun dimana dia baru saja mengalami peristiwa kebakaran itu membuatnya menjadi seorang wanita yang hampir tidak pernah berbicara dengan orang lain, termasuk saya, apalagi orang asing. Beberapa orang bahkan mengira permaisuri seorang wanita bisu. Tapi permaisuri selalu tersenyum saat melihat putri Alaya. Hanya saja sesekali saat mungkin ingatannya kembali ke peristiwa mengerikan itu, membuatnya tiba-tiba terdiam dengan tatapan mata kosong dan tidak perduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya.” Membayangkan bagaimana kondisi mamanya saat itu, membuat Alvero menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar melalui sela-sela bibirnya.
“Apakah Tuan Alexis tahu kenapa permaisuri Larena tidak membawaku keluar dari istana bersamanya waktu itu?” Mendengar pertanyaan Alvero, Vincent cukup tersentak kaget, dan Alexis menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari Alvero itu.
“Saat itu permaisuri Larena tahu tempat teraman bagi yang mulia yang masih kecil adalah di istana sebagai putra mahkota, karena bagaimanapun, yang mulia Vincent pasti akan melindungi yang mulia Alvero. Permaisuri Larena bukannya tidak memiliki keinginan untuk membawa yang mulia Alvero bersamanya. Pernah dia meminta pendapat kepada saya bagaimana caranya agar dia tetap bisa bersama yang mulia Alvero walaupun dia berada di luar istana. Tapi setelah beberapa kali mengalami percobaan pembunuhan, permaisuri Larena takut kalau ke depannya dia tidak bisa melindungi yang mulia Alvero dengan baik.” Penjelasan dari Alexis tanpa sadar membuat Alvero sedikit menarik nafas lega.
Ternyata mama tidak membawaku karena dia khawatir aku akan terbunuh oleh Eliana. Dasar wanita ular! Kekejamanmu sudah tidak bsia dimaafkan lagi! Tidak akan ada ampun bagimu! Aku akan membuatmu membalas setiap rasa sakit yang sudah kamu ciptakan bagi keluargaku.
Alvero berkata dalam hati sambil menggeretakkan giginya karena menahan amarahnya karena teringat tentang sosok Eliana.
“Kenapa saat itu kamu tidak langsung memberitahukan kepadaku masalah ini Alexis?” Vincent berkata dengan nada suara terdengar bergetar, tidak menyangka bahwa selama ini di belakangnya Eliana sudah bertindak begitu kurang ajar terhadap Larena.
“Maaf Yang Mulia. Sebenarnya saat itu, semua kejadian yang dialami oleh permaisuri Larena beberapa diantaranya terihat seperti sebuah kecelakaan yang tidak di sengaja. Dan untuk pembunuh bayaran yang berhasil kami tangkap, mereka langsung melakukan aksi bunuh diri. Membuat kami kehilangan rantai yang menghubungkan antara pembunuh dan tuan yang sudah memerintahkannya. Kami terus melakukan penyelidikan dan itupun hanya ada satu saksi sopir truk yang akhirnya mengakui perbuatannya karena hidupnya tidak tenang setelah berusaha menabrak permaisuri, tapi sebelum kami berhasil menginterogasinya lebih lanjut, terjadi kebakaran hebat di kediaman permaisuri Larena.” Alexis mengakhiri kata-katanya dengan sebuah tarikan nafas yang panjang.
__ADS_1
Mengingat semua kejadian buruk di masa lalu, bukanlah sebuah hal yang mudah, dan itu juga sedang dirasakan oleh Alexis saat ini. Alexis tahu, cerita di masa lalu itu, bukan hanya melukai Deanda, Alvero, Vincent, ataupun Larena, tapi juga begitu melukai dirinya sendiri.