BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
JANGAN MENYENTUHKU!


__ADS_3

"Kakak... Kakak tahu aku begitu mencintai kakak, bahkan sampai detik ini... Aku tetap menjadikan kak Alvero sebagai satu-satunya laki-laki yang begitu aku kagumi dan aku puja..."


"Desya... hentikan kegilaanmu! Jangan berpikir yang aneh-aneh! Kita ini adalah saudara tiri. Dan kamu sudah tahu, bahwa aku tidak pernah memiliki perasaan lebih dari seorang kakak kepadamu. Wanita yang aku cintai hanya Deanda Federer. Dan tidak ada seorangpun yang bisa mengubah hal itu! Sampai kapanpun! Bahkan sampai aku mati!" Kali ini emosi Alvero benar-benar terpancing karena perkataan Desya yang bagi Alvero terdengar tidak masuk akal sama sekali sekaligus terdengar menjijikkan baginya.


Dan perkataan Desya itu hampir saja membuat tubuh Alvero bergidik tanpa sadar, melihat bagaimana seorang gadis terhormat seperti Desya yang merupakan seorang putri Gracetian bisa bertindak murahan dan mengemis cinta dari seorang laki-laki yang jelas-jelas tidak mencintainya dan sudah menikah. Memikirkan tindakan Desya yang bagi Alvero sungguh bertolak belakang dengan sifat istrinya, membuat Alvero tidak habis pikir, sehingga Alvero langsung memotong perkataan Desya sambil menegakkan tubuhnya.


"Lebih baik aku pergi sekarang daripada mendengar omong kosong darimu." Alvero berkata sambil menjauhkan dirinya dari pagar pembatas, berencana memilih untuk pergi menjauhi Desya dan menyusul Deanda ke kamar mandi.


"Kak Alvero...!" Melihat Alvero berencana pergi meninggalkannya seperti biasanya, tangan Desya bergerak dengan cepat meraih lengan Alvero dengan kedua tangannya, memegangnya dengan begitu erat, lalu turun ke bawah sehingga kedua telapak tangan Desya menggenggam dengan erat tangan Alvero yang kebetulan tidak memakai sarung tangan di tangannya.


Melihat tindakan Desya, kepala Alvero langsung menoleh ke belakang, memandang ke arah Desya dengan kedua mata hazelnya melotot sempurna. Dada Alvero langsung berdetak dengan kencang, sekaligus ada rasa panas mulai menjalari tubuhnya, reaksi dari alergi yang biasa dirasakannya pada tahap awal, membuat dengan gerakan kasar dan cepat, Alvero menyentakkan tangan Desya dan berlari menjauh secepat yang dia bisa.


Awalnya Alvero berencana menyusul Deanda, tapi melihat masih ada begitu banyak orang di ruangan utama pesta, Alvero memutuskan untuk berlari ke arah lain dimana tempat itu terlihat sepi, meninggalkan Desya yang hanya bisa terdiam di tempatnya melihat bagaimana Alvero barusan menyentakkan tangannya dengan begitu keras dengan tatapan mata yang memandangnya dengan pandangan mata terlihat jijik kepadanya.


Sambil memegang dadanya yang mulai terasa sesak, dengan tangan bergetar tangan Alvero berusaha meraih handphone di saku jasnya, berusaha menghubungi Ernest sekaligus mencari tempat yang cukup sepi agar orang tidak melihat kondisinya. Dan Alvero cukup beruntung di bagian paling utara geladak kapal itu minim penerangan sehingga dia bisa bersembunyi di sana untuk sementara waktu.

__ADS_1


"Ernest... segera cari... permaisuri dan… segera.... bawa permaisuri untuk menemuiku… di bagian paling.... utara.... geladak kapal... Tadi... dia pergi ke... kamar mandi." Dengan suara terputus-putus karena menahan sesak di dadanya sekaligus rasa panas di tubuhnya yang mulai menunjukkan bercak-bercak merah, Alvero memberikan perintah kepada Ernest yang dari suara Alvero segera tanggap bahwa saat ini alergi Alvero sedang kambuh.


"Baik Yang Mulia! Saya akan segera kesana bersama permaisuri dan membawa obat penawar Yang Mulia! Tolong bertahanlah sebentar Yang Mulia." Ernest segera menjawab perintah Alvero sambil berlari dengan cepat ke arah kamar mandi dengan wajah khawatir.


Mata Ernest langsung mengelilingi setiap sudut ruangan untuk mencari sosok Deanda, berharap bisa segera bertemu dengan wanita itu.


