BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
KEBENARAN TENTANG ALEXIS (2)


__ADS_3

Haist.... Yang mulia! Ternyata kamu sengaja memaksaku menikah secara hukum Gracetian karena dari awal kamu tidak berniat menceraikanku seperti yang sudah kita sepakati dalam surat perjanjian kita. Sejak awal, sepertinya kamu memang ingin mengikatku selamanya. Dan aku bersyukur saat itu aku tidak mengerti tentang itu, atau aku akan menolak mentah-mentah untuk tetap menikah denganmu. Tapi saat ini, aku tidak akan pernah lagi mau berpisah darimu sampai kapanpun.


Deanda berkata dalam hati sambil menahan senyum di bibirnya, karena pada akhirnya, Alvero selalu berhasil mencapai keinginannya, bagaimanapun dan berapa lamapun waktu yagn dia butuhkan untuk mendapatkan keinginannya.


Hah... akhirnya terbuka juga niatku sejak awal untuk selalu mengikatmu di sisiku, seumur hidup kita. Dan walaupun harus mengulang, aku tetap akan melakukan hal yang sama untuk mendapatkanmu. Aku tidak pernah menyesali hal itu. Justru itu adalah hal yang paling aku syukuri. Bisa memilikimu seumur hidupku.


Alvero berkata dalam hati dengan sedikit meringis menyadari pada akhirnya Deanda tahu, tentang alasannya meminta Deanda menikah dengannya, secara sah, sesuai dengan hukum Gracetian.


"Saat menikah denganku, tanpa Larena mengetahui arti dari hukum Gracetian, aku meminta Larena yang dari kalangan rakyat biasa, menikah denganku secara sah sesuai hukum Gracetian. Sehingga, saat dia meninggalkan istana, dia berpikir secara otomatis statusnya sebagai permaisuri dicabut darinya." Vincent berkata pelan, apapun cerita tentang Larena, selalu membuat dadanya bergetar hebat dan rasa cinta, frustasi, penyesalan, kemarahan terhadap Eliana selalu muncul dan menyiksanya.


Ternyata ayah dan anak sama saja, mereka berdua sengaja meminta kami, orang yang tidak mengerti tentang hukum Gracetian menikah dengan menggunakan hukum Gracetian untuk mengikat kami para istri dengan sedemikian rupa.

__ADS_1


Deanda kembali berkata dalam hati sambil memandang ke arah Vincent, menunggu apa yang akan selanjutnya diucapkan oleh Vincent.


"Dan tanpa sepengetahuanku, ternyata Eliana berusaha menyingkirkan Larena karena tahu tentang hukum itu. Selama Larena masih hidup, dia tidak akan bisa mengambil status permaisuri Larena jika aku tidak menceraikan Larena secara hukum Gracetian. Sedangkan aku, bahkan sampai sekarang, jika Larena masih hidup, tidak pernah ada keinginan untuk menceraikan Larena." Perkataan Vincent membuat Deanda sedikit termenung, membayangkan sakitnya hati Larena saat kejadian itu, apalagi Deanda pernah mendengar dari Alvero bahwa setelah pergi dari istana, sempat terdengar berita bahwa Larena sedang mengandung adik Alvero.


Sayangnya, tidak lama setelah Larena pergi dari istana, terjadi kebakaran hebat yang akhirnya merenggut nyawa Larena. Sehingga janin yang seharusnya menjadi adik Alvero itupun ikut meninggal bersama Larena. Membayangkan hal itu, membuat Deanda menahan nafasnya sebentar, merasa begitu kasihan melihat nasib buruk yang sudah menimpa Larena di masa lalu.


"Setelah mendapatkan teguran dari Alexis, bukannya menyerah, Eliana justru dengan sengaja membuat rumor bahwa Alexis sudah melecehkannya. Dan saat itu, Eliana membawa saksi-saksinya untuk menuntut agar Alexis mendapatkan hukuman sekaligus pencabutan gelar knight miliknya. Saat itu, aku yang mendengarkan penjelasan dari Alexis, tahu bahwa Eliana memang dengan sengaja sudah menjebaknya. Tapi... saat itu, aku begitu mengkhawatirkan Larena, sehingga menerima usulan Alexis untuk aku benar-benar mencabut gelar knight miliknya, dan mengusirnya dari istana, agar Eliana tidak curiga Alexis ikut pergi meninggalkan istana agar dapat melindungi Larena." Kedua tangan Deanda yang berada dalam genggaman tangan Alvero mencengkeram semakin erat mendengar apa yang dikatakan oleh Vincent.


