BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
WANITA TERCANTIK MILIKKU


__ADS_3

Ah, karena kesibukanku aku sudah mengabaikan panggilan dari Erich dan Evan. Benar-benar berada dekat dengan istriku membuatku kadang tidak perduli dengan yang lain. Tapi ini masih libur bulan maduku. Mereka pasti mengerti aku masih sibuk dengan istriku. Bahkan harusnya aku memiliki lebih banyak waktu di villa bersama Deanda kalau saja tidak ada masalah mendadak. Tapi tidak masalah. Besok lusa aku akan bisa menikmati bulan maduku di kapal pesiar waktu ulang tahun Enzo.


Alvero berkata dalam hati dengan senyum simpul di wajahnya, sambil mengambil handphonenya, seolah-olah baru saja diingatkan bahwa seharian ini dia belum menghubungi Evan untuk menanyakan perkembangan berita terbaru tentang wanita yang ditemui oleh Eliana di kota Renhill dan juga orang yang dicurigai sebagai pemilik plakat yang tanpa sengaja sudah menjatuhkan plakatnya di kamar Vincent malam itu.


"Wahh... sweety... saat berdua denganmu benar-benar membuatku seperti orang mabuk yang melupakan banyak hal. Mau berapa kali dan berapa lama bersamamu, sepertinya aku akan selalu lupa daratan dan bisa dengan mudah melupakan yang lain." Alvero bergumam pelan sambil menyentuh tanda melakukan panggilan di handphonenya, berniat menghubungi Evan sebelum Deanda kembali dari mandinya.


Walaupun Alvero tahu dia sudah memiliki Deanda sepenuhnya, hati dan raganya, namun karena dia melihat dari bagaimana Evan menatap sosok istrinya menunjukkan bahwa laki-laki itu begitu mencintai Deanda, bahkan Alvero tidak ingin Deanda mendengar suara Evan walaupun lewat handphonenya, walaupun mereka membicarakan masalah kerajaan. Alvero tidak habis pikir bagaimana dia bisa menjadi seorang pencemburu yang juga begitu posesif, tapi jika itu tentang Deanda, Alvero tidak akan membiarkan seorang priapun mendekatinya dengan jarak lebih kurang dari 1 meter, dan Alvero tidak merasa ada yang salah dengan apa yang dilakukannya itu.


"Semoga Evan dan Erich menemukan info terbaik terkait penyelidikan mereka." Alvero berkata pelan sambil menunggu panggilannya kepada Evan tersambung.


Begitu Deanda keluar walk in closet dan sudah bersiap dengan pakaian dengan potongan sederhana berwarna coklat tua sebatas lutut dengan rambut terurai matanya sedikit menyipit melihat bagaimana Alvero dengan wajah serius memandang ke arah keluar jendela dengan kedua tangan berkacak pinggang.


"My Al...." Dengan hati-hati Deanda mendekat ke arah Alvero sambil memanggilnya lembut, membuat Alvero yang sedang melamun sedikit kaget dan langsung membalikkan tubuhnya ke arah Deanda.

__ADS_1


Begitu melihat cantiknya Deanda dengan gaun berwarna coklat tua dengan potongan kerah baju berbentuk turtleneck Alvero mencoba memaksakan senyumnya sambil mengamati rambut Deanda yang tergerai, membuatnya terlihat semakin anggun. Dan siapa yang menyangka bahwa di balik sosok cantik dan anggunnya, wanitanya itu merupakan wanita yang sungguh tangguh dengan kemampuan beladirinya yang hebat.


"Aku sudah selesai mandi, sekarang giliranmu untuk mandi." Alvero langsung tersenyum mendengar perkataan Deanda yang memandangnya dengan tatapan menyelidik.


"My Al... apa terjadi sesuatu padamu? Kenapa wajahmu terlihat serius sekali?" Mendengar pertanyaan Deanda, Alvero buru-buru menyunggingkan senyum ceria di wajahnya dengan tangannya bergerak-gerak ke samping kanan dan ke kiri memberi tanda bahwa Deanda tidak perlu mengkhawatirkan dirinya.


Sebentar kemudian Alvero langsung menyondongkan tubuhnya ke arah Deanda dengan hidungnya menarik nafas dalam-dalam di sekitarnya, menikmati bau harum dari tubuh istrinya yang sudah mandi. Walaupun saat ini jarak mereka beruda berdiri cukup jauh, tapi hidung mancung Alvero bisa mencium bau harum dari arah tubuh Deanda yang selalu membuatnya begitu menikmati bau harum itu. Bau harum yang selalu membuat pikiran dan hatinya tenang sekaligus menimbulkan efek yang tak terduga bagi jantungnya yang selalu berdetak dengan keras setiap sadar keberadaan Deanda di dekatnya, apalagi setelah dia merasakan bagaimana rasanya indahnya saat menikmati surga dunia bersama istri tercintanya itu.


