
"Tuan Alvi.... Apa Tuan sudah menikah? Ah, tidak perduli sudah menikah atau belum. Aku bisa menemukan wanita dengan tipe apapun sesuai keinginan Tuan Alvi, jika Tuan menginginkannya sebagai tambahan servisku kepada Tuan. Percayalah, mereka adalah wanita-wanita hebat yang akan membuat Tuan puas dan bahkan ketagihan." Perkataan Emilio sukses membuat Alvero menahan nafasnya karena begitu jijik mendengar apa yang baru saja dikatakan Emilio padanya.
Alvero tidak habis pikir bagaimana bisa Emilio menawarkan seorang wanita penghibur baginya? Sedangkan selain Deanda, satu-satunya wanita yang dicintainya, Alvero bersumpah untuk tidak pernah menyentuh apalagi tidur dengan wanita lain yang baginya sungguh menjijikkan, bahkan hanya dengan membayangkannya saja membuatnya ingin muntah.
Apalagi Emilio mengucapkan kata-katanya dengan mulutnya yang mengeluarkan bau alkohol yang begitu menyengat bagi hidung sensitif Alvero, sehingga membuat Alvero merasa sangat tidak nyaman, dan ingin secepatnya pergi dari sana. Karena walaupun Alvero mengenakan masker di wajahnya, bau alkohol tetap tercium oleh hidung mancungnya.
Walaupun tubuh Alvero memiliki toleransi yang tinggi terhadap alkohol, minuman itu baginya adalah sesuatu yang akan dia minum untuk menghormati seseorang atau karena untuk tujuan kesehatan, seperti menghangatkan tubuhnya. Di luar itu, Alvero tidak akan mau dengan sembarangan mengkonsumsi minuman beralkohol, apalagi jika itu diminum untuk tujuan mabuk-mabukan dan bersenang-senang saja.
"Aku sudah menikah Tuan Emilio, tidak perlu menawarkan wanita cantik untukku. Bawa saja barang-barang seni yang aku inginkan sesegera mungkin kepadaku. Aku tidak ada niat berbisnis soal wanita dengan Anda." Alvero berkata sambil menahan dirinya agar suara yang dikeluarkan dari bibirnya tidak menunjukkan begitu emosinya dia saat ini.
Dan untung saja suara Alvero tersar karena masker yang dikenakannya.
"Tuan Alvi, adik Tuan benar-benar cantik. Dengan senang hati aku akan berbisnis dengan Tuan, jika Tuan mengijinkan Nona ini yang mengurus kerjasama di antara kita. Aku akan memberi diskon besarrrrr, untuk kalian berdua. percayalah aku pria yang bisa memanjakan dan membahagiakan wanita dengan baik." Emilio yang sudah mabuk berat dengan sembarangan mengeluarkan kata-kata rayuannya untuk Deanda, tanpa menyadari pandangan mata Alvero yang terlihat begitu tajam seperti pedang yang siap menebas leher musuhnya.
__ADS_1
"Ijinkan aku untuk mengundang Nona cantik ini untuk menikmati liburan mewah yang pasti akan membuat Nona puas." Emilio berkata sambil menatap ke arah Alvero yang benar-benar sudah tidak tahan dan berniat melayangkan tinjunya ke wajah mabuk Emilio, ketika tiba-tiba salah seorang teman dari Emilio yang tadinya ke kamar mandi ketika Alvero dan Deanda datang, dengan santai mendekat ke arah Emilio tanpa tahu siapa Alvero dan Deanda.
"Emilio? Kemana yang lain? Kemana wanita-wanita cantik tadi? Apa kita batal untuk bersenang-senang malam ini?" Teman Emilio itu melihat ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari apra wanita penghibur yang tadi sudah mereka booking untuk menghabiskan malam panjang mereka bersama.
Mata pria itu terus mencari teman-teman dan para wanita itu sampai pandangan matanya langsung terhenti begitu melihat sosok Deanda. Begitu mata pria itu menatap ke arah Deanda yang berdiri di samping Alvero, mata pria itu langsung berbinar dengan tatapan mata terlihat takjub. Seolah sedang melihat sosok seorang malaikat cantik yang tiba-tiba turun dari langit untuknya, tidak perduli dengan sosok laki-laki bermasker di sampingnya.
"Wow.... Emilio....! Apa wanita itu stok baru milik bar ini? Aku belum pernah melihat wanita secantik dia di bar ini. Wanita yang kamu bawa untuk kami hari ini benar-benar cantik dan menarik. Kamu pasti mengeluarkan banyak uang untuk wanita ini. Darimana kamu bisa mendapatkan wanita secantik ini secara tiba-tiba?" Sambil berkata dengan menjilat bibirnya, laki-laki itu berjalan mendekat ke arah Deanda dan mengulurkan tangannyak ke depan, bermkasud untuk meraih bahu Deanda.
