
Melihat kehadiran Alvero dan Deanda, baik Alaya maupun Alexis segera bangkit dari duduknya dan memberikan salam penghormatan kepada raja dan permaisuri Gracetian itu.
Alexis langsung tahu, dari cara Alvero yang langsung memanggilnya dengan sebutan tuan, menunjukkan bahwa Alvero begitu menjaga jarak dengannya saat ini. Dan yang pasti, itu dilakukan oleh Alvero karena pengaruh dari Deanda yang sepertinya belum bisa menerima kehadirannya yang tiba-tiba saja kembali muncul dalam kehidupannya.
Menyadari hal itu, Alexis hanya bisa terdiam, karena dia sadar, bahwa sikap Deanda dan Alvero yang jelas-jelas menjaga jarak darinya, adalah hal yang harus dia terima. Konsekwensi terhadap keputusannya waktu itu. Sepenuhnya hal itu bukan salah dari Deanda, apalagi Alvero.
Belum lagi Alexis maupun Alaya menarik nafas untuk menenangkan diri, tiba-tiba dari arah lain muncul Vincent dengan kursi rodanya. Datang bersama dengan Enzo yang mendorong kursi roda itu, mendekat ke arah Alaya dan Alexis.
Melihat keberadaan Alexis yang jelas-jelas bukan sebuah mimpi, Vincent langsung menggerakkan tangannya ke arah Alexis, memberinya tanda agar mendekat ke arahnya, membuat dengan langkah pelan namun yakin, Alexis berjalan ke arah Vincent.
Begitu Alexis sudah berdiri tepat di hadapan Vincent, Vincent memberi tanda kepada Alexis agar lebih mendekat ke arahnya dan membungkukkan tubuhya. Saat Alexis melakukan permintaan Vincent, dengan cepat kedua tangan Vincent terulur dan memeluk tubuh Alexis dengan hangat.
“Aku berharap ini bukan sekedar mimpi. Aku begitu senang bisa bertemu lagi denganmu Alexis. Maaf sudah membuatmu banyak berkorban dan menderita karena berjuang untuk keluarga Adalvino.” Vincent berbisik lirih di telinga Alexis dengan mata yang memerah, apalagi melihat sosok gadis cantik yang masih berdiri di tempatnya semula.
__ADS_1
Tanpa harus mempertanyakan lebih jauh lagi, sejak Vincent melihat sosok gadis itu, ada sesuatu yang membuat hatinya berdesir dan yakin bahwa gadis itu memang adik kandung Alvero. Anak perempuan miliknya dan Larena. Dari mata Alaya, Vincent bisa melihat jelas mata itu diwariskan dari mata Larena. Mata indah milik wanita yang begitu dicintainya hingga saat ini.
Dan dari rambut maupun bentuk wajah gadis itu sungguh adalah cerminan dari dirinya, membuat Vincent semakin yakin bahwa Alaya pastilah anak kandungnya bersama Larena.
“Yang Mulia, saya juga merasa begitu senang mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk bisa bertemu dan mendapatkan pelukan dari Yang Mulia.” Alexis segera membalas perkataan Vincent dengan tulus.
Dengan pelan, akhirnya Vincent melepaskan pelukannya kepada Alexis setelah cukup lama Vincent memeluk Alexis untuk mengungkapkan kerinduan sekaligus rasa syukurnya bisa bertemu kembali dengan sahabat terbaiknya di masa lalu. Seorang sahabat yang dia pikir sudah pergi darinya untuk selama-lamanya.
Setelah itu, Vincent memberikan tanda kepada Enzo agar kembali membantunya mendorong kursi rodanya ke arah Alaya, yang di hadapannya berdiri dengan wajah terlihat begitu tegang, Deanda, dan Alvero yang terlihat lebih tenang.
Dan tanggul air mata Alaya, langsung jebol, tanpa bisa menahan airmatanya. Setelah lebih dari 20 tahun, sejak dia lahir, dia tidak pernah bertemu dengan sosok ayah yang kadang begitu ingin ditemuinya itu. Tanpa bertanya ataupun mencurigainya Vincent langsung memberikan sebuah pelukan hangat padanya, membuat Alaya menangis dengan keras, tangis antara haru, bahagia, sedih, semuanya bercampur menjadi satu.
