BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
MISTERI TENTANG SEBUAH SURAT


__ADS_3

Ernest langsung menutup pintu kamar Enzo dengan rapat begitu Deanda dan Alvero sudah masuk ke dalam kamar hotel yang biasa ditempati oleh Enzo dan melangkah mendekati sofa dimana sudah tampak Enzo yang sedang duduk dengan wajah serius berhadap-hadapan dengan Erich.


Di antara Enzo dan Erich tampak sebuah meja yang dipenuhi oleh berkas-berkas yang dijajar dengan rapi, menunjukkan bahwa sebelum kedatangan Alvero bersama Deanda dan Ernest, Enzo dan Erich sedang mempelajari berkas-berkas itu.


Kehadiran Alvero di kamarnya bersama Deanda cukup membuat Enzo dan Erich sedikit terkejut dan langsung menatap ke arah Alvero dengan wajah bertanya-tanya. Adalah hal yang aneh melihat kehadiran Deanda di tempat ini, karena yang akan mereka bicarakan malam ini adalah Alexis Federer, ayah kandung Deanda yang sudah meninggal. Mereka berdua tidak menyangka Alvero yang begitu mencintai istrinya akan mengajak Deanda mendengarkan tentang sesuatu yang tidak mengenakkan tentang ayahnya.


Akan tetapi tentu saja Enzo dan Erich hanya bisa diam tanpa berani bertanya, karena semuanya ada di bawah kuasa kendali Alvero sebagai Raja Gracetian. Apapun yang sudah diputuskan atau apa yang dilakukan oleh Alvero, mungkin mereka boleh mempertanyakan, tapi tidak memilki hak untuk menolak apalagi menentangnya.


“Ah, kamu sudah datang ke sini bersama Deanda?” Enzo mencoba menyapa Alvero dan Deanda dengan ramah, tidak ingin suasana menjadi tegang karena tanpa disangka-sangka Alvero datang ke tempat Enzo bersama Deanda.


“Ya, kami sudah datang. Aku bawakan dokumen yang sebelumnya sudah diserahkan Erich kepadaku.” Alvero mengambil lembaran kertas yang ada di balik pakaiannya, meletakkan dia tas meja dan mengambil duduk di sisi sebelah timur, sedang Enzo di sebelah utara, Erich di sebelah selatan. Untuk Ernest sendiri, akhirnya dia mengambil posisi di sebelah barat, satu-ataunya sisi yang tersisa.


Begitu duduk, Alvero langsung memberikan kode kepada Deanda untuk segera menyusulnya duduk di sampingnya.


“Apa saja yang sudah kalian temukan, katakan hasil analisa kalian kepadaku.” Alvero berkata sambil memandangi setiap berkas-berkas yang ada di atas meja, diraihnya satu lembar kertas yang menunjukkan surat perintah pencabutan gelar knight atas nama Alexis Federer, dan disahkan oleh Vincent.


Mendengar perintah dari Alvero, baik Erich dan Enzo terlihat saling berpandangan dengan sikap tidak nyaman, karena mereka harus membicarakan tetang Alexis, sedang Deanda ada di hadapan mereka saat ini.

__ADS_1


“Katakan saja apa yang akan kalian laporkan padaku tentang hasil penyelidikan kalian. Daenda ada di sini bersama kita untuk mendengarkan saja, dan dia sudah siap dengan apapun yang akan kalian katakan. Jangan terlalu sungkan, kami siap mendengarkan sekarang.” Alvero berkata sambil meletakkan kembali lembaran kertas keputusan dari Vincent yang baru dibacanya.


“Alvero, dari berkas-berkas yang ada… tidak ada satupun yang mencatat tentang kesalahan atau kelalaian Tuan Alexis selama dia bekerja di istana sebagai kepala tim pengawal eksklusif kerajaan. Justru dari beberapa berkas, kami menemukan banyaknya penghargaan dan penyerahan hadiah secara resmi karena jasa-jasa yang sudah dilakukan Tuan Alexis dalam membantu dan melindungi raja Vincent dan kerajaan.” Enzo berkata sambil matanya memandangi berkas-berkas yang ada di depannya.


“Hanya satu surat pencabutan gelar knight itu saja yang menunjukkan bahwa Tuan Alexis sudah melakukan kesalahan sehingga mendapatkan hukuman dengan pencabutan gelar knight sekaligus disingkirkan dari tim pengawal eksklusif kerajaan.” Enzo Kembali berkata sambil mengigit bibir bawahnya, instingnya bisa merasakan ada yang tidak beres dengan kasus pencabutan gelar knight itu.