Namun dengan cepat, bahkan sebelum Alvero bertindak, tangan Deanda meraih pergelangan tangan laki-laki itu dan memuntirnya, juga memutar tubuh laki-laki itu dan mengunci tangannya di belakang tubuhnya sendiri, sambil mencengkeram dengan erat.
"Aduh! Sakit.... sakit sekali!" Pria itu kembali berteriak kesakitan, apalagi Deanda tidak mengurangi tenaganya sedikitpun.
"Aku bukan wanita seperti yang Tuan maksud. Berhati-hatilah dengan perkataan Tuan. Jangan sembarangan memandang rendah semua wanita." Deanda berkata sambil menekan dengan keras pergelangan tangan laki-laki itu dan mendorongnya kembali dengan keras, ke arah punggungnya.
__ADS_1
"Tuan, tolong jaga sopan santunmu kalau tidak ingin aku mematahkan kedua kaki dan tanganmu! Jangan beraninya menyentuh adikku walau seujung rambutpun dengan tangan kotormu itu! Atau Anda tidak akan bisa lagi melihat birunya langit besok!" Alvero berkata sambil mengambil alih tangan laki-laki itu dari tangan Deanda, lalu mencengkeramnya dengan kuat, membuat laki-laki itu semakin meringis kesakitan, walaupun sebenarnya Alvero belum mengeluarkan seluruh tenaganya.
Dan bukan hanya itu saja yang dilakukan oleh Alvero. Dengan wajah marah dan geram, Alvero langsung menendang bagian belakang lutut laki-laki itu, bersamaan dengan dia melepaskan cekalan tangannya, sehingga laki-laki itu langsung jatuh tersungkur. Tindakan Alvero sukses membuat tubuh laki-laki itu jatuh tengkurap dan membentur lantai.
"Akh...!" Sebuah teriakan karena merasa wajah, lutut dan kakinya terasa sakit saat membentur lantai dari bar itu terdengar dari bibir teman Emilo.
Melihat kejadian itu, Emilio hanya bisa menjadi penonton tanpa bisa berbuat apa-apa. Selain karena dia sendiri sedang mabuk dan sempoyongan... Melihat gerakan tangkas baik dari Alvero sebagai Alvi, dan Deanda sebagai Della cukup membuat nyali Emilio menjadi semakin menciut. Karena dari bagaimana mereka bergerak dan bertindak, terlihat jelas bagi Emilio bahwa kedua kaka beradik itu memiliki keahlian beladiri yang cukup bagus.
Dan Emilio sadar diri, dia yang hanya bisa berkelahi ala kadarnya tidak akan bisa menandingi kedua kakak beradik itu.
"Pergi dari sini sekarang! Atau aku benar-benar akan mematahkan kedua kaki dan tanganmu sekarang juga! Bahkan aku akan membuat kedua matamu buta jika berani sekali lagi kamu menatap adikku dengan tatapan mesummu itu! Aku akan membuatmu menyesal sudah bertemu dengan kami berdua hari ini!" Mendengar ancaman dari Alvero, dengan gerakan cepat dan buru-buru, laki-laki itu segera bergegas menjauhi mereka dengan langkah tertatih-tatih, tanpa berani menoleh ke belakang, apalagi melirik ke arah Deanda yang sebenarnya sosok wanita cantik itu, masih membuatnya merasa begitu penasaran.
Tanpa sepengetahuan yang lain, Erich sedikit menarik nafas lega Alvero yang tampak begitu marah masih bisa mengendalikan diri untuk tidak menghajar habis-habisan laki-laki yang sudah berani bersikap kurangajar terhadap permaisurinya itu. Mengingat bagaimana posesifnya Alvero terhadap Deanda, Erich yakin Alvero berjuang cukup keras untuk mengendalikan dirinya malam ini.
__ADS_1
Sepertinya, lain kali ada baiknya permaisuri tidak terlibat dengan misi seperti ini. Dengan kecantikan dan pesonanya, permaisuri selalu berhasil membuat hati para pria menjadi oleng. Tapi mengingat bagaimana keras kepalanya permaisuri, sebelas dua belas dengan yang mulia Alvero. Sepertinya harapanku itu akan sia-sia saja.
Erich berkata dalam hati sambil menahan nafasnya sebentar, untuk meredakan degupan di dadanya, karena baru saja dia merasa begitu khawatir misi kali ini akan gagal di tengah jalan, jika dia ataupun Alvero tidak bisa mengendalikan diri dari emosi mereka.