
Peringatan....!!! Episode ini adalah area 21+++. Mohon bijak dalam memilih bacaan, untuk pembaca yang masih di bawah umur, agar skip episode ini.
“Terimakasih sweety. Aku juga begitu mencintaimu. Bahkan sekarang ini... aku tidak berani membayangkan bagaimana aku bisa hidup, bernafas dan menjalani hidupku dengan baik jika kamu tidak ada di sisiku.” Setelah puas mendengar perkataan Deanda tentang bagaimana perasaan cinta Deanda kepadanya, Alvero membalas ucapan Deanda dengan mengungkapkan rasa cintanya kepada Deanda, sambil mengecup sekilas kening Deanda.
“Lalu… sekarang, apa yang sedang diinginkan istri tercantikku untuk aku lakukan terhadap masalah kekasih countess Melva?” Alvero berkata sambil menarik nafas dalam-dalam, menikmati bau harum dari tubuh Deanda yang berada dalam pelukannya sambil mengelus-elus lengan atas Deanda, membuat Deanda tersenyum malu-malu karena kata-kata Alvero barusan yang memujinya sebagai istri tercantiknya.
“Bisakah… kamu membantuku mencari info tentang siapa laki-laki yang menjadi kekasih Melva, seperti apa kehidupan pribadinya. Bagaimana kehidupan sehari-hari yang dijalaninya selama berapa waktu ini. Termasuk keluarganya secara lengkap dan detail? Juga… apakah dia tulus mencintai Melva, atau hanya sekedar ingin memanfaatkan status sosial dan kekayaan Melva.”
Alvero sedikit tersenyum geli mendengar permintaan dari Deanda tentang kekasih Melva yang begitu detail. Seolah-olah Deanda sekarang sedang mempertanyakan info tentang seorang buronan kelas kakap.
“Bisa…. Tentu saja, bisa sekali. Itu hal yang sangat mudah, karena status dia bukan seorang buronan yang selalu berpindah-pindah tempat. Apalagi dia hanya seorang rakyat biasa. Mencari info tentang orang-orang seperti itu semudah memerintahkan orang untuk membuatkan teh hangat untuk kita yang harus siap kurang dari 30 menit ke depan.” Alvero berkata dengan santai.
“Benarkah? Semudah itu?” Deanda berkata dengan amta sedikit terbeliak karena perkataan Alvero yang menunjukkan apa yang dia minta barusan adalah hal yang begitu sepele, padahal Deanda hampir saja membatalkan permintaan itu karena takut akan merepotkan Alvero yang pasti sudah sibuk karena mengurus masalah Vincent dan Alexis.
“Apa kamu meragukan kemampuan suamimu sebagai seorang raja Gracetian sweety?” Alvero berkata dengan tawa di bibirnya yang semakin lebar melihat wajah Deanda yang terlihat begitu heran.
__ADS_1
“Tentu saja tidak. Hanya tidak menyangka bahwa bagimu mencari info tentang seseorang semudah seperti yang kamu katakan barusan.” Deanda mengucapkan kata-katanya dengan wajah terlihat menatap Alvero dengan tatapan kagum yang membuat hari Alvero merasa begitu bangga dan bahagia mendapatkan tatapan seperti itu dari wanita tercintanya.
“Bahkan jika kamu mau sekarang, jika itu kamu anggap sebagai suatu hal yang begitu mendesak…. Aku bisa segera memerintahkan orang malam ini juga untuk melakukan penyelidikan, dan bahkan sebelum kamu terbangun besok pagi laporan tentang itu sudah akan masuk ke surelku…”
“Tidak harus malam ini my Al, bukan sesuatu yang terlalu mendesak untuk segera dilakukan dan memaksa orang untuk lembur hanya karena mencari info tentang itu.” Deanda langsung memotong perkataan Alvero.
Bagaimanapun, Deanda tahu ini sudah malam. Kalau sekarang Alvero memberi tugas kepada anak buahnya, pasti orang itu tidak akan bisa tidur malam ini karena menyelesaikan tugas dari Alvero. Jika saja itu sesuatu yang mendedak, mungkin tidak masalah. Tapi karena itu bukan hal yang mendesak, Deanda juga tidak ingin mengganggu waktu istirahat orang yang akan diperintahkan oleh Alvero untuk memenuhi permintaannya, yang bisa jadi orang itu adalah Erich yang sedang sibuk menjaga keamanan di kota Renhill karena Evan ada di sini atau Ernest yang mungkin sedang berjuang melawan mabuk lautnya.
