BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PERINTAH SEBELUM PERGI KE RENHILL


__ADS_3

"Dan kamu sudah memulainya lebih dahulu sebagai kakak tertua. Kata orang, jika sudah ada yang memulainya satu orang, maka dengan cepat pernikahan akan merembet ke saudara-saudara yang lain." Deanda langsung menyambung perkataan Alvero yang sudah berdiri tegak di samping Deanda.


"Begitukah? Kalau itu benar aku akan senang sekali. Mereka semua harus tahu bagaimana nikmat dan bahagianya menikah dengan kekasih hati yang dicintai. Seperti yang sudah aku rasakan sekarang. Aku harap semua saudara-saudaraku, tidak terkecuali, bisa seberuntung aku, dapat menemukan pasangan hidup yang luar biasa sepertimu." Alvero berkata sambil menarik nafas dalam-dalam dengan senyum di wajah tampannya, lalu mengulurkan tangannya ke arah Deanda, agar Deanda bangkit dari duduknya.


Dengan cepat Deanda meraih tangan Alvero, dan bangun dari duduknya, sambil tersenyum manis kepada Alvero.


"Ayo kita kembali ke dalam, ada sesuatu yang harus kita bahas sebelum kita pergi ke Renhill. Aku akan minta Ernest menemui kita sekarang." Alvero berkata sambil melangkahkan kakinya kembali, meninggalkan taman istana tempat diadakannya acara afternoon tea, diikuti oleh Deanda yang berjalan di sampingnya dengan melingkarkan lengannya ke lengan Alvero yang langsung tersenyum mendapatkan perlakuan mesra dari istrinya.


# # # # # # #


"Selamat sore Yang Mulia, Permaisuri." Ernest yang baru saja masuk ke dalam kamar Alvero langsung menyapa Alvero dan Deanda yang sedang duduk bersebelahan, di sofa kamar mereka dengan sikap hormat.


"Selamat sore. Duduklah Ernest. Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan sore ini sebelum kami berangkat ke Renhill menemui papa Vincent." Alvero langsung memerintahkan Ernest untuk mengambil posisi duduk di depannya dan Deanda.

__ADS_1


Melihat wajah serius dari Alvero, Ernest sudah bisa menebak ada hal penting dan mendesak yang akan dibahas oleh Alvero dengannya, sehingga Alvero tidak membicarakan hal itu dengannya melalui telepon.


"Ernest, melihat perkembangan yang ada. Aku dan permaisuri akan berangkat besok dini hari tepat pukul 3 pagi. Bersihkan jalan yang akan kami lalui untuk keluar dari istana tanpa diketahui oleh orang lain. Kami berdua akan pergi diam-diam menggunakan mobilmu, supaya orang tidak mencurigai kepergian kami. Aku sendiri yang akan mengendarai mobilmu, karena kamu harus tetap tinggal di istana. Selain agar kamu bisa membantu nyonya Rose menahan agar Eliana tidak pergi ke Renhill, keberadaanmu di istana akan membuat orang lain berpikir bahwa aku memang berada di istana. Kamu harus berbuat seolah-olah aku dan permaisuri tetap berada di dalam istana, jangan sampai orang mempertanyakan keberadaan kami. Kamu bisa menggunakan alasan waktu bulan madu kami untuk membuat orang tidak curiga pada kami, saat beberapa hari ini kami tidak keluar dari kamar ini." Begitu menyelesaikan perkataannya, Alvero menarik nafas panjang sambil mengerutkan keningnya.


"Baik Yang Mulia, saya akan melakukan sebaik mungkin, semua perintah dari Yang Mulia. Semoga perjalan Yang Mulia ke Renhill membawa hasil yang memuaskan." Ernest menjawab perintah Alvero sambil melirik ke arah meja yang ada di lorong menuju walk in closet kamar Alvero. Disana terlihat dua tas ransel yang digeletakkan di sana.


Dari tas yang berada di atas meja itu, Ernest sudah bisa menduga bahwa kali ini kepergian Alvero tidak akan menggunakan identitasnya sebagai seorang raja, tapi dia akan menggunakan atribut dan identitas sebagai seorang rakyat biasa, sebagai Tuan Alvi, sosok yang selalu digunakannya saat dia sedang melakukan penyamaran dan keluar dari istana.


