
"Benar-benar wanita tidak tahu diri!" Alvero berkata sambil melempar hanpdhonenya di kursi kosong yang ada di sebelahnya.
"Berani-beraninya mengajariku tentang ketidak adilan dan sopan santun!" Alvero melanjutkan omelannya, lalu menarik nafas panjang.
"Aku yakin setelah peristiwa hari ini akan ada pertunjukkan yang menarik. Dan aku tidak sabar menunggu tindakan balasan dari wanita ular itu!" Alvero berkata sambil menyungingkan sebuah senyum sinis di wajahnya.
# # # # # # #
"Sial! Dasar Alvero kurang ajar!" Eliana berteriak sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Rolland! Kita harus mempercepat rencana kita untuk membongkar kebusukan Alvero di depan semua orang! Aku tidak perduli lagi! Aku akan menghancurkan Alvero bagaimanapun caranya! Anak itu tidak pernah memberikan rasa hormat sedikitpun kepadaku! Aku harus memberi pelajaran padanya!" Eliana berkata dengan nada dengan suara keras, menunjukkan emosinya yang sedang meluap-luap saat ini.
"Padahal dengan menelponnya tadi, aku berharap dia mau mencabut perintah yang diberikan Alvero kepada duke Evan! Ternyata dia justru menantangku!" Perkataan Eliana menunjukkan bahwa dia begitu tidak terima dengan sikap dan perkataan Alvero di telepon tadi.
"Sudahlah, bukankah sudah aku katakan berapa kali? Alvero tidak akan pernah mau mendengarkanmu, apalagi menuruti permintaanmu! Raja sombong dan keras kepala itu sudah mendapatkan pelajaran dengan kondisi permaisurinya yang kritis. Aku harap wanita itu segera mati, agar Dion juga bisa mengendalikan diri dan lepas dari obsesi gilanya terhadap wanita itu. Dion ini benar-benar tidak bisa memilih dengan baik siapa wanita yang pantas untuk dicintai dan akan mendukungnya." Rolland yang duduk di atas tempat tidur dengan posisi santai, berkata sambil mencebikkan bibirnya.
"Tapi melihat kegilaan Dion terhadap wanita itu. Kamu juga harus bersiap untuk menanggung akibatnya kalau sampai dia tahu bahwa kamu yang menjadi otak dari rencana pembunuhan Deanda." Rolland melanjutkan bicaranya.
Mendengar perkataan Rolland, Eliana langsung menarik nafas dalam-dalam, di dunia ini, hal yang paling ditakutkan oleh Eliana adalah kehilangan Dion. Sejak awal, apapun yang dilakukan oleh Eliana, dia melakukannya untuk Dion.
__ADS_1
Bagi Eliana, menjadikan Dion sebagai raja Gracetian adalah mimpi terbesarnya. Bahkan dia akan rela mati dan menanggung semua kesalahan asal dia bisa mewujudkan impiannya itu.
Eliana menahan nafasnya untuk beberapa saat. Ingatannya kembali pada masa lalu, dimana dia baru saja melahirkan Desya.
"Dasar wanita tidak berguna! Memalukan!" Sebuah makian diikuti tamparan yang cukup keras mendarat mulus ke pipi Eliana, membuat tubuh Eliana yang tersentak kaget jatuh terduduk di atas tempat tidur sambil memegang pipinya yang terasa panas, dan sudut bibirnya yang terasa perih karena sedikit sobek akibat tamparan barusan dari suaminya.
"Kenapa itu menjadi salahku? Aku bukan Tuhan yang bisa mengatur jenis kelamin anak yang aku lahirkan. Lagipula, kita bisa mencobanya lagi. Kita sama-sama masih muda. Aku bisa melahirkan banyak anak laki-laki untukmu di masa depan." Eliana berkata dengan suara pelan dan terdengar begitu memelas.
Mendengar kata-kata Eliana, bukannya merasa kasihan, wajah suami Eliana justru semakin memerah karena marah. Laki-laki itu berjalan ke arah Eliana, dan mencengkeram dagu Eliana dengan keras, bahkan tajamnya kuku dari laki-laki itu bisa dirasakan oleh Eliana karena mulai menggores kulit wajahnya yang mulus.
