
"Apa yang membawa ibu suri sepagi ini datang ke kamar kami? Jangan katakan kalau ibu suri tidak pernah muda sehingga ingin tahu kegiatan apa yang sedang kami lakukan sebagai pengantin baru. Atau mungkin... ibu suri sudah begitu merindukan sentuhan dan kehangatan dari yang mulia Vincent sehingga ingin melihat apa yang terjadi pada kami pagi ini untuk melepaskan rasa rindu ibu suri?" Mendengar perkataan Alvero dengan nada penuh sindiran, membuat wajah Eliana memerah seketika karena merasa begitu malu, sudah memberi kesempatan kepada orang lain, sehingga dianggap sebagai wanita yang berpikiran mesum, karena tindakan tanpa pertimbangan matanya pagi ini.
Apalagi, Eliana sadar bahwa sejak menikah dengan Vincent, tidak pernah sekalipun laki-laki itu menyentuhnya. Yang ada justru Vincent akan keluar dari kamar jika sudah mulai melihat tanda-tanda Eliana akan menggodanya.
Sedang Alvero dengan sengaja justru mengatakan semua itu untuk memancing amarah Eliana, yang dia tahu dari cerita Vincent, ayahnya itu mengaku tidak pernah menyentuh Eliana sejak mereka menikah.
Karena rasa malu dan salah tingkahnya, tanpa kata-kata apalagi sempat meminta ijin kepada Alvero, dengan buru-buru Eliana segera membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar meninggalkan kamar Alvero. Tindakan Eliana membuat ALvero menyungingkan senyum sinis sekaligus puas sudah berhasil mempermalukan dan memberi pelajaran kepada Eliana.
Paling tidak, Alvero yakin, dengan kejadian barusan, dalam waktu dekat ini, Eliana tidak akan berani lagi untuk tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamarnya seperti pagi ini.
"Ernest..." Ernest yang mendengar panggilan dari Alvero dengan gerakan cepat kembali membalikkan tubuhnya agar bisa menghadap ke arah Alvero.
Sebisa mungkin Ernest berusaha untuk tidak mengarahkan pandangan matanya ke arah tempat tidur dimana tadi Deanda sedang terbaring di sana dengan tubuh tertutup selimut, seperti seseorang yang sedang berusaha menutupi tubuh polosnya agar tidak terlihat oleh orang lain.
"Kemarilah...." Setelah Eliana keluar dan berada jauh dari kamarnya, Alvero segera mengeluarkan perintahnya kepada Ernest sambil melepaskan night robenya.
Dan ternyata dari balik night robenya, ternyata Alvero masih mengenakan pakaian lengkapnya. Celana pendek dan kaos tanpa kerah lengkap dengan sabuk yang masih melilit di pinggang Alvero. Karena sebenarnya Alvero baru saja sampai di istana dan menyusup masuk ke dalam kamarnya kembali pagi ini. Beberapa menit tepat sebelum Eliana menerobos masuk ke kamarnya.
Deanda sendiri, begitu melihat situasi sudah aman, langsung membuka selimutnya, dan melompat turun dari tempat tidur. Alvero yang melirik ke arah Deanda, langsung tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya melihat Deanda yang masih berpakaian lengkap berupa celana jeans dan kemeja lengan pendek bermotif gari-garis horizontal, berjalan ke arahnya.
__ADS_1
Bahkan, karena begitu terburu-buru untuk mengecoh Eliana, Deanda masih mengenakan sepatu ketsnya ketika naik ke tempat tidur, dan langsung menutupi tubuhnya dengan selimut. Sedang sepatu kets milik Alvero sudah dia lemparkan ke bawah kolong tempat tidur, tepat sebelum dia berpura-pura berdiri di samping tempat tidur dengan kondisi berantakan, karena Eliana yang berniat menerobos masuk ke dalam kamarnya.
Melihat penampilan kedua majikannya pagi itu setelah Eliana pergi membuat Ernest menyungingkan senyumnya. Sekilas Ernest melihat ke arah jendela yang terbuka lebar, sehingga tiupan angin membuat tirai kamar bergerak-gerak dengan cukup keras. Hal itu membuat Ernest bisa menebak kalau Alvero dan Deanda belum lama berada di kamar mereka pagi ini.
Yang mulia Alvero dan permaisuri benar-benar pasangan yang begitu kompak dengan kemampuan hebat mereka. Sungguh membahagiakan bisa melihat mereka berdua seperti itu pagi ini. Jika seperti ini terus, sepertinya, keberadaanku dan Erich tidak akan lagi dibutuhkan oleh yang mulia dan permaisuri sebagai pengawal pribadi mereka yang bisa saling melindungi satu sama lain. Semoga putra mahkota selanjutnya segera dilahirkan, sehingga aku tidak kehilangan pekerjaanku.
