
"Ooo, begitu ya?" Akhirnya hanya itu komentar ya bisa keluar dari bibir Deanda, membuat Alvero tersenyum mendengar komentar polos dari Deanda.
"Mungkin kamu tidak percaya. Satu-satunya sahabat, yang tidak memiliki hubungan darah denganku, yang aku miliki di dunia ini hanya Ornado Xanderson." Deanda langsung tersenyum mendengar perkataan Alvero yang terlihat begitu membanggakan dan menyayangi sahabatnya itu.
Deanda hanya sekali bertemu dengan laki-laki bermata biru itu, tepat di hari pernikahannya dengan Alvero. Laki-laki itu terlihat sebagai seorang laki-laki tampan yang berwibawa dan hebat, seperti yang dikatakan oleh Alvero. Satu kemiripan yang dimiliki laki-laki itu dengan Alvero. Tidak terlalu banyak bicara dengan orang asing dan bukan tipe penggoda wanita.
"Ornado. Dia seseorang yang bahkan rela melakukan apapun untuk orang-orang yang dia sayangi. Jika ada waktu, setelah dia menikah, kita bisa berkunjung ke Indonesia untuk bertemu dengannya dan istrinya yang menurut info, walaupun bagi kita orang Eropa dia termasuk tidak tinggi, tapi dia cantik dan anggun, seperti boneka. Sejak 15 tahun yang lalu, sejak masih kanak-kanak, Ornado sudah jatuh cinta pada calon istri yang juga teman sepermainannya dulu." Dengan cepat Deanda langsung menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Alvero tentang calon istri Ornado.
Mendengar cerita tentang Ornado dan calon istrinya, membuat Deanda merasa begitu penasaran. Wanita seperti apa yang sudah berhasil menaklukkan hati orang sehebat Ornado Xanderson. Bahkan sudah merebut hati laki-laki itu sejak 15 tahun lalu.
"Janji ya? Dari dulu negara itu adalah salah satu negara yang terkenal dengan keindahan alamnya. Sudah lama aku begitu penasaran dengan salah satu negara di Asia itu. Sayangnya, belum pernah ada kesempatan untuk kesana." Dengan mata terlihat berbinar karena senang, Deanda berkata sambil kembali memegang lengan Alvero yang masih fokus pada kemudi mobil yang ditumpangi oleh mereka.
"Jangan khawatir, setelah semuanya tenang, kita bisa berlibur ke sana. Aku akan mengajakmu mengelilingi negara itu sampai kamu puas." Alvero berkata sambil tersenyum melihat bagaimana bersemangatnya Deanda jika membicarakan tentang berlibur.
"Kita sudah hampir sampai, persiapkan barang-barang milikmu. Kita akan segera masuk ke dalam villa. Erich bersama Evan dan earl Robin sudah membersihkan lokasi villa dalam radius 1 km, agar tidak ada orang lain yang menyadari kedatangan kita." Alvero berkata sambil tangannya yang satu tetap memegang kemudi, sedang tangannya yang lain berusaha menggapai tas ransel miliknya yang ada di kursi belakang mobil.
__ADS_1
"Biar aku yang mengambilkan tas milikmu, untukmu." Deanda segera menarik tangan Alvero dan meletakkannya kembali ke setir mobil, agar kembali fokus kepada kemudi, sedang dia langsung mengambil tas ransel miliknya dan milik Alvero yang berada di kursi belakang.
Tidak menunggu lama, begitu mereka sampai di villa, Alvero langsung memasukkan mobil milik Ernest ke dalam garasi yang tertutup, dan sambil menenteng tas ransel miliknya, Alvero berjalan dengan bergegas bersama dengan Deanda memasuki villa keluarga Enzo di Renhill.
"Selamat pagi Yang Mulia, Permaisuri." Kedatangan Alvero di villa keluarga Enzo, disambut langsung oleh Evan yang walaupun hari masih begitu pagi, sudah tampak rapi dan tampan dengan pakaian kebesarannya yang menunjukkan posisinya sebagai pimpinan tertinggi dalam bidang kemiliteran kerajaan Gracetian.
Evan sedikit tersentak kaget melihat penampilan Deanda yang terlihat begitu kasual, dan terlihat sedikit berantakan, tidak seperti biasanya, bahkan tas ransel, sepatu kets dan topi yang bertengger di kepala Deanda membuat orang yang belum mengenalnya dengan baik, tidak akan mengenalinya sebagai istri dari Alvero, raja mereka. Namun, Evan harus mengakui, dengan penampilan seperti apapun, permaisuri Gracetian itu tetap tampak cantik baginya. Dan Alvero pun, hari ini tampil sedikit aneh dengan dandanannya yang terlihat begitu santai.