"Ah... bau tubuhmu benar-benar selalu membuatku seperti orang yang habis minum banyak alkohol. Begitu memabukkan dan..."


"Aku sudah tidak bisa lagi menghindar darimu yang semakin peka dengan yang terjadi di sekitarku ya?" Alvero berkata sambil melipat kedua tangannya di depan perutnya dengan tubuh kembali tegak, menunjukkan sisi dirinya yang tampak tampan sekaligus berwibawa sebagai seorang raja.


"Lebih baik aku mandi dulu sweety, afternoon tea segera dimulai." Deanda langsung menarik nafas panjang melihat Alvero yang masih saja berusaha menghindar dan justru memilih untuk berjalan ke arah kamar mandi.

__ADS_1


"Yang Mulia Alvero..." Mendengar Deanda memanggilnya yang mulia Alvero, dengan cepat Alvero menghentikan langkahnya yang tepat satu meter di hadapan Deanda dan langsung menyunggingkan senyumnya ke arah Deanda.


"Jangan khawatir sweety. Aku akan menceritakannya padamu setelah acara afternoon tea. Aku akan mandi dan berganti pakaian lebih dahulu." Alvero berkata sambil kembali melangkah ke arah kamar mandi, dan ketika melewati sosok Deanda yang masih berdiri di tempatnya, Alvero menghentikan langkahnya sejenak dengan wajah mendekat ke arah bagian samping wajah Deanda.


"Kenapa kamu memakai pakaian dengan menutupi lehermu sebegitu rapatnya? Apa kamu tidak merasa gerah? Apalagi dengan menggerai rambut indahmu yang sepanjang itu?" Alvero berkata dengan tatapan mata dan bibirnya tersenyum menggoda, membuat Deanda membeliakkan matanya melihat bagaimana Alvero bertanya seolah-olah sengaja bertindak bodoh dengan pura-pura tidak tahu kenapa dia mengenakan pakaian seperti itu dan sengaja menggerai rambutnya.


"Apa kamu ingin semua orang tahu apa yang sudah kamu lakukan pada tubuhku?" Deanda berkata sambil menggerakkan tangannya untuk mengikat rambutnya ke atas, membuat sebagian tanda merah akibat perbuatan Alvero di bagian lehernya yang awalnya tertutup rapat dengan rambutnya yang tergerai sedikit terlihat dari balik kerah pakaiannya.


Melihat itu dengan lembut, Alvero langsung meraih tangan Deanda, menggerakkan jari-jari tangan Deanda sehingga melepaskan pegangan tangannya kepada rambutnya, membuat rambut bergelombang Deanda kembali jatuh tergerai menutupi lehernya.


"Sebenarnya aku sih tidak keberatan jika ada yang melihatnya. Karena itu adalah tanda cintaku padamu. Lagipula itu adalah tanda bukti bahwa kamu sudah menjadi milikku seutuhnya. Aku ingin semua orang tahu memang aku pelakunya, karena kamu adalah milikku, dan hanya aku yang berhak memberikan tanda itu pada tubuhmu. Tapi aku tidak ingin karena hal itu kamu merasa tidak nyaman apalagi malu. Lakukan apa saja yang membuatmu nyaman." Alvero berkata sambil mengelus lembut pipi Deanda yang wajahnya tampak begitu memerah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Alvero karena mempertegas status mereka berdua.


"Eh... lebih baik kamu segera mandi jika tidak ingin kita menjadi pembicaraan banyak orang karena terlambat ke acara afternoon tea." Dengan pelan tapi bertenaga Deanda meletakkan telapak tangannya ke dada Alvero dan mendorong dada Alvero yang justru langsung menangkap tangan Deanda yang sedang mendorong dadanya, membawa tangan itu ke arah wajahnya dan mengecupnya dengan mesra.

__ADS_1


Dan tidak cukup dengan itu, tanpa melepaskan tangan Deanda yang kini berada di genggaman tangannya, Alvero menggerakkan wajahnya ke arah bagian samping wajah Deanda, mendekatkan bibir dan hidungnya ke telinga Deanda yang hanya bisa menahan nafasnya karena dia yakin seratus persen apa yang akan dilakukan Alvero selanjutnya akan sukses membuatnya berdebar-debar.


"Kamu cantik sekali sore ini sweety. Ah, salah... bukan hanya sore ini. Kamu selalu jadi wanita tercantik bagiku. Setelah makan malam, kosongkan jadwal kita untuk kegiatan kita selanjutnya berdua di kamar. Dan kedepannya, itu akan menjadi jadwal kegiatan rutin kita sweety." Alvero berbisik pelan di telinga Deanda sambil mengecup mesra telinga istrinya dengan menggunakan bibirnya, sedikit menjepitnya dengan menggunakan bibir atas dan bawahnya. Setelah itu dengan santai Alvero melangkah kembali ke arah kamar mandi, meninggalkan Deanda yang berdiri mematung di tempatnya berdiri.


__ADS_2