
“Laki-laki itu sikapnya sudah seperti anak kucing jika berhubungan dengan Eliana. Dia selalu saja berkeliling dan menempel di sekitar Eliana. Bukan lagi seperti sopir yang akan menunggu perintah dari majikannya, justru dia sepertinya yang mengatur dirinya sendiri dalam hal pekerjaannya.” Alvero berkata sambil membayangkan sosok Rolland yang baginya kadang terlihat menyebalkan baginya.
"Aku tidak pernah percaya dengan laki-laki bernama Rolland yang sepertinya memang memiliki suatu rahasia besar yang berhubungan dengan wanita ular itu. Sudah beberapa kali dia mengendarai mobil dalam keadaan mabuk dan bahkan pernah mengakibatkan kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita tua dan cucunya yang masih berusia 6 tahun. Tapi dengan pembelaan dari Eliana, dia selalu saja berhasil lepas dari jerat hukum. Bahkan siapapun korbannya saat itu akan langsung berubah posisi menjadi tersangka penyebab kecelakaan." Alvero berkata sambil menyilangkan kakinya ke atas kakinya yang lain dan bersandar pada sandaran sofa.
"Erich! Sepertinya kita harus menambah fokus penyelidikan kita. Selidiki semua anggota keluarga Rolland. Mulai dari yang memiliki hubungan dekat maupun jauh. Dan temukan rahasia besar apa yang dimiliki Rolland tentang Eliana sehingga Eliana begitu melindungi laki-laki itu. Aku tidak percaya kalau hubungan mereka berdua hanya sekedar hubungan antara majikan dan sopir pribadinya." Alvero berkata sambil menarik nafas panjang.
"Baik Yang Mulia." Erich langsung menjawab perintah Alvero dengan cepat, dan tanpa sadar membuatnya terlihat begitu bersemangat.
Bagi Erich, membongkar semua rahasia tentang plakat dan orang-orang yang berhubungan dengan itu adalah impian terbesarnya.
"Erich, hubungi Ernest sekarang. Menurutku dia pasti sudah mendapatkan info dari papa Alexis tentang plakat itu." Tanpa menunggu untuk diperintahkan lagi, Erich segera mengambil handphonenya untuk untuk melakukan video call dengan Ernest yang sedang berada di Renhill untuk menemui Alexis semenjak siang tadi, begitu mendapatkan perintah dari Alvero.
__ADS_1
"Hallo Erich. Aku baru akan menghubungimu. Aku sedang dalam perjalanan kembali ke Tavisha." Ernest berkata sambil melirik ke arah handphonenya yang dia letakkan pada car universal holder di kaca mobilnya, agar memudahkan baginya untuk menerima panggilan telepon sambil tetap menyetir.
(Car Universal Holder adalah alat untuk menaruh hp dan gadget pada mobil yang praktis tanpa membutuhkan obeng untuk pemasangan. Dengan menempel kuat di kaca mobil atau dashboard dan sistem holder cakar / claw memiliki perlindungan yang sangat aman bagi gadget. Cocok dipakai saat menggunakan GPS atau mendengarkan musik. Dilapisi karet pada holder sehingga tahan gesekan dan tidak mudah tergeser, juga tidak menggores HP).
"Aku sedang bersama yang mulia Alvero sekarang. Beliau ingin menanyakan tentang perkembangan info yang kamu dapatkan dari tuan Alexis." Erich berkata sambil sedikit menggeser posisi handphone di tangannya agar Ernest bisa melihat ke arah Alvero yang ternyata di sampingnya sudah duduk Deanda yang baru saja muncul dari arah walk in closet.
"Selamat malam Yang Mulia, Permaisuri." Ernest segera menyapa Alvero dan Deanda.
"Selamat malam Ernest. Info apa yang sudah kamu dapatkan dari papa Alexis?"
