
"Sebentar lagi akan ada pertunjukkan kembang api sebagai penutup pesta ulang tahun Enzo sebelum para tamu undangan beristirahat di kamar mereka masing-masing, yang sudah diaturkan oleh Enzo. Dan sepertinya sudah mau dimulai. Apa kamu mau menikmati acara kembang api itu atau mau langsung beristirahat saja di kamar?" Mendengar penawaran Alvero, Deanda melirik ke arah langit yang tampak cerah dan banyak bintang terlihat dari sela-sela jendela kapal, membuatnya ingin menikmati keindahan langit malam di tengah lautan, sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Aku mau melihat pertunjukan kembang api, tapi aku harus ke toilet sebentar. Tunggulah aku di geladak kapal. Nanti aku akan segera menyusulmu ke sana." Jawaban Deanda dengan tatapan matanya yang terlihat bersemangat membuat Alvero tersenyum kecil.
"Ok, aku tunggu di tempat yang sama, dimana tadi kita mengobrol dengan earl Robin dan countess Melva." Deanda langsung menganggukkan kepalanya sebelum berjalan menuju toilet, sedang Alvero langsung melangkah ke arah geladak kapal setelah Deanda pergi menjauh.
Aku harus mengambil kesempatan ini untuk meminta maaf secara pribadi kepada kak Alvero selagi kak Deanda tidak berada di sampingnya. Aku berharap walaupun sudah keluar dari istana aku bisa memiliki kesempatan untuk tetap bertemu dan mengobrol dengan kak Alvero. Satu-satunya cara saat ini adalah memintanya memaafkanku. Jika kak Alvero memintanya, bahkan jika aku harus berlutut di bawah kakinya, aku akan bersedia melakukannya. Selama kak Deanda tidak melihatnya. Aku tidak akan mau merendahkan diriku di hadapan wanita kampungan itu.
Desya yang sedari tadi mengamati Alvero dan Deanda, berusaha mencari kesempatan agar bisa mendekati Alvero serasa mendapat angin segar begitu melihat sosok Deanda yang menjauh dari Alvero, dan Alvero sendiri terlihat berjalan ke arah geladak kapal tanpa ada orang lain di dekatnya, termasuk Ernest yang biasanya selalu ada dimanapun Alvero berada.
Alvero sengaja meminta Deanda menyusulnya ke tempat dimana tadi mereka bertemu dengan Melva dan earl Robin. Selain di tempat itu tidak terlihat banyak orang, angin di tempat itu tidak sekencang di bagian lain geladak kapal itu.
Baru saja Alvero menyandarkan punggungnya di pagar pembatas sambil mengangkat kepalanya, memandang ke langit yang tampak cerah malam ini, sosok Desya yang mendekat ke arahnya membuat Alvero sedikit menarik nafas panjang.
Hah, mau apalagi Desya menemuiku? Sedangkan dari wajahnya masih saja terlihat tidak adanya rasa bersalah setelah berani-beraninya melakukan hal buruk kepada pemaisuriku. Beruntung Deanda tidak terluka karena hal itu. Kalau saja Deanda sampai terluka, bukan hanya mengusirnya dari istana dan mencabut gelar putrinya. Tidak segan-segan aku akan melemparkannya ke penjara.
Alvero berkata dalam hati dengan tatapan mata tidak bergairah saat melihat sosok Desya berjalan mendekat ke arahnya.
# # # # # # #
__ADS_1
Deanda tersenyum di depan cermin yang ada di depan wastafel yang berjajar rapi berjarak sekitar 3 meter dari depan pintu toilet wanita sebelum keluar dari ruangan itu. Kepala Deanda yang sedikit menunduk sambil berjalan menjauhi kamar mandi hampir saja menabrak sosok anak kecil yang berlarian ke arah kamar mandi. Dan karena berhenti mendadak, anak laki-laki itu hampir saja terjatuh karena tergelincir, untungnya dengan sigap tangan Deanda langsung memegang pergelangan tangannya, sekaligus menahan tubuh anak itu agar tidak terjatuh dengan tangannya yang lain dengan posisi sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Ma... maaf Yang Mulia Permaisuri..." Dengan suara bergetar, anak itu segera meminta maaf kepada Deanda dengan kepalanya yang langsung tertunduk, menatap lantai di bawahnya tanpa berani mengangkat kepalanya.
