
“Setelah menyerahkan peti-peti itu, mereka bilang mereka harus segera kembali ke Italia, karena Tuan Rolland meminta mereka untuk segera melakukan transaksi amunisi senjata-senjata itu.” Penjelasan dari anak buahnya itu membuat Rolland semakin marah dan stress, karena dia tidak merasa telah memberikan perintah seperti yang barusan dikatakan oleh orang itu.
Siapa sebenarnya dalang di balik semua ini? Alvero tidak memiliki cukup akses dan kekuatan pada para mafia di Italia untuk dapat mengerjaiku seperti ini. Walaupun dia dulu pernah menghabiskan waktunya untuk kuliah di Italia selama beberapa tahun.
Rolland berkata dalam hati dengan sikap tidak lagi percaya diri dan yakin akan bisa memenangkan pertempuran malam ini.
Apa mungkin dia? Laki-laki muda yang pernah berkunjung ke istana? Pengusaha ternama dari Italia itu? Benar-benar sial! Jika aku menemukan orang itu! Aku akan meremukkan orang itu sampai ke tulang-tulangnya! Lihat saja nanti!
Rolland memaki dalam hati begitu teringat akan sosok Ornado yang pernah dilihatnya ketika dia dalam perjalanan dari istana ke bandara, yang saat itu kepergiannya dilepas sendiri oleh Alvero dan Deanda.
Dan lagi, Eliana pernah menceritakan bagaimana sosok laki-laki tampan yang terlihat tenang itu sebenarnya sungguh memiliki kekuatan yang mematikan. Namun, saat itu dia sama sekali tidak memeprcayai perkataan Eliana yang dianggapnya terlalu membesar-besarkan kehebatan Ornado.
“Sebenarnya bagaimana bisa peti-peti itu berubah isi seperti itu?” Rolland bergumam pelan dengan mata menatap tajam kea rah peti-peti yang membuatnya begitu emosi.
Rolland tentu saja tidak tahu bahwa sedari awal, Ornado sudah menangkap dan menyekap perantara itu di markasnya, sehingga orang-orang Ornado tahu pasti ketika ada perubahan rencana jadwal dan juga tempat transaksi senjata ilegal itu.
Setelah transaksi itu terjadi antara orang kepercayaan Rolland dan salah satu pihak mafia Italia, di tengah perjalanan orang-orang Ornado segera menyergap dan merampas peti-peti senjata itu dan menggantinya dengan yang palsu.
Anak buah Rolland yang bertugas untuk melakukan transaksi dengan pihak mafia di Italia dan perantara itu sengaja kembali ke Gracetian dengan membawa peti-peti berisi senjata palsu, di bawah pengawasan dan ancaman dari pihak Ornado.
Bahkan sampai peti-peti kayu itu berpindah tangan di bandara, mereka tetap mengawasi, sehingga orang kepercayaan dari Rolland itu tidak memiliki kesempatan untuk memberi info atau kode yang bisa membuat teman-temannya sadar bahwa mereka yang mengirimkan senjata itu dalam kondisi di sandera dan di sedang di bawah ancaman.
__ADS_1
Karena merasa yakin dengan isi kotak kayu yang bagian bawahnya diisi dengan batu sebagai pemberat, dan kondisi kotak itu tersegel dengan baik, membuat penerima langsung mengangkutnya ke bunker tanpa curiga, tepat tengah malam kemarin.
Apalagi sejak awal orang yang bertugas melakukan transaksi adalah orang yang paling dipercaya oleh Rolland. Dan Rolland sendiri berpesan agar Rolland sendiri yang akan melakukan pengecekan dan percobaan pada senjata-senjata itu, sehingga tidak ada yang berani menyentuh apalagi membuka peti-peti kayu itu.
Sayangnya, sebelum Rolland memiliki waktu untuk mengeceknya, banyak kejadian tidak terduga yang terjadi di sekitarnya, membuat dia sedikit melupakan tentang senjata-senajta itu.
Pelarian Eliana yang harus dia bantu hari ini, dan juga perbaikan sistem keamanan bunker yang dikebut oleh Rolland setelah mengetahui Eliana tertangkap beberapa waktu lalu.
