
"Aku ikut denganmu." Deanda langsung menanggapi ucapan Alvero agar dia bisa ikut membahas masalah Alexis.
"Tidak. Kamu beristirahat saja di villa. Hari ini kamu bahkan terlihat masih begitu mengantuk." Alvero langsung menolak keinginan Deanda dengan tegas.
Jika saja jujur, Alvero menolak keinginan Deanda untuk ikut dengannya bukan karena murni ingin Deanda beristirahat. Namun, lebih tepatnya Alvero tidak ingin Deanda bertemu dengan Evan, yang sampai detik terakhir saat bertemu dengan Deanda, dari tatapan matanya bagi Alvero, terlihat begitu jelas masih menyimpan rasa cinta dalam hatinya untuk Deanda.
Alvero tahu dia tidak akan membiarkan Evan merebut Deanda darinya, tidak akan pernah memberikan sedikitpun kesempatan bagi Evan untuk dapat melakukan itu. Namun, Alvero sadar dia tidak bisa menghalangi pilihan Evan untuk tetap menyimpan cintanya kepada Deanda. Dan yang bisa Alvero lakukan sekarang hanyalah membatasi pertemuan dan komunikasi antara Evan dan Deanda, agar mereka mulai menjaga jarak diantara mereka.
Entah kenapa, walaupun Deanda sudah menjadi miliknya, bagi Alvero masih begitu sulit untuk membiarkan laki-laki lain memandang kagum ke arah Deanda. Apalagi sosok Evan yang boleh dikata adalah pria nomer dua setelah dirinya di Gracetian yang juga dikenal dengan ketampanan, wibawa dan kehebatannya sebagai pimpinan tertinggi dalam kemiliteran kerajaan Gracetian. Dan yang pasti, pria yang diidam-idamkan para kaum hawa di Gracetian sebagai kekasih ataupun suami mereka.
"Ayolah my Al, aku hanya mengantuk, bukan sedang sakit. Setelah lewat malam ini. Besok pagi pasti aku sudah pulih kembali. Aku mau ikut denganmu besok." Deanda berkata sambil meletakkan gelas kosong di atas nakas, akan tetapi Alvero tetap diam tidak menjawab permintaannya.
"Apa karena aku seorang wanita? Jadi kamu menganggapku tidak pantas untuk ikut campur dalam urusanmu? Tapi ini tentang papa Alexis... aku ingin bisa membantu menemukan bukti-bukti untuk memulihkan nama baik papa. Kamu tidak tahu bagaimana perasaanku melihat papa yang dalam ingatanku adalah seorang papa yang begitu baik dan menyayangi keluarganya, ternyata mendapatkan tuduhan kejam seperti itu." Deanda berkata sambil meraih tangan kanan Alvero dan menggenggamnya dengan erat.
"Sweety, kamu tahu aku tidak pernah merendahkanmu hanya karena perbedaan gender diantara kita. Bahkan kamu tahu aku selalu menganggapmu sebagai patner terbaikku dalam segala hal, termasuk dalam hal aku memimpin kerajaan dan perusahaan. Karena itu, disamping posisimu sebagai permaisuri, aku juga memintamu menjadi asisten pribadiku di perusahaan. Karena aku tahu kemampuan hebatmu. Tapi untuk urusan besok, biarkan aku dan yang lain yang menyelesaikannya untukmu." Alvero berkata lembut, mencoba untuk tetap membuat Deanda membatalkan niatnya untuk ikut dengannya besok menemui Evan.
__ADS_1
“Kamu tahu aku tidak akan bisa beristirahat jika kamu membiarkan aku di sini, tapi hati dan pikiranku ada bersamamu.” Deanda menjawab perkataan Alvero dengan cepat.
"Sweety..." Alvero berkata pelan sambil menggaruk-garuk alisnya.
"My Al... Tolong mengertilah bahwa aku adalah anak satu-satunya dari papa. Aku ingin ikut serta dalam memulihkan nama baik papa. Apapun yang terjadi, aku harus bisa menghapuskan tuduhan itu. Jika bukan aku yang membela nama baik papa, siapa lagi yang akan melakukannya?" Deanda melanjutkan perkataannya dengan sedikit mendongakkan kepalanya, memandang ke arah Alvero dalam-dalam, membuat Alvero harus menelan ludahnya melihat bagaimana bagaimana wajah istrinya yang sedang menatapnya dengan pandangan memelas, membuat hatinya merasa trenyuh, seolah bisa merasakan bagaimana sakitnya melihat kenyataan tentang orang yang begitu disayanginya difitnah sedemikian kejam oleh orang lain.
