BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
KESEDIHAN DEANDA


__ADS_3

Dan semua hal itu tentu saja dilakukan oleh Alvero setelah memberikan tanda kepada semua orang yang ada di ruangan itu untuk membalikkan tubuh mereka, sehingga mereka semua tidak melihat bagaimana dia meluapkan rasa bahagia dan syukurnya dengan mencium istrinya dengan semesra itu. Walaupun dia melakukan itu dengan gerakan begitu lembut.


Dengan gerakan pelan, akhirnya Alvero menjauhkan tubuhnya dari tubuh Deanda yang masih terbaring di atas tempat tidur, bahkan belum bisa memberikan respon atas ciuman mesra dari Alvero, yang tadi dilakukan Alvero dengan begitu hati-hati walaupun dipenuhi dengan rasa cinta dan sayangnya akan sosok istrinya, apalagi Alvero tahu bahwa sekarang, di dalam tubuh istrinya sudah muncul bukti buah cinta mereka berdua.


Setelah itu Alvero kembali meminta dokter itu mendekat ke arahnya, agar bisa melanjutkan penjelasan tentang kondisi Deanda.


"Tapi dokter, kalau memang permaisuri dalam keadaan baik-baik saja dan tidak ada masalah dengan kehamilannya? Kenapa dia bisa pingsan mendadak?" Alvero berkata sambil memandangi wajah Deanda yang masih terlihat pucat dengan tatapan penuh cintanya, rasanya ingin sekali dia melihat Deanda segera terbangun, agar dia bisa memberitahukan kepada Deanda kabar membahagiakan itu.

__ADS_1


Alvero yakin, Deanda pasti akan sangat-sangat bahagia jika mendengar tentang berita kehamilannya. Dan rasanya saat ini Alvero sungguh tidak sabar menunggu Deanda terbangun dari pingsannya agar bisa mendengar berita bahagia itu.


"Kemungkinan besar permaisuri pingsan karena perubahan hormon yang ada pada tubuh permaisuri karena hamil. Dan juga, tekanan darah permaisuri 80-70 yang membuat tubuh permaisuri menjadi lemas. Ada kemungkinan juga karena permaisuri mengalami tekanan secara emosional yang membuat pikirannya tidak tenang, sehingga menyebabkan tekanan darah permaisuri turun dan akhirnya pingsan. Tapi Yang Mulia tidak perlu khawatir, saya sudah melakukan pemeriksaan dan kondisi permaisuri sampai saat ini baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya perlu memperhatikan pola makan dan asupan gizi, dan juga menjaga kestabilan emosi permaisuri agar tidak mengalami tekanan yang akan mengganggu pertumbuhan dan kesehatan janin di rahim permaisuri." Dengan cepat Alvero langsung mengangguk-anggukan kepalanya dengan senyum bahagia di bibirnya yang tidak berhenti sejak dokter mengatakan tentang kehamilan Deanda padanya.


