BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
ERICH DALAM DIAM


__ADS_3

Haist... Erich... ternyata kamu ini ya.... pintar sekali selama ini kamu menyembunyikannya dariku. Aku sudah berusaha berpikir sedemikian keras untuk membuatmu sedikit menaruh perhatian kepada Cleosa demi permaisuriku. Ternyata diam-diam kamu sudah memperhatikan gadis itu lebih dari yang aku kira.


Alvero berkata dalam hati sambil melirik ke arah Deanda yang berusaha menyembunyikan senyum senangnya melihat bagaimana Erich yang berusaha menolong Cleosa dengan sigap.


Dengan pelan, Alvero menarik nafas dalam-dalam sambil tersenyum untuk kemudian meraih gelas berisi minumannya dan meneguknya dengan perlahan.


Selama Erich mengikutinya sebagai pengawal pribadinya, Alvero tahu dengn pasti bahwa Erich tidak pernah mau ambil perduli dengan orang lain di sekitarnya, kecuali atas perintah Alvero tentunya. Apapun yang terjadi pada orang itu, entah orang itu membutuhkan pertolongan, dalam bahaya ataupun hampir mati. Di dunia ini hanya 2 orang yang bisa membuat Erich menggerakkan tubuhnya dengan begitu cepat dan sigap, Alvero dan Ernest.


Ah, ada satu lagi orang yang sekarang harus dijaga dengan baik oleh Erich, permaisuri Deanda. Diluar ketiga orang itu, Erich tidak akan pernah mau perduli. Namun, melihat bagaimana dengan sigapnya tangan Erich bergerak menopang tubuh Cleosa barusan, Alvero langsung tersadar, bahwa laki-laki berwajah dingin itu ternyata diam-diam sudah memperhatikan sosok Cleosa.


Entah dimulai sejak kapan, yang pasti Alvero yakin, tanpa acara makan siang hari ini, sebenarnya sosok Cleosa sudah menarik perhatian Erich, tanpa diketahui oleh yang lain, bahkan mungkin oleh Cleosa sendiri.


"Ma... af... Tuan Erich… terimakasih." Tanpa menjawab perkataan Cleosa, Erich yang melepaskan tangannya dari tubuh Cleosa secepat tadi saat menangkapnya, hanya menganggukkan kepalanya sekali dengan gerakan tegas untuk menanggapi ucapan terimakasih dari Cleosa yang wajahnya terlihat sedikit memerah karena apa yang baru saja dilakukan Erich kepadanya.


Bahkan rasa hangat dan kokoh dari lengan Erich yang menopang tubuhnya, masih begitu dirasakan oleh Cleosa.


"Maaf, saya permisi dulu sebentar." Dengan langkah canggung dan bergegas, untuk menutupi kegugupannya, Cleosa segera pergi ke kamar mandi, sambil tangan kanannya memegang erat dadanya yang masih saja berdebar keras, meskipun tangan Erich tidak lagi berada di pinggangnya.


"Ah, untung saja ada kamu Erich. Terimakasih sudah bersikap sigap dan waspada, telah menolong Cleosa." Dengan sengaja Deanda mengucapkan kembali perkataan terimakasih kepada Erich yang harus kembali menganggukkan kepalanya untuk menjawab kata-kata Deanda.

__ADS_1


Karena kejadian barusan, membuat yang lain ikut menghentikan makan dan minumnya. Mata mereka terpaku melihat apa yang baru saja terjadi, terutama Abella. Kalau tidak ingat di depannya ada Alvero sebagai raja Gracetian, juga tidak mengingat sosok Erich yang begitu dingin dan jarang tersenyum, Abella hampir saja mengeluarkan kata-katanya untuk menggoda Erich.


Namun, begitu teringat akan kondisi yang ada di depannya, Abella segera menahan bibirnya agar tidak mengeluarkan kata-kata. Pada akhirnya Abella hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menahan tawa geli bercampur senangnya.


"Erich, segera selesaikan makan siangmu, setelah ini ada yang harus kita kerjakan di kantor." Alvero berkata sambil memandang ke arah Erich yang tanpa mengeluarkan kata-kata, langsung menambah kecepatan makannya begitu mendengar perintah dari Alvero barusan.


Deanda dan yang lain tampak terlihat sedikit kaget mendengar perintah barusan dari Alvero yang artinya, sebentar lagi Alvero dan Erich, mungkin juga Deanda pasti akan segera meninggalkan acara makan siang mereka, padahal belum ada 20 menit mereka menghabiskan waktu bersama.