"Tuan Alexis mengatakan bahwa plakat itu dimiliki oleh orang-orang yang memiliki posisi penting dan masuk dalam jajaran para pemimpin dan orang-orang yang berpengaruh, seperti penyandang dana atau orang-orang yang memiliki hubungan khusus dengan para pemimpin pemberontak itu. Kelompok pemberontak itu adalah kelompok yang pernah mencoba menyerang istana sekitar 10 tahun yang lalu. Yang pemimpinnya sempat bertarung dengan tuan Alexis dan meninggal saat itu. Dan kemungkinan mereka juga adalah orang-orang yang sudah berusaha melakukan pembakaran tempat kediaman yang mulia Larena waktu itu." Erich menjelaskan sambil tetap berusaha berkonsentrasi terhadap jalanan yang ada di depannya.
__ADS_1
"Menurut tuan Alexis, pemimpin pemberontak itu tidak hanya satu orang. Dan ada orang lain yang mengendalikan para pemimpin itu. Satu orang penting yang selalu ada di balik layar. Tapi dia yang mengendalikan dan membiayai semua persenjataan dan kebutuhan lain kelompok itu." Ernest berkata sambil sedikit mengalihkan pandangan matanya dari layar handphone karena fokus pada kemudi mobilnya yang harus berbelok ke kanan.
"Dan ada hal penting lainnya yang sudah diceritakan oleh tuan Alexis, Yang Mulia. Beliau mengatakan bahwa untuk para anggota kelompok para pemberontak itu di salah satu bagian tubuhnya pasti ada tato yang merupakan gambar dari plakat itu. Jika dia laki-laki biasanya tato itu ada di lengan atau dadanya, dan jika itu adalah wanita, biasanya tato itu ada di punggungnya. Tato itu menunjukkan bahwa mereka sudah terikat dengan sumpah setia mereka kepada kelompok pemberontak itu, untuk menggulingkan pemerintahan yang resmi dari kerajaan Gracetian." Mendengar perkataan Ernest, Erich tampak mengepalkan salah satu tangannya yang berada di pahanya, dengan wajah terlihat geram.
"Yang Mulia, apa tidak sebaiknya kita melakukan kembali penyisiran terhadap semua pekerja di istana, melakukan pengecekan dan menangkap mereka semua yang memiliki tato seperti itu di tubuhnya? Saya yakin jika Alea menemukan satu orang dengan tanda tato itu, pasti ada yang lain yang ada di sana. Tidak mungkin hanya sekedar satu orang saja. Kita harus segera menyingkirkan orang-orang itu dari istana." Mendengar perkataan Erich yang diucapkannya dengan nada emosi dan nafas yang seikit tersengal karena dia berusaha menahan keras rasa sesak dan panas di dadanya karena amarahnya, Alvero langsung memandang ke arah Erich.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu Erich. Tapi kita tidak boleh bertindak buru-buru. Aku pasti akan melakukan apa yang kamu katakan dalam waktu dekat. Tapi aku sedang menunggu momen yang paling tepat. Dan itu berhubungan dengan rencana kami untuk mengembalikan posisi mama Larena di tempatnya semula. Jika kita bergerak terlalu cepat sekarang, aku takut itu akan mempengaruhi rencana kita untuk membujuk mama Larena." Alvero berkata dengan suara tenang, mencoba membuat Erich bisa mengendalikan emosinya.
Kata-kata dari Alvero membuat Erich menarik nafas panjang dengan sedikit mengeluarkan desisan di bibirnya.
“Jangan khawatir Yang Mulia. Itu hanya pendapat saya pribadi. Saya akan selalu menuruti apapun perintah dari Yang Mulia.” Akhirnya Erich berkata sambil memandang ke arah Alvero dan menelan ludahnya.
__ADS_1
“Keputusan bagus Erich. Kita harus berhati-hati dalam menghadapi wanita ular itu. Jika kita salah perhitungan, aku khawatir dia akan mendapatkan kesempatan untuk membalikkan keadaan. Dan itu akan merugikan kita semua.” Alvero berkata dengan senyum di wajahnya, mencoba membuat Erich merasa tenang dan mempercayakan setiap rencana untuk menghadapi Eliana kepadanya.
"Lanjutkan apa yang ingin kamu sampaikan Ernest!" Begitu Alvero melihat Erich sudah mulai tenang kembali, Alvero kembali memberikan perintah kepada Ernest untuk melanjutkan lagi pembicaraan mereka.