
"Alvero, bukankah sekarang kamu sudah tahu bahwa Alaya adalah adikmu? Kenapa kamu tidak memberinya keringanan pengajuan cuti dan membiarkannya tinggal lebih lama di sini bersama uncle Vincent?" Pertanyaan Enzo membuat Alvero langsung mencibirkan bibirnya ke arah Enzo.
"Kamu ini selalu tidak bisa membedakan mana yang perlu dilakukan dengan cepat dan mana yang perlu pemikiran panjang. Kalau tiba-tiba saja aku memberikan keistimewaan kepada Alaya sebagai pegawai baru, orang akan dengan mudah mencurigai hubungan kami. Orang akan mulai menyelidiki sebenarnya apa hubungan yang kami miliki. Kalau kita tidak mau salah bertindak sampai mama Larena datang dan mau kembali ke posisinya. Kita harus berhati-hati dalam bertindak. Apa kamu pikir di perusahaan Adalvino tidak ada mata-mata yang sedang memasang telinga dan mata mereka dengan tajam, terhadap apa saja yang aku lakukan bersama Deanda dengan orang-orang di sekitar kami?" Penjelasan Alvero membuat Enzo tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ah, memang dalam hal strategi dan bagaimana harus berpikir jauh ke depan, kamu adalah keturunan Adalvino yang paling jago.
Enzo berkata dalam hati sambil menarik nafas panjang.
"Alaya bisa mengambil hari dimana dia libur di akhir pekan untuk mengunjungi papa. Itupun harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan orang lain tentang siapa Alaya. Ada bagusnya, sementara waktu mungkin Alaya bisa datang kesini sebagai kenalan dari teman kuliahmu di luar negeri dulu Enzo. Tidak banyak orang tahu tentang pergaulan kita ketika kita kuliah di Italia dulu. Kita bisa memanfaatkan kondisi tersebut." Alvero berkata sambil memandang ke arah Alaya dan Enzo secara bergantian.
Alvero tahu dia harus mulai memikirkan bagaimana agar Alaya bisa sering bertemu dengan Vincent untuk membangun komunikasi dan hubungan mereka. Tapi Alvero juga harus memikirkan cara yang terbaik agar semuanya bisa dilakukan tanpa membuat Eliana curiga sehingga menghancurkan rencana yang sudah dia siapkan selama ini untuk menghadapi Eliana.
"Ah, ide bagus Alvero, aku setuju sekali. Ok, kita akan pakai alasan itu untuk membuat aku bisa mengajak Alaya ke villa keluargaku dan menemui uncle Vincent." Enzo berkata dengan mata berbinar begitu mendengar ide dari Alvero.
Enzo merupakan anak tunggal di keluarganya, membuat dia merasa begitu senang begitu mendengar Alaya adalah saudara sepupunya, seolah dia yang mendapatkan adik kandung. Apalagi, sepanjang menunggu makan malam tadi, Enzo sudah banyak berbincang dengan Alaya yang menurutnya adalah seorang gadis yang begitu menarik.
__ADS_1
Apa yang dibicarakan Enzo dengan Alaya, semuanya tampak mengalir dan membuat Enzo betah berlama-lama mengobrol dengan gadis itu, seperti selama ini dia akan menghabiskan banyak waktu begitu mulai mengobrol dengan Alvero.
"Sudah malam, lebih baik kita beristirahat sekarang, besok subuh kita harus kembali ke Tavisha. Aku juga tidak ingin istriku terlalu lelah, setelah banyaknya peristiwa yang terjadi hari ini. Selamat malam semua." Selesai berkata-kata, Alvero langsung berjalan ke arah kamarnya, diikuti oleh Deanda yang setelah melemparkan senyum kepada Enzo dan Alaya langsung berjalan di samping Alvero.
"Ok, ayo kita kembali ke kamar kita masing-masing. Selamat beristirahat Alaya." Enzo berkata sambil dengan sok akrab menepuk bahu Alaya yang langsung mengangguk dan tersenyum.
