
"Ah, ya. Pasti kalian sedang sibuk di sana. Tidak masalah selama kita masih selalu berhubungan lewat video call seperti sekarang ini. Itu sudah cukup mengobati rasa rinduku kepada kalian berdua. Lagipula aku tidak ingin menantuku terlalu lelah karena harus sering melakukan perjalanan bolak balik antara Renhill dan Tavisha." Vincent berkata dengan wajah tetap tersenyum.
"Alvero, jangan sampai kamu membuat menantuku bekerja terlalu keras sebagai permaisurimu sekaligus asisten pribadimu. Apalagi akhir-akhir aku dengan dari Ernest kamu memiliki banyak proyek baru. Apa tidak bisa kamu mencari asisten lain untuk membantumu? Aku sudah begitu tidak sabar untuk mendengar kabar gembira tentang calon cucuku." Perkataan Vincent sukses membuat Deanda sedikit menundukkan kepalanya dengan wajah memerah.
Alvero yang sempat melirik ke arah istrinya yang tampak malu karena godaan Vincent langsung tersenyum geli.
"Tidak bisa Pa. Kalau bukan istriku yang menjadi asistenku, aku takut dia justru akan terlalu banyak memiliki waktu longgar dan tidak bersamaku. Bisa-bisa dia sibuk berlatih beladiri tanpa mengingat waktu lagi. Apalagi, setelah dia menjadi asistenku, aku baru tahu kalau dia adalah asisten terbaik yang pernah aku miliki. Mana rela aku untuk melepaskannya." Vincent langsung tertawa geli mendengar alasan dari Alvero untuk tetap mempertahankan Deanda sebagai asisten pribadinya.
Ah, bagaimana kamu bisa menyembunyikan begitu besarnya cintamu kepada Deanda, sedangkan matamu selalu terlihat tidak rela saat berpaling dari sosoknya. Larena, seandainya kamu masih hidup, kamu pasti bahagia melihat putramu tumbuh dengan baik, menjadi seorang raja yang hebat, bahkan melebihi kehebatan para pendahulunya. Dan juga menemukan wanita cantik dan baik hati sepertimu sebagai pendampingnya.
Vincent berkata dalam hati sambil menghentikan tawanya, menggantikannya dengan sebuah senyum bahagia melihat bagaimana Alvero dan Deanda yang baginya selalu terlihat kompak dan menunjukkan bahwa mereka begitu saling mencintai.
"Pa, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kami bicarakan dengan Papa malam ini." Alvero berkata sambil melirik Deanda sekilas.
"Katakan saja. Kenapa kalian harus merasa ragu untuk berbicara dengan papa?" Vincent berkata sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur, mencari posisi yang nyaman untuknya duduk dan memulai pembicaraan serius dengan Alvero.
__ADS_1
"Pa, apa yang akan kami bicarakan dengan Papa ini mungkin akan terasa tidak nyaman untuk Papa dan juga akan membuka luka lama Papa." Mendengar perkataan Alvero, Vincent terdiam sejenak sambil berdehem kecil.
Jika Alvero sudah berkata seperti itu, Vincent bisa menduga bahwa yang akan dibicarakan oleh Alvero dan Deanda pasti ada hubungannya dengan Eliana atau Larena. Suatu hal yang bagi Vincent sampai saat ini masih membuat emosinya teraduk-aduk jika membicarakan tentang hal itu.
"Katakan saja nak. Aku juga tidak mungkin, seumur hidupku untuk aku terus lari dari pembicaraan yang membuatku tidak nyaman. Aku harus menghadapinya." Vincent berkata sambil menarik nafas dalam-dalam.
Alvero ikut menarik nafas dalam-dalam melihat wajah tegang dari papanya, seolah sedang bersiap menghadapi pertanyaan dari seorang jaksa penuntut. Sekilas Alvero kembali melirik ke arah Deanda yang sedikit menganggukkan kepalanya, membuat hati Alvero semakin mantap untuk memulainya.