“Mencabut gelar knight dengan tuduhan pelecehan seksual tehadap Eliana? Sungguh menggelikan.” Alvero menambahkan kata-kata Enzo dengan nada sinis.


“Tapi Yang Mulia, kenapa surat pencabutan gelar knight disimpan dalam ruang perpustakaan khusus yang hanya bisa diakses oleh raja? Bukannya itu cukup aneh?” Ernest berkata sambil mengernyitkan dahinya dengan wajah bertanya-tanya.


“Apa mungkin… surat itu palsu?” Erich berkata singkat, membuat Alvero, Enzo, Ernest dan Deanda matanya fokus menatap ke arah surat itu.


“Berikan padaku Enzo, biar aku cek keaslian stempelnya.” Alvero merebut lembaran kertas itu dari tangan Enzo.


Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Alvero, dengan cepat Erich menyodorkan selembar kertas kosong ke arah Alvero yang langsung mencapnya dengan stempel raja Gracetian miliknya yang dia baru saja dia ambil dari kantong pakaiannya.


Setelah memberikan stempel raja miliknya di kertas kosong, Alvero langsung menjajarkannya dengan kertas keputusan pencabutan gelar milik Alexis. Untuk beberapa saat Alvero mengamati kedua jenis dan bentuk hasil stempel itu untuk melihat apakah itu stempel yang sama atau berbeda.

__ADS_1


“Mmmm… sekilas sepertinya stempel pada surat peritnah ini asli. Ernest lihat dengan baik detail kedua stempel ini dengan kaca pembesar.” Alvero berkata sambil menyodorkan kedua lembar kertas itu.


“Baik Yang Mulia. Akan segera saya kerjakan.” Ernest berkata sambil menerima kedua kertas itu dari tangan Alvero, meletakkannya di atas meja dan langsung mengamati detailnya dengan menggunakan kaca pembesar yang sudah disiapkannya untuk keperluan pemeriksaan berkas hari ini.


Untuk beberapa saat semua yang ada di ruangan itu tampak diam dengan wajah terlihat tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan dari Ernest terhadap keaslian stempel raja pada surat perintah itu.


“Bagaimana hasilnya Ernest?” Setelah beberapa lama Ernest memeriksa stempel itu dan meletakkan kaca pembesar di meja yang menunjukkan dia sudah selesai dengan tugasnya, Alvero langsung bertanya tentang hasil yang ditemukan oleh Ernest.


“Yang Mulia, kedua stempel itu memilki kemiripan di atas 99 persen, boleh dikata, stempel di surat keputusan itu adalah stempel asli milik raja.” Mendengar pernyataan dari Ernest, semua yang hadir di tempat itu menarik nafas panjang dan saling berdiam diri untuk beberapa saat.


“Dengan begitu…. Apa artinya yang dituliskan di surat keputusan itu benar? Bahwa papa… sudah melecehkan ibu suri Eliana?” Mendengar pertanyaan dengan anda ragu dari Deanda, Alvero langsung meraih tangan Deanda dan menggenggamnya dengan erat untuk memberinya kekuatan.


“Kalau memang seperti itu kenyataannya? Kenapa uncle Vincent menyimpan surat itu di ruang perpustakaan khusus yang harus memerlukan aksesnya untuk mengambilnya? Itu menunjukkan kalau uncle Vincent tidak ingin orang lain mengetahui alasan dibalik pencabutan gelar knight milik Tuan Alexis.” Sambil memanyunkan bibirnya dan bibirnya berdecak, Enzo mencoba memikirkan apa yang sudah terjadi sebenarnya, mencoba menebaknya.


“Tapi Yang Mulia, mungkin ini pertanyaan lancang. Tapi ada satu hal yang sampai sekarang menjadi pertanyaan besar sejak pertama kali memasuki istana dan bertemu yang mulia Vincent.” Deanda berkata sambil kepalanya sedikit menunduk dan matanya memandang ke arah berkas-berkas di meja.


“Katakan saja, yang ada di tempat ini adalah orang-orang kita. Kamu tidak perlu merasa sungkan.” Mendengar perkataan Alvero, Deanda mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas itu, ditatapnya wajah Alvero dalam-dalam sebelum mengajukan pertanyaan yang terasa begitu mengganjal di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2