
“Baik Yang Mulia… aku akan ingat dengan baik apa yang barusan Yang Mulia Alvero katakan kepadaku.” Akhirnya dengan tangan kanannya yang memegang handphone meremas handphone itu dengan kuat, dan tangan kirinya mengepal. Eliana memanggil Alvero dengan panggilan "Yang Mulia".
Sebuah senyum kemenangan tersungging di wajah Alvero pada akhirnya Eliana memanggilnya dengan sebutan “Yang Mulia”. Andaikata saja bisa, rasanya Alvero ingin sekali melihat wajah Eliana yang bisa dipastikan oleh Alvero pasti memerah dengan penuh kemarahan karena harus memanggilnya dengan sebuatan yang mulia.
“Terimakasih untuk kerendahan hati ibu suri sehingga mau mendengarkan perkataan anak muda sepertiku.” Mendengar kata-kata sindiran dari Alvero, tangan Eliana semakin terkepal, sehingga tanpa sadar kuku-kukunya yang tajam mulai melukai, menggores kulit dari telapak tangannya.
“Baiklah… sekarang ibu suri bisa mengatakan padaku, tumben sekali ibu suri menghubungiku. Selama lebih dari dua puluh tahun, baru kali ini ibu suri menghubungiku lewat telepon. Aku tidak tahu apakah aku harus merasa bahagia, bangga atau justru merasa khawatir dan takut.” Lagi-lagi perkataan Alvero berhasil membuat emosi Eliana terpancing, menyebabkan kepalan tangan Eliana semakin erat.
"Apa yang perlu Yang Mulia takutkan dari wanita lemah sepertiku, yang hanya tahu tentang urusan rumah tangga istana." Eliana berkata sambil berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suara desisan dari bibirnya karena menahan kemarahan yang sudah memenuhi dadanya, akan tetapi di sisi lain dia harus berusaha keras tetap tampil lembut dan anggun agar Alvero tidak melihat cakar yang sudah dia siapkan untuk melawan Alvero di balik sikapnya yang selama ini dilihat oleh orang luar sebagai seorang wanita yang anggun dan lembut.
__ADS_1
"Ah, seorang wanita sekuat ibu suri, mana bisa aku menganggapnya sebagai wanita lemah, bahkan di masa lalu, seorang permaisuri Gracetian saja bisa tersingkir oleh ibu suri."
Jika saja Eliana tidak ingat alasan kuat kenapa dia harus menghubungi Alvero saat ini dan tidak ingat bahwa saat ini Alvero adalah raja Gracetian, dengan senang hati dia akan memutus hubungan telepon dan memaki Alvero sekeras-kerasnya untuk melepaskan kemarahan dalam dirinya.
Alvero! Anak kurangajar! Kamu selalu saja sengaja mencari gara-gara denganku! Aku pasti akan menghancurkanmu! Tunggu saja nanti! Aku pasti membalas penghinaan ini!
Pada akhirnya Eliana hanya bisa memaki dalam hati sambil menggigit bibirnya dengan cukup keras, hingga dia bisa merasakan rasa anyir dari darah yang keluar dari bibirnya.
"Kenapa duke Evan sampai melarangku menemui suamiku sendiri? Yang mulia Vincent? Apa Yang Mulia sengaja menghalangiku untuk merawat suamiku sendiri?" Mendengar pertanyaan Eliana, Alvero sedikit menyungingkan senyum sinis di bibirnya.
__ADS_1
"Perintah dari duke Evan turun karena atas permintaan dokter yang menangani papa. Ibu suri tahu sendiri, beberapa waktu ini papa membutuhkan penanganan intensif untuk memulihkan kondisinya. Sebagai istri yang perduli dengan kesehatan suaminya... bukankah seharusnya ibu suri mematuhi setiap peraturan dan keputusan dokter yang menangani papa? Atau mungkin ibu suri lebih mengerti tentang obat-obatan dan penanganan yang dibutuhkan oleh papa agar segera pulih kesehatannya? Tapi seingatku bahkan ibu suri tidak pernah mempelajari tentang ilmu kesehatan. Jadi, percayakan saja perawatan papa kepada orang yang lebih profesional di bidangnya." Alvero menjawab pertanyaan Eliana dengan santai walaupun sebenarnya jika bisa, dia ingin menjawab bahwa semua dia lakukan agar Eliana tidak lagi mengusik Vincent dan berusaha melukainya, membuat Eliana kehabisan kata-kata untuk membalikkan kata-kata Alvero.