Melihat bagaimana ayah dan anak itu saling berpelukan dengan erat dan hangat, tanpa disangka oleh dirinya sendiri, tiba-tiba airmata ikut membasahi pipi Deanda yang langsung memalingkan wajahnya, agar yang lain tidak bisa melihat reaksinya menyaksikan pemandangan di depannya, yang cukup menyesakkan dadanya.
__ADS_1
Sekilas Deanda melirik ke arah Alexis. Jika saja boleh jujur, Deandapun begitu merindukan sosok ayah yang begitu dikagumi dan disayanginya sejak dulu. Rasanya ingin dia berlari dan memeluk sosok ayah yang selama ini kadang mampir di mimpi dan lamunannya karena rasa rindu yang seringkali membuatnya semakin merindukan keberadaan ayahnya.
Tapi ingatan tentang kenyataan bahwa tanpa pesan dan penjelasan apapun Alexis sudah pergi meninggalkannya, membuat Deanda masih bertahan untuk tetap berdiri di tempatnya dan menunggu apa yang akan dijelaskan oleh Alexis tentang peristiwa yang sudah terjadi di masa lalu. Kenapa Alexis begitu tega meninggalkannya bersama Lilian dan Olivia yang sejak sepeninggalan Alexis, sikap manisnya berubah seratus delapan puluh derajat dibandingkan ketika Alexis masih hidup bersama mereka bertiga.
Lilian yang awalnya selalu bersikap manis dan lembut padanya, tiba-tiba mulai bersikap kasar dan tidak lagi perduli dengannya, bahkan setelah Deanda bisa menghasilkan uang dari hasil kerja kerasnya. Uang itu menjadi sasaran empuk bagi Lilian dan Olivia untuk bisa hidup bersenang-senang tanpa harus bekerja, mengandalkan uang yang dihasilkan oleh Deanda, tanpa perduli dengan Deanda.
Kemarahan dan rasa kecewa dalam hati Deanda hari ini membuat Deanda menahan diri sebisa mungkin untuk tidak mendekat ke arah Alexis dan memeluknya dengan erat untuk menunjukkan dia merasa begitu bahagia mengetahui Alexis ternyata masih hidup. Walaupun dalam hati, Deanda begitu ingin memeluk Alexis, untuk kembali mengingat bagaimana di masa kecilnya, Deanda yang tidak sempat mengenal ibunya.
Dan pada masa itu, Alexislah yang selalu berada bersama dengan Deanda sebagai orangtua tunggal, menjadi ayah sekaligus ibu bagi Deanda, yang sampai hari ini kekagumannya kepada Alexis selalu dia pertahankan sampai sebuah kenyataan pahit terungkap, membuat Deanda merasa bayangan sempurna tentang sosok ayahnya menjadi rusak.
“Selamat datang nak. Aku sungguh bahagia di usia tuaku diberikan kejutan istimewa dari Tuhan, bahwa aku memiliki seorang putri yang cantik sepertimu. Maafkan papa karena sejak kelahiranmu, bahkan kamu masih di dalam perut mamamu, aku tidak menyadari kehadiranmu. Kehidupanmu dan mamamu pastilah tidak mudah dan penuh dengan penderitaan di luar sana. Aku benar-benar menyesal tidak mengetahui tentang keberadaanmu sedari awal.” Vincent berkata sambil membelai lembut punggung Alaya yang hatinya semakin ternyuh mendapatkan perlakuan hangat yang menunjukkan bahwa Vincent sungguh menyayanginya.
“Apa mamamu masih hidup? Apa kondisi mamamu sekarang baik-baik saja?” Alaya menjawab kedua pertanyaan Vincent dengan sebuah anggukan pelan tanpa mengeluarkan sepatah katapun karena masih kesulitan untuknya berkata-kata akibat tangisannya yang tidak bisa berhenti sejak Vincent memeluknya
__ADS_1
Anggukan kepala dari Alaya, membuat Vincent rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya untuk menyatakan bahwa dia begitu bahagia mendengar Larena masih hidup dan dalam kondisi baik-baik saja. Walaupun untuk saat ini, mereka berdua belum bisa bertemu, info tentang Larena yang masih hidup membuat Vincent rasanya ingin melompat dengan kedua kakinya untuk menunjukkan betapa dia sangat bahagia, sayangnya untuk saat ini Vincent tidak mampu untuk melakukan itu.