
"A... aku bisa... melakukannya sendiri." Deanda berusaha merebut spons mandi yang sedang dipegang oleh Alvero, namun dengan gerakan gesit Alvero menggerakkan tangannya yang sedang memegang spon mandi itu ke atas sehingga Deanda tidak berhasil merebut benda itu dari tangan Alvero.
"No sweety, not for today. Hari ini aku yang akan melakukannya." Alvero berkata sambil mengedipkan sebelah matanya, rasanya dia selalu saja merasa belum puas memandang dan menikmati keindahan tubuh seksi istrinya, membuatnya ingin memanjakan istrinya selama ada kesempatan, termasuk membantu istrinya untuk menggosok tubuh indahnya saat ini.
"Tapi..." Deanda bukan hanya berkata dengan ragu, namun juga dengan wajah terlihat begitu malu. Bagaimana bisa dia membiarkan seorang raja Gracetian menggosok tubuhnya.
"Tidak ada tapi-tapian. Toh, kamu juga harus membantuku membersihkan tubuhku setelah ini. Aku tidak mau melakukannya sendiri. Ingat dengan baik sweety.... jangan ada satu sudutpun bagian dari tubuhku yang tidak kamu bersihkan hari ini." Mendengar perkataan Alvero, Deanda hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah, dan Alvero yang melihat itu langsung mengacak rambut Deanda sambil tertawa geli.
Setelah melakukannya hal seperti itu denganku lebih dari sekali, tetap saja kamu masih bersikap begitu canggung di depanku. Apa... seharusnya aku benar-benar tidak membiarkanmu turun dari tempat tidur hari ini supaya kamu semakin terbiasa dengan keberadaanku?
__ADS_1
Alvero berkata dalam hati sambil menggosok lembut punggung Deanda yang duduk di sampingnya di dalam bathtub, dengan spons mandi yang ada di tangannya dengan senyum bahagia tersungging di wajah tampannya. Rasanya hidupnya terasa begitu indah sejak kehadiran Deanda, apalagi menyadari bahwa saat ini Deanda sudah menjadi istrinya yang sah, dan juga sudah menjadi miliknya sepenuhnya.
Setelah beberapa saat menggosok punggung Deanda, Alvero melepaskan spons mandi dari tangannya dan mulai memijat lembut bahu Deanda. Deanda berusaha sedikit menghindar dengan menjauhkan tubuhnya dari Alvero karena merasa tidak nyaman melihat Alvero memijat lembut bahunya, lebih tepatnya merasa tidak pantas seorang raja Gracetian melakukan hal seperti itu kepadanya. Melihat reaksi Deanda, Alvero mendekatkan bibirnya ke telinga Deanda.
"Kenapa denganmu sweety? Saat ini aku adalah suamimu, laki-laki yang akan bertanggungjawab sepenuhnya kepadamu dalam keadaan suka maupun duka, susah atau senang, sulit atau mudah, sehat atau sakit. Dalam segala keadaanmu, aku akan selalu ada untukmu. Karena aku sudah bersumpah untuk semua itu. Saat ini... aku bukanlah seorang raja. Di hadapanmu saat ini, aku adalah suamimu, laki-laki yang bahkan bersedia menundukkan kepalaku di hadapanmu jika kamu memintanya dan itu bisa membuatmu bahagia. Aku bersedia melakukan apapun jika itu untukmu, wanitaku yang akan selalu berdiri di sampingku sebagai istri dan ibu bagi anak-anakku." Alvero berbisik lembut sambil tangannya kembali bergerak memijat lembut bahu Deanda yang kali ini memilih untuk diam, tidak lagi menghindar dari Alvero.
# # # # # # #
Sekilas Deanda melirik ke arah nakas di samping tempat tidur, dimana pakaian berkudanya sudah dia lipat rapi tadi bersebelahan dengan pakaian berkuda milik Alvero. Setelah itu Deanda memandang ke arah tubuhnya yang saat ini hanya terlilit sebuah handuk di tubuhnya.
