
Hanya dengan membayangkan hukuman itu saja sudah membuat dada Alvero berdetak keras, nafasnya sedikit memburu, dengan wajah khawatir. Bagaimana bisa dia menikmati tidur nyenyak seperti yang sudah dia rasakan sejak menikah, jika dia harus jauh dari Deanda. Apalagi sejak menikah, bagi Alvero, bau tubuh Deanda baginya sudah seperti aroma terapi yang mampu menenangkan pikirannya dan membuatnya tidur dengan begitu nyenyak.
Melihat wajah bingung sekaligus khawatir dari Alvero akibat perkataanya, membuat Vincent tertawa geli, melihat bagaimana reaksi Alvero atas idenya barusan. Sebuah reaksi yang sebenarnya hampir tidak pernah Vincent lihat dari putra sulungnya itu. Sejak Larena Hilmar meninggalkan istana, Alvero lebih suka menyendiri dan bersikap dingin terhadap sekitarnya. Bahkan belum pernah sekalipun Vincent melihat bagaimana Alvero bisa terlibat hubungan emosi dengan seseorang.
Namun, seorang Deanda Federer yang sejak awal sudah berhasil membuat dunia dan hati Alvero jungkir balik, saat ini bahkan bisa membuat tubuh dan hati Alvero bereaksi dengan cepat jika itu menyangkut tentang Deanda. Apa yang dilakukan dan terjadi Deanda sekarang begitu mempengaruhi emosi, hati dan tindakan dari Alvero.
Alvero.... sepertinya kamu benar-benar tidak bisa lagi jauh dari Deanda. Ah... begitu melegakan bisa melihatmu menemukan kebahagiaan dan cintamu pada Deanda. Semoga kalian berdua tetap bahagia dan kuat. Jangan pernah membiarkan orang ketiga merusak hubungan kalian. Jangan pernah, atau kalian akan mengalami penyesalan seumur hidup seperti yang sudah aku alami. Penyesalan yagn tidak bisa lagi aku perbaiki karena Larena sudah menghilang dariku untuk selamanya.
Vincent berkata dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam, karena hubungan Alvero dan Deanda sudah mengingatkannya kembali pada sosok Larena. Dan setiap kali teringat akan Larena, ada rasa sakit di dada Vincent yang selalu menderanya, dan selalu saja membuatnya ingin menangis dan berteriak sekeras-kerasnya dengan menyebutkan nama Larena, wanita yang begitu dicintainya.
"Kamu boleh menghukum Alvero, tapi janganlah kemarahanmu kamu biarkan berlarut-larut. Jangan membiarkan amarahmu berubah menjadi sakit hati apalagi membuatmu berniat meninggalkannya. Jika Alvero membuatmu kecewa dan marah, paling tidak ingatlah aku. Sebagai orangtua yang membesarkannya, aku bersedia meminta maaf menggantikan Alvero untukmu." Mendengar perkataan Vincent, Deanda terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi karena rasa haru dan bahagia.
Karena pernikahannya dengan Alvero, Deanda bahkan bukan hanya saja mendapatkan suami yang begitu mencintainya, namun juga seorang ayah mertua yang seringkali bertindak seperti ayah kadungnya sendiri. Membuat hidupnya sekarang terasa begitu membahagiakan.
__ADS_1
"Ahhh... jangan berlebihan Pa. Kami berdua sudah berjanji, jika ada masalah diantara kami, kami tidak akan tidur sampai masalah itu diselesaikan. Karena kami berdua tidak bisa tidur jika tidak saling berpegangan tangan. Dan kami tidak mungkin bisa saling berpegangan tangan, jika diantara kami masih ada masalah. Benar kan sweety?" Lagi-lagi tanpa sadar dengan perkataanya, Alvero membuat wajah Deanda semakin memerah karena tanpa sengaja Alvero membuka rahasia pribadi mereka berdua sebagai suami istri di depan Vincent yang langsung tertawa geli
"Ha... ha... ha... Sudahlah Alvero, kamu ini anakku yang sejak kecil begitu cerdas dan hebat, tapi untuk urusan wanita kamu benar-benar payah dan polos. Cepat ajak istrimu keluar dan berjalan-jalan, kalau tidak ingin membuatnya semakin canggung. Untuk Deanda, anggap saja suamimu itu adalah laki-laki yang masih remaja, yang belum bisa membaca situasi dan pikiran wanita. Jangan terlalu diambil hati." Vincent berkata sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya, membuat tanda seperti orang mengusir dengan tawa geli masih menghias bibirnya.
