BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
ADA UNTUKMU


__ADS_3

Tas yang diletakkan Melva ke atas meja itu berisi semua hadiah yang pernah diberikan oleh Emilio kepada Melva selama mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Walaupun sebenarnya uang yang digunakan Emilio untuk membeli semua hadiah itu, adalah uang Melva sendiri. Merupakan sebagian dari uang yang selalu ditransfer oleh Melva tiap bulannya kepada Emilio untuk keperluan pengobatan ibunya dan biaya sekolah keponakannya.


Melihat tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk membuat Melva mendengarkan penjelasan darinya, justru membuat Emilio terpancing amarah, mencoba mencari alasan untuk membenarkan diri. Dan justru berusaha membuat Melva merasa bersalah atas kejadian yang telah terjadi malam ini.


Senjata yang paling sering digunakan oleh orang-orang tidak bernyali dan pengecut seperti Emilio. Selalu berusaha membalikkan keadaan dan membuat dirinya benar dengan cara mencari alasan untuk menyalahkan orang lain. Marah sebelum dia sendiri menerima kemarahan. Mempersalahkan orang lain terlebih dahulu, sebelum dia sendiri dipersalahkan karena kesalahan yang sudah diperbuatnya.


“Hah! Jangan salahkan aku atas semua yang terjadi! Semua ini karena salahmu!” Emilio yang berpikir bahwa Melva hanya mengetahui perbuatan buruknya dengan para wanita panggilan, tiba-tiba saja berteriak ke arah Melva sambil berkacak pinggang, membuat Melva menatap ke arah Emilio dengan pandangan tidak suka dan dahi mengernyit.


“Bagaimana bisa kamu mengatakan semua itu salahku? Kamu yang berbuat curang dan buruk! Dan aku sungguh menyesal sudah mempercayaimu sedemikian lamanya.” Melva langsung membalas perkataan Emilio dengan nada sinis.


“Hah! Kamu tidak bersalah? Kamu yang membuatku menjadi begini!" Dengan percaya diri dan nada tinggi dan wajah marah Emilio berteriak ke arah Melva.


"Katakan! Katakan padaku dimana letak kesalahanku?" Dengan tidak kalah emosi, Melva berkata dengan nada tinggi menunjukkan betapa marahnya Melva saat menjawab perkataan Emilio, dengan bertanya balik tetang kesalahan apa yang sudah diperbuatnya.


Melva sudah berusaha keras sebagai gadis baik-baik dari keturunan bangsawan bersikap anggun dan tidak berteriak di depan orang lain seperti malam ini. Tapi, malam ini dia benar-benar sulit untuk tidak marah melihat bagaimana sikap Emilio yang bahkan tidak menunjukkan wajah bersalah sama sekali setelah tertangkap basah barusanm, dan justru sibuk menyalahkannya.


"Karena kamu! Aku selalu mencari wanita lain! Karena kamu selalu menolak untuk tidur denganku!”

__ADS_1


“Plak!” Sebuah tamparan keras dari tangan Melva langsung mendarat dengan sempurna di pipi Emilio, begitu Melva mendengar kata-kata dari Emilio yang bagi Melva terdengar begitu memalukan dan tidak pantas diucapkan kepada gadis baik-baik.


“Jaga bicaramu yang kurang ajar itu! Aku bukan wanita murahan!” Melva berkata dengan wajah dan mata terlihat begitu merah karena menahan amarah sekaligus menahan tangisnya dengan susah payah.


Bagi Melva, kata-kata Emilio barusan terdengar begitu merendahkannya, menganggapnya sama dengan para wanita murahan yang begitu gampang tidur dengan pria tanpa ikatan pernikahan yang sah. Dan kata-kata itu terasa begitu menyakitkan, bagaimana Emilio lebih menganggap penting keberadaan para wanita penghibur daripada dia sebagai wanita baik-baik.


Melva benar-benar tidak menyangka bahwa laki-laki yang selama ini selalu tampil sabar dan lembut, ternyata di belakangnya memiliki pikiran dan perilaku yang begitu menjijikkan. Sedang Emilio merasa begitu kaget sekaligus malu mendapatkan tamparan dari Melva.


“Beraninya kamu menamparku Melva!” Emilio bergerak cepat, berencana mencekal bahu Melva, dan membalas tamparannya.


