BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
BELAJAR MENGERTI TENTANG KAMU


__ADS_3

“Yang Mulia, apa yang saya katakan sebelumnya adalah perkiraan saya tentang apa yang sedang direncanakan ibu suri Eliana terhadap Anda berdua. Hanya sebuah pemikiran dangkal dari otak tua saya, tapi Yang Mulia sudah terlihat begitu emosi. Kenapa Yang Mulia bisa seemosi itu bahkan hanya dengan sebuah peristiwa yang belum nyata, hanya sebuah andaikata, angan-angan, sebuah pemikiran saya atas rencana ibu suri Eliana….” Nyonya menghentikan kata-katanya sejenak sambil mengamati wajah Alvero yang terlihat masih tegang dan memerah, dengan tangan sedikit terkepal, menunjukkan bahwa perkataan nyonya Rose cukup memancing emosinya.


“Seperti hati Yang Mulia tidak terima, Yang Mulia merasa cemburu jika sampai hal seperti itu terjadi kepada permaisuri dan laki-laki lain… Saya hanya berharap Yang Mulia bisa mengerti perasaan permaisuri Deanda jika Yang Mulia bersikeras melanjutkan rencana Yang Mulia terhadap Alaya. Yang Mulia sebagai suami memiliki rasa cemburu yang begitu besar jika itu menyangkut tentang permaisuri, harap Yang Mulia memikirkan hal sama juga dirasakan oleh permaisuri sebagai seorang istri Yang Mulia.” Mendengar kata-kata nyonya Rose selanjutnya, dengan perlahan tangan Alvero yang terkepal terbuka kembali.


Sambil menarik nafas dalam-dalam, Alvero memejamkan matanya sebentar, kemudian sekilas diliriknya Deanda yang masih duduk diam di tempatnya semula. Wanita miliknya itu tampak diam tanpa ekspresi, membuat tiba-tiba ada rasa bersalah yang begitu besar menelusup di hati Alvero.


Gila! Bagaimana bisa aku berpikir untuk melakukan hal yang mungkin bisa begitu menyakiti istriku seperti itu! Nyonya Rose benar…. Dengan alasan apapun, aku tidak boleh melakukan hal seperti itu dengan wanita lain saat aku sudah memilikimu sebagai istriku. Seperti aku tidak akan pernah mengijinkan laki-laki lain mendekatimu, bahkan terpesona padamu, kamu juga pasti tidak ingin ada wanita lain berada di dekatku.


Alvero berkata dalam hati dengan tatapan matanya yang lembut menatap ke arah Deanda.


“Kalau begitu, saya permisi dulu Yang Mulia.” Begitu nyonya Rose melihat bagaimana Alvero yang sedang menatap dengan intens ke arah Deanda, dan dari wajahnya nyonya Rose tahu ada rasa bersalah di wajah Alvero, nyonya Rose segera berpamitan kembali dan pergi meninggalkan penthouse Alvero dengan tangannya memberi kode kepada Ernest agar untuk sementara waktu meninggalkan Alvero dan Deanda berdua di tempat itu.


Semoga dengan apa yang baru saja aku katakan, Yang mulia tahu bahwa rencananya terhadap nona Alaya bisa menyakiti hati permaisuri. Dan aku berharap yang mulia menghentikan rencananya sebelum hubungan itu menjadi sesuatu yang akan sulit untuk dikendalikan dan menyebabkan musibah di kemudian hari.


“Wah, nyonya Rose, Anda benar-benar hebat, bisa membuat yang mulia berpikir ulang tentang rencana anehnya.” Ernest yang mengikuti nyonya Rose keluar dari pintu penthouse Alvero langsung memuji nyonya Rose begitu mereka keluar dari penthouse itu.


“Ah, tidak. Aku hanya membuat yang mulia sadar jika kondisinya dibalik, apakah dia bisa menerima keadaan itu. Bagaimana perasaannya jika melihat permaisuri dekat dengan laki-laki lain.” Mendengar kata-kata nyonya Rose, Ernest langsung mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum.

__ADS_1


Walaupun Ernest tidak tahu apakah Alvero akan membatalkan rencananya tentang Alaya atau akan tetap meneruskannya. Paling tidak, begitu melihat reaksi Alvero yang emosinya langsung tersulut saat nyonya Rose mengatakan tentang kemungkinan Eliana mengatur laki-laki lain untuk mendekati Deanda, dari situ Ernest merasa yakin kalau Alvero akan berpikir ulang untuk melanjutkan rencananya.


