BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PENYELIDIKAN BUNKER DI TAVISHA


__ADS_3

Yang mulia, sebagai raja Gracetian sekarang, sikap dan keputusan yang mulia sungguh adil dan bijaksana. Kami sebagai bagian dari kerajaan Gracetian merasa begitu bangga bisa memiliki raja seperti yang mulia. Dan aku yakin, perubahan sikap yang mulia, dari sosok yang dingin dan tidak perduli berubah karena keberadaan permaisuri Deanda. Sungguh membahagiakan meliha bagaimana Anda berdua saling melengkapi dan menguatkan. Saling menyempurnakan. Mereka berdua, benar-benar pasangan yang begitu serasi.


Nyonya Rose berkata dalam hati, dengan dada yang terasa bergetar melihat bagaimana mengagumkannya sosok Alvero yang sudah menjadi seorang raja sekarang. Yang harus diakuinya, memiliki charisma yang jauh lebih kuat daripada Vincent dulu saat menjadi raja.


Semoga yang mulia Alvero tetap menjadi raja yang mengagumkan seperti hari ini, dan tidak terjebak dengan kondisi di sekitarnya. Tidak menigkuti jejak yang mulia Vincent yang harus terjerumus dengan cara yang begitu menyedihkan. Kiranya Tuhan menjauhkan godaan para wanita tidak benar dari kehidupan yang mulia Alvero. Cukuplah permaisuri Deanda yang menjadi satu-satunya wanita bagi yang mulia Alvero selama hidupnya. Begitu juga cukuplah yang mulia Alvero sebagai satu-satunya pria dalam hidup permaisuri Deanda.


Tanpa sadar nyonya Rose berdoa dalam hati untuk Alvero. Karena mau tidak mau, peristiwa perceraian antara Vincent dan Larena meninggalkan luka cukup dalam bagi nyonya Rose.


“Ernest, bagaimana penyelidikanmu tentang bunker Tavisha yang disebutkan oleh saksi mata yang terbunuh waktu itu? Apa ada Sesutu yang mencurigakan yang sudah berhasil kamu temukan?” Pertanyaan dari Alvero membuat Ernest sedikit menundukkan kepalanya, lalu mengambil sesuatu dari balik jas yang dikenakannya, sebuah amplop berisi lembaran kertas hasil penyelidikannya tentnag bunker Tavisha.


Pertanyaan dari Alvero membuat dengan cepat Ernest berjalan mendekat ke arah Alvero dan menyodorkan amplop itu kepada pimpinannya itu.


Begitu menerima amplop itu, Alvero langsung membukanya dan mengeluarkan isi dari amplop itu, meninggalkan sebuah flash disk di bagian paling bawah dari amplop itu.

__ADS_1


“Semua sudah saya rangkum di sana Yang Mulia. Di sana tertulis lengkap tentang sejarah pembangunan dan lokasi bunker masing-masing bunker, kondisi dan juga siapa saja orang yang menjadi penanggung jawab setiap bunker itu. Ada 4 bunker yang sampai saat ini masih selalu dirawat dan dijaga dengan baik. Dari keempat bunker itu, tidak ada satupun yang memiliki kondisi yang mencurigakan. Bahkan saya sudah melakukan penyelidikan dan bekerja sama dengan duke Evan. Dari penyelidikan itu kami mendapt info bahwa keempat bunker itu tidak pernah disentuh oleh pihak-pihak yang mencurigakan. Dan para pengikut Eliana maupun para pemberrontak, tidak ada satupun yang diketahui pernah mendekat apalagi terhubung dengan bunker-bunker itu.” Ernest menjelaskan sekilas hasil penyelidikannya tentang bunker-bunker itu, sambil melihat ke arah Alvero yang sedang sibuk membuka lembar demi lembar laporan tentang bunker-bunker itu.


“Untuk foto-foto lengkap yang menunjukkan kondisi bunker dan apa saja yang tersimpan di dalamnya, ada di flash disk yang saya sertakan dalam amplop tersebut.” Mendengar penjelasan dari Ernest, tanpa menanggapinya, Alvero memberikan tanda kepada Erich melalui gerakan tangannya agar mengambilkan laptop miliknya dari atas meja kerja kecilnya yang ada di salah satu sudut ruangan dalam kamarnya itu.