"Apa ibu suri merasa keberatan dengan sikap orang yang sudah berusaha melindungi papa? Aku akan sangat berterimakasih jika ibu suri memiliki pemikiran yang sama denganku. Melakukan segala yang terbaik untuk papa agar cepat pulih dan kembali ke istana." Setelah beberapa lama Alvero membiarkan Eliana terdiam karena menahan amarahnya, dengan sengaja Alvero kembali memancing pertanyaan yang ditujukan untuk Eliana.
"Kalau begitu. Aku ingin menanyakan hal lain kepada Yang Mulia. Apa maksud Yang Mulia dengan menghentikan beberapa pegawai baru yang bertugas di istana? Aku tahu nyonya Rose adalah orang yang dipercaya oleh Yang Mulia, tapi seharusnya dia tidak bisa seenaknya memberhentikan para pegawai baru yang sudah melalui screening pegawai dengan ketat untuk bisa bekerja di istana." Eliana mencoba tetap bertahan mengucapkan perkataannya dengan nada rendah agar Alvero tidak mengetahui bagaimana marahnya dia saat ini.
(Screening karyawan adalah proses yang biasa dilakukan oleh perekrut untuk memverifikasi informasi yang diberikan oleh karyawan. karena perekrut tidak ingin merekrut karyawan yang sembarangan dan tidak profesional. Ada berbagai pertimbangan untuk proses screening, mulai dari skill, latar belakang pendidikan dan kepribadian karyawan. Semua diverifikasi dengan teliti oleh recruiter. Tidak hanya itu, perekrut juga mungkin akan melihat apakah ada catatan kriminal dari calon karyawannya yang dapat membahayakan reputasi perusahaan di masa depan. Apakah calon karyawannya pernah menggunakan narkoba atau tidak, semua diinvestigasi dengan baik oleh pihafk perekrut. Jika seseorang pernah memiliki catatan kriminal dan pernah menggunakan narkoba, kemungkinan besar perekrut akan menghapus nama orang itu dari daftar. Perusahaan benar-benar melakukan screening dengan baik. Mereka bahkan melihat reputasi seseorang di tempat kerja sebelumnya seperti apa. Sedikit saja muncul catatan buruk dalam sejarah seseorang, maka cukup sulit bagi orang itu untuk dipanggil interview oleh perusahaan atau perekrut. Tidak hanya saat mecaari karyawan baru, screening karyawan juga dilakukan saat hendak memberikan kenaikan jabatan kepada karyawan yang bersangkutan).
"Ooo, masalah itu? Aku pikir masalah penting apa. Itu bukan keinginan nyonya Rose. Aku yang memerintahkan untuk melakukan screening ulang. Kalau sampai mereka diberhentikan, berarti memang ditemukan ada sesuatu yang tidak beres pada waktu perekrutan. Kita harus berhati-hati dalam melakukan usaha perekrutan para pegawai istana. Ibu suri pasti tahu hal itu dengan baik." Dengan gaya bicara yang tetap santai Alvero menanggapi perkataan Eliana, tanpa perduli bahwa dia sudah mulai mendengar gemeretak gigi dari Eliana yang mulai kesulitan untuk menahan emosinya.
__ADS_1
"Yang Mulia! Perekrutan para pegawai istana berada di bawah tanggung jawabku sebagai istri sah dari yang mulia Vincent. Semua urusan rumah tangga istana ada di bawah wewenangku. Yang Mulia harusnya mengerti dengan jelas aturan istana yang menyatakan itu!" Kali ini Eliana tidak bisa lagi menahan emosinya sehingga dia berbicara dengan nada cukup keras kepada Alvero yang justru tampak senang sudah berhasil memacing emosi dari Eliana.
"Ck ck ck ck.... Ibu suri sepertinya memang karena faktor usia jadi melupakan banyak hal penting. Dalam aturan resmi di istana jelas menuliskan bahwa pemilik kekuasaan tertinggi untuk urusan rumah tangga istana adalah permaisuri Gracetian. Walaupun saat aku menjadi raja, papa Vincent sebagai raja sebelumnya masih hidup, menyerahkan tahta kepadaku karena merasa kesehatannya yang semakin memburuk... Tapi, Ibu suri harus ingat, bahwa sekarang permaisuri Gracetian adalah istri sahku, permaisuri Deanda Federer, bukan lagi Eliana Edarian." Tanpa peduli dengan nada tinggi dari perkataan Eliana yang menunjukkan emosinya, Alvero tetap menjawab perkataan Eliana dengan begitu santainya, dan sengaja memojokkannya, untuk menunjukkan bahwa sekarang sedikit demi sedikit Alvero akan memotong satu persatu ranting pohon kekuasaan Eliana hingga pada akhirnya Alvero akan memotong pohon itu hingga tumbang, bahkan mencabut pohon itu dari tanah sampai ke akar-akarnya.