BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
RAHASIA KEKASIH MELVA (1)


__ADS_3

Ketika Alvero melihat sosok Enzo yang masih berada di ruang utama, tempat pesta ulang tahunnya kemarin bersama tumpukan hadiah yang disusun rapi di salah satu sudut ruangan, Alvero melepaskan gandengan tangannya dari Deanda dan langsung berjalan ke arah Enzo yang langsung tersenyum melihat ke arah Alvero.


Deanda ikut mendekat ke arah Enzo, sedang Ernest yang awalnya mengikuti Alvero dan Deanda langsung menghentikan langkahnya, agar menjaga jarak dari kedua tuannya untuk menjaga sopan santun. Dengan jarak itu Ernest bisa mengawasi kedua tuannya, namun tidak cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka bertiga yang bukan merupakan urusannya.


"Ist... ternyata Pangeran Enzo masih seperti anak kecil yang begitu penasaran dengan kado ulangtahun yang diterimanya." Mendengar sindiran dari Alvero, Enzo langsung tertawa geli.


"Memang ada yang salah dengan itu? Toh aku tidak minta kalian para undangan memberiku kado. Aku murni mengundang kalian untuk bersenang-senang bersama merayakan hari ulang tahunku. Benar kan Deanda?" Enzo berkata sambil mengerlingkan matanya ke arah Deanda yang hanya tersenyum untuk menanggapi perkataan Enzo.


"Mana bisa seperti itu. Kami juga bukan para undangan yang tidak tahu malu. Datang ke undangan pesta ulang tahun tanpa membawa hadiah untuk tuan rumah yang mengundang." Alvero berkata dengan mengangkat salah satu ujung bibirnya untuk menyatakan protes kepada Enzo.


"Cih, memangnya aku mengundangmu agar bisa mendapat hadiah darimu? Tidak perlu menunggu di hari ulang tahunku. Jika membutuhkan sesuatu darimu, aku sebagai sepupu raja Gracetian pasti akan segera mendapatkannya. Benar begitu kan sepupu?" Enzo berkata sambil menatap ke arah tumpukan kado yang sebenarnya membuatnya tidak tertarik untuk melihatnya, karena baginya ada satu hadiah besar yang begitu dia inginkan, tapi tidak akan bisa dia dapatkan dari tumpukan kado yang sekarang ada di depannya.


Walaupun Enzo yakin, jika saja diuangkan, hadiah-hadiah itu pasti akan menghasilkan begitu banyak uang. Yang pasti akan cukup jika digunakan untuk membeli sebuah apartemen mewah di kota Tavisha.


"Hah..." Enzo melenguh pelan dengan kedua tangannya bergerak, masuk ke dalam saku celana panjangnya.


Melihat wajah tidak bahagia dari Enzo, Alvero menyungingkan sebuah senyum licik di bibirnya.


"Haisttt...! Hentikan wajah jelek dan frustasimu itu! Benar-benar mengganggu pemandangan!" Alvero berkata sambil menepuk-nepuk pipi Enzo yang kembali menatap ke arah Alvero dengan wajah tidak bergairah.

__ADS_1


"Ayolah.... Dimana Enzo yang biasanya cerewet dan selalu membuat ulah itu? Kalau kamu terus bersikap seperti itu. Aku tidak akan jadi memberikan kado tambahan untukmu." Kata-kata Alvero bukannya membuat wajah Enzo berubah ceria, justru tetap diam dengan tatapan mata kosong, membuat Alvero ingin tertawa tergelak melihat wajah frustasi dari Enzo, yang Alvero tahu pasti karena pembicaraan kemarin bersama Melva dan ayahnya.


Dengan adanya pembicaraan kemarin, Alvero bisa memastikan saat ini pikiran Enzo sedang galau. Memikirkan bagaimana cara mendapatkan hati Melva menggunakan dukungan earl Robin.


"Alvero, kamu tahu bahwa saat ini aku tidak menginginkan apapun darimu. Apalagi hadiah tambahan... Kado darimu yang belum sempat aku buka, sudah lebih dari cukup." Enzo menanggapi perkataan Alvero dengan sikap acuh tak acuh.


"Hah... sepertinya kamu benar-benar sedang pusing. Kalau begitu kita pergi saja sweety. Percuma berbicara dengan orang yang tubuhnya di sini bersama kita, tapi pikirannya entah kemana." Alvero mengucapkan kata-katanya sambil menggerakkan tubuhnya seolah memang berniat pergi meninggalkan Enzo.


"Padahal kado kali ini aku dapatkan dengan susah payah, atas permintaan permaisuriku tentang Melva." Alvero bergumam pelan, sengaja melirihkan suaranya untuk memancing Enzo, apakah dia akan berubah setelah mendengarnya menyebutkan nama Melva.


Dan seperti dugaan Alvero, begitu Alvero menyebutkan nama Melva, meskipun dengan sengaja memelankan suaranya, Enzo seperti seseorang yang terkena sengatan listrik, tubuhnya langsung berjingkat dengan mata menatap tajam ke arah Alvero dengan raut wajah yang terlihat begitu penasaran.