__ADS_1
Melihat kondisinya saat ini, Deanda langsung menarik nafas dalam-dalam. Rasanya terasa tidak nyaman jika dia kembali mengenakan pakaian berkudanya padahal saat ini dia ingin bersantai menikmati keindahan danau dan sebelumnya berencana akan memasak makan siang untuk Alvero. Akhirnya dengan ragu-ragu Deanda mengambil salah satu kemeja lengan panjang milik Alvero berwarna biru laut dan mengenakannya.
Setelah mengenakan kemeja Alvero, Deanda berjalan ke arah cermin yang ada di dekat tempat tidur, sedikit memutar-mutar tubuhnya untuk melihat penampilannya. Tubuh Alvero yang jauh lebih tinggi darinya membuat kemeja Alvero cukup membuat seluruh bagian atas tubuhnya tertutup sempurna, namun di bagian bawah, hanya sebagian dari pahanya yang bisa tertutup, sehingga kaki jenjangnya yang indah dan berkulit putih mulus tetap terlihat dengan jelas.
Untuk beberapa saat Deanda merasa ragu untuk keluar dari kamar, menyusul Alvero yang sudah lebih awal darinya keluar dari kamar sambil menerima panggilan telepon dari Ernest. Tetapi suara dari perutnya yang kelaparan membuat Deanda akhirnya tetap memutuskan untuk keluar dari kamar, berjalan ke arah dapur, mencoba melihat apa yang kira-kira bisa dia masak untuk makan siangnya bersama Alvero.
Dengan sedikit mengendap-endap, Deanda berjalan menuju dapur, melewati sosok Alvero yang masih menerima panggilan telepon dengan posisi tubuh membelakanginya. Deanda menarik nafas lega ketika dilihatnya Alvero tidak sedikitpun menoleh ke arahnya karena begitu berkonsentrasi terhadap handphonenya. Kondisi pakaiannya yang tidak bisa menutupi tubuhnya secara sempurna membuat Deanda merasa tidak nyaman dan malu jika dilihat langsung oleh Alvero.
Ah, apa yang sedang aku pikirkan sekarang? Bukannya yang mulia sudah melihat seluruh bagian tubuhku bahkan tanpa sehelai benangpun. Tapi kenapa rasanya masih canggung sekali? Semoga yang mulia bisa mengerti aku belum terbiasa untuk hidup bersama pria asing walaupun dia adalah suamiku sendiri. Mungkin karena kami tidak pernah menjalani masa-masa berpacaran. Hah! Mau tidak mau aku harus belajar untuk mulai terbiasa, karena bagaimanapun yang mulia sudah menjadi suamiku yang sah sekarang. Dan mulai sekarang aku harus belajar untuk bisa menjadi istri yang terbaik bagi yang mulia.
__ADS_1
Deanda berkata dalam hati sambil tersenyum bahagia, sekilas diliriknya sosok Alvero yang tampak gagah dan tampan dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek sebatas lutut walaupun Deanda hanya melihat bagian belakang tubuh suaminya, tapi hal itu sudah membuat dadanya berdesir pelan, merasa begitu bahagia menyadari bahwa sejak beberapa hari yang lalu dia dan Alvero sudah menikah, yang artinya mulai sekarang dia memiliki seseorang untuk berbagi suka dan dukanya bersama sebagai keluarga, setelah sekian lama kedua orang tuanya tidak lagi bersamanya di dunia ini.
Saat sudah sampai di dapur, mata Deanda langsung terfokus pada kulkas besar yang ada di dekat meja dapur. Dengan gerakan sedikit ragu, Deanda membuka pintu kulkas bagian atas yang langsung membuat matanya terbeliak karena di sana terlihat kotak-kotak tersusun yang tersusun rapi dengan berbagai macam daging, ikan, seafood. Selanjutnya dengan cepat Deanda membuka pintu kulkas di bagian bawah, dan matanya lagi-lagi terbeliak dengan sukses melihat begitu lengkapnya sayur-mayur yang ada di dalam sana, seolah semuanya sengaja sudah dipersiapkan dengan baik, sedangkan setahunya kedatangannya bersama Alvero di rumah kayu ini awalnya tidak direncanakan sebelumnya.