BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PERASAAN TIDAK TENANG


__ADS_3

Alvero yang tidak bisa melihat kilatan cemburu di mata Deanda, dengan santainya langsung berjalan mendekat ke arah Deanda sambil tersenyum. Sedang Deanda, begitu melihat Alvero mendekat ke arahnya segera membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah ruangan milik Robert, dimana beberapa menit sebelumnya Deanda sudah menemui Robert, menanyakan keberadaan Alvero. Begitu Robert mengatakan bahwa Alvero belum menemuinya, membuat Deanda berencana bergegas mencari Alvero di kantor pribadinya.


Namun, baru saja tangannya hendak menggapai handle pintu ruang R&D, berencana untuk segera pergi dari sana, justru yang dilihat adalah kejadian dimana suami tampannya tanpa sengaja menabrak Alaya dan berniat membantunya mengambil berkas-berkasnya yang terjatuh. Ok, sampai kejadian itu Deanda masih bsia mengerti, tapi bagaimanapun, walau tanpa sengaja tangan Alaya bersentuhan dengan tangan Alvero, seketika itu juga Deanda merasakan ada sesuatu yang bergemuruh di dadanya. Dan itu membuatnya merasa begitu tidak nyaman.


Dada Deanda tiba-tiba saja merasa sesak, merasa ingin marah tanpa alasan yang jelas, bahkan suhu ruangan ber AC kantor R&D tanpa sebab tiba-tiba terasa begitu panas bagi Deanda.


“Sweety…. Kenapa menyusulku kemari?” Alvero berkata sambil menjajari langkah-langkah Deanda yang berjalan dengan gerakan sedikit lebih cepat dari ritme berjalan orang normal ke arah ruangan Robert, seolah sengaja menghindar dari Alvero yang mendekat ke arahnya.


Ernest yang tadi menyusul dan datang bersamaan dengan nyonya Rose yang sedang mencari Alvero, hanya bisa mengikuti langkah-langkah kedua majikannya masuk ke dalam ruangan departemen R&D tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya. Walaupun dalam hati Ernest merasa begitu penasaran setelah melihat dengan jelas tangan Alvero dan Alaya bersentuhan, tapi tidak ada reaksi alergi pada Alvero.


Begitu nyonya Rose yang berjalan di samping Ernest melewati Alaya, sekilas dengan salah satu sudut matanya, nyonya Rose melirik ke arah Alaya yang masih berdiri di tempatnya, dengan matanya memandang ke arah sosok Alvero dan Deanda. Membuat nyonya Rose merasa tidak nyaman, melihat bagaimana Alaya menatap Alvero dan Deanda dengan tatapan yang enggan beralih.


Siapa gadis itu? Sungguh mencurigakan.... Setiap ada yang mulia di dekatnya, gadis itu selalu tiba-tiba muncul di hadapan yang mulia. Seolah mencari kesempatan untuk mendekati yang mulia. Apa dia salah satu mata-mata ibu suri Eliana?


Nyonya Rose menarik nafas panjang sambil mengalihkan pandangan matanya dari Alaya.


“Ada yang berjanji padaku untuk menunggu tidak lebih dari 15 menit, tapi ternyata sudah hampir 30 menit aku menunggu orang itu tidak kunjung kembali.” Mendengar kata-kata Deanda yang diucapkan dengan nada datar, namun menunjukkan wajah tidak ramah, Alvero langsung tersenyum.

__ADS_1


Kata-kata protes dari Deanda mengingatkan kepada Alvero bagaimana sebelum menikah, Deanda merupakan gadis keras kepala yang selalu saja menentangnya. Apalagi saat istrinya dulu belum mengetahui bahwa antara dia sebagai putra mahkota Gacetian adalah orang yang sama dengan tuan Alvi yang setiap kali bertemu dengan Deanda selalu ribut. Dan Deanda tidak pernah bersikap ramah kepadanya karena kesalahpahaman yang terjadi gara-gara pencopet waktu itu.


Ah, mengingat masa lalu membuatku gemas denganmu dan semakin menyukaimu. Untung saja akhirnya aku bisa memilikimu. Jika tidak, mungkin aku akan menyingkirkan setiap pria yang berusaha mendekatimu.


Alvero berkata dalam hati sambil menepuk lembut punggung Deanda.


