
Bukan hanya posisi duduk yang begitu istimewa, dengan Alvero sengaja mengundang makan pagi Ornado di ruang makan istana yang biasanya dikhususkan untuk anggota keluarga kerajaan atau orang yang dianggap memiliki hubungan yang sangat dekat dengan raja atau putra mahkota Gracetian, itu menunjukkan bahwa Alvero begitu menghargai dan menghormati keberadaan Ornado di Gracetian.
Aku tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Alvero dan Ornado yang selalu menjadi penghalang bagi rencanaku terhadap Alvero, sejak Alvero berada di Italia dulu. Tidak mudah untuk menghadapi Ornado, karena itu aku harus memikirkan untuk menjatuhkan Alvero daripada Ornado yang merupakan orang luar yang akan sulit untuk aku hadapi. Apalagi dengan kekuatan dan kekuasaan yang dia miliki. Sepertinya aku benar-benar tidak bisa lagi menunda-nunda rencanaku untuk menemui gadis itu. Aku akan segera meminta Rolland mengantarku untuk menjebak Alvero bersama gadis itu, sebelum Alvero dan Ornado bertindak terlebih dahulu.
Eliana kembali berkata dalam hati, sambil berusaha untuk segera menghabiskan makan paginya yang saat ini baginya rasanya sungguh tidak ada satupun yang terasa nikmat di lidahnya.
Alvero tersenyum dengan wajah terlihat puas, begitu mengamati sikap Eliana yang terlihat tidak tenang bahkan rasa khawatir terlihat begitu jelas saat Alvero menangkap basah Eliana beberapa kali melirik sosok Ornado yang terlihat tenang dan tidak perduli dengan yang terjadi di sekelilingnya.
Dengan sedikit tersentak, Eliana langsung mengalihkan pandangan matanya dari sosok Ornado yang tiba-tiba menoleh dan menatap ke arahnya dengan mata birunya dan senyum di bibirnya dengan wajah terlihat begitu tenang, yang bagi Eliana justru seperti sebuah ejekan dan ancaman yang mematikan.
Hati Eliana benar-benar gelisah melihat sosok Ornado yang walau tidak menatapnya dengan cara mengintimidasi, tapi bagi Eliana, tatapannya tampak memiliki aura menakutkan dan menunjukkan kekuatan tersembunyi dibalik sikap tenangnya.
Alvero yang kebetulan melihat kejadian itu rasanya ingin sekali menertawakan bagaimana sikap Eliana yang tertangkap basah oleh Ornado sedang mengamatinya.
Tunggu saja sampai kami berdua menghancurkan semua rencanamu. Perlahan tapi pasti, aku akan membuatmu kehilangan satu persatu apa yang kamu miliki dan selama ini kamu bangga-banggakan. Status, harta, kekuasaan, satu persatu akan aku ambil darimu.
Alvero berkata dalam hati sambil melirik ke arah Ornado yang kebetulan sedang menatap ke arahnya, dan langsung melemparkan senyum ke arah Alvero, membuat dada Eliana semakin terasa sesak dan kepalanya terasa pening.
__ADS_1
# # # # # # #
"A che ora parti?" (Kamu pergi jam berapa?) Alvero langsung bertanya kepada Ornado begitu mereka kembali di istana bagian selatan dan berjalan ke arah kamar dimana semalam Ornado tidur di sana.
"La mattina, alle otto." (Jam delapan pagi) Ornado menjawab singkat sambil melihat ke arah jam di pergelangan tangannya, rasanya dia ingin dapat segera terbang agar bisa segera bertemu dengan istri tercintanya.
"Kenapa kamu buru-buru sekali Ad? Apakah kamu tidak kerasan tinggal di istanaku?" Ornado langsung tertawa mendengar pertanyaan dari Alvero.
"Tentu saja aku aku menyukai istana ini, apalagi aku benar-benar diservis dengan baik di sini. Kamar tidur yang nyaman, makanan enak, keramahan dari penghuni istana. Hanya saja... tidak ada istriku di sini. Mi sei mancato cosi tanto mia moglie." (Aku sudah sangat merindukan istriku). Ornado berkata dengan terus terang kepada Alvero, yang disambut oleh tawa kecil oleh Alvero, melihat bagaimana sikap Ornado yang selalu dengan terang-terangan menunjukkan rasa cintanya kepada Cladia ke semua orang yang dia kenal.