"Aku... hanya... membutuhkan... permaisuri..." Alvero berkata dengan nafasnya yang tersengal-sengal dan berusaha duduk sambil bersandar di lantai geladak kapal, karena dia sadar, tubuhnya semakin lama semakin tidak bertenaga dan harus segera duduk dan mencari sandaran jika tidak ingin jatuh tergeletak di lantai geladak kapal.


Handphone di tangan Alvero tiba-tiba saja terjatuh tanpa Alvero sempat menutup panggilan teleponnya dengan Ernest, karena tangan Alvero yang sudah tidak memiliki tenaga lagi. Suara handphone Alvero yang jatuh dan berbenturan dengan lantai geladak kapal membuat Ernest merasa semakin khawatir.


"Akhh...." Alvero melenguh pelan sambil tangannya memegangi dadanya yang semakin sulit untuk digunakan menarik nafas di sekitarnya.


Begitu kepala Alvero menoleh, dia bisa melihat sosok Alaya yang tadinya berdiri di sampingnya langsung berjongkok di dekatnya dengan wajah terlihat begitu khawatir melihat kondisi Alvero yang tampak tidak normal.


"Yang Mulia baik-baik saja? Saya akan bantu Yang Mulia untuk masuk ke dalam dan mencari bantuan." Dengan cepat Alaya menggerakkan kedua tangannya untuk memegang kedua lengan Alvero, berencana membantu Alvero untuk bangkit dari duduk berselonjornya di lantai geladak kapal.

__ADS_1


"Tidak... tidak perlu.... Aku sedang.... menunggu permaisuri... di sini..." Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Alvero menggerakkan tangan kanannya untuk memegang tangan Alaya yang sedang memegang lengannya, berusaha menyingkirkan tangan Alaya dari lengannya.


"Nona... lepaskan.... tanganmu... dariku.... Menjauhlah… dariku." Mendengar permintaan Alvero, Alaya terlihat semakin cemas, dan dengan ragu melepaskan tangannya dari lengan Alvero, sesuai perintah Alvero barusan.


"Yang Mulia...." Baik Deanda maupun Ernest yang baru saja datang, langsung berteriak memanggil nama Alvero begitu melihat kondisi Alvero.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Deanda segera berlari ke arah Alvero, berlutut di sampingnya dan langsung memeluk tubuh Alvero dengan erat. Melihat kondisi Alvero, Deanda hampir saja tidak bisa menahan air matanya. Bahkan sosok Alaya yang masih berjongkok di dekat Alvero tidak diperdulikannya, seolah di tempat itu hanya ada dia dan Alvero yang sedang merasakan kesakitan di seluruh tubuh, terutama dadanya.


Melihat itu, Ernest langsung mendekat ke arah Alaya yang masih berjongkok di dekat Alvero tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Nona Alaya.... Sebaiknya saya mengantar Anda kembali ke ruang pesta sekarang." Ernest mengulurkan tangannya kepada Alaya untuk membantunya berdiri dari berjongkoknya.


"Tapi... Yang Mulia..." Alaya berkata sambil bangkit dari posisi berjongkoknya tanpa menerima uluran tangan Ernest kepadanya.


Dari wajah Alaya jelas terlihat rasa cemas melihat kondisi Alvero. Tatapan mata Alaya pun terlihat tidak bisa lepas dari sosok Alvero. Memandangi sosok Alvero dengan tatapan intens, menunjukkan bahwa gadis itu begitu perduli dan khawatir dengan kondisi Alvero.

__ADS_1


"Nona harus segera pergi dari sini. Yang mulia Alvero akan baik-baik saja selama ada permaisuri di sampingnya. Beliau akan segera pulih. Mari saya antar Nona untuk kembali ke tempat pesta..." Mendengar perkataan Ernest, akhirnya Alaya memutuskan untuk menuruti permintaan Ernest untuk pergi dari tempat itu, apalagi dilihatnya nafas Alvero sudah mulai tenang sejak kehadiran Deanda yang langsung memeluknya dengan erat, dan mendekap erat kepala Alvero di dadanya sambil mengelus lembut bagian belakang kepala dan punggung Alvero dengan penuh perasaan cinta sekaligus khawatir.


Akhirnya Alaya berjalan menjauh dari tempat itu, mengikuti Ernest yang sudah berjalan lebih dahulu. Beberapa kali Alaya tampak menolehkan kepalanya ke belakang, seolah-olah ingin memastikan bahwa kondisi Alvero memang baik-baik saja bersama Deanda.


__ADS_2