BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
TETAPLAH ADA UNTUKKU


__ADS_3

"My Al.... apa yang terjadi padamu? Kenapa alergimu tiba-tiba saja kambuh?" Deanda berbisik lirih dengan bibirnya mengecup lembut puncak kepala Alvero yang sudah mulai pulih dari sesak nafas yang dideritanya, namun otot-otot pada seluruh tubuhnya masih terasa begitu lemas.


"Ah...." Alvero melenguh pelan sebelum menjawab pertanyaan Deanda, sambil sedikit menjauhkan dirinya dari pelukan Deanda dan berusaha merapikan posisi duduknya.


"Jangan memaksakan dirimu jika belum merasa kuat." Deanda berkata sambil tangan kirinya mengelus lengan atas Alvero, sedang tangan kanannya mengelus lembut wajah Alvero yang masih menunjukkan adanya ruam-ruam merah di kulit wajahnya akibat reaksi alerginya.


Dengan gerakan pelan Alvero menggerakkan tangan kanannya ke atas, lalu memegang erat tangan kanan Deanda yang sedang mengelus kulit wajahnya.


"Terimakasih sudah hadir di dalam hidupku sweety. Sejak kehadiranmu, aku tidak pernah lagi merasakan sebuah penyesalan dalam hidupku walaupun harus memiliki kelainan seperti ini. Sekarang bagiku, hal seperti ini justru membuatku sadar bahwa karena kondisiku, aku rasa Tuhan kasihan melihatku. Sehingga Tuhan berbaik hati kepadaku dengan mengirimkan untukku seorang malaikat cantik dan baik hati sepertimu, untuk menolongku. Asal kamu selalu berada di dekatku, di sampingku… Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Aku mohon... apapun yang terjadi di depannya, jangan pernah meninggalkan aku atau hidupku akan hancur." Deanda langsung menahan nafasnya mendengar Alvero mengatakan hal yang baginya terdengar begitu menyedihkan barusan.


Bagaimana Deanda tidak merasa terharu sekaligus sedih. Di hadapannya saat ini, seorang raja Gracetian yang dikenal hebat, dengan kondisinya yang lemah sedang memohon kepadanya, membuatnya merasa bahwa dia adalah hal paling berharga yang dimiliki oleh Alvero saat ini.


"Jangan pernah memikirkan tentang hal itu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu my Al. Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada untukmu, seperti kamu juga selalu ada untukku." Deanda berkata sambil hidungnya sibuk menciumi punggung tangan Alvero yang digenggamnya dengan erat dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Sesekali Deanda menggerak-gerakkan punggung tangan Alvero ke pipinya, diantara ciuman yang dia lakukan pada punggung telapak tangan Alvero, menunjukkan betapa dia begitu mencintai dan perduli dengan laki-laki itu. Kali ini butiran bening langsung mengalir di pipi Deanda tanpa bisa dia cegah lagi.


Begitu melihat apa yang dilakukan oleh Deanda, dengan tangannya yang lain Alvero langsung mengelus lembut rambut Deanda, setelah itu dengan ujung-ujung jarinya, Alvero berusaha menghapus butiran bening yang membasahi pipi istrinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu my Al? Kenapa tiba-tiba saja alergimu muncul?" Deanda kembali bertanya dengan kedua tangannya masih menggenggam erat tangan kanan Alvero dan membawa tangan Alvero itu ke dadanya, mendekapnya dengan erat di sana.


Sesekali jari-jari tangan Deanda yang sedang mengenggenggam tangan Alvero tampak mengelus-elus lembut punggung tangan Alvero dengan penuh kasih sayang.


"Ketika kamu pergi, Desya datang padaku. Awalnya dia menyampaikan permintaan maafnya, tapi setelah itu tiba-tiba saja dia kembali mengungkapkan perasaan cintanya padaku. Begitu aku menolaknya dan bermaksud untuk pergi, tiba-tiba saja dia memegang tanganku yang kebetulan tidak memakai sarung tangan hari ini." Alvero berkata sambil menarik nafas panjang, dengan perasaan lega karena sesak nafas yang baru saja dialaminya sudah benar-benar menghilang karena kehadiran Deanda di dekatnya.


Melihat apa yang dilakukan istrinya kepada tangannya, Alvero tersenyum dengan tatapan matanya yang penuh cinta memandang ke arah Deanda, berusaha menghapuskan ingatannya tentang bagaimana jijiknya dia saat memandang ke arah Desya ketika gadis itu tadi meraih dan memegang erat tangannya.


