
Mengingat itu, Deanda merasa makan siang hari ini merupakan suatu ide yang tepat jika ingin membuat dua orang yang tidak pernaj saling kenal dan saling sapa sebelumnya itu bisa memiliki kesempatan untuk bisa saling mengobrol.
Walaupun di sisi lain, Deanda tahu, kehadiran Alaya di acara makan siang nanti pasit sedikit banyak akan membuatnya canggung. Bukan hanya karena dia belum terlalu mengenal Alaya dan dekat dengan gadis itu, tapi dia tahu betul, kehadiran Alaya yang tidak menimbulkan alergi kepada Alvero seperti keberadaan gadis lain di dekat Alvero, pasti akan cukup membuatnya tidak nyaman.
Aku percaya sepenuhnya dengan suamiku. Yang mulia Alvero begitu mencintai dan menghargaiku sebagai istrinya yang sah. Tidak ada yang perlu aku khawatirkan tentang Alaya ataupun gadis lain yang kedepannya mungkin juga tidak menimbulkan alergi terhadap yang mulia. Aku tahu, mata dan hati yang mulia hanya tertuju padaku.
Deanda berkata dalam hari sambil mencoba membalas senyum ke arah Alaya yang sebelumnya tersenyum ke arahnya.
Sedang Alvero sendiri, langsung mengernyitkan dahinya melihat ada satu orang yang hadir di tengah-tengah acara makan siang mereka tanpa dia duga sebelumnya.
Sejak kapan permaisuriku dekat dengan gadis itu? Sehingga dia juga ikut hadir di acara makan siang hari ini?
Alvero berkata dalam hati sambil menarik sebuah kursi untuk digunakan oleh Deanda, setelah itu baru dia sendiri menarik satu kursi untuk dirinya sendiri.
Alaya sendiri terlihat tenang walaupun tidak menyangka saat melihat wajah Alvero yang menatapnya sekilas dengan pandangan aneh, yang jelas mempertanyakan kenapa hari ini dia bisa ikut bergabung dalam acara makan siang hari ini, membuat Alaya merasa sedikit tidak nyaman.
“Erich, ikutlah makasn siang bersama kami.” Begitu Alvero sudah duduk di posisinya, tepat di samping Deanda, Alvero segera memerintahkan Erich yang awalnya berdiri dengan sigap di samping kursi Alvero untuk ikut mengambil posisi duduk dan makan siang bersama mereka.
__ADS_1
“Baik Yang Mulia.” Tanpa bertanya atau menyampaikan pendapat apapun, Erich berjalan ke sisi lain dari meja café itu, lalu duduk di samping Cleosa, karena di samping gadis itulah satu-satunya kursi kosong yang tersisa.
Sebelum duduk di samping Cleosa, Erich sedikit mengagukkan kepalanya kepada Cleosa, sebagai tanda bahwa dia meminta ijin untuk duduk di samping Cleosa. Melihat bagaimana Erich mengarahkan matanya kepada, walaupun tanpa senyum, Cleosa buru-buru membalas anggukan kepala Erich dengan senyum di bibirnya yang menunjukkan dia begitu bahagia saat ini.
Abella yang dengan sengaja menyisakan satu kursi kosong di samping Cleosa hanya bisa menahan senyumnya sambil melirik kea rah Deanda yang ikut tersenyum melihat bagaimana bahagianya wajah Cleosa bisa duduk berdekatan dengan Erich saat ini.
Mengingat status Alvero dan Deanda sebagi raja dan permaisuri Gracetian, walaupun Abella, Clare dan Cleosa adalah sahanat dari Deanda, mereka sengaja mengaturkan tempat duduk untuk Alvero dan Deanda hanya berdua, sedang yang lain duduk berjajar dan berhadap-hadapan dengan posisi duduk Alvero dan Deanda.
Dengan begitu, Abella memiliki kesempatan untuk menempatkan Cleosa pada nomer dua paling ujung, dengan satu kursi kosong tepat di sampingnya.
Rencana Abella sampai saat ini berjalan sesuai rencana. Sayangnya, sejak tadi Erich tetap seperti biasanya, tidak ada sepatah katapun yang keluar untuk berbincang dengan Cleosa.
Walaupun Alvero berusaha bersikap biasa-biasa saja, tapi tentu saja teman-teman Deanda cukup tahu diri tentang siapa yang sedang duduk di hadapan mereka saat ini.
Melihat suasana tegang seperti itu, tentu saja membuat Deanda dan Abella sebagai pelopor acara makan siang itu terlihat tidak nyaman sekaligus salah tingkah. Mereka berdua berusaha berpikir keras agar suasana mencair, sampai tiba-tiba terdengar kembali sebuah suara perintah yang terdengar berwibawa.