“Ah, aku membuatmu lama menunggu ya. Kamu pasti kelaparan. Setelah ini kita makan apapun yang kamu inginkan. Aku janji.” Alvero berkata sambil membuka pintu ruang Robert.


Robert yang sedang serius dengan file yang ada di depannya langsung mengangkat kepalanya. Dan begitu melihat kehadiran Alvero bersama Deanda yang tadi sudah sempat ke ruangannya, Robert langsung bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah mereka berdua.


Dengan sigap, Ernest kembali menutup pintu ruangan dari Robert begitu Deanda dan Alvero masuk ke sana. Setelah itu dengan sikap tubuh tegap, Ernest berdiri di balik pintu ruangan Robert bersama nyonya Rose.


“Kalau begitu silahkan lanjutkan urusan kalian. Sebaiknya aku tidak mengganggu.” Dengan wajah terlihat dingin, Deanda berkata sambil menggerakkan tubuhnya, bersiap untuk pergi kembali dari ruangan itu meninggalkan Alvero bersama Robert tanpa ada keinginan untuk menemani Alvero.


“Sebentar Tuan Robaet." Alvero berkata sambil tangannya langsung meraih pergelangan tangan istrinya yang sudah hampir mencapai pintu, bersiap keluar dari ruangan itu.


"Kenapa denganmu sweety?" Alvero yang baru menyadari ada yang salah dari sikap Deanda langsung berbisik pelan.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya lapar dan lelah. Aku akan kembali ke cafe." Deanda berkata sambil berusaha melepaskan cekalan tangan Alvero di pergelangan tangannya.


Namun dengan erat, Alvero tetap memegang erat pergelangan tangan Deanda, dengan tangannya yang lain membuka pintu dan memberi kode kepada Ernest agar masuk ke dalam ruangan Robert.


"Ernest! Antar permaisuri Deanda ke penthouse. Dan aturkan makan siang kami di penthouse. Minta Enzo mengirimkan masakan dari restauran hotel miliknya. Kirimkan beberapa orang pelayan istana untuk membantu dan menyiapkan kebutuhan permaisuri selama di penthouse.." Alvero segera memberikan perintah kepada Ernest yang baru saja masuk ke ruangan Robert.


"Baik Yang Mulia! Akan segera saya kerjakan. Mari Permaisuri.... saya antar Anda ke penthouse sekarang." Ernest berkata sambil mengarahkan tangannya ke samping tubuhnya, mempersilahkan Deanda untuk pergi bersamanya ke penthouse.


"Nyonya Rose, tolong temani permaisuri di penthouse, sepertinya kamu juga ada hal penting yang harus dibicarakan sampai menyusulku kemari. Setelah urusanku selesai dengan tuan Robert. Kita bertemu di penthouse." Alvero berkata sambil tangannya yang sedang mencekal tangan Deanda sedikit mearik tangan itu ke arahnya, agar tubuh Deanda mendekat kepadanya.


"Baik Yang Mulia, saya akan menemani Permaisuri Deanda agar bisa beristirahat di penthouse." Nyonya Rose berkata sambil menatap bergantian ke arah Deanda dan Alvero.


Haist, yang mulia Alvero sepertinya tidak tahu kejadian tadi cukup membuat permaisuri merasa cemburu. Memang yang mulia tidak mengerti apapun tentang wanita.


Nyonya Rose berkata dalam hati sambil menggerakkan tubuhnya, bersiap untuk keluar dari tempat itu.


"Aku akan segera menyusulmu sweety..." Alvero kembali berbisik pelan sambil melepaskan cekalan tangannya pada tangan Deanda, sedang Deanda hanya menarik nafas panjang tanpa menjawab perkataan Alvero dan berjalan keluar dari kantor Robert.

__ADS_1


Deanda tahu bahwa apa yang dia lakukan saat ini terhadap Alvero terlihat kekanak-kanakan, tapi rasa tidak nyaman di hatinya membuatnya tidak perduli dia sudah bersikap aneh hari ini. Dengan perasaan galau Deanda melangkah keluar, dan mau tidak mau, ketika Deanda melewati bekas meja kerjanya yang sekarang ditempati oleh Alaya, secara otomatis wajah Deanda menoleh dan matanya menatap ke arah meja itu, dimana Alaya sedang duduk di sana dan memandang ke arahnya.


__ADS_2