
Peringatan....!!! Episode ini adalah area 21+++. Mohon bijak dalam memilih bacaan, untuk pembaca yang masih di bawah umur, agar skip episode ini.
Sambil menarik nafas panjang Alvero kembali menggerak-gerakkan ujung jarinya di dada Deanda yang pada akhirnya sedikit menggeliat karena merasakan ada sesuatu yang terus bergerak menyentuh tubuhnya, apalagi bergerak ke area tubuhnya yang sensitif. Dengan gerakan tangkas walaupun matanya masih belum terbuka Deanda menangkap jari tangan Alvero yang sebelumnya menyentuh tubuhnya, membuat Alvero terkikik geli melihat reaksi cepat dari istrinya.
Ah… ternyata yang mulia yang sudah mengganggu tidurku.
Deanda berkata dalam hati begitu dengan mata yang belum terbuka sempurna, melihat jari tangan Alvero yang baru saja ditangkapnya.
"Good morning sweety..." Sebuah suara lembut langsung menyambut Deanda yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, berusaha memaksa dirinya untuk bangun dari tidurnya dan membuk matanya lebar-lebar.
Aist... sungguh memalukan... Selalu saja yang mulia bangun lebih dahulu dariku. Kalau saja sampai orang luar tahu bagaimana aku sebagai istri selalu bangun terlambat dibandingkan dengan suamiku, aku bisa jadi bahan tertawaan banyak orang.
Deanda mengomeli dirinya sendiri dalam hati, membuat keningnya berkerut sehingga Alvero tersenyum miring dan semakin ingin menggodanya.
Dan mata Deanda yang belum benar-benar terbuka sempurna dan langsung terbeliak begitu merasakan bibir Alvero yang sekilas mencium ujung dari salah satu benda kembar miliknya, membuat Deanda tersentak kaget.
"My Al..." Dengan reflek Deanda menjerit kecil sambil menarik selimut yang dikenakannya agar menutup sempurna tubuh polosnya sampai sebatas lehernya.
__ADS_1
Melihat reaksi dari Deanda, Alvero langsung tertawa geli sambil mencium leher Deanda, dan bermain-main dengan leher jenjang itu menggunakan hidung, bibir, bahkan sesekali dengan lidahnya untuk beberapa saat. Kali ini tidak ada keinginan Alvero untuk melakukan sesuatu yang lebih. Hanya ingin sekedar memberikan sentuhan-sentuhan mesra kepada Deanda untuk menunjukkan betapa besar sayang dan cintanya kepada wanitanya itu.
"My Al..." Deanda kembali menyebutkan nama Alvero dengan tubuh sedikit menjauh dari jangkauan Alvero karena merasa geli dan bulu kuduknya mulai berdiri karena tindakan Alvero yang menggodanya habis-habisan sepagi ini.
Tindakan Alvero benar-benar mengobrak abrik jantung Deanda yang langsung berpacu mendapatkan sentuhan mesra sekaligus penuh gairah dari Alvero, yang membuat bagian tubuhnya yang lain mengharapkan sesuatu yang lebih dari Alvero dari sekedar sentuhan ringan barusan. Hampir saja Deanda terlarut dengan apa yang dilakukan Alvero jika dia tidak ingat bahwa mereka masih memiliki acara makan pagi bersama para tamu undangan yang lain sebelum kapal pesiar yang mereka tumpangi kembali merapat di pantai. Selain itu, Deanda langsung teringat tentang janji Alvero untuk melakukan penyelidikan tentang kekasih Melva.
"Ada apa denganmu sweety?" Alvero menghentikan gerakannya ketika dirasakannya Deanda tiba-tiba terdiam dan tidak merespon sentuhannya.
Dengan enggan Alvero menjauhkan tubuhnya dari tubuh Deanda, dipandanginya wajah Deanda yang terlihat serius.
"Masih banyak hal yang harus kita kerjakan hari ini." Alvero tersenyum mendengar perkataan pelan Deanda.
Sebenarnya Alvero sengaja membuat Deanda bangun pagi ini karena ada sesuatu yang ingin ditunjukkan oleh Alvero untuk Deanda. Pemandangan indah langit di lautan saat matahari terbit dari jendela kamar yang mereka temapti sekarang ini.
"Sebelumnya, kita nikmati dulu pemandangan indah matahari terbit dari jendela kamar ini." Alvero berkata sambil bangkit dari tempat tidur, duduk bersila di atas tempat tidur.
Deanda yang melihat apa yang dilakukan oleh Alvero langsung ikut bangkit dari berbaringnya dan duduk di pinggiran tempat tidur dengan dengan menarik sebagian selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Dengan membungkukkan tubuhnya dan salah satu tangannya yang tidak memegang selimut terulur, Deanda bermaksud meraih night robenya yang tergeletak di lantai kamar.