“Kalau begitu sweety… apa hadiah yang akan kamu berikan padaku setelah aku memberikan apa yang kamu minta barusan?” Pertanyaan Alvero dengan nada menggodanya sukses membuat Deanda yang awalnya sedikit melamunkan tentang Melva, kembali menoleh ke arah Alvero yang sedang menatap kearahnya dengan senyum dan tatapan menggoda ke arahnya.
Sesuatu yang dengan pasti Deanda bisa memberikannya kepada Alvero. Bahkan tanpa Alvero harus memberinya sesuatu sebagai gantinya.
“Benarkah.... menurutmu tidak ada?” Alvero berbisik pelan sambil menggerakkan tubuhnya ke samping sambil mengangkat tubuhnya, bangun dari tempat tidur.
Sehingga membuat tubuh Alvero sekarang berada di atas tubuh Deanda. Dengan gerakan cepat, salah satu lengan Alvero segera menelusup di bagian belakang tubuh Deanda yang masih duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Setelah itu lengan Alvero langsung melingkar di pinggang Deanda, dan menariknya lembut ke bawah.
__ADS_1
Gerakan dari Alvero membuat tubuh Deanda berubah dari posisi duduk bersandar di sandaran tempat tidur dengan kedua kaki berselonjor, berubah menjadi posisi terbaring di atas tempat tidur dengan tubuh Alvero yang berada di atasnya, ditahan oleh satu telapak tangannya yang menekan di atas tempat tidur, agar tubuhnya tidak langsung menindih tubuh Deanda.
“Cintamu… keberadaanmu… tubuhmu… semuanya yang ada pada dirimu adalah hadiah terbaik dan terindah untukku sweety. Dan tidak ada yang bisa menggantikannya.” Alvero berkata lirih sebelum mendekatkan wajahnya dan meraih bibir Deanda dengan bibirnya, dan dengan penuh gairah menikmati, melummat, memainkan lidahnya, menjelajah setiap inchi dari rongga mulut Deanda, memberikan gigitan-gigitan kecil dan beberapa kali tekanan kepada bibir Deanda yang baginya terasa begitu manis dan lembut.
Untuk beberapa lama Alvero menikmati ciuman bibirnya sampai dirasakan olehnya, Deanda mulai kehabisan nafas. Membuat Alvero sedikit menjauh, memberikan kesempatan kepada Deanda untuk bernafas.
“Jika… itu hadiah yang kamu inginkan…. Tidak perlu menunggu sampai kamu mendapatkan info tentang kekasih Melva….” Deanda berkata dengan sedikit tersengal karena berusaha mengatur nafasnya yang hampir habis karena ciuman yang dilakukan Alvero barusan, sebuah ciuman yang cukup lama, penuh dengan hasrat dan gairah.
Selain itu, Deanda harus mengatur detak jantung di dadanya yang mulai bereaksi karena selain ciuman Alvero, saat ini tangan Alvero mulai bergerak mencari kesempatan untuk menyelinap masuk ke balik night robe yang dikenakan oleh Deanda, berusaha menjejahi tubuh Deanda dengan cara memberikan elusan ataupun pijatan lembut kepada tubuh Deanda yang mau tidak mau langsung bereaksi akibat sensasi yang ditimbulkan oleh pergerakan tangan Alvero ke tubuhnya.
“Kapanpun kamu menginginkannya…. Itu adalah hadiah milikmu. Yang bisa kamu dapatkan sebagai laki-laki milikku... suami yang aku cintai, tanpa syarat... tanpa batas waktu….” Dengan suara bergetar karena menahan gejolak dalam dadanya, yang sudah berhasil dengan sukses dibangkitkan oleh Alvero, Deanda berkata sambil kedua tangannya bergerak pelan ke leher Alvero, dan mengalungkannya di sana untuk kemudian mengelus tengkuk dan bagian belakang bahu Alvero.
__ADS_1