"Itu adalah satu-satunya hal yang bisa aku lakukan untuk Alexis yang sedari awal adalah knight yang bukan hanya knight terbaik yang pernah dimiliki oleh Gracetian. Tapi dia juga adalah sahabat terbaikku, sekaligus orang yang selalu setia dan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi keluarga Adalvino. Kehilangan Alexis bagiku seperti kehilangan tangan kananku, sehingga aku kehilangan setengah dari kekuatanku." Vincent berkata sambil menarik nafas panjang, dipandanginya wajah Deanda yang sudah terlihat memerah karena menahan tangisnya, mendengar cerita tentang bagaimana pengorbanan papanya untuk keluarga Adalvino.


"Maafkan aku Deanda, karena tidak bisa melindungi orang yang bahkan rela memberikan nyawanya untukku dan keluargaku. Dan bukan saja Alexis, bahkan Tiana Allen, ibu dari Deanda juga meninggal karena berusaha menyelamatkan Larena dalam kebakaran hebat hari itu." Kali ini Deanda tidak bisa lagi menahan airmatanya turun membasahi pipinya.

__ADS_1


Saat ini, setelah sekian lama, pertanyaan besar yang selalu mengusik hati Deanda terjawab sudah. Selama ini Deanda selalu bertanya-tanya, apakah sebuah kebetulan, tanggal kematian mamanya sama persis dengan tanggal kematian dari Larena Hilmar, permaisuri Gracetian saat itu. Dan tidak ada seorangpun yang pernah menjawab pertanyaannya itu, termasuk Red maupun Marcello.


Tubuh Alvero langsung tersentak begitu mendengar kebenaran tentang bagaimana ayah maupun ibu Deanda adalah orang-orang yang sudah berusaha keras untuk menyelamatkan Larena, walaupun berakhir dengan sebuah kegagalan, dan meninggalnya Larena maupun Tiana malam itu. Meninggalnya mereka membawa kesedihan yang begitu dalam bagi Alexis maupun Vincent, kedua sahabat karib yang harus kehilangan wanita yang begitu mereka cintai di hari dan waktu yang sama, dengan cara yang sama dan menyedihkan.


Dengan gerakan cepat Alvero langsung meraih kepala Deanda dan menariknya ke arah dadanya, dimana Deanda langsung menelusupkan wajahnya ke dada Alvero, berusaha menyembunyikan airmata yang mengalir deras tanpa bisa dia kendalikan lagi. Sekuat tenaga Deanda berusaha menahan suara tangisnya agar tidak terdengar, hanya bahunya yang terlihat naik turun karena menahan tangisannya.  Dengan lembut Alvero mengelus-elus rambut di kepala Deanda dengan lembut, dan membiarkan airmata Deanda membasahi pakaian yang dikenakannya.


Beberapa kali Alvero mencium puncak kepala Deanda yang menyembunyikan wajahnya di dada Alvero, untuk menunjukkan dukungannya kepada Deanda. Melihat itu Vincent hanya bisa menghela nafasnya beberapa kali. Ada rasa bersalah yang begitu besar memenuhi hati Vincent.


Untuk beberapa saat mereka bertiga terdiam, sampai pada akhirnya Deanda memaksakan dirinya untuk kuat dan menghapus air matanya. Setelah itu dengan gerakan pelan dan sedikit ragu Deanda kembali menegakkan tubuhnya, menjauhkan dirinya dari tubuh Alvero yang langsung menepuk-nepuk lembut pipi Deanda yang langsung tersenyum mendapatkan perlakuan lembut yang menunjukkan dukungan dan rasa sayang Alvero yang begitu besar padanya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2