
Dari tatapan matanya terlihat jelas bahwa Alvero tidak bisa menyembunyikan kemarahan dan rasa kecewanya terhadap Avitus yang sudah berani mencoba untuk meracuni Deanda.
"Saya tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Yang Mulia." Avitus berkata dengan sura yang terdengar lemah sambil meringis karena menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Wah, tenyata kamu mau terus menunjukkan kesetiaanmu sampai akhir kepada orang yang sudah menyuruhmu ya? Hebat! Benar-benar hebat sekali orang itu! Bisa membuat seorang Avitus menjadi budaknya.” Alvero berkata sambil bertepuk tangan di depan wajah Avitus dengan sikap jengkel.
“Mau sampai kapan kamu akan berpura-pura bodoh Avitus?" Alvero berkata sambil memberikan tanda kepada Erich yang langsung mendekat dan membungkukkan tubuhnya sambil mendekatkan telinganya ke arah Alvero.
Setelah Alvero membisikkan sesuatu kepada Erich, yang langsung mengangguk-anggukan kepalanya, Erich langsung berjalan ke salah satu sudut ruangan dan mengambil sesuatu dari dalam tas yang tergeletak di atas meja, juga mengeluarkan sebuah laptop dari dalam tas tersebut.
Dengan cepat, Erich membuka laptop tersebut, dan menyambungkan sebuah flash disk kepada laptop itu.
"Saya benar-benar bertindak atas kemauan saya Yang Mulia. Tidak ada yang memerintahkan apapun kepada saya." Avitus berkata sambil menundukkan kepalanya, enggan jika harus bersitatap langsung dengan Alvero.
"Kamu ini benar-benar bodoh atau berpura-pura bodoh Avitus? Kamu pikir tanpa kamu mengaku aku tidak tahu siapa yang sudah memberikan perintah kepadamu untuk meracuni permaisuriku? Sepertinya kamu harus mengalami kehilangan anak istrimu agar tahu bagaimana seharusnya menjadi orang baik!" Alvero berkata sambil melemparkan sebuah amplop berisi foto-foto anak dan istri Avitus yang sedang berada di rumah dan sedang disandera oleh para pengawal Eliana.
Anak dan istri Avitus tampak saling berpelukan dengan wajah ketakutan, duduk di atas sofa ruang tamu rumah mereka, dengan beberapa orang berpakaian hitam dan kacamata hitam sedang mengarahkan pistol ke arah anak dan istri Avitus. Mengarah pada bagian tubuh yang paling kritis, dimana sekali tembak mereka bisa saja membuat orang itu langsung meninggal meninggal di tempat.
(Kepala dan tubuh bagian atas (dada dan perut) adalah dua area tubuh yang paling kritis. Selain perdarahan luar, luka tembak berisiko menimbulkan komplikasi pada sistem saraf utama atau kerusakan organ berat).
__ADS_1
Puluhan foto yang bertebaran di lantai itu membuat Avitus tersentak kaget, dengan mata melotot dan nafasnya yang tiba-tiba terasa begitu berat karena dadanya yang terasa sangat sesak.
Avitus benar-benar tidak menyangka bahwa Eliana sudah melanggar janjinya. Sejak awal Eliana menjanjikan bahwa jika dia berhasil meracuni Deanda, Eliana akan memberikan perlindungan penuh bagi dia dan anak istrinya, selain sejumlah besar uang yang dilaporkan Evan kepada Alvero yang masuk ke rekening pribadi Avitus.
Dan jumlah uang yang disebutkan Evan kepada Alvero, sebenarnya hanyalah sebagian kecil uang yang dijanjikan oleh Eliana. Eliana akan memberikan sisanya jika dia sudah mendengar kabar tentang Deanda yang keracunan diumumkan secara resmi oleh pihak istana.
Eliana berjanji untuk memberikan tempat persembunyian yang aman, yang tidak akan diketahui oleh Alvero, dan memberikan sejumlah besar uang sebagai upah kerjanya meracun Deanda. Sejumlah uang yang bisa membuat Avitus hidup bersenang-senang tanpa harus memikirkan bagaimana harus bekerja dengan susah payah untuk mencari uang.
Bahkan uang itu akan cukup untuk mendirikan sebuah perusahaan jika saja Avitus mau melakukannya.
