
Setelah Eliana tidak diperbolehkan memasuki kamar tempat Vincent dirawat, dia memilih untuk segera kembali pulang ke Tavisha bersama sopir pribadinya. Dan dengan buru-buru Eliana segera melakukan panggilan telepon kepada Alvero untuk menyatakan protesnya.
Melihat kemarahan Eliana, sopir pribadi Eliana yang mengamati sedari tadi pembicaraan Eliana dan Alvero sambil menjalankan mobilnya, juga bagaimana Eliana yang marah akibat pembicaraan itu, hanya menarik nafas dalam-dalam.
"Sudah aku katakan dia bukan lagi anak kemarin sore yang mudah untuk dihadapi. Dia juga bukan raja seperti Vincent yang pengecut dan lemah. Kalau kamu melihat musuhmu dan tahu tidak akan sanggup melawannya. Lebih baik kamu mundur dan pergi menjauh sebelum kamu sendiri dihancurkan olehnya. Sudah aku katakan berkali-kali, dari semua harta yang sudah kamu kumpulkan selama menjadi permaisuri Gracetian, jika kamu mau pergi keluar dari Gracetian... kamu bisa menikmati hidup mewah dan lebih tenang karena tidak lagi dalam ketakutan karena bersiap menghadapi serangan dari Alvero." Mendengar perkataan Rolland, Eliana mendengus keras.
"Tidak bisa! Aku sudah menunggu begitu lama agar Dion bisa menjadi raja Gracetian. Aku tidak akan berhenti di tengah jalan. Tidak lagi untuk kali ini! Aku sudah menunggu kesempatan ini selama puluhan tahun untuk bisa merebut kerajaan Gracetian dari keturunan Adalvino!" Rolland, sopir pribadi Eliana langsung mencebikkan bibirnya mendengar perkataan Eliana.
"Berapa puluh tahun yang lalu kamu mengatakan hal yang sama dengan penuh percaya diri. Tapi ternyata pasukanmu dihancurkan dengan mudah oleh Alexis dan orang-orang dari Goldie Tavisha, bahkan sebelum mereka sempat menguasai istana bagian depan. Yahhhh.... setelah bertahun-tahun, aku harap kali ini pasukan kita cukup tangguh untuk melawan kerajaan. Aku sudah katakan padamu, jika ingin memenangkan pertarungan, kamu harus bisa mengambil hati orang-orang di Goldie Tavisha." Rolland kembali berkata sambil melirik Eliana melalui kaca spion mobil yang dikendarainya.
"Sejak sepeninggalan Alexis, Goldie Tavisha tidak lagi sehebat dulu. Biarkan saja serangga kecil seperti mereka tetap ada. Bagi kita, gigitan serangka hanya menimbulkan sedikit nyeri tapi tidak akan melukai kita, apalagi membunuh kita. Toh kita juga sudah menyiapkan dengan baik pasukan kita. Hanya menunggu tanggal mainnya. Sepertinya hari perayaan ulang tahun kerajaan akan menjadi momen yang paling tepat." Eliana berkata sambil tersenyum dengan tatapan mata liciknya.
Tangan Eliana masih meremas dengan keras handphone yang ada di tangannya. Dia berharap andai saja handphone itu adalah Alvero, ingin sekali dia menghancurkan benda itu hingga hancur berkeping-keping tanpa bisa disatukan kembali.
# # # # # # #
__ADS_1
"Ibu suri menghubungimu? Apa semuanya baik-baik saja?" Deanda yang masih berdiri di dekat meja kerjanya langsung bertanya kepada Alvero begitu laki-laki itu menutup panggilan telepon antara dia dan Eliana.
"Seperti yang kita bicarakan waktu itu. Eliana berusaha menemui papa Vincent setelah bertemu dengan Desya. Kemungkinan dia ingin memberikan kembali obat-obatan pelemah saraf dan otot itu. Untung saja aku sudah melakukan koordinasi dengan dokter pribadi Ornado." Alvero berkata sambil memainkan pena di hadapannya, dengan cara memutar-mutarkan ujung pena di atas meja kerjanya.
