
"Hari ini mama masih beristirahat di apartemenku. Sepertinya untuk sementara waktu ini mama masih ingin menikmati waktu sendirian. Datang kembali ke Gracetian bukanlah hal yang mudah baginya. Hampir semua sudut di kota Tavisha memiliki kenangan bagi mama Larena. Beberapa hari ini, aku akan berusaha untuk berbicara kepada mama. Semoga semuanya bisa berjalan dengan lancar." Mendengar perkataan Alaya, Alvero hanya bisa menahan nafasnya sebentar.
Mau tidak mau, Alvero harus mengakui, bahwa dia begitu merindukan sosok Larena. Apalagi setelah mendengar bagaimana menderitanya kehidupan Larena ketika baru saja meninggalkan Gracetian, membuat Alvero semakin ingin bisa secepatnya menemui mamanya itu, memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Kak Alvero merindukan mama?" Melihat tatapan mata kosong dari Alvero membuat Alaya langsung bertanya.
Dan tanpa menunggu jawaban dari Alvero, Alaya langsung menyodorkan handphone miliknya ke arah Alvero, dimana di sana terlihat foto-foto cantik dari Larena yang dlam berbagai pose dalam berbagai kegiatan. Yang sebagian besar ada Alaya di sampingnya.
"Cantik... mama masih terlihat begitu cantik.... Bahkan terlihat jauh lebih muda dari usia yang sebenarnya." Alvero berkata sambil tangannya menggeser-geser layar handphone Alaya untuk melihat ratusan foto-foto Larena, dengan sesekali menyungingkan senyum di wajahnya.
Dan kecantikan mama benar-benar tergambar jelas dalam wajah kakak yang terlihat begitu tampan dan terpahat dengan sempurna sebagai seorang pria, begitu sempurna seperti sebuah patung dewa yunani. Seolah kakak adalah saudara kembar dari mama, wajah kakak adalah cerminan dari wajah mama Larena yang begitu cantik bagai seorang dewi.
Alaya berkata dalam hati sambil memandang Alvero yang matanya terus fokus menatap ke arah layar handphone Alaya.
Dan dari bagaimana cara Alvero menatap foto-foto itu menunjukkan hati Alvero saat ini sedang berkecamuk di dalam sana. Alaya sendiri hanya bisa memandang haru ke arah Alvero yang tidak bisa menyembunyikan tatapan rindunya saat melihat foto-foto Larena.
“Jangan khawatir Kak. Secepatnya, aku akan membujuk mama agar mau bertemu dengan kalian secara langsung, terutama bertemu papa. Bersatu kembali keluarga yang utuh adalah impian terbesarku sejak aku mengetahui bahwa di dunia ini ternyata aku masih memiliki seorang papa dan kakak laki-laki yang begitu hebat.” Alaya berkata sambil salah satu tangannya bergerak, mengelus lengan bawah tangan Alvero.
__ADS_1
Alvero langsung menanggapi perkataan Alaya dengan sebuah senyuman. Rasanya, Alvero sendiri merasa begitu tidak sabar untuk menantikan saat itu tiba, Bersatu kembali bersama papa, mama, dan juga adiknya. Dan Alvero yakin, kebahagiaannya begitu sempurna, karena adanya satu orang lagi yang sudah tidak bisa dipisahkan dari kehidupannya, Deanda Federer, istri tercintanya.
# # # # # # #
"Bagus, bagus sekali...." Eliana langsung tertawa nyaring dengan hati merasa puas sekaligus begitu bahagia, begitu melihat foto-foto yang dikirimkan oleh mata-matanya melalui emailnya.
Di layar komputer itu tampak foto-foto Alvero yang sedang melakukan pertemuan pribadi dengan Alaya. Dan dalam pandangan seorang Eliana, pertemuan itu dilakukan di tempat-tempat yang privasinya benar-benar terjaga, membuat Eliana semakin yakin bahwa Alvero memang sedang berselingkuh dengan Alaya.
Baik saat makan malam di restoran, ataupun berduaan di sebuah tempat wisata, walaupun jika di tempat keramaian, mereka berdua melakukan penyamaran dengan memakai masker, tapi dari foto-foto itu jelas menunjukkan kedekatan antara Alvero dan Alaya.
Dengan foto-foto yang menunjukkan bagaimana mereka berdua pergi dengan mobil yang sama saat belum memakai masker, Eliana yakin itu bisa membuktikan bahwa mereka berdua memang sedang diam-diam menjalin hubungan asmara yang dirahasiakan.
