
Alaya yang duduk di samping Alexis, bisa melihat kegelisahan dan kecemasan Alexis yang terlihat begitu jelas. Tapi yang bisa dia lakukan sekarang hanya diam sambil menunggu. Karena Alaya tahu, kejadian hari ini bukan saja tidak mudah bagi Deanda, tapi juga bagi Alexis.
Termasuk bagi Alaya sendiri, menunggu sosok Alvero keluar dari kamar dan yang pasti akan melakukan interogasi padanya dan Alexis, bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng.
Beberapa kali Alaya harus menarik nafas panjang dan berpikir berbagai kemungkinan yang akan terjadi ke depan. Apa yang akan ditanyakan oleh Alvero kepadanya, dan bagaimana cara dia menjawab pertanyaan Alvero nantinya.
Alaya berusaha menyiapkan mentalnya sebaik mungkin untuk menghadapi Alvero, yang dari berita dan cerita orang yang pernah dia dengar, merupakan sosok laki-laki yang tegas sekaligus keras, yang kadang justru terkesan angkuh dan arogan. Tidak mudah membiarkan kesalahan orang di sekitarnya.
Dan sifat Alvero itu sudah diketahui oleh banyak orang sejak dia masih menjadi putra mahkota Gracetian.
Semoga semuanya baik-baik saja. Semoga kakakku bisa menerima kenyataan tentang keberadaanku dan kepergian mama yang pasti sudah membuatnya menderita selama ini. Aku berharap seperti kata Cleosa dan Clare, sejak kakak menikah dengan kak Deanda sifat keras kepala dan arogan kakak sudah banyak berkurang.
Alaya berkata dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam.
Dan semoga kak Deanda juga segera sadar dari pingsannya. Semoga pingsannya kak Deanda bukan karena dia mengalami masalah kesehatan yang serius. Aku harap itu hanya efek dari keterkejutannya karena melihat uncle Alexis, bukan karena adanya penyakit parah yang sedang diderita kak Deanda.
Alaya kembali berkata dalam hati dengan rasa bersalah yang kembali timbul karena sudah membuat Alexis dan Deanda terpisah selama belasan tahun.
Selain itu, kondisi Deanda yang tiba-tiba pingsan tanpa diduga oleh siapapun tadi saat mereka bertemu di restauran, membuat rasa bersalah Alaya semakin besar kepada putri Alexis itu, yang sebenarnya beberapa waktu ini merupakan sosok yang dikagumi oleh Alaya secara diam-diam.
__ADS_1
Baik Alvero maupun Deanda, sudah membuat Alaya selama ini begitu terkagum-kagum dan mengidolakan sosok mereka berdua sejak berita tentang hubungan mereka terkuak di masyarakat Gracetian beberapa waktu sebelum pertunangan mereka waktu itu.
# # # # # # # #
Sejak dokter memeriksa kondisi kesehatan Deanda, sikap Alvero sudah menunjukkan bahwa dia terlihat tidak tenang.
Alvero yang berdiri tepat di samping tempat tidur dimana Denada terbaring dan sedang menjalani pemeriksaan oleh dokter melipat kedua tangannya dengan wajah terlihat tegang. Sesekali digigitnya bagian bawah bibirnya, menunjukkan bahwa saat ini raja Gracetian itu telihat begitu gelisah, menunggu hasil yang akan disampaikan oleh dokter tetang kondisi istrinya.
Semoga kamu baik-baik saja sweety. Apa yang membuatmu tiba-tiba pingsan setelah bertemu dengan Alaya dan laki-laki itu? Apa kamu mengenal laki-laki itu?Apa kamu memiliki kenangan buruk dengan laki-laki itu? Kalau ada suatu hal buruk yang pernah dia lakukan padamu di masa lalu... aku tidak akan membiarkannya keluar dari villa ini dengan mudah. Aku, tidak akan pernah melepaskan siapapun yang berani menyentuh apalagi menyakiti wanitaku.
Alvero berkata dalam hati dengan salah satu tangannya yang terlipat di depan perutnya mengepal dengan erat.
"Bagaimana kondisi permaisuri Dok? Apa yang menjadi penyebab permaisuri pingsan? Apa ada sesuatu yang mengkhawatirkan dengan kondisi kesehatan permaisuri?" Alvero langsung berjalan mendekat ke arah dokter itu, dan menyerbu dokter itu dengan berbagai pertanyaan tentang kondisi Deanda.