“Nona, bisa minta tolong ambilkan kroisan itu untuk Erich? Itu makanan favorit Erich.” Dengan suara tenang dan terdengar berwibawa Alvero memerintahkan Cleosa untuk mengambilkan croissant yang kebetulan letaknya sedikit di tengah sehingga jauh dari jangkauan Erich.
__ADS_1
(Kroisan (bahasa Inggris: croissant) atau roti sabit adalah sejenis kue kering (pastry) yang berasal dari Prancis, dinamakan demikian karena bentuknya menyerupai bulan sabit. Menurut legenda, roti ini berasal dari Eropa untuk merayakan kemenangan pasukan Franks atas pasukan Umayyad dalam peperangan di Tours pada tahun 732, dengan bentuk seperti bulan sabit, sedangkan dalam legenda yang lain atau menurut sumber-sumber yang lain roti ini diciptakan pertama kali di Buda atau Vienna pada tahun 1683 untuk merayakan kemenangan pasukan Kristen atas Ottoman pada peperangan memperebutkan kota ini, sebagai gambaran atas bendera Ottoman; Jangka waktu pembuatannya menurut tata cara mula-mulanya dapat memakan waktu beberapa hari; maka dari itu, perlu tingkat kesabaran yang tinggi. Dewasa ini, kroisan dalam jumlah besar biasanya dibuat dengan mesin. Roti ini memiliki tekstur yang berlapis-lapis dikarenakan teknik membuatnya yang dikenal sebagai laminating, melipat adonan berkali-kali dan diolesi dengan mentega. Di Prancis, kroisan umumnya dijual tanpa isi dan dimakan tanpa tambahan mentega. Namun di luar negara asalnya, terdapat pula kroisan yang berisikan cokelat, daging, dan sebagainya).
“Baik Yang Mulia.” Dengan gerakan cepat Cleosa meraih piring berisi kroisan tersebut dan menyodorkannya kepada Erich.
“Terimakasih.” Erich mengucapkan kata-kata singkatnya dengan nada dan wajah terlihat datar, tanpa memandang ke arah Cleosa, membuat Deanda hanya bisa menarik nafas panjang, melihat bagaimana sulitnya Erich untuk berinteraksi dengan orang lain.
Bahkan tanpa suara, tanpa ekspresi, Erich memakan kroisan itu dalam diam. Jika saja Alvero tadi tidak mengatakan bahwa kroisan adalah kue favorit Erich, mereka yang ada di situ tidak akan percaya kalau Erich memang menyukai kue itu. Karena dari cara makannya, Erich sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia begitu menyukai kroisan.
Melihat bagaimana sikap Erich yang dingin seperti itu, Deanda yakin, jika saja Alvero tidak meminta Cleosa untuk menyodorkan kroisan ke arah Erich, laki-laki itu pasti tidak akan meminta atau mengambil kue itu walaupun sangat menyukainya.
Di satu sisi Deanda dan Abella, bahkan Alvero bisa melihat dengan jelas bagaimana Erich terlihat tetap dingin tanpa ekspresi, sedang Cleosa yang biasanya cerita dan cerewet, tiba-tiba saja berubah menjadi gadis pendiam dengan sikap terlihat gugup dan salah tingkah, dengan sesekali mencuri pandang ke arah Erich yang tatapan matanya lurus menatap menu makanan di depannya, atau memandang ke arah Alvero, seolah selalu siap dan siaga jika sewaktu-waktu majikannya itu membutuhkan sesuatu darinya.
“Mmmm, saya permisi sebentar Yang Mulia, Permaisuri.” Dengan ragu Cleosa bangkit dari duduknya, berencana untuk ke toilet agar bisa menenangkan diri beberapa saat dan menjauh dari sosok Erich yang baginya begitu sulit untuk didekati, tapi tetap saja kehadiran Erich selalu saja membuat dadanya berdebar dengan keras, dan matanya terasa begitu sulit dikendalikan untuk tidak menatap ke arah laki-laki tampan yang selalu berpenampilan begitu rapi walaupun wajahnya terlihat dingin tanpa ekspresi.
“Begitu Alvero maupun Deanda mengangguk, mengiyakan perkataan Cleosa, dengan gerakan terburu-buru karena gugup, Cleosa bermaksud berjalan kea rah kamar mandi.
Tapi karena terlalu gugup dan buru-buru tanpa sadar kaki Cleosa menabrak kaki kursi yang sedang diduduki oleh Erich membuat tubuh Cleosa kehilangan kendali dirinya dan jatuh tersungkur. Namun, dengan cepat, tiba-tiba lengan Erich bergerak, melingkar di pinggang Cleosa, menahannya agar tubuh gadis itu tidak jatuh terjerembab.
__ADS_1