Sebelumnya, Evan hanya mendapatkan perintah bahwa Alvero dan Deanda pagi ini akan datang ke Renhill dan langsung menuju villa keluarga Enzo. Dan kehadiran mereka tidak ingin diketahui oleh siapapun, sehingga dalam jarak 1 km, lokasi villa harus dibersihkan dari kunjungan orang asing ataupun para penduduk sekitar. Namun, Evan tidak menyangka kedatangan Alvero dan Deanda pagi ini bukan hanya dilakukan secara diam-diam, tapi juga dengan penyamaran.
Hah... pakaian apapun yang kamu kenakan, penampilan bagaimanapun yang kamu tampilkan. Tidak bisa mengurangi sedikitpun kecantikan dan pesonamu.
Mendengar sapaan dan salam penghormatan yang diberikan oleh Evan, Alvero langsung menggerakkan tangannya sebagai tanda dia menerima salam penghormatan dari Evan.
"Selamat pagi Duke Evan. Bagaimana kabar yang mulia Vincent?" Alvero bertanya sambil berjalan ke arah kamar yang ditempati oleh Vincent, membuka pintunya dengan hati-hati dan dengan gerakan pelan, agar tidak mengganggu jika ternyata di dalam kamar itu Vincent masih menikmati tidurnya.
__ADS_1
Begitu Alvero melihat sosok Vincent masih tertidur, Alvero kembali menutup pintu kamar itu dengan pelan agar tidak menimbulkan suara yang dapat mengganggu istirahat papanya.
"Saya rasa kondisi yang mulia Vincent, semakin lama semakin membaik, apalagi setelah beliau dipindahkan ke villa ini." Evan memberikan penjelasan kepada Alvero dan Deanda yang masih berdiri tepat di depan pintu kamar yang ditempati oleh Vincent.
"Setiap pagi yang mulia meminta pengawal untuk membantu dan menemaninya berjemur. Biasanya tuan Erich akan menemaninya berjalan-jalan di sekeliling lokasi villa, besama dua atau tiga pengawal." Evan menambahkan penjelasannya.
"Selamat pagi Yang Mulia, Permaisuri..." Suara sapaan dari bibir Erich langsung membuat Alvero dan Deanda menoleh ke arah Erich yang terlihat bergegas, berjalan mendekati mereka, dan langsung memberikan salam hormatnya begitu sampai di hadapan Alvero dan Deanda, yang langsung memberikan tanda agar Erich menghentikan salam penghormatannya karena mereka sudah menerimanya dengan baik.
Walaupun tidak tampak sebuah sapaan dengan nada suara yang hangat, apalagi sebuah senyum ramah di wajah datar Erich, Deanda bisa melihat tatapan mata Erich yang menunjukkan sikap lega melihat Alvero dan dia sudah sampai di villa dengan kondisi baik-baik saja. Sesuai dengan rencana semula.
"Yang Mulia, Permaisuri.... Anda berdua pasti lelah karena sepagi ini harus melakukan perjalanan cukup jauh. Silahkan beristirahat. Tuan Erich sudah menyiapkan kamar untuk Yang Mulia dan Permaisuri sesuai dengan perintah dari pangeran Enzo. Tuan Erich, tolong antar yang mulia dan permaisuri agar bisa beristirahat sebentar." Evan berkata sambil memandang ke arah Erich yang langsung menganggukkan kepalanya.
"Kemana pangeran Enzo? Apa dia sedang ada diluar?" Alvero bertanya sambil matanya melirik ke arah lorong villa yang menghubungkan ruangan temapatnya berdiri sekarang dengan kamar yang biasa ditempati oleh Enzo jika berkunjung di villa keluarganya.
"Pangeran Enzo masih ada di dalam kamarnya, Mungkin masih tertidur. Apa Yang Mulia ingin saya membangunkan pangeran Enzo?" Mendengar pertanyaan balik dari Evan, Alvero langsung menggerakkan tangan kanan dan kirinya sebagai tanda menolak penawaran dari Evan.
__ADS_1
Baguslah. Sepertinya Enzo menepati janjinya untuk menunggu kedatanganku, tidak bergerak sendiri karena emosi.
Alvero berkata dalam hati dengan perasaan lega. Bagaimanapun dia tidak ingin Enzo berindak gegabah, yang justru akan membuat orang lain, termasuk Melva salah paham dan justru membencinya.