
“Yang Mulia…. Berikan saya satu lagi kesempatan, dan Yang Mulia tidak akan menyesal sudah menyelamatkan keluarga saya. Saya akan menukar keselamatan keluarga saya dengan info yang bisa membuat Yang Mulia bisa segera menghancurkan ibu suri.” Avitus kembali menawarkan pertukaran antara keselamatan anak istrinya dengan info penting yang dia miliki.
“Kamu mulai berani melakukan tawar menawar denganku?” Dengan nada suara terdengar begitu emosi Alvero berkata sambil kembali membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Avitus.
“Ampuni saya Yang Mulia. Ampuni saya…. Saya tidak akan berani melakukan itu. Saya hanya ingin menyelamatkan istri dan anak saya yang tidak bersalah.” Alvero tersenyum sinis mendengar perkataan Avitus yang ingin menangis sekeras-kerasnya mengingat bagaimana kondisi anak dan istrinya saat ini sedang dalam bahaya.
“Memangnya permaisuri Deanda sudah melakukan kesalahan apa padamu! Istri dan anakmu memang tidak bersalah. Satu-satunya kesalahan mereka adalah menjadi istri dan anak dari seorang pengkhianat seperti kamu! Sungguh menyedihkan!” Alvero berkata dengan suara keras.
“Benar Yang Mulia! Semua adalah salah saya! Karena itu… tolong selamatkan anak dan istri saya…. Dan saya akan memberikan info tentang sesuatu yang penting untuk Yang Mulia… Info tentang bunker Tavisha.” Mendengar perkataan Avitus, bukan hanya Alvero, Erich maupun Ernest yang ada di ruangan itu langsung membeliakkan matanya.
“Apa katamu? Jangan main-main dengan apa yang baru saja kamu katakan!” Alvero bertanya dengan suara yang terdengar cukup tinggi, ingin memastikan bahwa barusan dia tidak salah dengar dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Avitus.
Perkataan Avitus tentang bunker Tavisha mau tidak mau membuat Alvero harus menahan emosinya terhadap Avitus.
“Saya tidak bercanda Yang Mulia. Saya tahu beberapa waktu ini Yang Mulia sedang mencari keberadaan bunker Tavisha sehubungan dengan info yang disebutkan oleh saksi mata di kota Croyen sebelum meninggal.” Avitus berkata dengan wajah penuh harap Alvero akan mau menukar keselamatan istri dan anaknya dengan info tentang bunker Tavisha.
“Apa pentingnya bunker itu untukku? Kenapa aku mau menukar info itu dengan nyawa istri dan anakmu? Apakah itu harga pertukaran yang pantas?” Alvero berkata sambil menaikkan salah satu sudut bibirnya membentuk senyuman meremehkan.
Alvero sengaja melakukan itu agar Avitus tidak memanfaatkannya jika tahu bahwa selama ini dia dan timnya sudah berusaha keras menemukan sesuatu tentang bunker Tavisha yang mencurigakan, tapi belum juga mendapatkan hasil sama sekali.
__ADS_1
“Apa yang ada di bunker itu, bisa membuat Yang Mulia Alvero menyingkirkan ibu suri tanpa dia bisa kembali lagi ke istana, bahkan ke Gracetian, dengan alasan apapun. Karena dalam bunker Tavisha yang akan saya sebutkan kepada Yang Mulia, merupakan tempat dimana ada bukti nyata rencana pemberontakan ibu suri Eliana terhadap pemerintahan yang sah.” Mau tidak mau, Alvero berusaha menatap ke arah Avitus dengan tatapan terlihat tenang, tidak menunjukkan bahwa saat ini sebenarnya dia begitu ingin tahu info detail tentang bunker Tavisha, dan rahasia besar apa yang ada di sana.
Alvero begitu penasaran, kenapa sekian lama dan sudah melakukan penyelidikan secara berulang-ulang, hasilnya tetap saja tidak ada yang bisa dia temukan dari bunker Tavisha.