Tangan Emilio sudah terangkat ke atas, bersiap untuk menampar Melva, ketika sebuah tangan dengan sigap memegang lengan bawah tangan Emilio dan menahannya agar tidak menyentuh Melva. Melva yang awalnya berencana melawan Emilio, ikut terlihat kaget dan menoleh ke arah samping, dimana Enzo memegang lengan bawah tangan Emilio sambil menatap tajam ke arah Emilio yang tidak kalah kagetnya dengan Melva mengetahui kehadiran Enzo, yang dikenalnya sebagai salah satu pangeran Adalvino.


Begitu Melva memandang ke arahnya, dengan hentakan keras, bahkan disertai dengan sebuah gerakan mendorong yang disengaja oleh Enzo, Enzo melepaskan cekalan tangannya pada lengan bawah tangan Emilio, sehingga tubuh Emilio terdorong ke belakang.


Sejak pagi tadi setelah mendengar semua kebenaran tentang Emilio, Enzo sudah memerintah beberapa pengawalnya untuk mengamati pergerakan Emilio, juga melindungi Melva dari jauh. Begitu Enzo mendengar sudah larut Melva meninggalkan rumahnya, dengan cepat Enzo langsung menyusul Melva.


Melihat Melva memasuki bar, dari jauh Enzo terus mengamati apa yang dilakukan Melva sampai dia sengaja harus bersembunyi di balik dinding bagian luar ruangan VIP yang pintunya terbuka lebar setelah kepergian Monica, sehingga Enzo bisa mendengar dengan jelas semua pembicaraan antara Melva dan Emilio, dan dapat bertindak cepat melihat bagaimana Emilio yang berniat memukul Melva.

__ADS_1


“Sel.. selamat malam Pangeran Enzo…” Dengan sikap gugup sekaligus malu karena saat ini dia hanya mengenakan sebuah celana boxer, Emilio langsung memberikan salam hormat kepada Enzo.


“Kak Enzo…” Belum lagi Emilio bisa mengatasi rasa gugup dan malunya di depan Enzo, kepalanya yang tadinya menunduk langsung kembali mendongak mendengar bagaimana Melva memanggil Enzo dengan sebutan kak Enzo, menunjukkan bahwa hubungan mereka berdua cukup dekat.


Sial! Ternyata Melva mengenal pangeran Enzo dengan baik. Aku harus segera memutar otak agar pangeran Enzo tidak berpikir buruk tentang aku karena Melva.


Emilio merutuk dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya, berusaha dengan cepat berpikir untuk mengatakan apa agar Enzo tidak menganggap kejadian dengannya barusan adalah suatu hal yang serius.


“Kamu baik-baik saja Melva?” Tanpa memperdulikan salam hormat dari Emilio yang diberikan untuknya, kedua tangan Enzo memegang kedua bahu Melva.


“Aku baik-baik saja Kak Enzo.” Melva menjawab pertanyaan Enzo dengan cepat, sambil matanya melirik ke arah Emilio yang juga terlihat sedang melirik ke arahnya dan Enzo, tanpa berani menegakkan tubuhnya.


Emilio masih dalam posisi sama seperti saat mengetahui bahwa orang yang datang menolong Melva adalah Enzo, seorang pangeran Adalvino, dalam posisi sedang memberikan salam penghormatan kepada Enzo. Sebagai rakyat dari kasta terbawah dalam susunan status sosial di kerajaan Gracetian, Emilio cukup tahu diri untuk tidak sembarangan bertindak di hadapan pangeran Enzo yang merupakan salah satu orang dengan kedudukan tinggi di negara Gracetian sebagai salah satu pangeran Adalvino.


(Kasta adalah salah satu dari konsep dalam Agama Hindu. Dalam bahasa Sansekerta dan istilah Agama Hindu, konsep kasta memiliki nama “Varna.” Kasta adalah pembagian masyarakat berdasarkan kelompok-kelompok kelas yang berperingkat (berstratifikasi). Di Indonesia, sistem kasta dapat dilihat di Bali. Anak-anak di Bali diberi nama berdasrkan kasta keluarga mereka dan urutan kelahiran mereka. Masyarakat Bali didasarkan pada sistem kasta Catur Warna Hindu, walaupun tidak serumit yang terjadi di India).


Menyadari siapa laki-laki gagah dan tampan yang sedang berada di samping Melva saat ini membuat Emilio hanya bisa berdiam diri, menunggu Enzo menoleh ke arahnya dan memberikan tanda agar dia bisa menegakkan tubuhnya kembali dan berlari untuk mengambil pakaiannya.

__ADS_1


__ADS_2