"Satu hal lagi tugas untukmu Ernest. Ada perkembangan info yang tanpa sengaja aku ketahui dari putri Tira ketika acara afternoon tea tadi. Kemarin Eliana melakukan pertemuan dengan beberapa sosialita yang kemungkinan adalah orang-orang yang memiliki hubungan lebih dari sekedar kenalan atau teman sambil lalu. Selidiki siapa orang-orang yang sudah ditemui oleh Eliana kemarin di hotel X. Selidiki juga apa tujuan dan pembicaraan yang terjadi dalam acara pertemuan itu. Cek dengan detail info tentang orang-orang itu dan kemungkinan keterlibatan mereka atas kejahatan yang selama ini dilakukan oleh Eliana." Alvero kemabli memberikan perintah kepada Ernest yang langsung menganggukkan kepalanya untuk menjawab perintah dari Alvero.


"Kami akan keluar lewat jendela kamar, setelah bitu kamu harus menutup rapat jendela dan tirai kamar ini. Tanpa membuat orang curiga, pindahkan parkir mobilmu di bawah jendela kamar ini, dan parkirkan salah satu mobil sportku di tempat yang sama, agar orang berpikir jika aku ingin keluar dari istana pasti mengendarai mobil sportku yang itu. Jangan memindahkannya sebelum kami berdua kembali ke istana. Aku akan pergi selama 3-4 hari. Selama itu, tetap laporkan padaku tentang kondisi istana, teruatama apa saja yang dilakukan oleh Eliana selama aku tidak ada di istana." Alvero mengakhiri perkataannya sambil melirik jarum jam di pergelangan tangannya.


"Sudah hampir waktunya makan malam. Sweety... malam ini aku membutuhkan bantuanmu untuk berpura-pura sakit setelah makan malam selesai. Untuk memperkuat alibi kita, untuk bisa tetap berada di dalam kamar selama beberapa hari ini." Deanda langsung menganggukkan kepalanya begitu mendengar permintaan dari Alvero.

__ADS_1


"Ernest, untuk pelayan, biarkan nyonya Rose dan Alea yang setiap hari membersihkan kamar ini, dan mengirimkan makanan agar orang oang tidak curiga bahwa kami tidak ada di sini." Begitu selesai memberikan perintah terakhir kepada Ernest, Alvero bangkit dari duduknya, diikuti oleh Deanda yang sedari tadi hanya menjadi pendengar yang baik.


"Baik Yang Mulia, semua akan saya jalankan sesuai dengan perintah Yang Mulia. Harap Yang Mulia dan Permaisuri berjat-hati dalam perjalanan kali ini." Ernest berkata sambil berjalan di belakang Alvero dan Deanda yang sudah lebih dahulu berjalan untuk mendekati pintu kamar untuk keluar menghadiri acara makan malam di istana.


Namun, sebelum mencapai pintu keluar kamanrnya... Tiba-tiba Alvero menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah Ernest yang dengan sikap tegap dan sigap ikut menghentikan langkah-langkahnya begitu melihat Alvero menghentikan langkahnya.


"Ah, aku hampir melupakan sesuatu yang penting. Siapkan untukku pakaian pria lengkap yang biasa dipakai oleh orang-orang... maksudku yang biasa dikenakan oleh rakyat biasa, bukan pakaian bermerk. Kamu bisa membelinya dari pasar tradisional kota Tavisha." Perkataan Alvero membuat Ernest langsung mengernyitkan dahinya, berusaha menebak apa yang akan dilakukan oleh Alvero dengan pakaian yang dimintanya barusan.


Selama ini walaupun Alvero sedang menyamar sebagai Alvi, semua pakaian yang dikenakannya walaupun bukan pakaian mewah dan resmi, tapi pasti pakaian bermerk. Karena itu, bagi Ernest permintaan Alvero kali ini terasa sedikit aneh.


 


 

__ADS_1


__ADS_2