Setelah memberikan perintah kepada Erich, Al ero menggerakan tangan kanannya ke dalam amplop tersebut untuk mengambil flash disk yang dimaksudkan oleh Ernest.


Dengan wajah terlihat serius, Alvero mengamati foto-foto tentang keempat bunker itu dan mencocokkannya dengan penjelasan yang tertulis di lembaran-lembaran kertas di tangannya.


Tanpa menunggu untuk diperintah dua kali, Erich segera mengambil laptop Alvero dan menyerahkannya kepada Alvero yang langsung memasang flash disk yang dikatakan oleh Ernest tadi ke laptopnya dan mulai melihat foto-foto dari keempat bunker yang sudah disiapkan oleh Ernest.


“Yang Mulia, bentuk bunker yang ini beda dari ketiga bunker yang lain.” Deanda berkata lirih, dibalas oleh sebuah anggukan pelan oleh Alvero.


“Khusus bunker ini memang berukuran paling besar dan memiliki ruangan bawah tanah.” Alvero menjelaskan kepada Deanda, lalu mengalihkan pandangan matanya dari layar laptop dan memandang ke arah Ernest.

__ADS_1


“Ernest, apakah kamu sudah melakukan pengecekan ekstra terhadap salah satu bunker yang memiliki ruang bawah tanah itu?” Pertanyaan Alvero langsung dijawab dengan sebuah anggukan kepala yang terlihat tegas oleh Ernest.


“Sudah Yang Mulia. Khusus satu bunker itu, saya datang langsung ke lokasi untuk memastikan memang tidak ada yang mencurigakan. Awalnya memang saya merasa aneh kenapa hanya satu bunker itu yang memiliki ruang bawah tanah. Tapi dari catatan sejarah yang ada, memang satu bunker itu adalah bunker yang usianya relatif paling muda. Paling baru dibangun, sehingga teknologi keamanannya juga paling canggih. Namun saya sudah pastikan bahwa tidak ada sesuatu yang mencurigakan di sana. Semuanya terlihat normal seperti bunker yang lain.” Alvero menarik nafas panjang mendengar penjelasan dari Ernest.


“Lalu kenapa saksi mata itu terus menerus menyebutkan tentang bunker Tavisha? Rahasia apa yang disimpan di dalam bunker yang dia sebutkan itu? Yang belum berhasil kita ketahui?” Alvero berkata sambil sedikit mengernyitkan dahinya, mencoba menebak-nebak rahasia yang ada di balik bunker-bunker itu.


“Saat melihat-lihat kondisi fisik bunker itu, saya juga berusaha menemukan dan menebak apa ada sesuatu yang disembunyikan di dalam bunker itu, tetapi hingga saat ini saya belum berhasil mendapatkan bukti yang mencurigakan tentang  bunker tersebut Yang Mulia.” Tanpa menanggapi ucapan Ernest, mata Alvero kembali membaca lembaran-lembaran kertas yang masih dipegang di tangan kirinya.


“Apa kamu yakin, keempat bunker ini sudah semua yang kita miliki di kota Tavisha Ernest?” Tiba-tiba saja tanpa diduga oleh yang lain, Alvero mengucapkan kata-katanya sambil meletakkan lembaran-lembaran kertas itu di atas meja yang ada di depannya, dan ujung-ujung jari tangan kirinya mulai mengetuk-ngetuk di atas tumpukan kertas itu.


“Yang Mulia, catatan tentang bunker kota Tavisha hanya menyebutkan tentang keempat bunker itu saja. Apa Yang Mulia menemukan sesuatu ayng janggal dari data-data yang saya suguhkan kepada Yang Mulia hari ini?” Ernest mempertegas apa yang tertulis dalam kertas-kertas itu dan menanyakan kalau-kalau ada sesuatu yang sudah mungkin terlewatkan olehnya ketika Alvero melihat berkas-berkas itu.


“Ah, entah kenapa, tapi aku merasa ada sesuatu yang masih terasa begitu mengganjal di pikiranku tentang bunker-bunker tersebut.” Alvero berkata lirih dengan mata melirik bergantian ke arah foto-foto kondisi bunker yang sedang terpampang di layar laptopnya, dan tumpukan kertas berisi semua informasi detail tentang bunker yang ada di bawah ketukan jari-jari tangan kirinya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2