Belum ada dua minggu berlalu dari waktu yang sudah aku tetapkan, dan gadis itu sudah menunjukkan perkembangan yang begitu luar biasa terhadap tugasnya menjadi wanita simpanan dari Alvero. Benar-benar kerja yang bagus. Gadis itu lumayan juga ternyata.
Eliana berkata dalam hati dengan tangannya terus bergerak menggeser-geser mouse komputer untuk melihat foto-foto hasil jepretan mata-matanya yang diambil s ecara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Alvero dan Alaya.
"Ma, kenapa terlihat begitu senang hari ini?" Dion yang baru saja datang ke ruang kerja Eliana di istana langsung berjalan mendekat ke arah Eliana, yang membuatnya merasa begitu penasaran karena mendengar tawa senang dari mamanya, bahkan saat dia baru saja membuka pintu ruangan itu, dimana sebenarnya letaknya cukup jauh dari posisi Eliana berada.
__ADS_1
"Kemarilah sebentar. Aku akan tunjukkan sesuatu yang menarik untukmu." Eliana berkata sambil menggerakkan tangannya ke arah Dion agar cepat mendekat ke arahnya dan melihat layar komputernya.
Begitu Dion melihat foto-foto itu, kening Dion langsung mengernyit.
"Apa-apaan itu? Bahkan pernikahan mereka masih seumur jagung, dan kak Alvero sudah berselingkuh dengan perempuan lain? Cih... yang benar saja!" Dion berkata dengan nada terdengar tidak suka.
Jika hal seperti itu dilihatnya beberapa bulan yang lalu, ketika dia belum mengenal Deanda, bagi Dion adalah suatu hal yang umum berganti pasangan seperti berganti pakaian. Tapi, sejak dia terobsesi dengan sosok Deanda, Dion sadar bahwa hanya ada satu wanita yang sudah membuatnya begitu tergila-gila.
Membuat Dion mengerti bagaimana rasanya menyukai seorang wanita tanpa ada yang bisa menggantikannya. Bahkan tanpa sadar, keinginan Dion untuk melindungi Deanda tiba-tiba saja meluap dalam dadanya.
Dion sadar bahwa dalam hatinya, walaupun dengan foto-foto itu bisa membuat Deanda lepas dari Alvero, memberikan kesempatan lebih baginya untuk merebut Deanda.... Tapi membayangkan sakit hati dari Deanda jika dikhianati seperti itu cukup membuat darah dalam diri Dion bergejolak.
Entah pikiran aneh atau gila bagi orang lain, tapi bagi Dion, sosok Deanda yang sudah membuatnya tidak lagi bisa berpikir waras, membuatnya seolah ikut memiliki Deanda, dan tidak terima jika ada orang lain yang membuat Deanda sedih atau tersakiti.
"Sepertinya kak Alvero perlu diberi pelajaran agar tidak seenaknya sendiri!" Dion baru saja hendak melangkah meninggalkan ruangan itu ketika tangan Eliana langsung mencekalnya.
"Hei! Apa yang akan kamu lakukan Dion? Mau kemana kamu?" Eliana berkata dengan nada tinggi ke arah Dion yang langsung membalikkan tubuhnya kembali, menghadap ke arah Eliana.
__ADS_1
"Menemui kak Alvero! Menanyakan apa maksud dari semuanya itu! Berani-beraninya di melakukan hal seperti itu di belakang Deanda!" Eliana langsung bangkit dari duduknya melihat bagaimana perkataan Dion yang terlihat begitu emosi saat ini.
"Dion! Sadarlah! Kita harus menghancurkan hubungan mereka berdua kalau kamu ingin mendapatkan posisi raja Gracetian selanjutnya! Belum berapa lama menikah sudah berselingkuh, pasti akan membuat simpati rakyat terhadap Alvero hilang. Itu adalah kesempatan bagus bagi kita untuk bergerak. Hukum di negara ini membuat rakyat selalu berpikiran kolot, menolak keras perselingkuhan. Hal itu juga yang membuat saat itu mama harus berusaha keras menjadi seorang permaisuri sesuai keinginan rakyat, agar kesan rakyat terhadap sosok Larena memudar." Mendengar perkataan Eliana, Dion langsung melepaskan cekalan tangan Eliana di tangannya dengan kasar, lalu berjalan mendekat ke arah Eliana.