Rasanya Deanda ingin sekali berbisik ke arah Alvero untuk menanyakan apa yang sudah terjadi, kenapa tiba-tiba, Alvero buru-buru untuk menghentikan acara makan siang mereka hari ini. Tapi untuk menunjukkan bahwa posisi Alvero bukanlah seseorang yang bisa ditentang di Gracetian ini, Deanda hanya bisa tetap duduk diam dan ikut menambah kecepatan makannya.


Lebih baik aku menanyakannya setelah kami keluar dari café ini. Sehingga tidak menimbulkan keributan atau salah paham terhadap teman-teman yang lain. Mungkin aku bsia menanyakannya saat kami sudah tiba di kantor.


"Baik, aku rasa aku harus segera kembali ke kantor karena banyak pekerjaan yang masih tertunda." Mendengar perkataan Alvero, Erich segera bangkit dari duduknya, sedang Deanda yang berencana untuk ikut bangkit berdiri, tubuhnya tertahan oleh tangan Alvero yang menekan bahunya, seolah sedang memberikan perintah secara tidak langsung agar Deanda tetap duduk di posisinya.


Apa yang dilakukan oleh Alvero, membuat Deanda langsung mendongakkan kepalanya dan memandang ke arah Alvero dengan wajah penuh dengan tanda tanya.


Dengan cepat, Alvero membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan bibirnya ke arah telinga Deanda.


"Kamu bisa bersenang-senang sebentar bersama teman-temanmu. Tapi, aku minta tolong kepadamu tentang suatu hal. Ambil kesempatan untuk mendekati Alaya, selidiki dengan jelas, bentuk detail liontin yang sedang dikenakannya saat ini, dan tanyakan darimana dia mendapatkan liontin itu." Mendengar bisikan dari Alvero, Deanda langsung menolehkan kepalanya, membuat hampir saja bibir Deanda bertabrakan dengan bibir Alvero, yang walaupun tahu itu akan terjadi tapi sengan sengaja tetap diam tanpa berusaha menghindar, membuat yang lain yang ada di meja itu tersenyum, melihat bagaimana kedua pasangan itu tampak begitu mesra.

__ADS_1


Dan tentu saja, semua orang tersenyum kecuali Erich dengan wajah datarnya yang terlihat tanpa ekspresi dan juga Cleosa yang masih berada di kamar mandi.


"Kenapa sweety? Bukankah lebih baik kamu yang menyelidikinya daripada aku? Aku tidak mau membuat istriku cemburu dan berakhir dengan hukuman tidur diluar kamar dan kehilangan jatah rutinku. Jika itu terjadi, aku pasti akan sangat menderita." Alvero kembali berbisik pelan, dan langsung menegakkan tubuhnya kembali, menyisakan semburat warna merah di wajah Deanda akibat kata-kata Alvero barusan.


"Ok semua, aku akan pergi lebih dahulu dengan Erich. Silahkan menikmati dan melanjutkan makan siang kalian hari ini. Aku menitipkan permaisuri kepada kalian, jaga dengan baik selama kalian bersama." Alvero berkata sambil mata dan gerakan kepalanya memberikan kode kepada Erich untuk mengikutinya meninggalkan meja cafe itu.


"Baik Yang Mulia." Semua yang ada di meja itu segera bangkit dari duduknya, sedikit membungkukkan tubuhnya sambil membalas perkataan Alvero, kecuali Deanda yang tetap duduk di posisinya semula.


Deanda hanya tersenyum melihat Alvero yang melambaikan tangan ke arahnya sebelum benar-benar meninggalkan café perusahaan Adalvino.


Sekilas Deanda melirik ke arah Alaya, dimana karena dia sedikit membungkuk, liontin yang terpasang di kalungnya tergantung dan keluar dari pakaian yang dikenakannya, yang awalnya menutupi liontin yang dikenakannya itu.


Apa yang dimaksud oleh yang mulia adalah liontin itu? Kenapa yang mulia begitu penasaran dengan liontin yang dikenakan oleh gadis itu? Apa yang mulia merasa mengenal seseorang yang pernah memiliki liontin yang mirip dengan itu?


Deanda berkata dalam hati sambil mulai menebak-nebak apa yang membuat Alvero begitu ingin tahu tentang liontin itu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2