
"Sepertinya kamu benar-benar menyukai pantai ini." Alvero berkata sambil mengelus-elus bagian samping kepala Deanda dengan tangannya yang berada di depan dada Deanda.
"Papa Alexis sering mengajakku berlatih beladiri di tepi pantai. Pantai manapun itu. Tapi pantai di Renhill ini cukup unik, memiliki banyak tempat yang bisa dijadikan untuk berlatih. Selain itu juga, waktu kecil, aku sering bermain petak umpet di pantai ini karena banyak tempat rahasia di pantai ini yang bisa dijadikan tempat persembunyian." Deanda berkata sambil mengenang masa-masa kecilnya yang indah bersama Alexis di pantai ini.
"Kamu lihat di bagian itu my Al! Di balik tebing yang terlihat dari sini, ada hutan bakau, dan tidak jauh dari sana dulunya ada sebuah rumah kayu yang kadang digunakan sebagai tempat para nelayan beristirahat setelah melaut, sebelum mereka pulang dengan membawa hasil melaut mereka. Tapi sepertinya rumah kayu itu sudah tidak adalagi sekarang." Alvero mengernyitkan dahinya dengan wajah bertanya-tanya karena tidak menyangka ternyata Deanda begitu mengenal dan familiar sekali dengan pantai Renhill ini.
"Sweety... Apa kamu pernah mengunjungi pantai ini?" Alvero kembali mengulang pertanyaannya, yang tadi tidak didengar oleh Deanda, sehingga Deanda tidak menjawabnya.
"My Al. Sejak kecil papa Alexis sering sekali mengajakku bermain dan berlatih di pantai ini. Karena sebenarnya ada saudaraku yang seorang pelayan tinggal di sini. Lebih tepatnya saudara sepupuku. Sejak papa Alexis meninggal, mereka yang lebih sering mengunjungiku daripada aku yang ke sini. Karena nyonya Lilian tidak pernah mengijinkanku untuk berpergian setelah papa meninggal. Selain itu, waktuku sudah habis untuk bekerja mencari uang, jadi tidak lagi ada kesempatan dan waktu untukku pergi mengunjungi tempat-tempat seperti ini." Deanda berkata sambil tersenyum dengan mata menatap lurus ke arah laut, dengan wajah terlihat begitu menikmati pemandangan yang terpapar di depannya.
Mendengar perkataan Deanda, Alvero menggerakkan tangannya yang tadinya mengelus bagian samping kepala Deanda, ke arah tangan Deanda yang ada di pangkuan wanita itu dan menggenggamnya dengan erat.
Kamu benar-benar sosok yang begitu mengagumkan. Bahkan membicarakan bagaimana buruknya perilaku ibu tirimu, dan bagaimana kerasnya kehidupan yang harus kamu jalani, tidak ada tatapan sedih, apalagi dendam di wajah dan matamu. Bagaimana kamu menghadapi kehidupan yang dulunya begitu tidak adil padamu dengan tetap bersemangat dan bahagia? Untuk hal itu, aku harus belajar banyak darimu.
__ADS_1
Alvero berkata dalam hati sambil mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Deanda, sambil mengamati wajah Deanda yang tampak banyak tersenyum sore ini sambil matanya menatap ke arah laut lepas di depannya.
"Sweety..." Mendengar Alvero memanggilnya, Deanda langsung menjauhkan kepalanya dari bahu Alvero, lalu mendongakkan kepalanya dan menoleh ke arah Alvero. Dan dengan cepat bibir Alvero langsung menyambar bibir Deanda, menciumnya dengan lembut dan penuh perasaan.
Rasanya Alvero tidak pernah merasa bosan dengan rasa manis, lembut, menggairahkan dan menggetarkan hatinya saat bibirnya bersentuhan dengan bibir sensual milik Deanda.
"Terimakasih sudah mengajarkanku banyak hal sweety." Alvero berbisik pelan setelah puas mencium bibir Deanda yang membalas perkataan Alvero dengan sebuah senyuman kecil.
"Apa maksudmu? Bukankah dengan menjadi istrimu, justru aku yang mendapatkan kesempatan untuk belajar banyak hal?" Deanda berkata sambil kembali menyandarkan kepalanya ke bahu Alvero.