Dan hal paling besar yang terjadi, yang tidak dia duga akan terjadi secepat itu adalah bagaimana tiba-tiba saja pasukan Alvero yang mencoba menerobos masuk ke dalam bunker miliknya.
Semua hal yang terjadi itu membuat fokus Rolland terpecah, sehingga dia benar-benar tidak menyangka bahwa orang kepercayaannya sudah berani mengkhianatinya, dan membiarkannya dipermalukan di depan banyak orang seperti hari ini.
“Cepat hubungi orang yang bertanggung jawab melakukan transaksi senjata kita, dan perantara dengan pihak mafia Italia itu!” Rolland memberi perintah kepada salah satu orang kepercayaannya.
Rolland masih berjalan mondar-mandir dengan kedua tangan berkacak pinggang dan sumpah serapah terus keluar dari bibirnya, ketika orang kepercayaannya mendekat ke arahnya.
“Ma… maaf Tuan Rolland, nomer mereka tidak bisa lagi dihubungi, baik orang kita yang bertanggung jawab untuk melakukan transaksi ataupun perantara kita dengan pihak Italia. Nomer mereka berdua tidak aktif.” Dengan suara terdengar ragu, laki-laki itu memberikan penjelasan kepada Rolland yang membuatnya semakin tertekan.
“Sial! Mereka benar-benar cari mati! Mereka….!” Rolland belum sempat menyelesaikan kata-katanya yang penuh kemarahan ketika dilihatnya salah satu dari anak buahnya yang lain berlari kencang ke arahnya dengan sikap gelisah.
“Tuan…. Tuan Rolland! Berita buruk! Benar-benar buruk!” Anak buah Rolland itu berlari sambil berteriak-teriak dengan wajah panik.
__ADS_1
Karena terlalu kencang saat berlari, bahkan saat berusaha berhenti, laki-laki itu hampir saja menabrak tubuh Rolland, membuat Rolland mendengus dengan kesal sambil mendorong tubuh laki-laki itu agar menjauh darinya.
“Tu… tuan!”
“Bicara dengan benar atau aku robek bibirmu!” Dengan cepat Rolland membentak laki-laki yang baru datang itu.
“Ini… gawat Tuan… Rolland! Pasukan… yang mulia Alvero sudah menerobos masuk… ke dalam bunker Tavisha… para penjaga... di bagian depan... sudah dilumpuhkan semua… oleh mereka. Dan sekarang... mereka sedang... menuju kemari.” Anak buah Rolland terdengar terbata-bata mengucapkan kata-katanya, dengan nafas tersengal-sengal karena baru saja berlari kencang untuk memberitahukan kepada Rolland tentang kedatangan Alvero dan pasukannya.
“Sial! Benar-benar sial! Aku akan membunuh kalian semua yang sudah berani mengkhianatiku! Aku akan menghancurkan tubuh kalian hingga tidak berbentuk.” Rolland berteriak dengan wajah terlihat frustasi.
“Kita akan melawan mereka sampai akhir! Ambil persediaan senjata yang ada sekarang juga! Dan kita bersiap untuk bertempur!” Mendengar perintah Rolland, mereka segera berlari ke arah lemari tempat perlengkapan senjata yang ada di ruangan itu, dan mulai berebutan mengambil senjata yang ada.
Namun, baru sebagian saja dari mereka memegang senjata, tiba-tiba saja, dari arah pintu masuk ruangan itu tampak ratusan pasukan yang dibawa oleh Alvero menerobos masuk dan langsung menodongkan senjata mereka ke arah para anak buah Rolland.
"Jatuhkan senjata kalian semua! Atau kami akan mulai menembak!" Sebuah teriakan lantang dari Alexis membuat Rolland menoleh dengan kaget, apalagi melihat sosok Alexis yang setahunya sudah mati belasan tahun yang lalu.
"Alexis?" Rolland bergumam pelan dengan suara dan wajah tidak percaya begitu melihat sosok Alexis yang tiba-tiba muncul.
__ADS_1