
“Hah…. Wanita sebaik kamu, yang begitu mencintai keluarga bahkan saudara dan ibu tirimu dan orang-orang yang merasa iri dan bersikap jahat padamu. Kamu selalu saja berusaha membela mereka, meskipun mereka tidak pernah bersikap baik padamu. Jika ada yang berani mengatakan kalau kamu anak tidak berbakti…. Aku ingin tahu sebesar apa pengorbanan orang itu terhadap keluarganya.” Alvero menjawab pertanyaan Deanda sambil menggigit bagian bawah bibirnya, mencoba membuat Deanda tidak merasa menjadi orang tidak berguna sehingga berpikir bahwa dia bukan seorang anak yang baik.
“Kadang jangan terlalu perduli dengan pendapat orang lain. Toh, mereka yang berbicara seenaknya seperti itu tidak ikut merasakan dan mengalami apa yang sudah kamu lalu selama ini. Biarkan saja orang lain berpikir seenak perut mereka. Yang pasti ada banyak orang di dekatmu yang tahu tentang siap dan bagaimana seorang Deanda, yang merupakan wanita cantik dan baik hati, yang hatinya begitu lembut, sampai-sampai kadang membiarkan orang lain membodohinya.” Alvero berkata sambil meringis.
Mendengar bagian terakhir kalimat dari Alvero yang terdengar sedang mengoloknya, membuat Deana menyungingkan sebuah senyuman kecil.
Dan senyum kecil itu, sungguh membuat Alvero merasa lega, karena dengan senyum itu menunjukkan bagaimana Deanda sudah mulai bisa mengendalikan emosi dan pikirannya, sudah bisa diajak sedikit bercanda.
“Aku akan mengurusnya untukmu. Kamu hanya perlu menenangkan diri dan banyak beristirahat untuk sementara waktu.” Perkataan Alvero membuat Deanda langsung mengalihkan pandangannya kepada Alvero dengan sikap protes.
“Kenapa? Apa kamu ingin menemui Alaya dan papa Alexis sendiri tanpa mengajakku? Aku juga ingin dengar pernjelasan apa yang akan dikatakan oleh papa tentang kepergiannya yang tiba-tiba saat itu dan membiarkan selama belasan tahun dirinya berpikir bahwa dia sudah menjadi seorang yatim piatu.
“Sweety, ingat kesehatanmu. Kamu baru saja tersadar dari pingsanmu. Jangan memaksakan dirimu sendiri. Kali ini biarkan aku yang melakukannya sendiri. Apa kamu meragukan suamimu sendiri untuk menyelesaikan masalah ini?” Deanda langsung menggelengkan kepalanya begitu mendengar pertanyaan dari Alvero.
“Bukan begitu my Al… Tapi, aku ingin hadir di sana. Aku juga ingin mendengar langsung apa yang dikatakan oleh papa Alexis tentang apa yang sudah dialami dan dilakukannya selama belasan tahun ini. Bahkan dia yang tidak pernah memberikan kabar kepadaku, apalagi menjengukku. Paling tidak dia pasti mendengar tentang acara pertunangan, juga pernikahan kita. Sungguh menyedihkan mengingat dia tidak berusaha melakukan apapun untuk ikut memberikan restunya kepadaku.” Deanda berkata sambil menarik nafas dalam-dalam, berusaha keras agar tidak lagi menangis.
__ADS_1
“Tenanglah sweety. Semua hal yang ingin kamu tanyakan dan ingin kamu ketahui, aku akan mengurusnya untukmu. Tapi berjanjilah padaku, kamu cukup berdiam diri sementara waktu di sini dan beristirahat.” Alvero berusaha membujuk Deanda agar mengubah keputusannya untuk ikut menghadiri pertemuan dengan Alaya dan Alexis.
“Tidak mau.” Deanda menjawab dengan singkat dan tegas, membuat Alvero sedikit tercengang melihat bagaimana keras kepalanya Deanda hari ini, tidak seperti sikap Deanda biasanya.
“Sweety… aku mohon kali ini ikutilah perkataanku. Aku ingin yang tebaik bagimu. Kondisi kesehatanmu yang paling penting untuk sekarang ini.” Alvero tetap berusaha mencegah keinginan Deanda, karena cukup khawatir jika Deanda kembali emosi dan pingsan untuk kedua kalinya karena tekanan yang akan dihadapinya.
“Aku tidak bisa my Al. Aku harus ikut. Aku baik-baik saja. Aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang, dan juga….”
