
Tindakan Deanda sukses membuat tubuh Alvero tersentak kaget dan menyebabkan getaran hebat di tubuhnya. Yang tanpa sadar justru melepaskan pelukannya dari Deanda, sehingga tubuh mereka sedikit menjauh.
"Yang benar saja sweety. Aku benar-benar harus berhenti sekarang jika tidak ingin lupa diri. Kamu benar-benar nakal hari ini." Alvero berkata sambil berjalan menjauhi Deanda, dan berjalan kembali, mendekat ke arah meja kerjanya.
Sedang Deanda sendiri langsung tertawa geli sekaligus puas, melihat reaksi Alvero atas tindakan isengnya barusan.
Ah, andai saja 15 menit lagi aku tidak harus menghadiri meeting dengan para pemegang saham untuk melakukan pengumuman penting, aku tidak akan membiarkan istriku menghentikan godaannya barusan. Dan yang pasti, jika saja aku membiarkan hal itu berlanjut, aku pasti akan segera membawanya ke ruang istirahat pribadi di kantor ini.
Alvero berkata adalam hati sambil duduk di kursi kerjanya untuk menenangkan kembali jantungnya yang sempat berdetak keras karena godaan dari Deanda barusan. Rasanya sampai saat ini, setiap kali berada di dekat Deanda, selalu saja membuatnya hampir lupa diri.
Degupan jantung Alvero selalu saja masih sama, seperti saat pertama kali mereka berada dalam posisi yang bergitu dekat. Setelah berkali-kali mereka melakukan hal yang intim berdua, bagi Alvero selalu saja masih seperti saat pertama kali dia melakukannya bersama Deanda, begitu mendebarkan dan menegangkan sekaligus membuatnya begitu bahagia.
Deanda sendiri yang tahu pasti dan hafal dengan detail jadwal Alvero sebagai asisten pribadi Alvero hanya bisa menahan senyumnya dan berjalan dengan langkah santai ke arah meja kerjanya sendiri, setelah berhasil membuat suaminya salah tingkah karena tindakannya yang dengan sengaja menggoda suaminya barusan.
Yang mulia, dia benar-benar selalu saja sulit untuk mengendalikan gairahnya. Harusnya aku meminta maaf karena sudah menggodanya. Dia pasti merasa tidak nyaman karena godaanku barusan. Tapi kadang menyenangkan sekali melihat wajah memerah dan salah tingkah dari yang mulia seperti sekarang ini.
Deanda berkata dalam hati sambil berpura-pura matanya fokus melihat ke arah kertas-kertas yang ada di atas meja kerjanya.
__ADS_1
“Sweety, bagaimana tentang liontin yang dikenakan oleh Alaya? Apa kamu sudah melihat detail liontin itu tadi?” Setelah Alvero berhasil menguasai dirinya, Alvero langsung menanyakan tentang liontin milik Cleosa.
Mendengar pertanyaan Alvero, Deanda yang sudah duduk di kursi kerjanya langsung menganggukkan kepalanya.
“Bisakah kamu menggambarkan dengan detail bagaimana bentuk dari liontin itu?” Alvero kembali bertanya kepada Deanda.
“Aku bukan seseorang yang ahli dalam menggambar, tapi secara detail aku bisa membayangkannya dengan jelas.” Deanda menjawab pertanyaan Alvero sambil membayangkan bagaimana bentuk dari liontin Alaya yang tadi sempat diperhatikannya dengan seksama.
“Jangan khawatir, aku akan meminta seseorang yang ahli dalam menggambar untuk menggambarkan apa yang kamu katakan tentang bentuk liontin itu. Dengan begitu aku bisa melihat bagaimana bentuk liontin itu.” Sebuah anggukan kembali dilakukan oleh Deanda karena ide Alvero untuk mendatangkan orang yang bisa menggambar apa yang sedang dibayangkannya pasti akan banyak membantu.
Karena Alvero merasa pernah melihat liontin itu, tapi sampai detik ini sekeras apapun usahanya untuk mengingat tentang liontin itu, tetap saja dia tidak bisa mengingat dengan baik dimana dia pernah melihat liontin itu.