__ADS_1
Namun tangan Alvero tiba-tiba menghentikan gerakan tangan sekaligus tubuh Deanda dengan melingkarkan lengannya di pinggang ramping Deanda dan menariknya mendekat ke arahnya. Sengaja melakukan itu untuk mencegah Deanda mengenakan night robenya kembali untuk menutupi tubuhnya.
Melihat tindakan Alvero, Deanda hampir saja mengucapkan kata-kata protesnya. Namun dengan gerakan cepat, Alvero bergerak dan ikut duduk di tepi tempat tidur di samping Deanda dan dengan gerakan lembut Alvero menutup tubuh polos mereka dengan selimut tebal yang semalam mereka gunakan untuk menutupi tubuh mereka saat tidur. Alvero melingkarkan selimut itu dari arah belakang dan bagian kedua ujungnya dia satukan di bagian depan, dipegang oleh salah satu tangannya, sedang lengan tangannya yang lain melingkar ke pinggang ramping Deanda yang bersama tubuhnya tertutup oleh satu selimut tebal.
"Ayo, kita lihat keindahan matahari terbit." Alvero berkata sambil bangkit dari duduknya dengan tangannya yang melingkar di pinggang Deanda menarik tubuh Deanda agar ikut bangkit berdiri bersamanya.
Baik Deanda dan Alvero dengan tubuh polosnya yang tertutup selimut tebal yang dipegang erat oleh Alvero berjalan ke arah jendela kamar, membuka tirai jendela tersebut dan melihat ke arah timur dimana semburat warna merah dan kuning di bagian tengah, dari matahari yang akan terbit mulai terlihat di sana.
Perlahan, Alvero menggerakkan tubuhnya, dari samping tubuh Deanda bergeser ke belakang tubuh Deanda. Dan dengan gerakan lembut, kedua tangan Alvero melingkar ke pinggang Deanda, memeluk tubuh Deanda dengan erat sambil tetap memegang erat selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua, sesekali terdengar desahan pelan dari bibir Alvero, yang dia lakukan karena dia merasa bersyukur memiliki sosok Deanda sebagai istri yang menemani kehidupannya.
Mendapatkan pelukan mesra dari arah belakang dari Alvero yang membuat tubuh polos mereka kembali saling bersentuhan kulit dengan kulit, membuat Deanda tersenyum sambil matanya tetap menatap lurus ke depan menikmati keindahan pemandangan matahari terbit di laut pagi ini.
Melihat senyum manis di wajah istrinya, Alvero menggerakkan dagunya, bersandar di antara bahu dan ceruk leher istrinya sambil tersenyum dan semakin mempererat pelukan kedua lengannya pada tubuh istrinya.
"I love yo sweety... my beloved empress." Alvero berbisik lembut di telinga Deanda.
Sesekali tangan Alvero yang sedang tidak memegang selimut mengelus lembut perut rata Deanda, dan hidung mancung serta bibir Alvero beberapa kali memberikan ciuman di leher maupun tengkuk Deanda, membuat sesekali Deanda tersenyum karena menahan geli sekaligus menahan gairahnya yang sebenarnya cukup terpancing dengan tindakan Alvero.
__ADS_1
Namun mengingat sebentar lagi mereka harus segera mandi dan menghadiri makan pagi bersama sebagai kegiatan terakhir untuk menutup acara perayaan Enzo, Deanda harus bertahan untuk tidka terpancing dengan tindakan Alvero atau merkea akan berakhir tidak keluar dari kamar sepanjang pagi ini sampai kapal pesiar berlabuh. Dan jika mereka melakukan hal itu, tentu saja mereka akan menjadi bahan berita dan gosip diantara para tamu undangan, bahkan beberapa media yang dua tiga awak medianya mendapat undangan khusus untuk meliput acara ulang tahun Enzo. Yang pasti, Deanda tidak ingin mempermalukan dirinya dan Alvero dengan membiarkan gosip tentang mereka berdua tersebar tanpa terkendali hanya karena keterlambatan kehadiran mereka di sana.
Di sisi lain, jika boleh jujur, Deanda merasa cukup lelah jika harus melakukan hal itu pagi ini setelah semalam Alvero melakukannya untuk waktu yang cukup lama. Entah darimana datangnya kekuatan dan stamina yang dimiliki Alvero. Tapi hal itu cukup membuat Deanda kewalahan. Apalagi sejak dia memasuki istana boleh dibilang dia belum pernah melakukan latihan beladiri lagi karena begitu banyak hal dan tugas yang harus dia selesaikan untuk menjadi istri Alvero. Berbeda dengan Alvero yang sampai mendekati hari pernikahan mereka tetap rajin melakukan latihan beladiri untuk menjaga stamina tubuhnya.