
“Haist! Tenang saja. Hari ini kita akan menunjukkan siapa kita. Kita memiliki pasukan yang terlatih bertahun-tahun, juga…. Semua persenjataan canggih dari Italia… dengan itu, tidak akan ada yang bisa mengalahkan kita. Sudah waktunya kita memakainya dan menunjukkan kekuatan kita yang sebenarnya kepada Alvero! Si sombong dan tidak tahu diri itu! Dipikirnya dunia berada di dalam genggamannya, sehingga dengan seenaknya bertindak dan bersikap arogan! Setelah hari ini, aku akan menghapuskan keluarga Adalvino dari silsislah kerajaan Gracetian!” Rolland berkata dengan percaya diri, sambil keluar dari ruang pengendali.
“Ayo, ikut denganku.” Begitu dirasanya Eliana tidak mengikuti langkahnya, Rolland langsung menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah Eliana yang tampak masih berdiam di tempatnya.
“Ah, tunggu sebentar, tubuhku masih terasa tidak enak.” Eliana berkata sambil mencari posisi untuk dapat duduk dengan nyaman, sambil memegang dadanya yang terasa berdetak dengan keras.
Eliana teringat kembali bagaimana pelariannya 4 jam yang lalu sudah membuatnya kehabisan banyak energi, apalagi sebenarnya dia masih dalam masa pemulihan.
Untung saja pihak rumah sakit begitu lambat mengetahui pelarianku. Mereka pasti berpikir bahwa aku masih belum sadarkan diri dari pingsanku. Dan mereka pasti kesulitan karena aku sengaja mengunci pintu kamar sekaligus pintu kamar mandi. Mengikat dan membungkam perawat itu dengan kain, sehingga tidak bisa berteriak meminta bantuan untuk waktu yang lama. Memberiku kesempatan untuk pergi sejauh mungkin sebelum mereka semua sadar aku tidak lagi ada di sana.
Eliana berkata dalam hati sambil memegang dadanya yang sekali-sekali masih terasa nyeri.
Melihat Eliana yang tampak belum pulih sepenuhnya, Rolland kembali berjalan mendekat ke arah Eliana.
“Kalau begitu, istirahatlah di tempat ini, aku akan menjemputmu setelah menghabisi pasukan Alvero.” Rolland berkata sambil menepuk bahu Eliana dengan lembut.
“Baik, aku akan menunggumu di sini untuk sementara waktu.” Eliana segera menanggapi perkataan Rolland.
“Aku pergi sekarang. Aku sudah tidak sabar ingin membabat habis mereka dengan semua senjata yang baru kita beli.” Rolland kembali berkata sambil meringis, sebelum akhirnya kembali pergi meninggalkan Eliana di tempatnya.
Dengan langkah lebar, Rolland berjalan menuju ke bagian tengah bunker dimana ratusan anggota kelompok pemberontak sedang berbaris rapi, menunggu perintah selanjutnya dari Rolland sebagai pemimpin tertinggi dari kelompok itu, setelah pemimpin asli mereka mati ketika bertarung melawan Alexis belasan tahun yang lalu.
__ADS_1
“Tuan Rolland, pasukan musuh sudah hampir berhasil melewati ladang ranjau yang kita buat. Jika sesuai dengan perkiraan, paling lambat, mereka akan bisa menerobos bunker kurang dari 10 menit dari sekarang.” Mendengar laporan dari salah satu dari anak buahnya, begitu Rolland datang mendekat, membuat Rolland menggeram.
“Ternyata pasukan raja sialan itu benar-benar tidak bisa dianggap remeh! Dia sepertinya sudah mempersiapkan dengan baik penyerangan hari ini.” Rolland berkata sambil menggeretakkan giginya dengan penuh kemarahan.
“Semuanya, bersiap ke gudang senjata sekarang juga! Kita akan berpesta malam ini. Kita habisi semua tamu tidak diundang yang berkunjung malam ini! Hari ini! Kita akan merayakan kemenangan kita di istana Gracetian! Kita akan menguasai istana malam ini!”
“Yeah!”
“Wooo!”
