BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
KEINGINAN ELIANA


__ADS_3

"Kamu tahu setelah Larena meninggal Alvero tidak pernah dekat dengan wanita lain kecuali nyonya Rose. Itupun pasti karena nyonya Rose yang sudah melayaninya sejak kecil. Apa kamu sadar? Alvero begitu mencintai istrinya. Dia satu-satunya wanita yang pernah diperkenalkannya langsung kepada keluarga kerajaan, menunjukkan bagi Alvero wanita itu benar-benar berbeda. Dan dari beberapa pertistiwa yang pernah terjadi aku sudah cukup lama mengamati Alvero. Dia adalah laki-laki yang rela melakukan apa saja untuk wanita itu. Di beberapa kejadian aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana sebelum pernikahan mereka, bahkan sebelum pertunangan mereka, Alvero sudah melakukan banyak hal untuk membuat Deanda selalu berada di dekatnya, termasuk memaksanya untuk masuk dan bekerja ke perusahaan Adalvino, bahkan membawa wanita itu keluar dari rumahnya dan menempatkannya di hotel milik Enzo." Laki-laki itu kembali berkata sambil menyesap rokok yang ada di tangannya dalam-dalam.


"Selama ini Alvero begitu sulit untuk dikalahkan karena kita tidak tahu kelemahannya. Tapi sekarang Deanda Federer adalah kelemahan terbesarnya. Andai saja Deanda seorang wanita biasa kita bisa dengan mudah mencelakainya, tapi seperti yang kamu tahu, wanita itu juga kuat seperti Alvero, tidak mudah untuk dijebak dan dicelakai. Bahkan Desya sudah mencobanya beberapa kali dan.... gagal kan?" Eliana menggigit bibir bawahnya sambil mendengus kesal walaupun semua kata-kata dari pria yang ada di depannya itu benar.


"Entah pilihan mana yang akan kamu buat, meninggalkan Gracetian dengan membawa seluruh kekayaan yang sudah kamu kumpulkan atau tetap ingin mendapatkan posisi raja Gracetian untuk Dion dengan cara memisahkan Alvero dan istrinya. Dengan Alvero yang begitu mencintai istrinya, jangan berusaha menyerang Alvero. Usaha itu akan sia-sia belaka. Kita harus menyerang Deanda, cari laki-laki lain yang bisa membuat Deanda menjauh dari Alvero, atau temukan wanita yang bisa membuat Deanda salah paham dan meninggalkan Alvero. Tapi semua tergantung pilihanmu. Aku akan selalu mendukungmu dan..."


"Aku mau Dion menjadi raja Gracetian!" Eliana memutus perkataan laki-laki itu dengan nada yakin.


"Ok, terserah apapun pilihanmu. Berarti kamu juga harus bersiap untuk mengalami gagal jika kita tidak berhasil mengalahkan Alvero, dan siap mendapatkan hukumanmu jika Alvero berhasil menemukan segala bukti kejahatanmu. Selain itu kamu juga harus mengingatkan Dion agar tidak bertindak sembarangan! Anak itu begitu terobsesi dengan Deanda. Bahkan aku dengar sejak dia tertarik dengan istri Alvero itu, dia belum sekalipun berkencan dengan wanita lain. Benar-benar anak yang susah diatur! Kenapa harus terobsesi kepada wanita milik Alvero! Seperti tidak ada lagi wanita cantik dan menarik di Gracetian ini." Eliana menggeretakkan giginya mendengar peringatan dari laki-laki itu, karena dia tahu Dion memang sangat sulit untuk diaturnya jika itu berhubungan dengan Deanda, sedangkan keinginan Dion untuk memiliki Deanda jelas-jelas bisa merusak rencananya untuk merebut posisi raja Gracetian untuk Dion.


Katakanlah jika akhirnya Dion berhasil mendapatkan kesempatan untuk menjadi raja Gracetian, jika dia bersikeras untuk menjadikan Deanda sebagai permaisurinya karena obsesinya yang begitu besar terhadap Deanda. Jika saja hal itu diteruskan pasti ke depannya justru akan menghancurkan kehidupan Dion sebagai raja Gracetian. Mana ada istri yang sudah dipisahkan secara paksa dengan suaminya bersedia menerima laki-laki lain tanpa adanya sakit hati dan keinginan untuk membalas orang yang sudah memisahkan mereka. Membayangkan itu membuat kepala Eliana sakit.


"Kalau kamu tetap memilih tahta raja Gracetian untuk Dion, berarti aku anggap kamu memang sudah siap dengan segala resiko kegagalannya, bahkan jika itu artinya adalah resiko besar kehancuran hidupmu yang akan menyeret anak-anakmu juga kepada kehancuran hidup dan masa depan mereka." Eliana menarik nafas dalam-dalam sebelum membalas perkataan laki-laki itu.

__ADS_1


"Bertahun-tahun aku membiarkan diriku tersiksa berada di dekat raja yang tidak pernah melihat dan memperlakukanku sebagai istrinya agar bisa mendapatkan tahta raja Gracetian untuk Dion. Tidak ada alasan bagiku untuk mundur dan melarikan diri!" Mendengar perkataan Eliana, laki-laki itu langsung menggerakkan tangannya ke arah bahu Eliana dan mencekalnya dengan erat.


"Kamu adalah milikku! Jangan menyebutkan Vincent sebagai suamimu dengan berharap bahwa kamu memang ingin bertindak sebagai istri yang baik baginya! Selama ini aku membiarkanmu tetap berada di sisinya karena sejak penikahan kalian, dia tidak pernah menyentuhmu sama sekali! Lalu apa yang kamu harapkan sekarang darinya? Menjadikanmu istri yang sebenarnya bukan hanya sekedar status? Sekali lagi aku mendengar kamu menyebutkan nama Vincent dengan semanis itu... Aku tidak akan menahan diriku lagi untuk muncul di hadapan Vincent dan menjelaskan hubungan kita yang sebenarnya supaya dia tahu siapa kamu sebenarnya!" Laki-laki berkata sambil mengeraskan cekalan tangannya di bahu Eliana yang terlihat meringis kesakitan.