"Pa, ketika mama Larena meninggalkan istana waktu itu, apa Papa sempat mendengar rumor bahwa mama pergi dalam keadaan hamil?" Pertanyaan Alvero membuat Vincent tersentak kaget, menunjukkan dengan jelas bahwa Vincent tidak tahu menahu tentang rumor itu.
"Siapa yang mengatakan hal seperti itu padamu nak? Gosip darimana itu? Siapa yang menyebarkan gosip seperti itu? Dimana dan kapan kamu mendengar berita itu?" Berbagai pertanyaan langsung terucap oleh bibir Vincent yang wajahnya berubah menjadi wajah bingung sekaligus bertambah tegang.
Alvero berkata dalam hati dan sengaja berdiam sejenak agar Vincent bisa lebih tenang, sebelum dia menjawab pertanyaan itu.
"Ketika aku masih kecil, aku memang sempat mendengar rumor itu dari beberapa pelayan yang suka berbisik-bisik. Sejak mama meninggalkan istana, seringkali para pelayan memandangiku dengan tatapan kasihan dan saling menggosip satu sama lain tentang kondisiku dan mama Larena. Biasanya nyonya Rose akan langsung memarahi mereka dan mengatakan padaku agar tidak perlu memperdulikan omong kosong seperti itu." Mendengar penjelasan Alvero, Vincent menarik nafas panjang.
__ADS_1
Bahkan kepergian Larena dari istana hari itu masih menyisakan penyesalan yang begitu mendalam. Vincent tidak bisa membayangkan betapa besarnya penyesalan yang akan dia alami, jika benar Larena pergi dalam kondisi hamil buah cinta mereka dan harus meninggal dengan cara yang begitu menyedihkan, terbakar sampai jenazahnya tanpa bisa dikenali lagi, sedangkan pengkhianatannya terhadap Larena masih membuat Vincent belum bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Ah..." Vincent mengeluarkan sebuah lenguhan dengan nada terdengar begitu putus asa.
Sampai saat ini, bayangan sosok Larena yang begitu dicintainya itu selalu saja membuat Vincent sulit untuk tidak merasakan sakit di dadanya karena begitu merindukan wanita yang sangat dicintainya itu.
Melihat bagaimana wajah Vincent yang terlihat sedih, Alvero bermaksud menghentikan pembicaraan mereka tentang Larena. Namun, di satu sisi, Alvero tidak ingin menunda terlalu lama untuk mengungkapkan tentang kebenaran yang ada.
Bagi Alvero seberapapun menyakitkannya tentang suatu kebenaran, hal itu tetap saja harus diungkapkan dan diselesaikan dengan baik. Membuka kebenaran tentang Larena bukannya tidak menyakitkan bagi Alvero yang sejak awal dia merasa ditinggalkan dan dibuang oleh Larena yang memilih untuk meninggalkan istana tanpa membawanya serta saat itu.
Andai saja Larena membawanya ikut pergi saat meninggalkan istana, paling tidak selama masa kanak-kanaknya Alvero tidak akan merasakan kekejaman Eliana. Tapi begitu Alvero memandang ke arah Deanda, semua rasa penyesalan itu tiba-tiba menghilang. Karena jika dia ikut dengan Larena hari itu, mungkin saat itu dia tidak pernah bertemu dengan gadis kecil yang sudah menyelamatkannya dari para penculik.
Dan mungkin saja, sampai detik ini Alvero tidak menikah dengan Deanda. Membayangkan itu semua, membuat Alvero berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bahwa tidak perlu ada penyesalan, karena dengan keberadaan Deanda di sisinya sebagai permaisurinya, adalah hal paling berharga dan membahagiakan untuknya. Dan keberadaan Deanda cukup untuk menghapuskan setiap penyesalan dan kesakitan yang pernah dia alami.
"Pa, aku tidak tahu apakah itu hanya sekedar rumor atau memang fakta. Hanya saja, beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan seorang gadis muda, yang mengenakan liontin yang menurut sepengetahuanku, liontin itu pernah dikenakan oleh mama Larena." Kali ini keterkejutan Vincent mendengar perkataan Alvero membuat Vincent langsung tersentak dan menjauhkan tubuhnya dari sandaran tempat tidurnya dengan kening berkerut.
__ADS_1