Keinginan Deanda sebagai seorang anak agar dapat ikut melihat proses bagaimana agar nama Alexis kembali bersih, benar-benar bisa dimengerti oleh Alvero. Bagi Alvero, dia juga seorang anak, yang walaupun tidak dekat dengan Vincent, dia juga menyayangi dan menghormati Vincent sebagai sosok papanya.
Toh, pada kenyataannya, tanpa Vincent, Alvero sadar dia tidak akan pernah ada di dunia ini. Apalagi, sejak mereka melakukan rekonsiliasi tadi pagi, tidak adalagi beban dalam hati Alvero terhadap Vincent. Justru membuat Alvero semakin ingin melakukan yang terbaik agar dapat melindungi papanya itu.
Setelah itu dengan gerakan lembut, Alvero meraih kepala Deanda dan menempelkan pada dada bidangnya, sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Berjanjilah padaku sweety, jangan pernah meninggalkan aku, apapun yang terjadi. Seberat apapun beban yang akan kamu pikul karena menjadi pendampingku, sebagai permaisuri Gracetian dengan sekian banyak tugas dan tanggung jawab, tetaplah bersamaku, tetaplah di sisiku dalam setiap musim hidupku." Mendengar perkataan Alvero yang terdengar menyedihkan, Deanda langsung mendongakkan kepalanya, memandang ke arah Alvero yang ternyata sedang menundukkan kepalanya, dan memandang dalam-dalam ke arah Deanda.
"Kamu ini.... mana mungkin aku bisa lagi meninggalkanmu? Kita sudah terikat selamanya sampai maut memisahkan. Jika ke depannya kamu bertemu dengan gadis lain, kamu juga tidak boleh berpikir untuk bermain curang dan menduakan aku, atau aku benar-benar akan meninggalkanmu." Alvero langsung tersenyum mendengar ancaman dari Deanda.
__ADS_1
"Aku berjanji tidak akan pernah mengalihkan pandangan mataku darimu. Bagiku, tidak ada gadis atau wanita lain selain kamu." Alvero berkata mengecupi kening Deanda beberapa kali dengan mesra, berharap Deanda bisa merasakan begitu besarnya cinta yang dia miliki untuk wanita pilihannya itu.
"Tidak akan ada yang bisa mengalihkan hatiku darimu sweety. Tidak sekarang atau di masa depan. Aku akan selalu memilihmu sebagai wanitaku." Alvero kembali berkata sambil memeluk erat tubuh Deanda yang langsung tersenyum bahagia karena janji Alvero padanya.
"Ah, jika kamu yang meminta, rasanya aku tidak akan pernah sanggup untuk mengatakan tidak. Tapi sweety... bolehkan aku meminta sesuatu padamu sebagai gantinya untuk besok?" Mendengar pertanyaan Alvero, Deanda sedikit menjauhkan tubuhnya dari Alvero, walaupun tidak bisa terlalu jauh karena kedua lengan Alvero masih melingkar di punggungnya, dan tidak membiarkannya untuk bergerak terlalu jauh darinya.
"Apa yang kamu inginkan dariku my Al?" Alvero menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mengucapkan keinginannya.
Alvero tahu permintaannya pasti akan terdengar konyol bagi Deanda, tapi lebih baik dia mengungkapkannya kepada Deanda, daripada dia besok tidak bisa berkonsentrasi dan berpikir jernih saat menghadiri pertemuan dengan Enzo dan Evan.
"Besok... jangan terlalu sering menatap ke arah duke Evan, jangan terlalu banyak memberikan senyum kepadanya. Tidak perlu mengobrol dengannya. Jika ada sesuatu yang ingin kamu ketahui atau tanyakan, berbisiklah kepadaku. Aku yang akan bertanya untukmu." Kedua mata Deanda langsung melotot mendengar perkataan dari Alvero.
"Astaga my Al... Apa yang sedang kamu pikirkan tentang aku dan duke Evan? Jangan bilang kalau kamu... cemburu padanya?" Deanda berkata dengan mata menyipit karena tawa gelinya, begitu mendengar permintaan Alvero yang menunjukkan bagaimana posesif dan pencemburunya pria tampan miliknya itu.
"Siapa bilang aku cemburu? Aku pria nomer satu di kerajaan Gracetian. Kenapa harus cemburu kepada seorang duke? Aku hanya ingin melindungimu...." Alvero berkata pelan dengan sikapnya yang terlihat tidak tenang, membuat Deanda menahan tawa gelinya yang rasanya semakin besar.
__ADS_1