BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
TIDAK INGIN HATIMU TERLUKA


__ADS_3

"Biarkan kami melakukan analisa terhadap semua dokumen itu, juga melakukan pengecekan terhadap semua bukti-bukti yang ada. Jika semua hasil penyelidikan sudah pasti kebenarannya, aku pasti akan memberitahukan kepadamu. Semua yang ingin kamu ketahui." Alvero berusaha menjawab pertanyaan Deanda sebijak mungkin agar Deanda tidak berpikir macam-macam terhadap sesuatu yang belum pasti kebenarannya, apalagi itu menyangkut seseorang yang begitu disayangi dan dihormati oleh Deanda dan memiliki hubungan dekat dengan permaisurinya itu, yaitu hubungan darah.


Ada pepatah mengatakan darah lebih kental dari air, sehingga Alvero bisa mengerti bagaimana sedih dan kecewanya Deanda jika mendengar info tentang Alexis yang dicabut gelar knightnya karena dituduh melecehkan Eliana.


(Darah lebih kental daripada air, artinya hubungan persaudaraan atau hubungan darah itu sangat kental. Maksudnya kita harus saling menyayangi orang yang memiliki hubungan darah dengan kita, dan jangan sampai bertikai, apalgi untuk hal-hal yang tidak penting).


Saat ini Alvero benar-benar ingin menjaga perasaan Deanda agar tidak merasa bersalah, malu ataupun sedih jika dia mendengar tentang apa yang sedang berusaha dia selidiki.


"Kenapa dengan wajahmu? Apa kalian menemukan bahwa papa Alexis sudah melakukan sesuatu yang buruk di masa lalu? Atau sesuatu yang memalukan? Apa dia melakukan kesalahan fatal? Apa dia berusaha mengkhianati kerajaan Gracetian?"


"Ah..." Mendengar pertanyaan Deanda yang bertubi-tubi itu Alvero hanya bisa mendesah pelan dan dengan cepat Alvero menarik tangan Deanda agar tubuhnya mendekat ke arahnya, lalu dipeluknya dengan erat tubuh wanitanya itu dan diciuminya puncak kepala Deanda dengan penuh perasaan cinta dan keinginan yang begitu besar untuk melindungi istrinya itu.


Melihat bagaimana Alvero tidak menjawab pertanyaannya, namun justru tiba-tiba saja terdiam sambil memeluknya erat dan menghujaninya dengan ciuman di puncak kepala dan keningnya justru membuat Deanda mendorong tubuh Alvero agar sedikit menjauh darinya, membuat Alvero menarik nafas dalam-dalam.

__ADS_1


"My Al... tolong katakan padaku dengan jujur apa yang sudah terjadi pada papa Alexis? Kenapa kamua begitu takut aku mengetahui tentang kebenaran itu?" Deanda berkata pelan sambil kepalanya mendongak dengan mata memandang ke arah Alvero dengan wajah terlihat jelas berharap bahwa suaminya tidak akan lagi menghindari pertanyaan darinya dan mau jujur menjawab pertanyaannya.


"Sweety.... percayalah padaku bahwa hanya ingin menjagamu dengan sebaik mungkin, entah itu fisik, pikiran ataupun hatimu. Aku selalu ingin menjaganya dengan baik. Aku tidak akan membiarkan siapapun atau apapun menyakitimu." Mendengar perkataan Alvero, Deanda langsung menyungingkan senyum sambil jari-jari tangannya yang lentik mengelus lembut wajah tampan suaminya.


"Aku bukan sebuah vas yang jika dibanting akan pecah berkeping-keping dan tidak bisa kembali sempurna, walaupun aku juga bukan batu yang jika dilempar justru akan merusak benda yang aku tabrak. Kamu bahkan mungkin sudah tahu detail tentang bagaimana aku hidup selama ini, sebelum kita menikah. Aku bukan orang yang takut untuk menghadapi kenyataan walaupun itu menyakitkan. Hidup sudah mengajarkanku banyak hal yang membuatku kuat." Begitu mendengar perkataan Deanda, Alvero langsung menggigit bibirnya sambil menahan nafasnya sebentar.


Tentang siapa dan bagaimana Deanda, kehidupannya selama ini, baik di tengah-tengah ibu dan kakak tirinya, bagaimana dia menyelesaikan pendidikannya, ataupun di tempat kerjanya, Alvero sudah pernah mengetahuinya dengan baik ketika dia memerintahkan Ernest menyelidiki secara detail tentang gadis yang sejak pertama di pertemuan mereka sudah menarik perhatiannya. Bukan hanya karena gadis itu tidak menimbulkan alergi padanya, namun sikap tegas dan keberaniannya dalam membela kebenaran yang ditunjukkan Deanda saat itu membuat mata Alvero sulit untuk berpaling darinya. Sosok gadis kuat dan baik hati yang saat ini sudah menjadi wanita tercinta miliknya.


