BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PEMILIK LIONTIN SEBELUMNYA


__ADS_3

Deanda menarik nafas panjang untuk mengendalikan dirinya agar tidak tergoda oleh setiap perlakuan lembut dan mesra dari Alvero.


"Tapi my Al, bagiku bukan indah atau mewahnya pigura itu, tapi bagaimana kita menghargai momen dalam foto itu. Aku berharap setiap kita melihat foto itu, kita selalu ingat dengan sumpah setia yang sudah kita ucapkan di depan Tuhan dan para saksi, untuk kita bisa saling mencintai, saling mendukung, dan saling percaya hingga maut memisahkan." Deanda berkata sambil menggerakkan kepalanya ke samping, hingga dia bisa mengecup dengan mesra dan lembut kening Alvero yang kepalanya sedang bermanja di antara leher dan bahunya.


"Jangan khawatir sweety, tanpa melihat foto itu, dalam hati dan pikiranku, aku akan selalu teringat akan sumpah setiaku padamu. Dan seumur hidupku aku akan selalu berusaha untuk menepatinya. Karena bagiku, kamu adalah segalanya bagiku." Setelah menyelesaikan kata-katanya, Alvero menjauhkan kepalanya dari leher Deanda dan melepaskan pelukannya dari arah belakang tubuh Deanda.


"Ayo kita teruskan pencarian kita." Alvero berkata sambil merengkuh bahu Deanda, mengajaknya kembali berjalan menyusuri ruangan museum itu sambil memeluk bahu istrinya.


Alvero cukup sadar diri untuk tidak meneruskan aksinya menciumi leher Deanda, atau dia tidak bisa melepaskan diri dari hasrat dan gairahnya yang akan semakin sulit dikendalikan jika dia tidak berhenti sekarang.


Untuk beberapa saat Deanda dan Alvero fokus dalam mengamati foto-foto yang ada di museum itu, terutama foto-foto dari para wanitanya.


Alvero sedikit menarik nafas panjang setelah dia dan Deanda sibuk berkeliling dan mengamati foto-foto yang terpajang di museum, tapi tidak satupun wanita di foto-foto itu mengenakan kalung dengan liontin seperti yanag dikenakan oleh Alaya. Bahkan mengenakan liontin yang sedikit mirip saja tidak mereka temukan.


"Hah, sepertinya prediksiku meleset. Padahal tadinya aku berharap bisa menemukan siapa pemilik liontin itu dengan melihat foto-foto ini. Karena aku tidak bisa lagi mengingat siapa wanita yang memiliki liontin tersebut, walaupun aku yakin aku pernah melihat liontin seperti itu." Alvero berkata sambil salah satu jari-jari tangannya menggaruk alisnya yang tidak gatal.


"Apakah semua foto yang terpajang di tempat ini merupakan semua anggota keluarga kerajaan Gracetian? Ehm... maksudku, mungkin saja ada anggota kerajaan yang fotonya tidak dipasang di sini." Deanda berkata sambil matanya memandang ke arah barisan album foto yang tersususn rapi di lemari besar yang ada di salah satu sudut museum itu.

__ADS_1


"Tidak ada, semua anggota keluarga kerajaan, terutama dengan nama keluarga Adalvino beserta istri mereka selama lebih dari 5 keturunan semuanya sudah ada foto atau lukisannya di museum ini. Untuk album foto yang terletak di sana, itu adalah kumpulan foto-foto lain dari mereka yang sudah ada di sini." Alvero yang melihat kemana mata Deanda sedang memandang langsung memberikan penjelasan tentang album foto yang tersusun rapi di rak.


"Bolehkah aku melihat-lihat sekilas album foto itu?" Deanda bertanya kepada Alvero dengan matanya tetap menatap ke arah album-album foto itu dengan wajah terlihat penasaran.


"Hah! Kenapa kamu harus meminta ijin untuk hal seperti itu. Lihat saja kalau kamu mau melihatnya." Alvero berkata sambil mengacak pelan rambut Deanda dengan gemas karena Deanda sudah bersikap terlalu sopan padanya, yang merupakan suaminya sendiri, seolah sedang bersikap seperti kepada orang lain.