“O, iya. Alaya tidak mengatakan dengan jelas siapa yang sudah memberikan liontin itu kepadanya, juga bagaimana dia mendapatkan liontin itu. Tapi menurut pengakuannya, sejak kecil dia sudah mengenakan liontin itu. Yang pasti itu bukan dari seorang pria yang menjadi kekasihnya. Bahkan dia mengatakan saat ini dia belum memiliki kekasih." Deanda mengatakannya dengan serius, sehingga tidak menyadari ketika Alvero tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya.
"Begitukah? Tapi kamu perlu ingat tentang sesuatu sweety.... Tidak perlu mengatakan padaku bahwa dia belum memiliki kekasih, seolah-olah aku adalah laki-laki lajang yang sedang berusaha mengejarnya." Mendengar kata-kata Alvero yang sengaja diucapkannya untuk melihat reaksi Deanda, membuat Deanda langsung berdiri dari duduknya, sehingga membuatnya berdiri tepat di hadapan Alvero.
"My Al, apa kamu sengaja sedang memancingku?" Deanda berkata sambil dengan cepat mengalungkan kedua lengannya ke leher Alvero.
__ADS_1
"Mau bertaruh siapa diantara kita yang lebih ahli dalam hal itu? Jangan lupa, saat ini hanya Alaya yang tidak menimbulkan alergi padamu selain aku. Sedangkan aku, tidak memiliki alergi terhadap siapapun." Mata Alvero langsung melotot mendengar perkataan Deanda yang sengaja diucapkannya dengan nada pelan tapi menggoda.
Melihat reaksi Alvero, Deanda langsung berjinjit dan mendekatkan bibirnya ke arah leher Alvero, mencium sekilas leher Alvero, sebelum akhirnya bibir Deanda dengan cepat bergerak ke arah telinga Alvero.
"My Al, daripada kamu berusaha memancing kecemburuanku. Aku yang percaya sepenuhnya kepadamu, dan aku yang tidak akan pernah tergoda oleh laki-laki lain, lebih memilih untuk bisa memancing sesuatu yang lain, yang ada di tubuhmu. Bukankah itu jauh lebih baik dan yang pasti kamu juga akan menyukainya? Benarkan my Al?" Deanda berbisik lembut dengan nada suara menggoda dan bibirnya yang basah sengaja menempel di telinga Alvero yang langsung menahan nafas dan juga menelan ludahnya dengan susah payah, apalagi salah satu tangan Deanda mulai bergerak mengelus dadanya dengan gerakan lembut dan mesra.
Namun, tiba-tiba Deanda dengan gerakan begitu cepat langsung menjauhkan bibirnya dari telinga Alvero yang saat ini tiba-tiba sedang merasakan suhu di sekitarnya terasa gerah, dengan jantungnya yang ikut memberikan reaksi, dengan berdetak cukup keras.
"Ok, waktunya kamu menghadiri meeting para pemegang saham. Jangan terlambat dan menjadi perbincangan banyak orang yang akan menganggap aku tidak kompeten sebagai asisten pribadimu sehingga tidak bisa menyiapkan dengan baik jadwal kerjamu." Tanpa membiarkan Alvero sempat membalas godaannya, dengan cepat Deanda menjauhkan tubuhnya dari Alvero yang langsung menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya cukup keras, dengan tubuh sedikit mundur ke belakang.
Astaga! Sejak kapan permaisuriku menjadi begitu pintar menggoda dan memancing gairahku. Sekarang dia benar-benar sudah memegang kelemahanku.
Alvero berkata dalam hati sambil melirik ke arah Deanda yang terlihat tenang dan sibuk membereskan file-file yang harus disiapkannya untuk Alvero dan para pemegang saham yang lain untuk dibahas di meeting mereka siang itu.
"Apa kamu sudah siap? Ayo kita pergi ke ruang meeting sekarang." Dengan tenang Deanda berkata sambil membawa beberapa map berisi file untuk keperluan meeting siang ini, yang akan dibagikan satu persatu untuk apra peserta meeting.
Melihat begitu tenangnya Deanda, Alvero langsung menarik nafas panjang dan melenguh dalam hati.
__ADS_1