
Dan bukan hanya itu, beberapa peralatan latihan yang memang ditujukan untuk melatih ketangkasan masih harus mereka lalui hingga mereka sampai di ujung dan boleh dikatakan mencapai finish.
Mendengar tantangan dari Alvero, Deanda langsung menyungingkan sebuah senyum manis. Rasanya dia merasa begitu tertantang melihat peralatan untuk latihan ketangkasan yang seolah-olah sedang memanggil-manggilnya untuk mencobanya.
“Baik Yang Mulia. Kita bertanding. Siapa yang tercepat dan menang, harus mengabulkan satu permintaan yang tidak boleh ditolak oleh pihak yang kalah.” Deanda berkata sambil sedikit memajukan bibirnya, membuat Alvero tertawa kecil.
“Haist… apalagi yang kamu inginkan dariku? Tanpa bertandingpun, aku pasti akan mengabulkan apapun permintaanmu itu. Tidak harus menunggu kamu berhasil mengalahkanku.” Mendengar itu, Deanda langsung tersenyum.
“Apa Yang Mulia takut jika kali ini aku yang menang?” Mendengar godaan Deanda, mata hazel Alvero sedikit membulat karena Deanda terlihat begitu percaya diri.
“Baiklah, aku terima tantanganmu! Asal jangan menangis jika kali ini aku kembali memenangkan pertandingan.” Alvero berkata sambil mengambil handphone dari sakunya, dan menyerahkannya kepada Erich, diikuti oleh Deanda.
“Erich! Ambilkan pakaian ganti dan sepatu untuk kami berdua!” Alvero segera memerintahkan Erich untuk mengambil keperluan mereka agar bisa melakukan rencana mereka untuk bertanding ketangkasan.
Mendengar dan melihat rencana Alvero dan Deanda untuk bertanding ketangkasan membuat Marcello hanya bisa tersenyum geli sekaligus senang.
Yang Mulia dan Deanda, benar-benar pasangan yang serasi jika itu menyangkut masalah beladiri. Ah, tidak… bukan hanya dalam hal beladiri. Mereka berdua benar-benar pasangan serasi dalam segala hal. Aku berharap hubungan mereka akan selalu kompak seperti yang terlihat saat ini. Gracetian begitu beruntung memiliki raja dan permaisuri hebat dan begitu mencintai rakyat dan negaranya seperti mereka berdua. Semoga Gracetian semakin sejahtera di bawah kepemimpinan mereka berdua.
Marcello berkata dalam hati dengan penuh harapan terhadap Alvero dan Deanda sebagai pucuk pimpinan tertinggi di Gracetian saat ini.
# # # # # # #
“Kamu sudah siap sweety? Sepertinya sampai detik ini kamu masih merasa begitu penasaran dengan kekalahanmu waktu itu. Padahal aku tidak berbuat curang lho.” Alvero berbisik pelan ke telinga Deanda yang hanya bisa tersenyum.
__ADS_1
Deanda tahu pasti kemampuan Alvero. Hari ini Deanda ingin melakukan hal ini bukan karena dia yakin bisa mengalahkan Alvero. Justru dia tahu pasti bahwa dia tidak akan bisa mengalahkan Alvero.
Namun hari ini, Deanda merasa begitu senang bisa mendapat kesempatan berlatih ketangkasan bersama suaminya. Hal yang sudah lama sebenarnya ingin dia lakukan, berlatih beladiri berdua dengan Alvero. Dengan begitu Deanda berharap akan bisa belajar banyak dari Alvero yang dia tahu memang hebat dalam hal beladiri.
“Apa kamu sudah siap sekarang sweety?” Alvero kembali berbisik, dan langsung dijawab oleh sebuah anggukan tegas oleh Deanda.
“Uncle, kami sudah siap. Silahkan memberi aba-aba kepada kami berdua agar kami bisa memulainya.” Mendengar perintah Alvero, dengan tersenyum, Marcello langsung berjalan mendekat sambil membawa pistol di tangannya untuk memulai pertandingan antara Alvero dan Deanda.
“Bersiap…. Satu… dua… tiga!” Marcello berteriak lantang memberikan aba-abanya.
“Door!” Suara tembakan yang terdengar nyaring, langsung membuat baik Alvero maupun Deanda bergerak dengan cepat.