"Eh... apa kamu baik-baik saja?" Deanda langsung mengamati sosok anak kecil itu, memastikan bahwa anak laki-laki itu baik-baik saja.
"Iya Permaisuri..." Mendengar perkataan anak laki-laki itu, yang terlihat sedikit ketakutan, Deanda langsung berjongkok, dengan kedua tangannya memegang kedua bahu anak itu dan menepuk-nepuknya lembut.
"Benar kamu baik-baik saja? Tidak ada yang terluka?" Dengan ragu anak itu mengangkat kepalanya dan memandang wajah Deanda yang sedang menatap lurus ke arahnya dengan senyum tersungging di wajah cantiknya.
Wah.... permaisuri ternyata dilihat dari dekat... terlihat cantik sekali....
Bukannya menjawab pertanyaan Deanda, anak itu justru menatap wajah Deanda dengan tatapan terpesonanya, membuat senyum Deanda berubah menjadi sebuah senyuman geli melihat sikap anak laki-laki kecil itu.
"Siapa namamu? Kenapa memandangiku seperti itu? Apa ada kotoran di wajahku?" Deanda bertanya dengan senyum geli masih tersungging di wajahnya, melihat bagaimana cara anak laki-laki itu memandangnya.
Dengan gerakan pelan, Deanda mengulurkan tangannya ke arah wajah tampan anak kecil dengan pipi gembul itu, lalu mencubit pelan pipi itu tanpa menyakitinya, membuat senyum malu-malu langsung tersungging di bibir kecilnya.
"Eh... ah... tidak Permaisuri... hanya saja... baru kali ini saya bisa melihat wajah permaisuri Deanda dari dekat. Ternyata Permaisuri cantik sekali..." Deanda langsung tertawa kecil mendengar pujian dari anak kecil itu.
__ADS_1
"O, ya? Benarkah? Terimakasih buat pujiannya..."
"Simon... nama saya Simon, Permaisuri." Anak itu langsung memotong perkataan Deanda dan menyebutkan namanya.
"Ok Simon. Lain kali hati-hati ya. Tidak perlu berlari sekencang itu supaya kamu tidak terpeleset, akhirnya jatuh dan terluka." Deanda berkata sambil bangkit dari berjongkoknya dan mengelus lembut rambut Simon.
"Baik Permaisuri. Saya akan ingat dengan baik nasehat Permaisuri." Mendengar janji dari Simon, Deanda langsung tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolnya ke arah Simon.
"Baiklah, aku harus pergi sekarang. Jaga diri baik-baik ya." Deanda bermaksud melangkahkan kakinya meninggalkan Simon, ketika dirasakannya tangan kecil milik Simon menarik gaun di bagian kakkinya.
"Yang Mulia Permaisuri Deanda..." Tiba-tiba Simon berkata sambil menatap Deanda dengan wajah semakin memerah.
"Kalau aku besar nanti, aku mau memiliki istri secantik dan sebaik Permaisuri Deanda.... Sampai jumpa lagi Permaisuri..." Belum lagi sampai di kata-kata terakhirnya, Simon mebalikkan tubuhnya, kembali berlari ke arah toilet pria dengan wajah malu-malu, meninggalkan Deanda yang bibirnya sedikit terbuka karena kaget dengan apa yang barusan dikatakan oleh Simon, yang masih seorang anak kecil. Apalagi kata-kata Simon diucapkannya dengan cukup keras dan lantang.
Sedetik kemudian Deanda menutup bibirnya dan tersenyum dengan wajah canggung karena melihat Evan yang ternyata berdiri di depan pintu menuju ruangan toilet pria dengan senyum di wajahnya, dan entah berapa banyak pembicaraan antara dia dan Simon yang sudah didengar oleh Evan, termasuk kata-kata konyol yang diucapkan oleh Simon tadi kepadanya.
Tadi Deanda benar-benar tidak menyadari bahwa Evan ada di dekatnya karena posisi berjongkoknya di depan Simon, sehingga tubuhnya membelakangi sosok Evan. Sehingga, Deanda benar-benar tidak mengetahui bahwa sejak beberapa waktu yang lalu Evan sudah ada di sana, mengamati sekaligus mendengar semua pembicaraan antara Deanda dan Simon yang terlihat jelas begitu mengagumi sosok permaisuri Gracetian itu, walaupun dia masih seorang anak kecil yang polos.
__ADS_1