"Atau kamu dan permaisurimu mau ikut bersamaku? Rasanya belum puas jika aku belum memperkenalkan istriku kepada kalian. Aku harap istriku bisa menjadi teman baik permaisuri Deanda. Aku berani menjamin bahwa kalian berdua tidak akan pernah menyesal mengunjungi negara cantik tempat aku dilahirkan itu." Ornado berkata sambil menatap ke arah Deanda yang hanya bisa tersenyum mendengar penawaran dari Ornado yang diucapkannya dengan nada serius.
Pasti karena secepat mungkin ingin bertemu kembali dengan istrinya, membuat Ornado terlihat begitu besemangat untuk segera terbang lagi ke Indonesia.
Alvero berkata dalam hati sambil memikirkan andai saja kehamilan Deanda sudah berumur cukup untuk melakukan perjalanan udara, dan juga semua urusan istana dan perusahaan sudah selesai, Alvero tidak keberatan untuk ikut terbang ke Indonesia dan berlibur di sana untuk beberapa hari. Menikmati indahnya pemandangan alam di negara itu bersama Deanda.
"Tapi untuk sementara, aku tidak bisa menerima penawaranmu. Kamu tahu, bgeitu banyak hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu sebelum bisa menikmati liburan bersamamu." Alvero melanjutkan kata-katanya kembali.
__ADS_1
"Yah... memang sebaiknya kita selesaikan dulu semuanya dengan baik. Tidak baik memelihara ular di istana seindah ini. Harus segera disingkirkan sebelum menggigit atau menyemburkan racunnya kepada kita. Jangan khawatir, pagi ini aku akan mengurus semuanya untukmu. Dalam waktu kurang dari 3 jam semua info akan kamu dapatkan. Afro yang nanti akan langsung memberikan info padamu, karena sebentar lagi aku akan berada di pesawat jetku." Ornado berkata sambil menarik nafas panjang.
"Dan jika kamu membutuhkan bantuan orang-orangku, jangan ragu untuk meminta bantuanku secepatnya. Kapanpun, dimanapun, berapapun lamanya kamu membutuhkan bantuan mereka dan berapapun jumlah orang yang kamu butuhkan, aku akan segera mengirimnya kepadamu. Dengan pasukan khusus yang sudah kamu siapkan, aku tahu kamu akan bisa menghadapi mereka, tapi jika orang-orangku ikut bersamamu, aku jamin kemenangan mutlak pasti bisa kamu dapatkan dengan cepat." Ornado berkata sambil menepuk bahu Alvero pelan.
"Aku belum berpikir untuk ke arah sana. Karena aku belum bisa memastikan kapan harus menyerang atau dia menyerang kami. Atau mungkin kita bisa mengatur untuk kedua tim kita agar dapat melakukan latihan bersama agar bisa saling melengkapi dan saling belajar?" Alvero berkata sambil memikirkan bahwa hal itu harus segera dia bicarakan dan atur dengan Alexis, Red, Marcello dan yang lain.
"E una buon'idea." (Ide yang bagus). Ornado langsung menjawab ide Alvero sambil mengagguk-anggukkan kepalanya.
"Itupun kalau kamu mengijinkan beberapa orang dari timmu berangkat ke tempat ini...."
"Con piacere." (Ya. Dengan senang hati). Ornado menjawab cepat perkataan Alvero, sambil menyilangkan tangan kanannya di dada dan sedikit membungkukkan tubuhnya di depan Alvero, membuat Deanda tersenyum geli melihat bagaimana Ornado yang suka menggoda suaminya karena kedudukannya sebagai raja di Gracetian.
"Grazie." (Terimakasih). Alvero berkata dengan senyum senang tersungging di bibirnya.
"Aku akan aturkan hal itu secepat mungkin. Aku akan meminta bantuan Afro untuk mengatur semuanya. Sehingga tanpa aku kalian bisa langsung menjalankan rencana barusan." Ornado langsung melanjutkan perkataannya.
"Ok, sekarang aku harus segera melanjutkan perjalananku, karena aku berharap sebelum tengah malam aku bisa menyusul istriku ke hotel tempatnya menginap dan mengadakan acara. Aku akan segera mengaturkan semua hal yang sudah kita bicarakan kemarin malam dan pagi ini. Aku akan mengemas barang-barangku." Ornado berkata sambil berjalan mendekat ke arah pintu kamarnya, meninggalkan Alvero dan Deanda yang sengaja diam berdiri di tempatnya, tidak jauh dari pintu kamar tempat Ornado bermalam.
__ADS_1
Baik Alvero dan Deanda menunggu sampai Ornado membereskan barang-barangnya. Mereka berdua sengaja melakukan itu untuk sekalian melepaskan kepergian Ornado untuk kembali terbang ke Indonesia pagi ini.