"Eh, sepertinya tadi kamu mau menceritakan sesuatu kepadaku setelah sampai di tempat ini?" Seolah diingatkan kembali pada sebuah janji penting, Deanda menggerakkan kepalanya kembali, menjauh dari bahu Alvero, lalu memandang ke arah Alvero dengan wajah penasaran, menunggu apa yang ingin diceritakan oleh Alvero kepadanya.
Dan kenapa Alvero bersikeras bahwa dia akan menceritakan hal itu setelah mereka sampai di tempat ini. Seolah ada sebuah rahasia besar antara Alvero dan tempat ini yang belum diketahui oleh Deanda.
__ADS_1
"Sweety, kalau ada seseorang yang pernah menyelamatkan hidupmu, jika ada kesempatan kalian bertemu lagi. Apa yang akan kamu berikan kepadanya sebagai ucapan terimakasihmu?" Mendengar pertanyaan Alvero, Deanda langsung mengernyitkan dahinya.
"Hmmm... apa ya?" Deanda bergumam pelan.
"Kalau di cerita-cerita dongeng yang pernah aku baca, kalau penyelamatku perempuan akan aku jadikan saudara, kalau laki-laki akan aku jadikan suami. Bagaimana?" Deanda berkata sambil tertawa geli, sengaja mengucapkan itu untuk menggoda Alvero.
"Sembarangan saja kata-katamu! Aku tidak mau menikah dengan wanita lain selain kamu!" Alvero berkata sambil menjitak kepala Deanda yang tawa gelinya semakin keras terdengar, begitu melihat reaksi Alvero atas jawabannya.
"Lalu apa dong? Kalau begitu kamu tanyakan saja padanya. Apa yang dia inginkan atau butuhkan, asal jangan keinginan untuk merebut suamiku jika dia wanita, kita bisa mempertimbangkannya. Karena aku tidak akan membiarkan wanita lain merebutmu dariku." Deanda berkata sambil jari-jari lentiknya bergerak ke arah leher Alvero dan mengelus lembut leher Alvero, yang mau tidak mau harus menahan nafasnya karena sentuhan kecil dari Deanda itu sudah cukup membuat tubuhnya bereaksi dengan cepat.
"Eh, my Al. Jika melihat pantai ini, apalagi kamu bercerita tentang menyelamatkan seseorang. Aku jadi ingat, bertahun-tahun yang lalu, aku pernah lho menyelamatkan seorang anak laki-laki yang sepertinya diculik dan mau dibunuh di pantai ini. Usianya lebih tua dari aku. Mungkin dia lebih tua 3-5 tahun dariku, dia lebih pantas menjadi kakak laki-lakiku." Deanda berkata dengan nada santai, sedang Alvero matanya langsung terbeliak, membulat sempurna mendengar cerita dari Deanda.
"Ah, aku harap anak laki-laki itu akhirnya bisa selamat dan sekarang bisa hidup dengan baik. Semoga dia tidak mengalami hal buruk seperti itu lagi dalam hidupnya. Kasihan sekali kakak laki-laki itu." Deanda kembali melanjutkan kata-katanya tanpa menyadari Alvero yang karena tersentak kaget, diam seribu bahasa karena lidahnya tiba-tiba saja teras kelu, dengan mata melotot memandang ke arah Deanda yang bercerita sambil matanya memandang ke arah laut, seolah dirinya kembali ke peristiwa 15 tahun yang lalu, dimana dia yang tanpa sengaja sedang bermain petak umpet menemukan seorang anak laki-laki sedang disekap oleh sekelompok penjahat.
__ADS_1
"Anak laki-laki itu… kondisinya sungguh menyedihkan. Saat aku menemukannya benar-benar dalam kondisi yang buruk. Dengan wajah penuh lumpur, dan baju yang terlihat begitu kotor, juga terlihat lusuh, dengan tubuh kedinginan. Padahal sepertinya pakaian yang dia kenakan saat itu adalah pakaian mahal. Tangannya waktu itu juga terasa sangat dingin saat aku memegangnya dan mengajaknya berlari untuk mencari bantuan. Apa kamu tahu my Al... kalau saja anak laki-laki itu berpenampilan rapi dan bersih, pasti dia seorang anak laki-laki yang tampan dan menggemaskan. Ah, aku harap, aku bisa memiliki anak laki-laki seperti dia suatu hari nanti." Deanda berkata dengan tatapan matanya yang terlihat berbinar, seolah sosok anak laki-laki yang ditolongnya saat itu sungguh berkesan di hatinya, dan terpatri dengan begitu jelas di ingatannya.