"Sudah aku katakan dari awal! Lahirkan anak pertama berjenis kelamin laki-laki untukku! Atau kamu harus pergi dari sini! Jangan seenaknya menikmati kekayaan keluargaku sedangkan kamu tidak bisa memberikan anak laki-laki untukku!" Perkataan dari suaminya membuat Eliana mendongakkan kepalanya dengan sikap menantang.
Eliana berkata dalam hati sambil bangkit dari duduknya, matanya menatap lurus ke arah wajah suaminya yang tampak garang dan sudah melepaskan cengkeraman tangannya.
Bagi Eliana, hari ini adalah puncak dari rasa sakit hatinya kepada suami yang sejak awal pernikahan mereka seringkali menyiksanya dengan kejam, bahkan seringkali membenturkan kepala Eliana ke tembok atau memukul wajah dan tubuh Eliana saat laki-laki itu pulang dalam kondisi mabuk.
"Dari awal keluargamu tidak pernah menyukaiku, karena mereka ingin kamu menikah dengan putri dari Gracetian! Dan sekarang kamu mencoba menyalahkanku karena anak pertama kita adalah perempuan! Kamu pasti sedang mencari alasan untuk menceraikanku agar bisa kembali mengejar perempuan itu!" Mendengar perkataan Eliana, laki-laki itu bertambah marah karena Eliana bisa mengetahui dengan pasti apa yang sedang dinginkannya.
Dan itu, secara tidak langsung membuat harga dirinya jatuh dan malu. Laki-laki itu memang sengaja memakai alasan bahwa Eliana tidak bisa memberinya keturunan pertama seorang anak laki-laki untuk dapat mengusir Eliana pergi dari rumah mereka.
__ADS_1
Sedangkan alasan sebenarnya, laki-laki itu memang sedang mengincar seorang putri cantik dari Gracetian untuk dinikahinya, karena pernikahan mereka akan semakin memperkuat usaha yang dia miliki, juga statusnya yang hanya seorang bangsawan kelas rendah, seorang baron, bisa ikut terangkat.
"Beraninya kamu menuduhku seperti itu! Dasar wanita tidak tahu diri!" Suami Eliana langsung menjambak rambut Eliana dan menyeretnya ke sisi lain kamar tidur, bermaksud membenturkan kepala Eliana ke tembok.
"Lebih baik kamu mati daripada menjadi duri dalam dagingku!" Laki-laki itu berteriak sambil menggerakkan tangannya untuk menghantamkan kepala Eliana ke tembok.
Namun tiba-tiba terdengar suara teriakan dari bibir suami Eliana, diikuti dengan lepasnya jambakan tangan laki-laki itu pada rambut Eliana.
Peristiwa itu membuat Eliana yang awalnya sudah pasrah, mengira bahwa hari ini adalah hari dimana dia akan terakhir bisa bernafas, tersentak kaget dan langsung menoleh ke belakang.
Eliana langsung jatuh terduduk di lantai begitu melihat tubuh suaminya tergeletak dengan darah mengalir keluar dari bagian belakang kepalanya. Di samping tubuh suaminya yang terbaring, tampak Rolland yang merupakan sopir pribadi dari suaminya, berdiri dengan santai memegang sebuah palu yang berlumuran darah.
"Rolland! Tolong ampuni aku! Jangan bunuh aku! Tolong kasihani anakku yang baru lahir!" Eliana langsung memohon dengan wajah ketakutan dan bergerak mundur menggunakan dengan posisi masih terduduk di lantai.
Airmata tampak mengalir deras membasahi pipi Eliana yang matanya masih menatap dengan tidak percaya ke arah suaminya.
"Baroness Eliana... kenapa Anda terlihat begitu takut melihat saya? Bukannya sudah seharusnya Anda berterimakasih pada saya karena sudah membantu Anda menyingkirkan malaikat pencabut nyawa Anda?" Rolland berkata sambil berjongkok di depan Eliana, diam dalam posisi itu sambil mengelap palu yang baru saja digunakannya untuk memukul tengkuk suami Eliana dengan pakaian yang dikenakan oleh suami Eliana.
Rolland melakukan itu dengan sikap santai, seolah sedang membersihkan palu itu dari kotoran biasa.
__ADS_1