Sama seperti Alvero saat memandang jijik ke arah para gadis atau wanita lain. Hal yang sama juga dirasakan oleh Alvero saat Desya berusaha menahan kepergiannya tadi dengan memegang tangannya. Dan rasa jijik akibat sentuhan dari Desya, sampai detik ini masih membuat Alvero sedikit bergidik dan memejamkan matanya sebentar, berusaha menghapus ingatan tadi.

__ADS_1


Tidak banyak, bahkan sangat sedikit wanita yang bisa membuat Alvero tidak merasa jijik. Wanita itu adalah nyonya Rose dan istri tercintanya, Deanda. Dan... satu gadis lagi... Alaya. Mengingat itu Alvero menahan nafasnya sebentar.


Entah apa yang membuat dirinya tidak alergi terhadap Alaya seperti kepada nyonya Rose dan Deanda, diapun merasa begitu penasaran... Namun, ada satu hal yang Alvero tahu karena kejadian hari ini, Alaya tidak seperti Deanda. Alvero sadar sentuhan Alaya dan nyonya Rose memang tidak menimbulkan alergi pada tubuhnya, akan tetapi hanya Deanda yang sentuhannya tidak menimbulkan alergi kepadanya dan sekaligus... bisa menyembuhkan alerginya seketika itu juga dengan sentuhannya.


Sampai sekarang pun sebenarnya Alvero juga merasa penasaran, bagaimana bisa Deanda bisa menyembuhkan alerginya dengan sentuhannya. Dengan jelas Alvero ingat tentang nasehat dari dokter yang pernah merawatnya dulu sebelum mengkhianatinya karena Dion. Dokter itu mengatakan bahwa alergi yang dialaminya disebabkan oleh trauma yang begitu mendalam terhadap sosok wanita. Dan saat itu dokter yang merawatnya memberikan ide agar dia segera menemukan wanita yang tidak membuatnya jijik dan merasa nyaman, sehingga saat bersentuhan dengan wanita itu alerginya tidak akan muncul.


Nasehat dokter itu juga yang membuat Alvero bergitu sering berganti-ganti pasangan sebelum akhirnya bertemu dengan Deanda. Butuh waktu yang cukup lama untuk Alvero berusaha agar bisa menemukan wanita seperti yang dikatakan oleh dokter itu. Bahkan karena tindakannya itu, rumor tentang dia seorang playboy menjadi bahan perbincangan hangat penduduk Gracetian selama beberapa waktu hingga akhirnya dia menikah dengan Deanda, membuat rumor itu perlahan namun pasti terhapus dengan sendirinya.


Istri tercintaku... aku sungguh beruntung akhirnya bisa nememukanmu setelah mencarimu diantara begitu banyak wanita yang keberadaan mereka tetap saja membuatku merasa jijik. Kamu adalah satu-satunya wanita yang membuatku selalu merindukan sentuhan dan keberadaanmu di dekatku. Wanita milikku yang sangat aku cintai.


Alvero berkata dalam hati sambil menatap dalam-dalam wajah Deanda. Setiap berada dekat dengan Deanda, Alvero selalu bisa merasakan hatinya tenang dan sangat nyaman, bahkan bisa melupakan banyak kenangan buruk yang seringkali memenuhi dan mengganggu pikirannya.


Menyadari hal itu, tatapan mata hazel Alvero yang sedang mengamati sosok istrinya semakin melembut dan menunjukkan bagaimana Alvero merasa semakin jatuh cinta lagi dan lagi... dan semakin dalam kepada Deanda. Untuk beberapa saat Alvero memilih untuk diam, dengan matanya memandang tanpa berkedip ke arah Deanda yang terus mengamati kondisinya sambil sesekali mengelus-elus permukaan kulit Alvero, baik pada bagian wajah, tangan, leher, maupun telinganya. Memastikan bahwa tanpa obat penawar kondisi Alvero apakah benar sudah semakin membaik atau tidak, dan apakah ruam-ruam merah pada kulit Alvero sudah mulai menghilang.

__ADS_1


Pehatian, kasih sayang, rasa khawatir yang ditunjukkan oleh Deanda kepadanya sukses membuat dada Alvero penuh dengan perasaan yang bercampur aduk. Antara bahagia, bangga, terharu, senang, semuanya bercampur menjadi satu. Dan hal itu tanpa sadar membuat dada Alvero bergetar, dan dengan perlahan Alvero mendekatkan wajahnya ke arah wajah Deanda yang kebetulan sedang memandang ke arahnya setelah memastikan kondisi Alvero semakin membaik.


__ADS_2