(Pada saat hamil, perempuan memang sering menghadapi beberapa masalah pada kesehatan tubuhnya. Ibu hamil bisa saja merasa lelah dan sangat pusing tanpa gejala apapun. Terlebih bagi ibu hamil yang tetap bekerja dan memerlukan banyak energi di tubuhnya. Maka pusing dan sakit kepala bisa saja menyebabkan ibu hamil pingsan. 7 hal yang bisa menyebabkan ibu hamil pingsan: 1. Tekanan darah rendah. Saat kehamilan Mama menginjak usia antara 16 hingga 20 minggu, maka biasanya tekanan darah diastolik ibu hamil akan turun. Hal ini bisa menyebabkan ibu hamil mengalami tekanan diastolik antara 70 sampai 100. Jika sudah seperti ini, maka ibu hamil akan sangat pusing dan bisa pingsan. 2. Pembuluh darah yang berubah menjadi elastik. Ketika hamil, perempuan juga bisa memiliki pembuluh darah yang lebih elastis. Hal ini terjadi karena sebenarnya tubuh ibu hamil membutuhkan darah yang lebih besar. Pasokan darah yang besar inilah yang menyebabkan darah tidak bisa mencapai otak, akibatnya Mama akan cepat pusing dan pingsan. 3. Kekurangan zat besi. Ibu hamil yang kekurangan zat besi juga bisa terkena anemia. Hal inilah yang bisa membuat ibu hamil mengalami sakit kepala yang berat. Penyebabnya adalah kurangnya zat besi pada tubuh ibu hamil sehingga tubuhnya tidak bisa mendapatkan sel darah merah yang cukup dan akibatnya akan kekurangan oksigen. Jika hal ini terjadi terus menerus, maka ibu hamil bisa saja mengalami pingsan. 4. Terlalu lama tidur dengan keadaan terlentang. Ketika kehamilan sudah hampir mencapai trimester ketiga, maka terkadang pembuluh darah vena cava tidak bisa bekerja dengan baik. Terlebih jika ibu hamil terlentang dalam waktu yang sangat lama. Hal tersebut berakibat pada darah yang tidak bisa mengalir kembali ke jantung dengan baik, menyebabkan ibu hamil pingsan. 5. Perubahan hormon. Selama kehamilan, kondisi hormon memang menjadi sangat tidak stabil. Perubahan hormon ini, terutama hormon hCG atau yang dikenal sebagai hormon kehamilan, akan berlipat ganda kira-kira setiap 2 hari di awal kehamilan. Kondisi inilah yang akhirnya bisa membuat ibu hamil menjadi pusing hingga pingsan. Perubahan hormon lain seperti esterogen dan progesteron yang berfluktuasi juga menjadi pemicu lain wanita hamil mengalami pusing hingga pingsan. Kehamilan memang menyebabkan tubuh ibu hamil mengalami perubahan hormon yang sangat cepat. Semua proses ini menyebabkan sering merasa pusing. Bahkan terkadang tubuh ibu hamil juga bisa menganggap bahwa janin yang ada dalam rahim adalah benda asing. Perubahan hormon tersebutlah yang dapat memicu aliran darah menjadi sangat lambat dan dapat mengurangi volume darah yang mencapai ke otak. 6. Kadar gula yang rendah. Ketika hamil maka tubuh perempuan akan mengalami penyesuaian dengan beberapa sistem metabolisme. Hal inilah yang kemudian dapat menyebabkan tubuh ibu hamil menjadi lebih lemah. Kadar gula yang rendah bisa menyebabkan ibu hamil pingsan karena tidak bisa tahan terhadap sistem yang terjadi. 7. Kondisi cuaca yang terlalu panas. Suhu udara yang terlalu panas bisa menyebabkan ibu hamil pingsan. Kondisi ini sering terjadi pada ibu hamil yang banyak melakukan aktifitas di luar rumah. Cuaca panas bisa menyebabkan tubuh ibu hamil merasa lebih lelah akibat adanya tekanan dari faktor hormonal).


“Dan setelah kondisi permaisuri membaik, lebih baik Yang Mulia segera mengajak permaisuri untuk segera mengunjungi dokter spesialis kandungan untuk lebih memastikan kondisi kesehatan permaisuri dan janin dalam rahimnya. Dan juga mendapatkan penanganan yang tepat dari ahlinya.” Mendengar masukan dari dokter itu, membuat Alvero langsung mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju.

__ADS_1


Setelah duduk di samping tempat tidur tempat Deanda terbaring, Alvero langsung menggerakkan kedua tangannya, meraih salah satu tangan Deanda yang tepat di depannya, merangkumnya dengan kedua tangannya yang bagian sikunya menumpu pada pinggiran tempat tidur.


Alvero menggenggam tangan Deanda dengan erat dan sesekali menciumi tangan Deanda, dengan tatapan mata tidak mau lepas dari sosok Deanda, berharap istrinya itu segera tersadar kembali.


“Yang… Mulia….” Kata-kata itu adalah kata-kata yang pertama kali diucapkan oleh Deanda begitu dia tersadar dari pingsannya, membuat Alvero yang sedang menunggunya sadar dan sedang menundukkan kepalanya dengan mata terpejam, sedikir tersentak kaget.


Alvero langsung mengangkat kepalanya dengan pandangan matanya langsung menatap ke arah Deanda yang terlihat sedikit meringis, merasakan kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.

__ADS_1


“Sweety…. Ah…. Syukurlah kamu sudah terbangun sweety. Bagian mana yang masih terasa kurang nyaman?” Alvero berkata sambil mengelus lembut wajah Deanda, yang tiba-tiba saja menggerakkan kedua lengannya ke arah leher Alvero, lalu menariknya dengan cepat, untuk kemudian memeluknya dengan begitu erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alvero, sebelum pada akhirnya, tangisnya yang terdengar begitu menyedihkan pecah di dada Alvero.


Begitu terbangun dari pingsannya, ingatan Deanda langsung kembali kepada saat dia melihat sosok Alexis yang sedang bersama Alaya, yang tanpa bisa dikendalikannya lagi membuat hatinya merasa begitu sedih, karena merasa menjadi anak yang tidak diinginkan oleh Alexis sehingga Alexis memilih untuk meninggalkannya selama belasan tahun tanpa adanya kabar berita sedikitpun.


__ADS_2