"Deanda pamit dulu Pa. Selamat beristirahat." Dengan cepat Deanda mengucapkan salamnya dan buru-buru keluar dari kamar, diikuti oleh Alvero yang tampak mengernyitkan dahinya karena merasa heran, berusaha memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh papanya tentang wanita.
# # # # # # #
"Eh..."
Suara-suara gumaman pelan dan tidak jelas terdengar dari bibir Erich yang wajahnya terlihat begitu bingung dan tidak nyaman.
Beberapa waktu sebelumnya, Erich dengan cermat mendengarkan tentang detail rencana Alvero terhadap kekasih Melva, tapi dia tidak menyangka jika Alvero akan menyuruhnya mengenakan pakaian yang baginya terlihat dan terasa aneh di tubuhnya. Dan terus terang membuatnya merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Sebuah celana jeans dengan warna yang terlihat pudar di beberapa bagian, bahkan sobek di salah satu bagian lututnya. Ditambah kaos tanpa kerah berwarna tanah dan jaket kulit berwarna hitam. Erich tahu pasti bahwa pakaian yang dikenakannya itu merupakan pakaian baru, dilihat dari label yang masih terpasang saat Alvero menyerahkannya padanya. Namun, karena seumur hidup Erich terbiasa berpakaian rapi dan bersih juga licin, membuatnya merasa menjadi orang paling aneh dengan pakaian yang dia kenakan saat ini.
Melihat reaksi Erich yang walaupun tetap tidak menyatakan protes, hanya mengeluarkan gumaman-gumaman pelan dengan wajah datarnya, membuat Deanda hampir saja tidak bisa menahan tawa gelinya.
Wahhh.... Yang mulia benar-benar membuat Erich tampil benar-benar berbeda dari biasanya. Erich jadi berpenampilan seperti preman. Tapi preman tampan. Harus diakui, pakaian itu justru membuat Erich tampil seperti seorang bad boy tampan yang biasanya disukai oleh gadis-gadis muda jaman sekarang.
Deanda berkata dalam hati, dengan berusaha agar Erich tidak melihat dia sedang menatap Erich dengan wajah menahan tawa geli. Alvero sendiri sedang mengamati penampilan Erich dari atas kepala sampai ujung kaki sambil salah satu tangannya terlipat di depan perut, sedang tangannya yang lain menggenggam, di depan bibirnya.
Saat ini Alvero sedang berusaha menilai apa yang kurang dari penampilan Erich sebelum mereka berangkat melaksanakan misi mereka.
Sekilas, Erich melihat ke arah Deanda yang sengaja memakai kacamata hitam dan wig pendek berwarna pirang, untuk menyembunyikan rambut aslinya yang berwarna hitam gelap dan bergelombang sepanjang pinggang. Deanda sengaja berpenampilan berbeda dari biasanya, dengan riasan yang tampak tebal dan lipstik bewarna gelap, membuatnya tampil begitu berbeda dari sosok aslinya. Walaupun terlihat tetap cantik, tapi dengan penampilan barunya, Erich yakin tidak akan ada yang bisa mengenali Deanda sebagai permaisuri Gracetian karena penampilan anehnya.
(Sebuah potongan rambut bob adalah sebuah potongan rambut pendek hingga sedang, di mana rambut biasanya dipotong lurus di sekitar kepala dengan tinggi setara rahang, sering kali dengan sebuah pinggiran di depan. Model rambut wanita bergaya bob dengan potongan layer ini cocok untuk wajah bulat. Modelnya pas untuk kamu yang berkepribadian chic dan edgy. Potongan rambut ini mengesankan wanita modern yang aktif dan tidak takut untuk berpetualang).
__ADS_1
Sedang Alvero... tidak banyak merubah penampilannya, hanya tatanan dan warna rambutnya yang dicat dengan cat rambut non permanen, dengan warna sedikit merah, serta gaya berpakaiannya yang sedikit berubah, berusaha menjadi seperti orang kaya tapi bukan dari kalangan bangsawan. Tapi masker yang menutup setengah dari wajah Alvero, cukup membuat orang untuk tidak terlalu mengenalinya.