“Sweety, kamu memerlukan banyak istirahat dan tidak berpikir terlalu keras. Kasihan bayi kita jika kamu terus memaksa seperti itu.” Akhirnya Alvero menggunakan senjata terakhirnya untuk membuat Deanda membatalkan niatnya ikut melakukan pembicaraan dengan Alaya dan Alexis.
Kata-kata Alvero sukses membuat mata Deanda melotot sempurna dan tanpa sadar salah satu telapak tangannya langsung menyentuh perutnya dan berhenti di sana dengan tatapan mata tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari bibir Alvero.
“Benar sweety, kamu sedang mengandung bukti cinta kita. Dia masih terlalu kecil, masih berusia 4 mingguan. Dia masih begitu lemah dan rentan. Karena itu kita berdua harus menjaganya dengan baik dan hati-hati. Agar dia bisa bertumbuh kuat dan sehat. Untuk itu…”
“My Al! Aku masih tidak percaya! Aku hamil! Aku hamil my Al! Aku akan menjadi seorang mama!” Deanda berteriak histeris sambil memeluk tubuh Alvero dengan erat dalam posisi duduknya, membuat Alvero tersenyum puas melihat wajah bahagia dan begitu senangnya Deanda mendengar berita tentang kehamilannya.
__ADS_1
Tepat seperti apa yang sudah diperkirakan oleh Alvero sebelumnya, bahwa Deanda pasti akan sangat bahagia jika mengetahui dia sedang hamil sekarang.
“Karena itu sweety, ada baiknya kamu tetap berada di kamar dan cukup istirahat hari ini, untuk memulihkan tubuhmu yang baru saja pingsan. Kamu tahu, dengan kondisimu sekarang, kamu harus menjaga kesahatan dan emosimu. Jika kamu terlalu sering pingsan, itu tidak akan baik dan akan berbahaya untuk bayi kita.” Mendengar perkataan Alvero, Deanda langsung terdiam untuk beberapa saat, sambil sesekali tampak menghela nafasnya dengan berat.
“Aku berjanji aku akan berusaha keras mengendalikan emosiku. Aku mohon, ijinkan aku paling tidak ikut hadir agar hatiku juga merasa lega. Aku berjanji aku tidak akan banyak berkata-kata. Aku tidak akan marah. Aku akan menjadi pendengar yang baik bagimu my Al. Aku tidak akan mengganggu pertemuan kalian bertiga.” Kali ini perkataan Deanda sukses membuat Alvero bingung untuk bersikap dan memutuskan bagaimana pertemuan itu.
“Ah, sweety, kamu membuatku dalam posisi sulit untuk memutuskan menerima permintaanmu yang bisa membahayakan kesehatanmu dan bayi kita.” Alvero berkata sambil memandang ke arah Deanda yang sedang menatapnya dengan wajah penuh harap.
“Berjanjilah padaku. Jika kamu merasa sudah tidak bisa mengendalikan emosimu, kamu akan mundur dan meninggalkan pertemuan itu tanpa perduli seberapa besar rasa ingin tahu dan penasaran dalam hatimu.” Alvero akhirnya mencoba mengabulkan permintaan Deanda dengan syarat agar semuanya bisa berjalan dengan baik, sekaligus aman.
# # # # # # #
Alexis yang sedari Deanda dibawa masuk oleh Alvero dalam gendongannya, langsung menahan nafasnya begitu melihat sosok Alvero yang keluar bersama Deanda yang tampak sudah terlihat lebih segar dibandingkan dengan saat terakhir Deanda jatuh pingsan tadi.
Alaya yang sedari tadi duduk tepat di samping Alexis, sekaligus mengamati sikap tidak tenang Alexis, sebenarnya dia sendiri merasa begitu gugup menghadapi Alvero dan Deanda saat ini. Berbagai pikiran silih berganti memenuhi pikirannya.
__ADS_1
Memikirkan berbagai macam kemungkinan dari sikap Alvero dan Deanda setelah mengetahui siapa mereka yang sebenarnya, dan apa yang sudah dilakukan oleh mereka selama belasan tahun ini.
“Selamat siang nona Alaya, dan juga Tuan… Alexis Federer.” Cara dan kata-kata Alvero mengucapkan kata-katanya sudah cukup membuat baik Alaya dan Alexis sedikit tersentak kaget, menyadari bahwa Deanda pasti sudah mengatakan kepada Alvero tentang keberadaan Alexis yang ternyata masih hidup. Alexis yang merupakan ayah kandungnya.