"Sakit! Lepaskan aku!" Eliana berkata sambil berusaha menyingkirkan tangan laki-laki itu dari bahunya.


"Lain kali aku tidak akan lagi menahan diriku! Aku juga sudah lelah menjadi laki-laki yang harus selalu bersembunyi dari kenyataan yang ada! Bahkan keberadaanku dan keluargaku harus selalu hidup dalam kegelapan dan topeng demi kamu bisa menikmati kehidupan indah dan mewahmu sebagai permaisuri Gracetian! Bertahun-tahun kami harus menyembunyikan identitas asli kami hanya untuk melindungimu! Selalu mematuhi semua perintahmu! Awas saja jika kamu berani macam-macam denganku! Apalagi berani mengkhianatiku dengan pria lain! Jika aku mengetahui itu! Kedua tanganku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari istana dan melemparkanmu ke jurang!" Laki-laki itu menyentakkan bahu Eliana dengan kasar sebelum dia melangkah pergi dengan wajah marah, membiarkan Eliana yang menatap nanar ke arahnya.


Melihat kepergian laki-laki itu dengan wajah marahnya dan langkah-langkah lebar meninggalkannya, Eliana hanya bisa memandanginya tanpa berusaha melakukan apapun. Sebentar kemudian Eliana menyandarkan tubuhnya ke dinding yang ada di belakangnya dengan pikiran yang mulai memikirkan tentang apa yang baru saja dikatakan oleh laki-laki itu tentang rencananya mennyingkirkan Alvero dengan menjauhkan Deanda darinya.


Eliana berkata dalam hari sambil tangannya memijat bahunya yang masih merasakan sakit bekas cengkeraman tangan laki-laki tadi, menunjukkan bahwa laki-laki itu benar-benar marah dan serius dengan kata-kata ancamannya.


# # # # # # #

__ADS_1


"Jadi, apa yang dikatakan Evan kepadamu? Apa dia sudah memberikan laporan terkait wanita yang ditemui oleh Eliana di kota Renhill?" Enzo bertanya dengan tangannya menggerakkan buah caturnya untuk melakukan blockade terhadap serangan buah catur yang digerakkan oleh Alvero atas petunjuk Deanda melalui bisikan lembutnya ke telinga Alvero.


(Blockade adalah teknik penting dalam permainan catur, yaitu teknik bertahan yang mengandalkan peletakan bidak yang strategis alih-alih memakan atau menghindari lawan. Mengatur blokade dilakukan dengan menghalangi jalur lawan sehingga tidak bisa melanjutkan langkah. Anda bisa membuat lawan mengorbankan bidak berharga untuk menembus blokade Anda, atau memanfaatkan posisi dominan Anda untuk memancing lawan atau keluar dari bahaya).


"Evan sudah memberikan info tentang wanita yang ditemui oleh Eliana di kota Renhill adalah orang yang sama yang sempat dilihat pada rekaman cctv di dekat kamar papa, sehari sebelum usaha pembunuhan papa. Namun, Ernest dan Alea menyatakan bahwa wanita itu adalah orang yang menyusup masuk ke istana. Dia menyamar sebagai seorang pelayan dan saat ini sudah menghilang. Paginya Alea masih sempat bertemu dengan wanita itu, tapi setelah dia terlihat di dekat kamar papa, malam itu juga wanita itu menghilang dari istana. Dengan begitu bisa dipastikan, ada orang kuat di belakangnya yang membantunya untuk menyusup ke istana." Alvero berkata sambil melakukan gerakan dengan menggeser buah caturnya yang berupa kudanya, menghasilkan fork.


(Fork adalah situasi di mana sebuah bidak ata pion menyerang dua atau lebih bidak lawan secara bersamaan, tapi tidak secara horizontal, vertikal, maupun diagonal).


Tangan Alvero menggerakkan tangannya sambil tangan Deanda dengan jari-jarinya yang lentik berada di atas tangan Alvero sehingga Alvero menggerakkan bidak caturnya atas inisiatif Deanda.


Enzo langsung mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Alvero, bukan saja tentang info yang diberikan Evan kepada Alvero, namun juga karena gerakan fork yang dihasilkan oleh Alvero bukanlah sesuatu yang biasa dan bisa dilakukan oleh seorang Alvero. Enzo yang sudah seringkali bermain catur dengan Alvero tahu betul sebatas mana kemampuan Alvero dalam bermain catur. Sekilas Enzo melirik ke arah Deanda yang tampak tenang sambil matanya yang sedang melihat ke arah papan catur menunjukkan kemampuan tinggi Deanda untuk memindai papan catur.


(Memindai papan catur mengacu pada keterampilan pecatur untuk melihat posisi-posisi bagus untuk menyerang atau bertahan sepanjang permainan, bahkan sebelum bidak digerakkan oleh lawan. Memindai papan dapat membantu pecatur untuk memikirkan langkah-langkah lebih ke depan).

__ADS_1


Melihat bagaimana Enzo mengernyitkan dahinya dengan wajah heran dan bertanya-tanya, sambil mengamati wajah Deanda yang sedang serius mengamati papan catur membuat Alvero tersenyum geli. Begitu Enzo melirik ke arahnya, Alvero langsung mengedipkan sebelah matanya ke arah Enzo dengan senyum penuh percaya diri walaupun permainan catur belum berakhir.


__ADS_2