Berbagai teriakan yang terdengar begitu bersemangat langsung terdengar begitu Rolland mengakhiri kata-katanya.
# # # # # # #
“Selamat malam Permaisuri Deanda.” Beberapa anggota pasukan yang bertugas untuk berjaga di luar bunker Tavisha, di tempat pengintaian, langsung memberi salam penghormatan kepada Deanda.
Wajah mereka tampak kaget, tidak menyangka bahwa tiba-tiba Deanda datang ke tempat ini tanpa ada kabar berita.
“Selamat malam.” Deanda berkata sambil memberi tanda bahwa dia menerima tanda penghormatan dari mereka.
“Yang Mulia Permaisuri… kenapa malam-malam Permaisuri datang ke tempat berbahaya ini?”
__ADS_1
“Aku ingin bertemu dengan yang mulia Alvero. Ada hal penting dan mendesak yang harus aku beritahukan kepada yang mulia Alvero.” Deanda menjawab dengan cepat pertanyaan salah satu dari anggota pasukan khusus yang berjaga itu.
“Yang mulia Alvero dan yang lain sudah mulai masuk ke wilayah bunker Tavisha sekitar 1 jam yang lalu, Permaisuri.” Mendengar itu, Deanda langsung mengernyitkan dahinya, sambil matanya menatap ke arah kanannya, dimana tampak 2 orang sedang merintih kesakitan, dan seorang dokter dengan pakaian militer sedang menangani mereka.
“Apa mungkin, kamu bisa menghubungi yang mulia Alvero, atau tuan Ernest? Bisa juga tuan Alexis ataupun tuan Red, untuk memberitahukan kepada mereka bahwa aku sedang berada di sini dan butuh berbicara secara pribadi dengan yang mulia Alvero?” Deanda bertanya dengan wajah terlihat berharap.
“Maaf Yang Mulia Permaisuri, kondisi saat ini tidak memungkinkan. Tadi tuan Rock sembat melakukan sabotase terhadap sistem keamanan bunker Tavisha, dan seperti untuk menghentikan tuan Rock, pihak kelompok pengkhianat memutus koneksi internet dan aliran listrik utama mereka. Dan mengaktifkan penghalang sinyal, sehingga kita tidak bisa lagi saling berhubungan melalui walkie talkie, ear piece ataupun handphone dengan semua yang ada di wilayah bunker.” Penjelasan dari petugas itu membuat Deanda menarik nafas dalam-dalam.
“Kalau begitu, sebelum itu terjadi, apa sudah ada kabar dari mereka tentang kondisi di sana? Apa mereka berhasil meringkus semua anggota kelompok pemberontak?” Berbagai pertanyaan langsung terlontar dari bibir Deanda dengan wajahnya yang tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
“Maaf Permaisuri, belum ada, 5 menit yang lalu berita terakhir yang kami dapatkan hanya sebatas mereka sedang berusaha menerobos masuk ke dalam bunker, setelah melewati ladang ranjau. Setelah mereka memasuki bunker, penghalang sinyal langsung aktif, sehingga komunikasi kami terputus.”
“Apa mereka berdua terluka karena ranjau?” Deanda berkata sambil menunjuk ke arah dua orang yang sedang ditangani oleh petugas medis.
“Benar Permaisuri. Ada dua orang kita yang terluka akibat terkena ledakan ranjau saat berusaha melakukan pembersihan di ladang ranjau. Untung saja luka mereka hanya luka ringan, tidak membahayakan nyawa mereka. Dan saat ini tim medis sudah menangani mereka.” Mendengar penjelasan dari anggota pasukan khusus itu membuat Deanda menarik nafas panjang dengan dada yang mulai berdetak keras, karena merasa semakin khawatir dengan kondisi Alvero.
“Bisakah kamu membiarkan salah satu dari orang kita untuk mengantarku ke dalam bunker, menyusul yang mulia Alvero?” Mata Alea yang sedari tadi berdiri di samping Deanda langsung terbeliak kaget mendengar permintaan dari Deanda, begitu juga penjaga yang sedang diajak bicara oleh Deanda.
__ADS_1