"Untuk saat ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan Yang Mulia. Sebelumnya, saya mengucapkan selamat untuk Yang Mulia dan permaisuri. Karena saat ini, permaisuri sedang mengandung." Penjelasan dari dokter yang menyatakan tentang kehamilan Deanda, yang dikatakannya dengan wajah sambil tersenyum, membuat kedua mata Alvero melotot dengan sempurna.
"Ha… hamil? Permaisuri sedang hamil? Dia benar-benar hamil sekarang?" Dengan wajah dan nada suara tidak percaya, Alvero bertanya kembali tentang apa yang baru saja dia dengar, seolah dia tidak bisa mendengar perkataan dokter itu dengan jelas sebelumnya, dan ingin memastikannya kembali.
Bahkan pernyataan dari dokter itu hampir saja membuat tubuh Alvero terjatuh karena otot-otot kakinya tiba-tiba terasa begitu lemas karena kaget.
__ADS_1
Yang mulia permaisuri hamil? Nyonya Rose pasti akan melompat-lompat kegirangan, bahkan tidak segan-segan menari salsa jika mendengar berita kehamilan permaisuri yang sudah sejak lama begitu dia inginkan. Apalagi jika anak yang sedang dikandung oleh permaisuri adalah anak laki-laki. Doa begitu menantikan hadirnya seorang putra mahkota Gracetian berikutnya.
Ernest yang sedikit banyak bisa mendengar percakapan antara Alvero dan dokter itu berkata dalam hati sambii ikut tersenyum dalam hati. Merasa ikut bahagia dan lega mendengar akan adanya calon penerus dari Alvero.
"Benar Yang Mulia. Permaisuri sedang mengandung, dan sepertinya, hal itu juga yang menjadi penyebab utama permaisuri pingsan dengan tiba-tiba. Itu adalah salah satu tanda yang mungkin saja timbul pada awal masa kehamilan. Dari pemeriksaan usg yang saya lakukan, usia kandungan permaisuri masih berkisar antara 4 mingguan." Dokter itu kembali menjelaskan tentang kondisi Deanda yang masih ada pada tahap awal kehamilannya.
Begitu dokter tadi menyatakan bahwa Deanda dalam kondisi baik-baik saja, dan kemungkinan pingsannya adalah karena salah satu ciri dari awal kehamilannya, ditambah kondisi kehamilannya yang masih beberapa minggu, membuat Alvero untuk sesaat kehilangan fokus pada pikirannya dan hampir membuatnya tergagap, tidak tahu harus berkata apa akibat begitu tidak menyangka mendengar berita sebagus itu.
Antara kaget, lega, namun juga merasa begitu bahagia, membuat Alvero melotot dengan wajah tidak percaya begitu mendengar bahwa istri tercintanya ternyata sedang mengandung bayi mereka. Suatu hal yang begitu ditunggu-tunggu oleh Alvero, tapi saat mendengarnya masih saja membuatnya begitu terkaget-kaget.
Jika saja Alvero tidak melihat di tempat itu ada dokter dan para perawat, juga Ernest yang bersikap sigap dan siaga di dekat pintu kamar, rasanya Alvero ingin berteriak sekeras-kerasnya dan membiarkan dirinya menangis bahagia karena mengetahui tentang kehamilan Deanda.
Dada Alvero saat ini terasa begitu penuh dan sedikit sesak. Penuh oleh rasa bahagia sekaligus cinta yang membuncah dalam dadanya saat menatap ke arah sosok istrinya yang terbaring tenang seperti seorang putri tidur yang cantik di cerita dongeng anak-anak.
Akhirnya, yang bisa dilakukan oleh Alvero adalah mendekat ke arah tempat tidur dimana Deanda terbaring, dan mengecup mesra bibir Deanda yang masih belum sadarkan diri dengan tangan kanannya sibuk mengelus kepala Deanda dengan lembut dan mesra.
“Sweety, cepatlah bangun… supaya aku bisa memberitahukan tentang keberadaan anak kita di sini.” Alvero berbisik pelan di telinga Deanda sambil salah satu tangannya bergerak mengelus perut Deanda yang masih terlihat rata.
“Aku mencintaimu sweety, bahkan aku tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata karena begitu besarnya cintaku padamu. Semakin hari kamu semakin membuatku semakin jatuh dalam pesonamu, membuatku semakin jatuh cinta padamu, tidak bisa hidup tanpa adanya dirimu bersamaku.” Alvero terus mengucapkan kata-kata mesra dengan tangannya mengelus-elus tubuh istrinya, dan bibirnya sibuk menciumi wajah istrinya, seolah dengan cara itu Alvero berharap agar Deanda segera terbangun.
__ADS_1