# # # # # # #


“Sweety…” Begitu nyonya Rose dan Ernest sudah keluar dari penthousenya, Alvero memanggil Deanda dengan suara lirih, dan dengan lesu Alvero duduk kembali di sisi Deanda.


Untuk beberapa saat Alvero menarik nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya memaksakan dirinya untuk menatap ke arah Deanda yang sejak tadi hanya diam mendengar pembicaraan antara suaminya dan nyonya Rose.


“Sweety… maafkan aku… Aku tidak sadar bahwa rencana yang aku anggap baik mungkin bisa membuat hatimu tersakiti.” Alvero berkata sambil meraih tubuh Deanda, mengecup keningnya dengan lembut.


“Berjanjilah padaku sweety, jangan biarkan aku menjadi orang yang tidak berperasaan kepadamu lagi. Maafkan aku. Aku sungguh mencintaimu, aku tidak akan pernah dengan sengaja ingin menyakitimu. Aku sungguh tidak peka dan hampir saja melakukan hal bodoh yang bisa merusak hubungan kita.”


Mendengar setiap apa yang dikatakan oleh Alvero, Deanda hanya bisa terdiam sambil menganggukkan kepalanya, karena dia tahu jika dia mengeluarkan suara, pasti suaranya akan serak dan bergetar, karena saat ini dia sedang menahan haru dalam hatinya mendengar setiap apa yang diucapkan oleh Alvero padanya.


Tanpa menjawab apapun perkataan dari Alvero, Deanda menggerakkan tubuhnya ke samping, lalu dengan erat memeluk tubuh Alvero dengan kedua lengannya melingkar di tubuh atletis suaminya, dengan kepalanya bersandar pada dada bidang Alvero. Tindakan Deanda yang tanpa kata-kata itu sudah cukup membuat Alvero tenang, mengerti bahwa istrinya sudah memaafkannya dan tidak lagi mempermasalahkan kesalahannya hari ini.


# # # # # # #

__ADS_1


Alvero dan Deanda baru saja menyelesaikan makan malam mereka, dan sedang mengobrol santai sambil menikmati pemandangan malam kota Tavisha dari jendela kamar penthouse, ketika sebuah nada panggilan telepon terdengar.


“My Al… ada panggilan telepon untukmu.” Deanda mencoba mengingatkan Alvero yang tampak tidak perduli dengan adanya panggilan telepon untuknya, dan justru membiarkan suara handphonenya terus terdengar begitu ribut.


“Tunggu sebentar lagi, setelah panggilan berhenti, dan dia tetap menelpon untuk yang ketiga kalinya, aku akan mengangkatnya.” Mendengar perkataan Alvero, Deanda sedikit mengernyitkan dahinya.


Dari kata-kata Alvero barusan, Deanda menangkap kesan bahwa Alvero tahu pasti siapa orang yang sedang menelponnya tanpa harus melihat  ke layar handphonenya. Dan yang membuat Deanda heran, jika Alvero sudah tahu siapa yang sedang menelponnya, tapi kenapa dia bersikap tidak perduli dan justru terlihat santai, tidak ada niat untuk mengangkat panggilan telepon tersebut.


Setelah panggilan itu benar-benar diulang sampai yang ketiga kalinya, seperti yang dikatakan oleh Alvero sebelumnya, Alvero baru mengambil handphonenya dan menerima panggilan telepon tersebut.


“Alvero! Cepat buka! Buka pintu kamarku!”


Belum lagi Alvero mengatakan apapun, begitu dia menerima panggilan telepon itu, suara Enzo terdengar berteriak panik dari seberang sana. Dan bukannya terlihat ikut panik dan heran, Alvero justru menyungingkan sebuah senyum jahil di bibirnya begitu mendengar suara teriakan dari Enzo.


Enzo… rasakan pembalasanku hari ini…


Alvero berkata dalam hati dengan senyum semakin lebar di bibirnya, menunjukkan dia merasa puas usaha pembalasannya terhadap Enzo sepertinya berhasil.

__ADS_1


__ADS_2