"Aku dan dokter pribadi Ornado sudah sepakat untuk menyebarkan berita bahwa kondisi yang mulia Vincent sedang kritis dan butuh penanganan khusus secara intensif. Sehingga tidak seorangpun diijinkan untuk menemui dan datang berkunjung. Termasuk ibu suri sekalipun. Seakrang wanita itu pasti berada di villa keluarga Enzo tanpa bisa berbuat apa-apa untuk menemui papa Vincent." Alvero menjelaskan kepada Deanda yang langsung menganggukkan kepalanya.
Pantas saja ibu suri Eliana terdengar begitu marah, sampai suara teriakannya terdengar dari tempatku berada. Jika menyangkut kata-kata sindiran dan pedas, suamiku itu memang ahlinya.
Deanda berkata dalam hati sambil membayangkan bagaimana marahnya Eliana karena kata-kata Alvero tadi selama mereka melakukan pembicaraan.
Alvero melakukan itu agar dia bisa dengan mudah mengamati istrinya saat bekerja. Rasanya Alvero tidak pernah bosan berada di dekat Deanda dan menikmati sosok cantiknya.
"Kamu bisa memulainya dari file-file itu, sementara aku harus melakukan pengecekan terhadap laporan penjualan perusahaan bulan lalu. Kalau ada yang mungkin tidak kamu pahami, tanyakan hal itu kepada Ernest." Alvero kembali berkata dengan tangan kanannya menepuk bahu Deanda, memberinya semangat untuk mulai bekerja dan membantunya.
"Setelah makan siang, aku akan ada meeting dengan jajaran direksi. Kamu persiapkan dirimu agar bisa ikut hadir di meeting perdanamu denganku. Ernest, beritahukan kepada permaisuri apa saja yang perlu disiapkan saat permaisuri ikut denganku menghadiri rapat direksi bulanan seperti nanti siang." Alvero berkata sambil menyungingkan senyum di wajahnya, berharap Deanda bisa melakukan pekerjaannya dengan baik sebagai asisten pribadinya.
__ADS_1
Dan Alvero begitu yakin Deanda akan dengan mudah melakukannya setelah Alvero mengamati bagaimana cara kerja Deanda selama di devisi R&D walaupun tidak lama. Alvero tahu bahwa wanitanya merupakan wanita yang memiliki kemampuan cukup hebat.
"Baik Yang Mulia." Ernest menjawab dengan cepat perintah dari Alvero, sambil berjalan keluar dari ruangan itu, berencana mengambil semua berkas yang tadi sudah diminta oleh Alvero agar bisa dipelajari oleh Deanda secepatnya.
"Bekerjalah dengan baik dan rajin, agar hari ini kita bisa segera menyelesaikan pekerjaan kita dengan cepat seperti rencana awal kita." Begitu Ernest keluar dari kantornya, dengan gerakan gesit, Alvero langsung mendekat ke arah Deanda dan berbisik dengan mesra di telinga Deanda yang sedang menyandarkan pantatnya di meja kerjanya dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kita belum lagi memulai pekerjaan sedikitpun, kenapa kamu sudah membahas masalah itu sekarang?" Alvero yang mendengar perkataan Deanda dengan nada protesnya langsung menggerakkan kedua tangannya ke samping kanan dan kiri tubuh Deanda.
Lalu dengan cepat Alvero mengurung tubuh Deanda dengan kedua telapak tangannya menahan pada meja kerja Deanda, membuat tubuh Alvero sedikit membungkuk, dengan jarak yang begitu dekat antara wajah Alvero dan wajah Deanda.
"Kamu sendiri yang sudah berjanji padaku, aku hanya mencoba berbaik hati dengan mengingatkanmu tentang janji yang sudah kamu buat tadi pagi. Ingat ya... bersama dengan bunganya, yang akan aku tunggu dengan tidak sabar." Alvero bukan hanya sekedar berkata-kata, tetapi tanpa membiarkan Deanda menghindar, bibir Alvero langsung mencium bibir Deanda dengan hangat.
Untuk beberapa saat Alvero sengaja mencium bibir Deanda dengan lembut sambil tangan kirinya bergerak dan mengelus mesra punggung Deanda. Alvero ingin sekali meningkatkan ciumannya menjadi ciuman yang dalam dan penuh gairah, tapi dia tahu saat ini dia harus bisa menahan dirinya.
__ADS_1