"Benarkah sepenting itu info tentang bunker Tavisha yang sedang kamu tawarkan kepadaku sebagai pertukaran nyawa anak dan istrimu?" Avitus langsung memandang ke arah Alvero dengan tatapan memohon dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Saya berani bersumpah Yang Mulia. Di sana merupakan tempat dimana ibu suri melatih para kelompok pemberontak untuk bertempur." Alvero langsung mengernyitkan dahinya begitu mendengar perkataan dari Avitus.
"Dasar pembohong!" Alvero berteriak keras ke arah Avitus, membuat tubuh Avitus sedikit bergetar dan tersentak kaget mendengar bagaimana Alvero berteriak dengan keras sambil melotot tajam ke arahnya dengan aura kemarahan yang begitu pekat.
"Ya... Yang... Mulia... saya sungguh tidak berbohong." Avitus berkata dengan suara pelan, merasa heran kenapa Alvero menuduhnya sudah berbohong tentang bunker Tavisha.
"Tidak Tuan Ernest. Bukannya saya mau menggurui dan meremehkan kerja keras kalian, tapi bunker Tavisha yang kalian selidiki pasti bunker yang berbeda dengan yang digunakan oleh ibu suri Eliana." Mendengar perkataan Avitus, baik Ernest maupun Erich langsung berjalan mendekat ke arah Avitus, sedang Alvero hanya mengamati mereka dari jauh, memilih untuk tetap diam di tempatnya.
"Apa maksud perkataan Anda Tuan Avitus?" Ernest bertanya sambil berdiri tepat di hadapan Avitus, menunjukkan dia begitu penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Avitus sebelumnya.
"Bunker Tavisha yang disebutkan oleh saksi mata itu, bukan bunker yang benar-benar dimiliki oleh kerajaan sekarang ini." Avitus berkata sambil matanya melirik ke arah Alvero yang masih berdiri di tempatnya dengan sikap tidak perduli.
"Kalau begitu katakan dengan jelas. Dimana letak bunker Tavisha yang dimaksud oleh saksi itu." Dengan tidak sabar, Erich berkata sambil menarik nafas dalam-dalam.
__ADS_1
Seandainya saja Alvero mengijinkannya, bagi Erich, ingin sekali rasanya dia menghabisi Avitus saat ini juga karena begitu kesalnya dia melihat pengkhianatan Avitus, dan sekarang laki-laki itu dengan tidak tahu malu sedang berusaha melakukan negosiasi dengan Alvero.
Bagi Erich, sikap pengecut sekaligus egoisnya Avitus benar-benar membuatnya marah.
"Yang Mulia... tolong selamatkan istri dan anak saya. Saya akan memberitahukan detail letak dan denah sistem pengamanan di lokasi bunker Tavisha kepada Yang Mulia. Saya mohon Yang Mulia." Tanpa menjawab pertanyaan Erich, Avitus justru berkata dengan tatapan matanya yang memohon ke arah Alvero.
"Yang Mulia! Mohon jangan dengarkan perkataan pengkhianat ini!" Erich berkat dengan nada tinggi sambil kakinya bersiap menendang ke arah kaki Avitus.
"Erich, Ernest! Coba kita dengarkan dulu perkataan Avitus. Aku juga ingin tahu, apakah kata-kata dari seorang pengkhianat seperti dia masih bisa dipercaya." Alvero berkata sambil berjalan mendekat kembali ke arah Avitus dengan langkah-langkah elegan dan wajah tampannya yang terlihat begitu berwibawa.
Melihat Alvero mendekat, baik Erich maupun Ernest segera mundur sealngkah, agar tubuh mereka tidak menutupi tubuh Avitus dari pandangan mata Alvero.
"Ter... terimakasih Yang Mulia...." Avitus berkata sambil berusaha membungkukkan tubuhnya yang terikat di hadapan Alvero.
"Aku tidak ingin menjanjikan apapun padamu Avitus! Tapi supaya kamu tahu, bahwa aku bukan orang seperti wanita kejam yang sudah kamu ikuti dan percayai selama ini. Aku akan memberimu satu kesempatan." Mendengar perkataan Alvero, Avitus hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berani melakukan perbantahan.
__ADS_1