Ernest berkata dalam hati sambil menahan senyum gelinya, merasa geli dengan dirinya sendiri karena pemikiran aneh yang baru saja terlintas di otaknya. Tentang ketakutannya tidak lagi dipercaya oleh Alvero menjadi pengawal pribadinya setelah kehadiran sosok Deanda di hidupnya.
"Ernest, panggil nyonya Rose dan Alea. Biarkan mereka berbuat seperti beberapa hari ini, mengirim sarapan kami, membersihkan kamar dan membantu permaisuri membersihkan diri." Alvero kembali memberikan eprintah kepada Ernest yang segera bergerak keluar dar kamar Alvero untuk memanggil nyonya Rose dan Alea.
Deanda yang mendengar perintah dari Alvero untuk Ernest langsung bergerak dengan cepat, berencana segera ke dalam kamar mandi tanpa disadari oleh Alvero dan Ernest, setelah sebelumnya dengan gerakan cepat Deanda mengambil pakaiannya dari walk in closet yang ada di kamar itu. Begitu sudah mendapatkan pakaiannya, dengan setengah berlari Deanda masuk ke kamar mandi.
Deanda yang berpikir bahwa Alvero akan menyuruh Alea membantunya mandi, berkata dalam hati dan dengan buru-buru mengunci pintu kamar mandi, lali melepaskan pakaiannya untuk bisa segera menikmati segarnya air pagi ini. Aetelah melakukan perjalan dari Renhill kembali ke kota Tavisha, rasanya Deanda begitu ingin segera berada di bawah guyuran air dan mandi.
"Sweety...?" Alvero yang memanggil Deanda, langsung mengernyitkan dahinya begitu matanya mengitari sekelilingnya dan tidak menemukan sosok Deanda.
Namun begitu Alvero mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi, dengan cepat Alvero menyunggingkan senyum di bibirnya. Tanpa menunggu lama, kaki Alvero langsung melangkah ke arah kamar mandi, meraih gagang pintu dan mencoba membukanya. Melihat pintu kamar mandi yang terkunci, Alvero hanya bisa tertawa kecil sambil menggigit bibir bawahnya.
My sweety... you are always so cute
__ADS_1
Alvero berkata dalam hati dengan tawa kecilnya yang berubah menjadi tawa senang membayangkan sebentar lagi dia akan bisa menggoda istri cantik miliknya, seperti biasanya.
"Selamat pagi Yang Mulia...." Mendengar suara sapaan dari nyonya Rose, Alvero menghentikan niatnya untuk meminta Deanda membuka pintu kamar mandi dan kembali melangkah ke arah nyonya Rose yang berdiri tidak jauh dari sofa yang ada di kamarnya, bersama Ernest dan Alea.
"Selamat pagi." Begitu Alvero menjawan sapaan mereka, baik nyonya Rose maupu Alea segera memberikan salam penghormatan mereka kepada aja tampan itu.
Alvero langsung menerima salam penghormatan mereka sambil mendekat kea rah mereka bertiga. Begitu melihat Alvero sudah berada di dekat mereka, Alea memberanikan diri untuk maju selangkah, mendekat ke arah Alvero.
"Yang Mulia, saya mohon ijin untuk membantu permaisuri untuk membersihkan diri." Alea berkata sambil bersiap mencari sosok Deanda dan membantunya untuk mandi.
"Eh... tidak perlu Alea, permaisuri sekarang mungkin sudah hampir selesai mandi. Lain kali mungkin kamu bisa membantunya. Tapi tidak hari ini." Alvero berkata sambil melirik ke arah kamar mandi.
Tentu saja dengan sigap Alvero harus menghalangi Alea untuk tidak membantu Deanda mandi, kalau tidak ingin wanita cantik itu mengomel karena Alvero mengijinkan orang lain melihat tanda cinta yang diberikan Alvero hampir di seluruh tubuhnya hampir setiap harinya sejak mereka menikah.
Upsttt... hampir saja. Untung Alea langsung menghentikan niatnya. Aku tidak akan pernah membiarkan Deanda merasa malu karena orang lain melihat hal itu. Itu adalah rahasia diantara kami berdua. Dan tidak selayaknya dijadikan bahan pembicaraan oleh orang lain.
Alvero menarik nafas lega melihat Alea akhirnya kembali melangkah mundur, menjauh dari sosok Alvero yang tidak mengijinkannya untuk membantu Deanda membersihkan dirinya.
__ADS_1