"Bagaimana bisa..." Avitus tidak melanjutkan kata-katanya, justru matanya sibuk bergerak ke kanan dan ke kiri melihat foto-foto itu dengan sikap terlihat khawatir dan tidak tenang, sekaligus begitu ketakutan.
Erich segera mengambil jari Avitus dan menempelkannya untuk membuka kunci layar handphone itu.
Setelah itu Erich langsung menggerakkan jarinya untuk mencari nomer istri Avitus dan melakukan panggilan. Dan begitu ada nada sambung, dengan tangannya tetap memegang handphone Avitus, Erich menyodorkan handphone itu ke arah wajah Avitus, setelah menyalakan tanda speaker agar pembicaraan Avitus dan istrinya juga bisa didengar oleh Alvero.
"Hal.. hallo sayang...." Suara istrinya yang terdengar ragu dalam menjawab panggilan teleponnya, membuat Avitus menelan ludahnya dengan susah payah.
"Hal… hallo Avitus? Bagaimana kondisimu di sana? Apa semua baik-baik saja?" Avitus bertanya sambil melirik ke arah Alvero yang tampak menatapnya dengan tatapan sinis, seolah sedang mengejek Avitus, bagaimana dia bisa memilih untuk mengikuti perintah Eliana yang tidak pernah menepati janjinya, menertawakan kebodohannya sudah mengikuti orang yang tidak bisa dipercaya.
__ADS_1
Dan berharap mendapatkan keuntungan besar dari Eliana, dengan mengkhianati Alvero. Disamping itu, dengan janji dan dukungan Eliana, Avitus sungguh berharap bisa melarikan diri dari tanggung jawabnya setelah meracuni Deanda.
"Kami berdua baik-baik saja. Hanya saja... Kenapa sampai sekarang kamu belum kembali ke rumah? Apa ada masalah? Kapan kamu pulang ke rumah... agar kita bisa segera pergi bersama, seperti kesepakatan kita tadi pagi? Kami berdua sedang menunggu kepulanganmu." Avitus hampir saja menangis mendengar perkataan istrinya yang berpura-pura dalam kondisi baik-baik saja, sedang beberapa pistol jelas-jelas sedang terarah padanya.
"Tenang saja sayang. Tunggulah aku baik-baik di sana, aku akan segera kembali ke rumah dan menjemput kalian berdua." Avitus berkata dengan suara terdengar serak, karena dia sekarang dia tahu bagaimana liciknya seorang Eliana.
Sekarang Avitus baru tersadar, ternyata semuanya sudah direncanakan oleh Eliana. Walaupun dia sudah menyelesaikan tugasnya untuk meracuni Deanda, pasti Eliana tetap akan membunuh anak dan istrinya. Dan yang pasti bukan hanya anak dan istrinya, Eliana pasti juga akan memburu dan membunuhnya untuk menghilangkan jejak.
“O, syukurkah kamu tidak mengalami masalah di sana.” Istri Avitus berkata sambil menarik nafas panjang, sungguh berharap bahwa Avitus memang benar-benar dalam kondisi baik-baik saja, dan nantinya bisa menyelamatkan mereka berdua.
“Tentu… tentu aku baik-baik saja. Tunggu aku, sebentar lagi aku akan kembali ke rumah.” Avitus berusaha meyakinkan istrinya kembali.
"Aku akan menunggumu. Jaga dirimu baik-baik." Di seberang sana, istri Avitus juga dengan susah payah mengucapkan kata-katanya, sebelum akhirnya mereka mengakhiri panggilan telepon mereka.
Begitu istirnya mengakhiri panggilan telepon mereka, wajah Avitus semakin pucat, dengan tubuhnya benar-benar merasa lemas tanpa harapan.
"Ck ck ck ck. Ternyata kamu benar-benar bodoh Avitus! Begitu mempercayai janji dari seorang wanita ular seperti itu. Bagiku, entah kamu mau mengakui siapa yang memberimu perintah atau tidak, aku benar-benar tidak perduli lagi akan hal itu. Dengan membiarkanmu tetap berada di tempat ini, dan membuat orang itu berpikir kamu telah menghilang. Aku yakin orang yang menyuruhmu akan menampakkkan dirinya. Pada akhirnya, kamu yang akan kehilangan istri dan anakmu, bukan aku!" Alvero berkata sambil bangkit dari duduknya dengan wajah yang terlihat marah karena kembali teringat bagaimana Avitus yang sudah mencoba meracuni Deanda.
__ADS_1