BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PERTEMUAN DENGAN RED DAN MARCELLO DI GOLDIE TAVISHA (1)


__ADS_3

Setelah melakukan pembicaraan serius dengan yang lain sambil menikmati makan pagi mereka, Alvero dan Deanda segera mengatur waktu bersama Ernest untuk menemui Red dan Marcello. Pertemuan kali ini Alvero meminta Deanda sendiri yang mengaturnya untuk mereka.


Saat mendengar bahwa Deanda memilih Goldie Tavisha sebagai tempat pertemuan mereka, Alvero hanya bisa tersenyum. Deanda sengaja melakukan pertemuan itu di Goldie Tavisha, dengan alasan bahwa orang-orang di Goldie Tavisha adalah orang-orang bebas yang tidak terikat kerjasama dalam jangka waktu panjang dengan pihak manapun.


Namun, di sisi lain mereka adalah orang-orang yang terikat sumpah, bahwa mereka tidak akan pernah mengusik keluarga Adalvino. Bahkan mereka akan mengorbankan nyawa mereka jika harus memberikannya bagi kejayaan kerajaan Gracetian di bawah kepemimpinan keluarga Adalvino. Bagi Deanda, tempat itu merupakan tempat terbaik di kota Tavisha yang tidak akan bisa diamati dan dimasuki oleh orang-orang suruhan Eliana.


Di samping semua alasan itu, Deanda merasa sedikit merindukan Goldie Tavisha. Tempat dimana dia menghabiskan sebagian besar waktunya saat ayahnya Alexis masih hidup. Dan entah kenapa akhir-akhir ini kenangan yang pernah terjadi saat dia bersama dengan ayahnya begitu mengusik pikiran Deanda.


Apalagi selama beberapa waktu ini, Deanda dan Alvero sedang fokus terhadap masalah Alexis, membuat Deanda merasa begitu merindukan sosok ayahnya itu. Memikirkan sosok Alexis yang selalu menyayanginya, mengajarkan bagaimana perduli dan menyayangi serta melindungi orang lain dengan tulus, juga bagaimana dia mengajarkan padanya keahlian beladiri, membuat mata Deanda sedikit berkaca-kaca.


Namun dengan cepat Deanda menundukkan kepalanya, berpura-pura serius menikmati makanannya agar orang lain tidak melihat apa yang baru saja terjadi padanya. Ingatan tentang Alexis membuat dada Deanda yang seringkali teringat tentang sosok ayahnya itu terasa sedikit sesak, karena rasa rindu yang tidak bisa dia ungkapkan dan tunjukkan karena orang yang dirindukannya sudah tidak lagi ada di dunia ini.


Akan tetapi, apa yang terjadi pada Deanda, sekecil apapun itu, ternyata tidak pernah lepas dari pengamatan mata Alvero, yang selalu mengamati setiap apapun yang terjadi pada Deanda, dan apapun yang dilakukan oleh Deanda.


"Ernest... siapkan mobil untuk kita pergi ke Goldie Tavisha. Nyonya Rose dan Alea, sebaiknya kalian berdua segera kembali ke tempat kalian agar tidak menimbulkan kecurigaan. Kalian bisa membereskan semuanya nanti. Aku juga tidak mau permaisuri buru-buru dalam menikmati sarapan dan istirahatnya pagi ini." Alvero berkata sambil melirik ke arah Deanda yang masih menikmati hidangan penutup mulutnya dengan gerakan pelan, untuk menutupi bahwa baru saja hatinya merasa begitu tidak tenang karena ingatan tentang Alexis.

__ADS_1


Alvero sendiri sudah menyelesaikan makan paginya sedari tadi. Tanpa perlu mengulang perintahnya, Alvero melihat ketiga orang itu langsung bergerak melaksanakan perintahnya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Begitu mereka semua tidak lagi berada di dalam kamar mereka, lengan Alavero langsung meraih kepala Deanda dan menyandarkannya pada bahunya.


"Tidak ada, hanya sedang mengingat papa Alexis saja. Aku merindukannya." Deanda yang sudah berhasil menguasai emosinya berkata lirih.


Mendengar perkataan Deanda, Alvero menengadahkan kepalanya sebentar, kemudian dipandanginya wajah istrinya sambil dielusnya rambut di kepala Deanda.