Tidak seperti yang aku takutkan selama ini. Aku berpikir kak Alvero akan butuh waktu lama untuk menerima keberadaanku sebagai adik kandungnya, bahkan aku sempat takut dia akan memperlakukanku sebagai orang asing untuk waktu yang lama. Ternyata kak Alvero begitu perduli padaku. Mungkin benar seperti kata Abella, kak Alvero banyak berubah setelah menikah dengan kak Deanda. Dan kak Enzo, sejak mengetahui statusku, dia bersikap begitu ramah dan baik padaku.
Alaya berkata dalam hati dengan sikap bersyukur, semuanya tidak seperti yang dia takutkan selama ini.
Enzo langsung menggerakkan tangannya, mempersilahkan Alaya untuk pergi ke kamarnya, untuk kemudian dia meninggalkan Alaya sambil bersiul dengan santai, berjalan ke arah kamarnya sendiri.
Sambil menghela nafasnya dan tersenyum, akhirnya Alaya berjalan ke arah kamar yang memang sudah disiapkan oleh para pelayan atas perintah Enzo.
# # # # # # #
__ADS_1
"Apa kamu tidak salah memberikan info seperti itu padaku? Kamu yakin dengan apa yang baru saja kamu katakan?" Eliana berkata sambil mengernyitkan dahinya.
Orang yang sudah memberikan info kepada Eliana langsung menganggukkan kepalanya dengan sikap percaya diri, untuk menunjukkan bahwa dia begitu yakin dengan apa yang baru saja dia katakan kepada Eliana.
"Ada lebih dari satu orang mata-mata kita yang melihat kejadian itu. Jadi, bisa dipastikan bahwa berita itu memang benar terjadi." Eliana langsung menyeringai dengan senyum liciknya tersungging di bibirnya begitu mendengar perkataan orang yang baru saja melaporkan padanya tentang sesuatu yang baginya sangat menguntungkan pihaknya, membuatnya tiba-tiba menemukan ide baru untuk menghancurkan Alvero.
"Kalau begitu... itu akan menjadi kesempatan bagi kita untuk membuat hubungan Alvero dan Deanda rusak karena kehadiran orang ketiga. Secepatnya aturkan waktu dan tempat yang terbaik agar aku bisa bertemu dengan gadis itu." Eliana berkata sambil memainkan ujung-ujung kukunya, sebuah kebiasaan lamanya jika hatinya sedang merasa senang.
"Baik Yang Mulia..." Dengan sikap hormat laki-laki itu langsung menjawab perintah Eliana.
"Ok, kalau begitu kamu bisa meninggalkan tempat ini, dan kembali ke perusahaan Adalvino secepat mungkin, untuk melaporkan pergerakan yang dilakukan oleh Alvero kepadaku secepatnya, terutama jika pergerakan itu mulai mencurigakan atau berbahaya untuk posisiku. Aku juga tidak mau ada orang-orang dari pihak Alvero melihatmu dan aku sedang berbincang seperti ini." Eliana segera meminta laki-laki yang baru menghadapnya itu pergi meninggalkan restauran milik adik dari Rolland, sopir pribadinya.
Begitu laki-laki yang menjadi kaki tangan Eliana keluar dari raungan VIP tempat Eliana biasa menghabiskan waktu makan siangnya bersama Rolland, Rolland yang awalnya berdiri di dekat pintu langsung berjalan mendekat ke arah Eliana dan duduk di sampingnya, dengan tangannya langsung memeluk pinggang Eliana dengan mesra.
"Sepertinya info tadi membuat suasana hatimu menjadi senang sekali." Rolland berkata sambil hidungnya sibuk menciumi ceruk leher Eliana yang terlihat sedikit menggeliat karena geli, tapi juga merasa begitu menyukainya.
__ADS_1
"Tentu saja. Itu seperti angin segar yang akan memberiku jalan untuk menjebak Alvero, sama seperti yang sudah aku lakukan kepada Vincent. Mereka benar-benar cocok menjadi ayah dan anak, sama-sama bodoh dalam hal perempuan, dan aku akan membuat mereka jatuh pada lubang yang sama." Eliana berkata sambil memalingkan wajahnya ke arah Rolland, dan dengan gerakan cepat dan bernafsu langsung menyambar bibir Rolland, membuat Rolland tersenyum licik. Sekaligus puas karena sudah berhasil memancing gairah Eliana.