Enzo berkata dalam hati dengan wajah terlihat panik, membuat Alvero langsung tertawa tergelak, sedang Deanda mengulum senyum di bibirnya karena merasa geli merlihat sikap Enzo begitu Alvero menyebutkan nama Melva.


"Hah! Lihat sikapmu Pangeran Enzo! Begitu aku menyebut nama Melva saja langsung kamu langsung berubah, seperti manusia yang baru saja mendapatkan nyawanya kembali!" Alvero mengomel sambil berjalan mendekat kembali ke arah Enzo.


"Apa? Kenapa? Ada apa tentang Melva?" Enzo mengeluarkan kata-katanya sambil mendekat ke atah Alvero dengan sikap terburu-buru.


"Lihat wajah penasaranmu! Kalau bukan karena permintaan permaisuriku, aku tidak akan membantumu sampai sejauh ini. Lihat handphonemu sekarang." Alvero memerintah Enzo seraya dia sendiri mengambil handphone dari sakunya dan mengirimkan surel kepada Enzo.

__ADS_1


Begitu Enzo menerima surel dari Alvero, dengan cepat Enzo membaca file attachment yang dikirimkan Alvero untuknya.


(Dengan adanya fitur file attachment maka dapat mempermudah kita dalam bertukar informasi ataupun mengirimkan dokumen penting. Karena dengan adanya file attachment kita hanya tinggal upload dokumen yang akan kita kirim ke server, dan kita kirim ke orang yang kita tuju. Maka orang tersebut bisa mendownloadnya. File attachment biasanya terdapat dalam email. File attachment adalah lampiran/ berkas komputer yang dikirim bersama-sama dengan surat elektronik. File attachment yang telah di download dan tersimpan dapat Anda cetak ke dalam media kertas menggunakan aplikasi pengolah kata Microsoft Word untuk beberapa keperluan, misalnya sebagai tugas atau hanya disimpan untuk arsip).


Mata Enzo terbeliak dengan sempurna membaca file kiriman dari Alvero yang menjelaskan dengan detail siapa kekasih Melva, apa yang sudah dilakukannya selama ini, juga kehidupan sosial dan pekerjaannya. Termasuk nama-nama sahabat dan para teman-temannya yang sebagian merupakan nama-nama orang yang pernah terlibat kriminal, terutama masalah penipuan.


"Dengan alih-alih menjadikan pekerjaan seniman sebagai kedoknya... Laki-laki itu sudah menipu banyak orang untuk mengeruk uang untuk kepentingan pribadi. Terbiasa melakukan penipuan untuk mendapatkan klaim asuransi, termasuk membuat ibunya pura-pura lumpuh agar bisa mendapatkan klaim asuransi kecelakaan dan kesehatannya." Mendengar perkataan Alvero, mata Deanda ikut terbeliak karena kaget.


Deanda benar-benar tidak menyangka bahwa laki-laki yang dikagumi Melva tersebut memiliki sisi gelap yang pastinya Melva tidak akan menyangka sama sekali. Dan bagi Deanda, hal itu pasti akan sangat menyakitkan bagi Melva. Saat mengetahui bahwa orang yang disayanginya ternyata berhati busuk.


"Jadi... kecelakaan saat itu adalah suatu kebohongan?" Deanda berkata sambil menatap ke arah layar handphone milik Alvero, yang disodorkan oleh Alvero ke arahnya, sehingga Deanda bisa ikut membaca file yang sudah dikirimkan oleh Alvero untuk Enzo.


"Bukan kebohongan. Kecelakaan itu benar-benar terjadi. Namun oleh kekasih Melva, kecelakaan itu dimanfaatkan agar dia bisa mendapatkan banyak keuntungan dengan cara membuat kecelakaan itu seolah-olah berakibat fatal sehingga membuat ibunya lumpuh, sehingga dia bisa mengeruk banyak keuntungan dari peristiwa itu. Termasuk klaim ke pihak asuransi dan sekaligus uang dari Melva." Penjelasan dari Alvero membuat tanpa sadar salah satu tangan Enzo mengepal karena menahan emosi.


Mengetahui kenyataan bahwa perasaan tulus dari Melva dimanfaatkan oleh laki-laki seperti itu, membuat hati Enzo merasa sakit sekaligus tidak terima. Enzo yang sudah cukup lama mengenal Melva tahu bahwa Melva merupakan seorang gadis yang baik hati dan seringkali tidak bisa menolak jika seseorang membutuhkan pertolongan, terutama dalam bidang keunganan, sesuatu yang memang dimilikinya. Lebih banyak dari orang umum karena dia merupakan keturuan seorang earl. Tapi jika ada yang memanfaatkan kebaikan dan kepolosan Melva seperti yang sudah dilakukan oleh kekasihnya saat ini…. Sebagai pria yang cukup mengagumi Melva membuat emosi Enzo sungguh terpancing.


 


 

__ADS_1


__ADS_2