"Aku tahu itu. Karena itu, aku sengaja membiarkanmu mengadakan pertemuan kita di Goldie Tavisha. Aku tahu tempat itu memiliki banyak kenangan indah antara kamu dan papa Alexis. Juga kamu dan teman-temanmu termasuk Red." Alvero berkata sambil tangannya yang lain meraih tangan Deanda, lalu menggenggamnya dengan erat menggunakan satu tangan.


"Aku tidak ingin ada kenangan buruk yang terukir di pikiran anak-anakku tentang sosok seorang ayah." Alvero melanjutkan bicaranya, seolah dia membicarakan tentang dirinya dan Vincent, yang karena keberadaan Eliana jadi menjauh satu sama lain, dan bahkan saling menyakiti tanpa mereka berdua sadari.


"Kamu pasti akan menjadi sosok seorang papa yang hebat untuk anak-anakmu my Al." Deanda berkata sambil menjauhkan tubuhnya dari Alvero, lalu mengulurkan tangannya ke arah wajah Alvero, kemudian mengelus lembut wajah tampan suami yang begitu dicintainya itu.


Dengan senyum di wajahnya Alvero menggerakkan tangannya untuk meraih tangan Deanda yang sedang mengelus wajahnya. Menggenggam tangan Deanda itu dengan erat.

__ADS_1


"I love you sweety..." Alvero berkata lembut sambil mengecup pelan bibir Deanda yang langsung memejamkan matanya, menikmati keberadaan dan sentuhan lembut bibir Alvero pada bibirnya yang selalu berhasil membuat dadanya berdebar dan merasa begitu bahagia, bisa menjadi bagian dari kehidupan pria mengagumkan yang duduk di sampingnya itu.


# # # # # # #


"Selamat siang Yang Mulia, Permaisuri..." Rock yang kebetulan menjadi orang yang pertama kali melihat sosok Deanda dan Alvero bersama Ernest keluar dari mobil yang terparkir di parkiran Goldie Tavisha langsung menyapa mereka dan memberikan salam hormat kepada mereka berdua yang langsung memberikan tanda  menerima salam penghormatan mereka.


"Rock. Jangan bersikap seformal itu padaku. Panggil saja dengan Deanda seperti biasanya." Mendengar perkataan Deanda Rock hanya memandang ke arah Deanda dengan mengernyitkan dahinya, melihat itu, Deanda langsung tersenyum, lalu memukul pelan bahu Rock.


"Eh..." Tindakan Deanda memukul bahu Rock dengan sikap akrab membuat Alvero hampir saja menarik tangan Deanda dengan cepat, menjauhkannya dari Rock, tapi senyum ceria di wajah Deanda saat memandangi sekelilingnya setelah meninju pelan bahu Rock membuat Alvero langsung menghentikan niatnya.


Ah, sudahlah, toh istriku tidak memeluk atau mencium Rock. Menjengkelkan sekali…. Padahal seharusnya walaupun berteman dekat, tidak perlu bersikap sedekat itu. Hah.... sepertinya aku benar-benar harus sering menahan diriku agar tidak marah saat melihat istriku bersikap ramah saat bertemu dengan para sahabatnya. Benar-benar tidak mengenakkan!


Alvero berkata dalam hati sambil melirik ke arah Rock yang dengan sadar diri langsung sedikit menjauhkan tubuhnya dari Deanda kalau tidak ingin laki-laki yang berdiri di sampingnya itu terus menghujaninya dengan tatapan yang begitu tajam seolah pandangan matanya mengandung panah api yang siap membakarnya jika dia terus berada terlalu dekat dengan sosok Deanda.


Alea pernah mengatakan bahwa yang mulia Alvero adalah sosok pria yang over protektif dan pencemburu berat jika itu menyangkut Deanda, tapi aku tidak menyangka bahwa sikap posesif yang mulia ternyata separah itu. Benar-benar akut dan tidak dapat ditolong lagi. Ck ck ck ck.

__ADS_1


Rock berkata dalam hati sambil menoleh ke arah lain, mencoba menghindari tatapan tajam Alvero kepadanya, yang sebenarnya mulai menurun tingkat ketajamannya, karena tiba-tiba Deanda menoleh ke arah Alvero, sebelum mata Deanda kembali menatap ke arah Rock.


__ADS_2