Deanda langsung tersenyum karena mendengar perkataan Alvero, sekaligus merasakan tangan Alvero yang mengacak rambutnya. Dengan sedikit bergegas, Deanda berjalan ke arah rak itu, meninggalkan Alvero yang lebih memilih untuk duduk di sebuah kursi tinggi yang ada di dekatnya sambil menatap ke arah Deanda yang langsung melihat-lihat ke arah album foto itu dan membaca judul dari album-album itu. Judul yang tertulis rapi di bagian pinggiran masing-masing album foto itu. Tertulis secara vertical dari arah bawah ke atas.


Mata Deanda sedikit menyipit melihat sebuah album dengan bertuliskan "VINCENT ADALVINO & LARENA HILMAR (BULAN XX, TAHUN 20XX)." Dengan gerakan sedikit ragu, Deanda meraih album foto itu, dan mulai membuka lembaran demi lembaran foto yang disusun rapi dalam album foto itu.


Permaisuri Larena Hilmar, benar-benar wanita yang terlihat cantik dan anggun. Sosok tampan papa Vincent dan kecantikan dari permaisuri Larena benar-benar menjadi perpaduan yang membuat yang mulia Alvero terlahir dengan sosok yang terlihat begitu sempurna sebagai seorang laki-laki. Sayang sekali waktu untuk mereka bersama dan berjodoh terlalu singkat.


Deanda berkata dalam hati dengan mata yang menatap kagum terhadap sosok Vincent dan Larena di masa muda mereka. Semua foto-foto itu membuat beberapa kali Deanda menarik nafas panjang, sampai ada sebuah foto yang membuat mata Deanda tiba-tiba terbeliak kaget.


Di foto itu tampak background foto berupa sebuah ruangan yang dipenuhi dengan dekorasi bunga bernuansa biru muda dan merah muda, menunjukkan bahwa saat itu Vincent dan Larena sedang dalam momen istimewa mereka. Namun, bukan itu yang membuat mata Deanda terbeliak karena kaget.


Di dalam foto itu terlihat sosok Vincent yang berdiri di belakang tubuh Larena, tampak sedang memasangkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk oval, seperti yang dikenakan oleh Alaya.

__ADS_1


"My Al... kemarilah... sebentar." Dengan suara terputus-putus karena gugup, Deanda memanggil Alvero.


Deanda berusaha memastikan bahwa dia tidak salah lihat dan tidak salah ingat. Akan tetapi berapa kalipun dia berusaha mengingat, dia yakin sepenuhnya bahwa bentuk liontin yang sedang dipasangkan oleh Vincent ke leher Larena itu sama persis dengan liontin yang dikenakan oleh Alaya.


Alvero yang awalnya sedang duduk di sebuah kursi tinggi sambil melipat kedua tangannya di depan perutnya dan asyik mengamati Deanda yang sedang melihat-lihat album foto, langsung melompat dari kursinya begitu mendengar panggilan dari Deanda, dan dengan langkah elegan seperti biasanya, Alvero berjalan ke arah Deanda.


"Ada apa sweety? Apa kamu menemukan sesuatu?" Begitu mendekat ke arah Deanda, mata Alvero ikut menatap ke arah album foto yang sedang terbuka lebar di depan Deanda.


"Lihat ini my Al." Telunjuk tangan Deanda segera menunjuk ke arah foto di bagian leher Larena yang sedang dipasangkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk oval oleh Vincent.


Mata Alvero langsung terbeliak kaget melihat apa yang ditunjukkan oleh jari Deanda. Dengan cepat, Alvero segera mengambil lipatan kertas bergambar liontin yang tadi siang sudah digambarkan oleh Jose dari saku celananya, dan langsung membuka lipatan kertas itu.


Dengan cermat, Alvero mulai mengamati dan membanding-bandingkan antara liontin di foto dan liontin hasil gambaran dari Jose. Alvero menarik nafas panjang sambil memejamkan kedua matanya begitu melihat bahwa kemiripan antara liontin pada gambar hasil coretan tangan Jose dan liontin pada foto itu mencapai lebih dari 90 persen.


 


 

__ADS_1


__ADS_2