Bagaimanapun, sentuhan maupun sikap mesra Deanda sampai detik ini selalu mampu membuat Alvero kehilangan akal sehatnya, selalu berhasil membuat gairah dan hasratnya bangkit, seolah setiap sentuhan dan sikap mesra itu adalah hal yang baru pertama kali dia rasakan sebagai laki-laki normal. Baginya jika itu Deanda, Alvero tahu dia akan begitu sulit untuk menahan dirinya.


"Kalau kamu keberatan untuk memberitahukannya padaku. Cukup ajak aku bersamamu ke sana, aku akan menanyakan hal itu ke Ernest atau Erich, dan mungkin juga aku juga bisa menanyakannya kepada pangeran Enzo. Jika aku memiliki alasan kuat, pangeran Enzo pasti tidak akan keberatan untuk menjelaskan kepadaku." Mendengar perkataan Deanda itu mata Alvero langsung terbeliak kaget.


"Sweety..." Alvero menyebutkan panggilan sayangnya kepada Deanda dengan berusaha menelan ludahnya karena merasakan tangan Deanda yang sedang memeluk pinggangnya mulai bergerak pelan mengelus lembut bagian bawah punggungnya.

__ADS_1


"Aku tidak akan memaksamu mengatakan apapun my Al. Hanya bawa aku ke hotel pangeran Enzo bersamamu sekarang." Deandan berkata lirih.


Wah... sejak kapan kamu berani menggunakan cara seperti ini untuk memaksaku menuruti keinginanmu. Hah, sial! Aku benar-benar tidak akan bisa menolak permintaanmu jika kamu melakukan hal seperti ini kepadaku. Sepertinya kamu sudah mulai mempelajari dan tahu tentang kelemahanku terhadap keberadaan dan sentuhanmu.


Alvero hanya bisa mengeluh dalam hati tanpa berani mengucapkannya, apalagi dilihatnya wajah Deanda yang masih mendongakkan kepalanya ke arahnya dengan senyum manisnya yang menggoda tersungging di bibir seksinya, membuat Alvero dengan terpaksa memegang kedua tangan Deanda yang sedang melingkar di tubuhnya, berusaha melepaskan kedua tangan itu sambil menahan gejolak di dadanya.


Jika saja pertemuan malam ini di hotel milik Enzo bukanlah sesuatu yang begitu penting, Alvero tidak akan membiarkan Deanda lepas darinya saat ini. Tapi Alvero tahu dia harus mengendalikan dirinya saat ini walaupun dia begitu menginginkan istrinya saat ini. Apalagi Alvero tahu Deanda sengaja memancingnya bukan karena menginginkan hal itu, tapi ingin agar Alvero menuruti keinginannya, sebuah bentuk rayuan sekaligus ancaman.


Tanpa Deanda mengatakan apapun, saat ini Alvero tahu Deanda sedang merayunya habis-habisan agar memberitahukan kepadanya tentang apa yang sudah diketahuinya tentang masa lalu Alexis Federer. Namun di sisi lain Alvero tahu tindakan Deanda memilki arti ancaman dimana jika dia tidak memenuhi permintaan Deanda saat ini, kemungkinan beberapa waktu ke depan dia akan sulit untuk mendapatkan jatahnya, bahkan mungkin Deanda tidak akan mengijinkannya mendekat ke arahnya.


Walaupun pengetahuan Alvero tentang wanita begitu dangkal tapi dari pembicaraan banyak orang yang pernah dia dengar dan juga dari beberapa informasi yang dia baca dari internet, wanita lebih banyak menggunakan perasaan daripada logika, sehingga mereka akan merasa tertekan dan tidak percaya diri jika ditolak. Jika sudah begitu jangan harap wanita itu akan bersikap manis dan mau dekat-dekat dengan tokoh utama, si pembuat hatinya kecewa. Dan Alvero yang begitu mencintai dan mulai memiliki ketergantungan tinggi terhadap keberadaan Deanda di sisinya, tentu saja tidak akan berani mengambil resiko yang dapat menyebabkan Deanda tidak mengindahkannya, itu akan menjadi hal yang paling menyiksa buat Alvero.


Menyadari resiko besar yang akan didapatkannya kali ini jika tidak memenuhi permintaan istrinya yang masih dengan gerakan lembut dan mesra mengelus tubuhnya, dengan tiba-tiba Alvero menggerakkan kedua tangannya ke pinggang Deanda dan tanpa berkata sepatah katapun, Alvero meletakkan kedua tangannya di samping kanan dan kiri pinggang Deanda, untuk kemudian menganggkat tubuh istrinya ke atas meja di depannya, mendudukkannya di sana.

__ADS_1


__ADS_2