Para anggota tim pasukan khusus yang awalnya sedang berlatih mau tidak mau langsung menoleh ke arah sumber suara begitu mendengar suara tembakan dimana mereka tahu seharusnya tidak ada jadwal latihan ketangkasan hari ini. Mereka ingin melihat apa yang sudah terjadi di luar, di lapangan tempat mereka biasa berlatih ketangkasan.
Marcello yang melihat bagaimana para anggota pasukan khusus yang berlatih tiba-tiba berbondong-bondong mendekat hanya bisa membiarkan mereka kali ini. Kalau boleh jujur, siapa yang tidak penasaran melihat bagaimana raja dan permaisuri melakukan hal seperti itu, yang pasti tidak akan sembarang orang mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan peristiwa langka seperti hari ini.
# # # # # # #
“Ayo! Ayo! Ayo!” Suara dari para anggota pasukan khusus yang menyoraki Alvero dan Deanda terdengar ramai sejak mereka memulai pertandingan.
Beberapa kali Alvero sengaja mengurangi kecepatannya agar Deanda tidak tertinggal jauh darinya.
“Yeahhhh!” Teriakan nyaring segera terdengar begitu Alvero mencapai finish beberapa detik lebih awal dari Deanda.
__ADS_1
Begitu sampai di finish, Alvero langsung membalikkan tubuhnya, sehingga saat Deanda berhasil menyusulnya di finish dengan cepat Alvero bergerak ke arahnya, untuk menyambutnya, dan langsung memeluknya dengan erat, membuat Deanda langsung tertawa lebar dengan wajah terlihat begitu bahagia.
“Silahkan Yang Mulia, Permaisuri.” Erich yang sudah menunggu di finish bersama Marcello langsung menyodorkan botol kaca berisi air mineral kepada kedua majikannya itu.
“Terimakasih Erich.” Dengan nafas yang masih tersengal-sengal, Deanda berkata sambil meraih botol itu dari tangan Erich yang langsung menganggukkan kepalanya kepada Deanda dengan wajah datarnya, walaupun dalam hati, Erich merasa senang melihat bagaimana tangkas dan ahlinya Alvero dan Deanda dalam menyelesaikan semua rintangan itu.
Untuk beberapa saat kemudian, Alvero dan Deanda sengaja duduk berselonjor di lapangan rumput yang ada di dekat tempat latihan itu untuk beristirahat.
“Ketangkasanmu memang benar-benar harus diacungi jempol Yang Mulia.” Deanda berkata sambil kembali meneguk air mineral di tangannya.
Mendengar pujian dari Deanda, Alvero hanya bisa tersenyum dengan wajah terlihat bangga.
“Tapi aku kurang setuju jika Yang Mulia sengaja mengalah karena aku.” Alvero langsung tertawa mendengar perkataan Deanda yang dikatakannya dengan nada protes.
Deanda bukannya tidak sadar kalau Alvero tadi sengaja mengurangi kecepatannya beberapa kali agar dia tidak jauh teringgal. Walaupun Alvero tetap menang, tapi jarak pencapaian garis finish hanya beberapa detik saja. Deanda yakin jika Alvero tidak mengurangi kecepatannya, dia pasti akan tertinggal dari Alvero dalam hitungan menit, bukan lagi dalam detik.
“Hah! Kamu ini ada-ada saja! Memangnya aku kalah hari ini? Semua orang juga tahu kalau aku adalah pemenangnya. Mana bisa kamu bilang aku mengalah? Kalau aku betul-betul mengalah, pasti kamulah pemenangnya, bukan aku.” Alvero berkata sambil tersenyum.
Yang Mulia, sejak dulu selalu seperti itu. Berusaha menahan diri dan mengalah tanpa harus membuatnya kalah. Laki-lakiku ini memang yang terbaik. I love you my Al.
Deanda berkata dalam hati sambil melirik ke arah Alvero yang hanya bisa menyembunyikan senyumnya melihat tatapan mata amber istrinya yang sedang memandangnya dengan tatapan kagum.
Mendengar jawaban Alvero yang tetap bersikeras tidak mau mengakui bahwa dia sudah mengalah, Deanda hanya tersenyum sambil menarik nafas panjang. Kalau saja mereka tidak sedang berada di tempat umum, rasanya Deanda tidak akan merasa keberatan untuk memberikan hadiah kepada Alvero berupa sebuah ciuman mesra.
__ADS_1
Sebuah hadiah yang bagi Alvero akan jauh lebih berharga daripada sebuah piala emas.